Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Monday, February 6, 2023

Kasus Polisi Pungli Polisi Makin Melebar Kemana-mana: Kala Pengakuan Bripka Madih Membuatnya Disudutkan Para Tetangganya

Kasus penyerobotan tanah dan pemerasan oknum penyidik kepolisian (Polisi mempungli Polisi) yang diduga dialami oleh Bripka Madih berbuntut panjang. 

Viralnya kasus tersebut malah membuat Bripka Madih disudutkan oleh beberapa pihak. Setelah mendapatkan simpati dari publik atas kasus yang dialaminya, sosok Bripka Madih dibongkar. 

Bripka Madih ditemani istrinya kala melapor di Polda Metro Jaya


Di lingkungan tempat tinggalnya, Bripka Madih disebut memiliki berbagai perangai yang buruk. 

Disebut sering bikin onar dan meneror warga 

Ketua RW 4 Nur Asiah Syafris menyebut Bripka Madih sering membuat onar di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan kelakuan Madih kerap membuat warga RT 3 RW 4 Kelurahan Jatiwarna resah karena masalah penyerobotan tanah yang dialaminya. 

"Warga mengadu bahwa Madih jam 2 siang bawa rombongan sekitar 10 orang, bukan warga kami, tidak kenal. Kemudian masang patok depan rumah warga kami," kata Asiah saat dimintai keterangan di Polda Metro Jaya, Minggu (5/2/2023). 

Sebelum menjadi Ketua RW, Asiah pernah menjabat sebagai Ketua RT selama empat tahun. Selama periode tersebut, kelakuan Bripka Madih, kata Asiah, boleh dibilang sangat mengganggu aktivitas warga. 

"Pernah suatu waktu kami mengadakan rapat, tetapi dia (Mahdi) malah membakar sampah. Asapnya begitu mengepul dan mengganggu aktivitas kami bermusyawarah," terang Asiah. Selain berbuat onar, Madih juga disebut Asiah kerap meneror warga sekitar rumahnya di Jatiwarna, Jatiasih, Bekasi. 

"Sebelum kasusnya viral, dia (Madih) suka meneror warga. Kami kalau pasang lampu jalan di dekat rumah dia, langsung dicopot. Dia juga suka mengganggu guru TK yang letaknya di sebelah rumah dia," tutur Asiah. 

"Kalau ganggu guru TK, mungkin lebih secara verbal. Misal, 'Paling ngajarnya nggak akan lama'," sambung Asiah sambil memperagakan perkataan Madih. Tidak hanya itu, Asiah mengatakan bahwa Bripka Madih juga melakukan tindakan yang dianggap mengganggu warga, yakni membangun sebuah pos di depan rumah Ibu Soraya (warga sekitar rumah Madih) dan posnya ditempati hingga jam 4 pagi. 

"Dengan kelakuan tersebut, akhirnya warga kami lama-lama terganggu secara psikis. Warga kami tak bisa melawan, karena dia polisi," kata Asiah. 

Keterangan Bripka Madih dianggap tidak konsisten oleh Polda Metro Jaya 

Terkait kasus yang dialaminya, Bripka Madih datang ke Polda Metro Jaya pada Minggu (5/2/2023). Kedatangan Bripka Madih untuk memberi penjelasan soal dirinya yang menjadi korban dugaan penyerobotan tanah serta dugaan pemerasan oleh penyidik Polda Metro. 

Namun, Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan, pernyataan yang dilontarkan oleh Bripka Madih kerap berubah-ubah. 

"Kami berbicara fakta dan data. Terjadi hal yang tidak konsisten atau berbeda dari Bripka Madih. Pernyataan yang dia lontarkan ke media dan laporan yang disampaikan ke pihak kami berbeda," kata Hengki di Polda Metro Jaya. 

Laporan yang dimaksud oleh Hengki adalah laporan kepolisian yang disampaikan Madih pada 2011 silam. Waktu itu, Ibu Madih yang bernama Halimah membuat laporan penyerobotan tanahnya seluas 1.600 meter. Namun Madih kini bersikukuh bahwa tanah yang diserobot memiliki luas total 3.600 meter. 

"Saat Ibu Halimah membuat laporan pada 2011, penyidik telah memeriksa 16 saksi. Termasuk saksi yang pernah membeli tanah dari keluarga Madih," ujar Hengki. 

"Laporannya menyatakan ada sengketa tanah seluas 1.600 meter. Tapi hasil musyawarah hari ini, Bripka Madih kukuh dengan tanah seluas 3.600 meter." 

"Padahal, saksi-saksi yang diperiksa pada 2011 menyatakan ada sebagian tanah yang dijual. Termasuk pernyataan dari kakak dan ibu Madih," imbuhnya. 

Bripka Madih ajukan pengunduran diri dari Polri 

Beberapa bulan sebelum kasus yang dialaminya menjadi viral, Bripka Madih mengaku telah mengajukan pengunduran diri dari institusi kepolisian. 

Madih menyebut, pengunduran dirinya itu sudah diajukan langsung ke Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Budi Sartono selaku atasannya. "Mohon maaf nih, pengajuan pengunduran diri itu sudah lama, sejak tiga bulan lalu," kata Madih di Polda Metro Jaya, Minggu. 

"Ada, sempat mengajukan. Tapi belum disetujui sama beliau," tegasnya. Madih mengatakan, sampai saat ini Kapolres Jaktim memang belum menyampaikan jawab resmi terkait pengunduran diri yang ia ajukan. 

Namun, secara lisan, Kapolres Jaktim sempat meminta agar Madih mengurungkan niatnya untuk mundur dari Polri. 

"Bapak Budi Sartono waktu itu kasih atensi, dia kasih perhatian. 'Di apa benar kamu mengundurkan diri? tapi jangan dijawab sekarang, saya nanya tapi jangan dijawab sekarang'," kata Madih menirukan percakapannya dengan Kapolres Jaktim. 

"Beliau mau ke tanah suci dulu, 'Nanti biar saya doakan biar urusan kamu sukses, biar pengunduran diri kamu dibatalkan'," sambung Madih, masih menirukan percakapannya dengan Kapolres. 

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Bripka Madih, seorang anggota Provost yang berdinas di wilayah Polres Metro Jakarta Timur, mengaku diperas rekan seprofesinya sendiri. 

Madih mengungkapkan bahwa dia dimintai sejumlah uang oleh oknum penyidik Polda Metro Jaya, ketika melaporkan peristiwa penyerobotan tanah yang dilakukan pihak pengembang perumahan pada 2011 lalu. 

"Saya ingin melaporkan penyerobotan tanah ke Polda Metro Jaya, malah dimintai biaya penyidikan sama oknum penyidik dari Polda Metro," ungkap Madih saat dikonfirmasi, Kamis (2/1/2023) lalu.

Tak hanya dimintai sejumlah uang, oknum polisi yang menerima laporan Madih, juga diduga meminta tanah seluas 1.000 meter persegi. 

Bahkan, oknum penyidik meminta Madih untuk memberikan tanahnya sebagai bentuk 'hadiah'. "Dia berucap Rp 100 juta dan hadiah tanah 1.000 meter persegi. Saya sakit dimintai seperti itu," ungkap Madih. 

Meski telah bertahun-tahun kasus ini berjalan, hingga kini laporan Madih tak kunjung ditindaklanjuti, sementara tanahnya yang disebut diserobot itu sudah dibangun perumahan oleh pengembang. 

Ia pun mengaku bahwa kini dirinya masih ingin memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Terlebih, tanah milik orang tuanya memiliki luas hingga ribuan meter. "Girik di nomor C 815 seluas 2.954 meter diserobot perusahaan pengembang perumahan. Sementara Girik C 191 seluas 3.600 meter diserobot oknum makelar tanah," pungkas Madih.


Saturday, June 11, 2022

Pelukan Terakhir Ridwan Kamil untuk Jenazah Eril di Swiss........

Jenazah putra Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz (Eril), akhirnya ditemukan pada Rabu (8/6/2022). Aparat berwenang di Swiss menemukan jasad Eril di Bendungan Enghalde, Bern, Swiss.

 Sebagai informasi, Eril hilang di Sungai Aare, Bern, sejak 26 Mei 2022. 

Penemuan jenazah Eril ini membuat Gubernur Ridwan Kamil yang akrab dengan sapaan Kang Emil, segera terbang kembali ke Swiss untuk menjemput Eril pulang. 

Dalam unggahan terbaru di akun Instagram-nya, @ridwankamil, pada Jumat (10/6/2022), ia bersyukur bisa dipertemukan dengan jasad Eril. 

“ALHAMDULILLAH YA ALLAH… Akhirnya Engkau memberikan kesempatan saya untuk kembali memeluk, membelai dan memandikan anak saya sesuai syariat Islam, juga mengadzankan dengan sempurna di telinganya persis seperti saat Eril lahir,” tulisnya. 

Ridwan Kamil dan Eril


Sebelumnya, dalam unggahan pada Kamis (9/6/2022), Emil mengungkapkan rasa syukurnya lantaran jenazah Eril ditemukan. 

“Alhamdulillah Ya Allah SWT, Engkau telah mengabulkan permohonan doa kami. Jenazah Ananda Emmeril Kahn Mumtadz sudah ditemukan,” ucapnya. 

Jenazah Eril dikebumikan di permakaman keluarga

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Provinsi Jabar Wahyu Mijaya mengatakan, Emil dan jenazah Eril akan berangkat dari Swiss pada Sabtu (11/6/2022) dan dijadwalkan tiba di Indonesia pada Minggu (12/6/2022). 

Wahyu belum bisa memastikan apakah jenazah Eril bakal disemayamkan dahulu di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jabar, atau langsung dikebumikan. Pasalnya, hingga saat ini, pihaknya masih mengonfirmasi jadwal kedatangan pesawat. 

Gubernur Ridwan Kamil dan keluarga di tepi Sungai Aare dalam upaya pencarian Eril beberapa waktu lalu

“Kemudian, setelah tiba di Indonesia, kami belum bisa memastikan apakah akan disemayamkan dulu di sini atau langsung ke pemakaman karena kita melihat waktu tibanya dulu. Kalau misalnya waktu tibanya memungkinkan untuk langsung atau apakah memang disemayamkan di sini. Jadi kita lihat perkembangannya di hari besok," ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung Pakuan, Jumat. 

Mengenai lokasi jenazah Eril akan dimakamkan, Wahyu menjelaskan bahwa jasad anak pertama Ridwan Kamil itu bakal dikebumikan di permakaman keluarga di daerah Cimaung, Kabupaten Bandung, Jabar. 

"Yang dapat kami informasikan lagi, rencananya almarhum akan dimakamkan di pemakaman keluarga di daerah Cimaung, Kabupaten Bandung," tuturnya. 

Wednesday, February 2, 2022

Menteri Sandiaga Uno Mengakui Ada "Permainan Bakal" Demi Keuntungan Saat Karantina. Ini Faktanya

Beberapa hari belakangan, ramai soal dugaan adanya oknum yang mengambil keuntungan di balik aturan karantina hotel untuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). 

Seorang turis yang diketahui berasal dari Ukraina akan berlibur ke Bali. Sesuai aturan yang berlaku, saat masuk Indonesia melalui Jakarta, ia harus menjalani proses karantina di hotel yang sudah ditetapkan. Namun di akhir masa karantinanya alias sebelum diizinkan keluar dari hotel, ia mengeluh karena hasil tes PCR dinyatakan positif Covid-19. Hal ini akan berdampak pada masa karantina yang lebih lama. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno


Sang turis protes dan miminta untuk melakukan tes PCR ulang di tempat lain. Namun wisatawan tersebut dan anaknya tidak diizinkan melakukan tes PCR di luar, sehingga merasa dirugikan karena mesti menambah biaya isolasi. 

Setelah dilakukan tes PCR ulang, ternyata hasil dari tes wisatawan Ukraina itu dinyatakan negatif dan telah diberikan izin keluar, serta mengakhiri masa karantina. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menegaskan, peristiwa turis Ukraina yang mengaku dipersulit saat menjalani karantina di salah satu hotel di Jakarta, bukan karena miskomunikasi. 

"Perlu saya garis bawahi adalah kita akan bertindak tegas, jadi bukan miskom. Ini berkali-kali saya ini, saya mendapatkan langsung berita dan ini juga dikonfirmasi oleh banyak sekali yang menyatakan hal yang sama. Jadi apa yang dialami ini, kita jangan sederhanakan sebagai sebuah miskomunikasi, tapi memang terjadi di dalam penanganan pandemi kita," kata Sandiaga pada Rabu (2/2/2022). 

Sandi menegaskan, bahwa pihaknya akan menindak pihak yang mencari keuntungan dalam kasus tersebut. Ia mengaku diminta oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjaga reputasi Indonesia yang dinilai mampu menangani pandemi dan memulihkan ekonomi. 

"Barusan di rapat terbatas (ratas), Presiden sangat tegas. Beliau mengingatkan kembali kita semua untuk menjaga reputasi Indonesia sebagai negara yang menerapkan pengendalian pandemi," ujar Sandiaga. 

"Salah satu yang terbaik di dunia untuk meningkatkan kerjasama sosialisasi dan edukasi dan jangan sampai ada permainan jangan sampai ada yang mencoreng niat baik kita dalam pengendalian pandemi, sampai juga ada kebocoran dari karantina ini," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani menjelaskan bahwa wisatawan tersebut sebetulnya meminta untuk tes PCR di laboratorium yang ditunjuk sendiri. Padahal, ada aturan karantina yang berlaku sehingga tes PCR tak bisa dilakukan di sembarang tempat, melainkan di laboratorium yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. 

"Yang bersangkutan sebetulnya inginnya dilakukan PCR oleh lab yang dia tunjuk. Intinya itu. Mungkin (ada) kenalannya atau apa dia kenal." tambahnya.

Kejadian yang dialami turis Ukraina di atas bukanlah masalah pertama yang terjadi di Indonesia. Banyak turis asing yang membuat pengakuan di media sosial mereka, karena merasa ditipu dengan ditawarkan hotel karantina yang mahal namun pelayanan dan fasilitasnya buruk. 

Presiden Joko Widodo pun menanggapi langsung aduan-aduan itu dan meminta para bawahannya untuk memperbaiki pelayanan. 

Arahan Presiden Jokowi itu disampaikan saat Rapat Terbatas mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Kota Balikpapan. 

Presiden Jokowi mengingatkan agar disiplin dalam melakukan pengetatan di pintu-pintu masuk dan pelaksanaan proses karantina yang benar dari luar negeri. 

"Saya masih mendengar dan ini saya minta Kapolri untuk mengusut tuntas permainan yang ada di karantina. Sudah, karena saya sudah mendengar dari beberapa orang asing komplain ke saya mengenai ini," kata Presiden Jokowi.

Fakta: 80% Anggaran Stadion JIS dari Jokowi, Anies Tanggal Gunting Pita dan Gubernur Berikutnya Ketiban Sial

Akhir-akhir ini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menuai banyak kritik.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI-P Gilbert Simanjuntak meminta Anies tidak mengklaim proyek Jakarta International Stadium (JIS) sebagai keberhasilan sepihak. 

Gilbert mengingatkan, mayoritas anggaran proyek pembangunan Jakarta itu berasal dari bantuan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diberikan Presiden Joko Widodo. 

Jakarta International Stadium (foto: IDN Times)

Selain itu, Gilbert juga mengungkapkan bahwa pembangunan JIS nyaris mangkrak imbas pandemi Covid-19 yang melanda 2020 lalu. "Akhirnya pusat turun memberikan bantuan lewat dana PEN sebesar Rp3,6 triliun pada tahun 2020 dan 2021 dari anggaran JIS Rp4,5 triliun," ujar Gilbert Senin (31/1/2022). 

"Artinya, biaya pembangunan JIS itu 80 persen dari pemerintah pusat," tambah Gilbert.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta ini pun menyentil Gubernur DKI Jakrta Anies Baswedan yang acap kali pamer kemegahan stadion JIS dengan membanggakan hasil kepemimpinannya. Terlebih, Anies juga tak pernah mengapresiasi jasa-jasa gubernur sebelumnya. 

Padahal, stadion yang berada di Jakarta Utara itu sudah dibangun di era Gubernur Jokowi dan Ahok. Bahkan, rencananya sudah disiapkan sejak zaman Gubernur Sutiyoso. Sementara, Anies tinggal meneruskan dan meresmikan calon kandang kesebelasan Persija Jakarta itu. 

"Klaim sepihak seakan menyatakan JIS keberhasilan Anies semata atau pencapaian seorang gubernur sekarang adalah tidak mendasar dan tidak menghargai upaya gubernur sebelumnya dan bantuan Presiden Jokowi," ujarnya.

Apalagi, kewajiban membayar cicilan ke pemerintah pusat nantinya akan dibebankan kepada penjabat (Pj) dan Gubernur DKI terpilih pada 2024 mendatang. 

"Gubernur Anies yang sekarang menjabat melakukan gunting pita atas upaya beberapa gubernur sebelumnya dan atas dana 80 persen yang dari pusat," kata dia. 

"Sedangkan, biaya cicilan dan bunga juga ditanggung rakyat lewat APBD, bukan beban Jakpro dan akan dilanjutkan oleh Pj gubernur Oktober 2022 dan gubernur terpilih nantinya 2024," sambungnya.

Sumber: Tribunnewa

Di Saat Covid-19 Menggila di Akhir Masa Jabatannya, Ini Motif Anies Mulai Sering Tinggalkan Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mulai sering meninggalkan ibu kota dalam beberapa waktu belakangan terkait semakin dekatnya dengan akhir masa jabatannya. 

Ia berkunjung ke sejumlah daerah untuk memenuhi undangan relawan pendukung hingga kegiatan partai politik. 

Ia dinilai sudah tidak fokus lagi mengurusi Jakarta. Apakah ada kaitannya dengan Pilpres 2024? 

Bicara Deklarasi Pilpres saat Bertemu Relawan 

Anies Baswedan terbang ke Makassar, Sulawesi Selatan pada Jumat, 21 Januari 2022 lalu. Ia bertemu relawan pendukungnya yang tergabung dalam Mileanis Sulsel di sebuah restoran di Makasar di kota tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Anies menegaskan saat ini belum waktunya mendeklarasikan diri sebagai calon presiden RI 2024. Ia saat ini masih fokus mengurus Ibu Kota Jakarta di sisa masa jabatannya yang akan berakhir pada Oktober 2022 mendatang. 

"Begini, saya jawab. Kalau belum masuk waktunya, jangan bunyikan suara adzan," tutur Anies menjawab pertanyaan soal capres. 

Ia mengatakan, bila mana suara adzan lebih awal diperdengarkan dan belum masuk waktunya, maka orang akan mempertanyakan ada apa gerangan. 

"Artinya, coba diperhatikan, kalau dengar adzan jam 10 pagi apa kita lakukan, semua pasti mengatakan apa ini? Betul kan. Ini belum masuk waktu adzan, jadi jangan adzan dulu, begitu kira-kira," tuturnya. 

Meski demikian, dukungan dari para komunitas Mileanis yang mendorong dan mendukung Anies Baswedan maju sebagai orang nomor satu di Indonesia pada Pemilihan Presiden 2024, tetap diberikan apresiasi untuk diakomodir. "Insya Allah, apapun yang dijalani kita jalankan, amanat bisa gonta ganti, tapi amanat apapun dijalankan sebaik-baiknya. Poinnya, kita kerja bersama, malam ini alhamdulillah kita kumpul bersama," tutur mantan Rektor Universitas Paramadina ini. 

Lalu, selesai acara tersebut, saat ditanya oleh para wartawan terkait capres, Anies kembali menuturkan, saat ini masih berfokus pada tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta termasuk menyelesaikan sejumlah program kerjanya. "Karena periode tugas saya sampai Oktober (tahun 2022). Jadi sampai Oktober saya akan terus fokus di Jakarta," ujar Anies. 

Ketua Jaringan Nasional Mileanis Muhammad Ramli Rahim pada kesempatan itu mengapresiasi kedatangan Anies Baswedan tersebut, meski di sela-sela waktunya yang datang menghadiri dan menjadi saksi pernikahan anak Nurdin Halid. 

"Kami memberikan apresiasi atas kehadiran Pak Anies, memang sejak lama kita nantikan kedatangan beliau ke Makassar, walaupun kegiatan ini sifatnya mendadak, tapi tetap dihadiri memberikan masukan kepada tim relawan," ujar Ramli. 

Berselang 10 hari setelah bertemu pendukungnya di Makassar, Anies pun kini kembali meninggalkan ibu kota untuk menuju Yogyakarta. 

Kali ini Anies pergi untuk menghadiri Musyawarah Kerja Wilayah Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Anies disebut berangkat pada Minggu (30/1/2022) sore.  

"Iya betul, Pak Anies langsung ke Jogja via kereta setelah hadir kemarin memeriahkan di PPP DKI Jakarta," ujar Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (Sekwil) PPP DKI Jakarta, Najmi Mumtaza Rabbany alias Gus Najmi melalui pesan singkat, Senin (31/1/2022). 

Acara itu digelar di Hotel Grand Lohan dan JEC Jogjakarta. Anies disebut akan mengisi acara dengan pidato berjudul "Membangun untuk Mempersatukan" dari pengalaman membangun Jakarta. Dia akan mengisi acara tersebut bersama Eep Saifullah Fatah yang merupakan seorang pakar politik. 

Sebelum bertolak ke Yogya, pada Minggu sore kemarin Anies juga sempat menghadiri acara hari lahir ke -49 PPP di kantor DPW PPP Jakarta, Duren Sawit Jakarta Timur. Dalam acara itu juga sekaligus digelar istighosah Abraham Lunggana alias Haji Lulung, tokoh politik senior di PPP yang meninggal dunia pada 14 Desember 2021 akibat sakit jantung. 

Anies tiba di DPW PPP sekitar pukul 14.30 WIB. Anies yang hadir dengan mengenakan baju batik dan sarung berwarna hijau itu langsung disambut oleh masa yang berkumpul dalam acara istigosah. Anies terlihat menyalami beberapa ibu-ibu yang berada di sekitar jalur panggung. Sesaat kemudian Anies diteriaki takbir dan sebutan RI 1 saat menuju panggung. "Takbirr... Takbir.. Hidup RI 1," teriak masa yang hadir. 

Anak almarhum Lulung yaitu Guruh Tirta Lunggana turut melontarkan harapannya agar Anies menjadi presiden. "Semoga jadi presiden," kata Guruh dalam sambutannya di acara istigosah itu. 

Anies saat mendatangi acara Harlah dan Muskerwil PPP di Bantul, DIY, Senin (31/1/2022)

Tuai Kritik

Anies sendiri memang pernah menyampaikan cita-citanya untuk keliling Indonesia guna menyampaikan keberhasilannya membangun Jakarta. Namun Anies mengaku akan melakukan hal itu setelah ia lengser dari jabatannya sebagai gubernur DKI pada Oktober 2022 mendatang. 

Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menyayangkan sikap Anies yang mulai sering meninggalkan Jakarta saat masih menjabat. Apalagi, virus Covid-19 saat ini tengah meledak di Ibu Kota. 

Dia menilai Anies abai dan tidak bertanggung jawab karena pergi saat laju penularan Covid-19 di Jakarta semakin menggila. 

"Pada saat virus tersebut sudah sampai di kantornya, malah meninggalkan Jakarta untuk acara DPW PPP Yogyakarta," ucap Gilbert pada Senin (31/1/2022). 

Politikus PDI-Perjuangan itu menilai, Anies tidak pernah melontarkan penjelasan terkait meningkatnya kasus Covid-19 di Jakarta, termasuk kasus Omicron yang kini mendominasi penularan Covid-19. 

"Sedikit pun tidak ada penjelasan dari Gubernur soal banjir dan infeksi virus corona yang makin naik, termasuk upaya yang dilakukan," tutur dia. 

Gilbert mengatakan, Yogyakarta punya gubernur yang mengurus daerahnya, termasuk mengurus partai politik di daerah tersebut. "Gubernur DKI tidak diperlukan mengurus DIY karena mengurus DKI juga kurang menunjukkan sikap yang baik dan bertanggung jawab," tutur dia.  

Tuesday, December 28, 2021

Dilarang Dijual ke Negara Lain, Radar Vera NG Indonesia Sulut Emosi AS Karena Buat Jet Tempur Siluman F-35 Tak Berdaya

Pada awal pembuatannya, Amerika Serikat (AS) melakukan promosi yang gencar tentang kehebatan pesawat jet tempur terbarunya yaitu F-35.

F-35 pun juga ramah terhadap kantong namun tetap mempunyai kemampuan dan kecanggihan terbaiknya sehingga dianggap sebagai kekuatan armada udara masa depan militer AS.

Namun, ternyata AS tampaknya melupakan sebuah fakta bahwa bisnis teknologi militer dan pertahanan merupakan sebuah lingkaran setan yaitu dimana sebuah persenjataan canggih dirilis maka setidaknya ada satu atau lebih penangkalnya yang sudah atau sedang dibuat.

Itulah yang terjadi pada jet tempur kebanggaan AS ini, F-35 yang tentunya juga akan mendapatkan inovasi-inovasi untuk mengelabui sistem penangkal tersebut.

Salah satu sistem pertahanan militer yang menjadi "penawar" F-35 tersebut adalah radar pasif Vera NG buatan Omnipol Group, sebuah perusahaan persenjataan militer asal Republik Ceko. Dan Indonesia pun ditenggarai sudah membeli unit radar Vera NG ini untuk melindungi wilayah udaranya.

Namun mengenai berapa unit yang sudah dibeli dan dimana radar canggih tersebut akan ditempatkan hingga kini masih menjadi rahasia.

Secanggih apakah radar Vera NG ini?

Vera NG merupakan Passive Surveillance ESM Tracker Radar yang khusus dibuat untuk mampu mendeteksi keberadaan jet tempur siluman sekelas F-35 dan J-20 milik China.

Radar Vera NG juga bisa mengacaukan pantauan radar milik Lawan baik yang berasal dari pesawat, kapal perang bahkan satelit sekalipun.

Selain itu, radar ini juga bisa melakukan pengacakan terhadap aktifitas spionase jenis Electronic Intelligence (ELINT) milik lawan, sehingga data-data penting yang ama krusial sangat aman berkat adanya radar Vera NG ini.

Walaupun amat canggih, ternyata operasional radar Vera NG ini amat ringkas sehingga bisa dipindah-pindahkan serta dibawa kemana saja dengan menggunakan trük kecil bahkan membawanya menggunakan mobil pick-up kecil pun bisa.

Radar Vera NG ini amat ringkas sehingga bisa dipindah-pindahkan secara cepat dan mudah


Daya jangkau spaan radar Vera NG ini pun amat jauh yaitu bisa mencapai 400 km dari titik tempatnya dioperasikan.

Selain melakukan pembelian radar Vera NG ini, Indonesia juga dikabarkan hendak menjalin kerja sama dengan Republik Ceko untuk pembuatan radar (transfer teknologi) walau tidak diketahui jenis radar apa yang menjadi basis kerjasama kedua negara ini.

"CSG Aerospace mendapatkan berbagai macam teknologi alutsista mutakhir hasil penelitian dan pengembangan, dengan harapan bahwa kedepannya industri pertahanan Indonesia bisa terlibat dalam program Transfer of Technology (toT), khususnya teknologi radar," tulis kemhan.go.id

Karena Vera NG ini bisa mengancam eksistensi F-35 lantaran bisa membuat pesawat jet tempur siluman tersebut tidak berdaya.

Terlebih lagi pihak Republik Ceko lebih terbuka dalam proses penjualan Vera NG ke negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Hal tersebut karuan saja membuat AS melalui NATO saat ini melarang penjualan radar VERA NG ke negara lain karena bisa merusak citra serta omzet penjualan F-35 Lightning II tersebut.

Thursday, December 2, 2021

Ini Alasan Dokumen Rahasia Pembunuhan Presiden John F. Kennedy Dibongkar

Sosok lelaki itu mondar-mandir tak jelas. Mengenakan setelan jas berwarna abu-abu, ia berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya. Raut wajahnya nampak tegang. Ia mendatangi tiap orang. Pertanyaan ia ajukan dan percakapan pun mengalir dengan sendirinya. Semua dilakukannya untuk menggali informasi serta menjawab kegelisahannya akan kematian John F. Kennedy. Namanya Jim Garrison, seorang pengacara asal New Orleans. 

Detik-detik penembakan Presiden Kennedy


Dalam film besutan Oliver Stone yang berjudul JFK (1991), Garrison (Kevin Costner) memainkan peran penting untuk mengungkap misteri kematian Kennedy. Garrison meyakini ada sesuatu yang lebih besar—atau sebut saja konspirasi—atas tewasnya presiden karismatik tersebut. Di balik peluru yang ditembakkan Lee Harvey Oswald, ada pihak-pihak yang berdiri mendalanginya.

Garrison melakukan investigasi. Satu identitas ia letakkan sebagai prioritas penyelidikan: pengusaha lokal bernama Clay Shaw (Tommy Lee Jones). Sepanjang masa penyelidikan, Garrison menemukan tiga saksi kunci. Pertama adalah David Ferrie (Joe Pesci), tentara bayaran dan seorang anti-Castro yang hidup di pengasingan. 

Kepada Garrison, Ferrie mengakui terdapat andil CIA (Badan Intelijen Pusat Amerika) dan Kuba dalam pembunuhan Kennedy. Sayangnya, nasib malang jatuh menimpa Ferrie. Ia tewas dibunuh akibat memberikan informasi untuk Garrison. Setelah Ferrie, Garrison menghampiri pria gay yang memiliki relasi dengan konspirator pembunuhan Kennedy, Willie O’Keefe (Kevin Bacon). O’Keefe berpendapat sama dengan Ferrie; Kennedy dibunuh oleh campur tangan CIA dan Kuba. 

Bekas darah di kursi belakang mobil yang mditumpangi Presiden Kennedy


Tak berhenti sampai situ, Garrison melanjutkan investigasinya. Kali ini ia menemui pejabat pemerintahan (Donald Sutherland) di Washington yang dalam film memakai identitas X. Pejabat tersebut membenarkan ada persekongkolan dalam pembunuhan Kennedy.

Dari pertemuannya dengan ketiga sosok kunci itu, Garrison kemudian menahan Shaw. Menurut Garrison, Shaw memiliki andil besar atas persekongkolan antara CIA, Kuba, dan aktivis sayap kanan dalam rencana pembunuhan. Pembunuhan Kennedy, menurut teori Garrison, dilatarbelakangi oleh kebijakan luar negeri Kennedy seperti menyelesaikan krisis rudal Kuba dan wacananya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia. 

Inspirasi Stone untuk membuat JFK berasal dari buku Jim Garrison berjudul On the Trail of the Assassins yang diberikan salah seorang temannya. Ketika itu, Stone sedang menyelesaikan film Platoon (1986). Pada ajang Academy Awards 1992, JFK memperoleh dua piala Oscar dan sederet nominasi lainnya termasuk untuk kategori film terbaik. 

Dalam wawancara dengan Roger Ebert, Stone mengatakan, “Sejak hari pertama, publik memperoleh penjelasan bahwa [Lee Harvey] Oswald adalah pelaku pembunuhan Kennedy. Banyak orang percaya. Dari situ, media lantas berupaya menjaga opini tersebut. Tapi sebetulnya, publik Amerika yang telah dicuci otaknya selama 28 tahun tidak pernah betul-betul menerimanya. Mereka mencium bau busuk.” 

Stone menambahkan bahwa JFK bukan film yang mengangkat kisah nyata. JFK, ungkap Stone kepada The New York Times., “hanya mengeksplorasi semua kemungkinan skenario mengapa Kennedy terbunuh dan siapa yang membunuhnya,” ungkapnya.

Membuka Dokumen Penting yang Tertutup Rapat 

Tak dapat dipungkiri, JFK berperan mengubah lanskap pengungkapan dokumen rahasia pembunuhan Kennedy. 

Pada 1991, sesaat setelah film itu rilis, Stone memutarnya di hadapan anggota Kongres di Capitol Hill. Setahun berselang, Kongres mengesahkan Undang-Undang Pengungkapan Pembunuhan (Assassinations Disclosure Act) 1992 atau biasa dikenal sebagai JFK Records Act. 

Sebelum undang-undang tahun 1992 itu lahir, dokumen pembunuhan Kennedy sedianya tidak akan dibuka ke publik sampai tahun 2029. Akan tetapi, setelah Presiden George H.W. Bush menandatangani produk hukum tersebut, jadwal pembukaan dokumen pembunuhan Kennedy dimajukan. Ia meminta Arsip Nasional merilisnya pada 26 Oktober 2017.

Menurut Alissa Wilkinson dari Vox, dimajukannya pembukaan dokumen pembunuhan Kennedy disebabkan oleh film JFK. “Kenapa (bisa dimajukan)? Alasannya hanya satu: [rakyat] Amerika menonton film itu,” tulis Alissa dalam artikel “How a 199 Movie Resulted in JFK’s Assassinations Files Being Released in 2017.” 

Tak sebatas berkontribusi pada berubahnya jadwal pembukaan dokumen, JFK juga turut melatarbelakangi lahirnya Assassinations Record Review Board (ARRB) pada 1994. ARRB bertugas untuk mengidentifikasi dan mendeklasifikasi catatan pembunuhan Kennedy. Hingga tahun 1998 ketika ARRB bubar, jutaan halaman dokumen pembunuhan Kennedy telah dideklasifikasi. 

“Stone telah menyarankan di akhir film JFK: publik Amerika tidak dapat mempercayai kesimpulan resmi yang dibuat secara rahasia,” tulis dewan peninjau ARRB dalam sebuah laporan. “Publik Amerika kehilangan kepercayaan saat tidak dapat melihat dokumen-dokumen yang isinya menghasilkan kesimpulan itu.”

Pada akhirnya, dokumen pembunuhan Kennedy sebanyak 2.800 arsip telah dirilis oleh Arsip Nasional pada Kamis (26/10/2017) lalu. Meski demikian, Presiden Amerika Donald Trump masih menahan ratusan dokumen lainnya yang oleh badan intelijen Amerika dianggap sensitif. Koleksi arsip rahasia tersebut mencakup lebih dari 3.100 dokumen, terdiri dari sepuluhan ribu halaman yang belum pernah disaksikan publik.

Trump menyatakan sebetulnya ia ingin membuka semua arsip rahasia negara terkait penembakan Kennedy. Namun, ia membatalkannya setelah dibujuk untuk memberikan pengecualian selama enam bulan terhadap beberapa dokumen. Seperti dilansir The Independent, sebagian besar arsip itu berasal dari CIA, FBI, serta beberapa fakta yang memungkinkan lahirnya teori konspirasi lebih lanjut. 

Para ahli mengatakan arsip yang dipublikasikan tersebut tidak memberikan rincian baru mengenai pembunuhan Kennedy. Walaupun demikian, pemerintah AS beralasan bahwa mempublikasikan sebagian besar arsip akan membantu menghilangkan kecurigaan adanya sebuah persekongkolan. Namun, tetap saja penangguhan sejumlah dokumen yang dinilai sensitif justru menegaskan badan intelijen tidak mau bekerja sama. 

Film JFK garapan Stone bisa dikata berandil dalam pembukaan dokumen pembunuhan Kennedy. Meski sempat dikritik media dan sejarawan akibat dirasa tak faktual secara historis, JFK mampu menekan pemerintah membuka rahasianya yang penting bagi publik.

Saturday, May 1, 2021

Miris: Tubuh Kolonel Iwa, Mantan Komandan KRI Nanggala-402 Kurus Kering, Rumah Dijual untuk Pengobatan

Mantan Komandan Kapal Selam KRI Nanggala-402 Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwa terbaring lemah akibat penyakit paru-paru kronis yang dideritanya. 

Momoh Fatimah (83), ibu kandung Iwa Kartiwa, mengatakan, Iwa mengalami sakit setelah 26 tahun bertugas di kapal selam. Selama ini, lanjut Momoh, Iwa selalu memaksakan bertugas dan rasa sakitnya tak pernah terasa. 

Kolonel Iwa semasa masih sehat dan aktif 

Tak heran, badan Iwa jadi kurus kering dan menderita penyakit paru-paru akibat selalu mengisap bubuk besi saat berlayar di kapal selam. Kini, mantan komandan kapal selam KRI Nanggala-402 itu hanya bisa terbaring lemah dan sulit berbicara. 

"Makanya badannya kurus dan kecil. Iwa sangat paham sekali pekerjaan yang diembannya sebagai ahli kapal selam di Indonesia," ujar Momoh, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (1/5/2021) pagi. 

Iwa terpaksa menjual rumahnya. Kini Iwa dan keluarganya tinggal di gang sempit yang ada di wilayah Paseh, Kota Tasikmalaya. "Kalau rumahnya dulu ada, tapi bukan di Jati, di Parhon itu. Itu sudah lama dijual untuk berobat," kata Heni Hunaeni (62), ibu mertua Iwa. Heni mengatakan, Iwa merupakan prajurit TNI AL aktif. Masa tugas Iwa masih menyisakan enam tahun lagi menuju waktu pensiun. Heni hanya bisa berharap Iwa kembali sehat dan bisa membesarkan ketiga anaknya yang masih kecil. 

Sebelumnya diberitakan, mantan Komandan Satuan Kapal Selam (Satsel) Koarmada II sekaligus mantan Komandan KRI Nanggala-402 Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwa terbaring lemah akibat penyakit yang dideritanya. Iwa selama ini dikenal sebagai perwira Angkatan Laut di kampung halamannya Tasikmalaya sekaligus adik kandung kelima dari mantan Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal (Irjen) Purnawirawan Anton Charliyan. 

Kondisi kesehatan Iwa sampai sekarang belum juga membaik. Iwa kini diurus oleh istri dan anak-anaknya. "Iya, Iwa itu adik kandung saya dan dia juga sebagai salah satu petugas pelopor kapal selam di Indonesia. Iwa sekarang terbaring sakit dan saat mendengar insiden KRI Nanggala, kami langsung nangis. Namun, mereka sudah tahu risiko pasukan khusus kapal selam itu gadaikan hidupnya dengan maut," jelas Anton saat dihubungi via WhatsApp pada Hari Jumat (30/4/2021).

Saturday, December 12, 2020

Haikal Hassan Mengaku Pernah Bertemu Nabi Muhammad SAW, Demi Allah!

Haikal Hassan bersumpah bahwa dirinya pernah didatangi oleh Nabi Muhammad SAW. 

Haikal yang juga Sekretasis Jenderal HRS Center, ini menceritakan bahwa ia didatangi Rasullulah SAW saat anaknya meninggal dunia.



Haikal mengatakan bahwa Rasulullah memberikan pesan kepadanya agar tidak khawatir dengan anak-anaknya yang telah meninggal dunia.

Hal itu disampaikan oleh Haikal melalui kanal YouTube RasilTV. Ia menceritakan pengalamannya tersebut usai prosesi pemakaman enam anggota FPI ditembak mati beberapa waktu lalu.

Haikal menceritakan, ia sempat merasa sedih dan kacau ketika kedua anaknya meninggal dunia.

"Anak saya yang pertama meninggal dunia, namanya Umar. Anak saya yang kedua, masih saya gendong, Allah panggil lagi, namanya Salma. Demi Allah di kubur dan waktu hujan ini, tiba-tiba enggak lama Rasulullah datang, dan beliau memegang tangan Umar. Demi Allah, dia memegang tangan Salma," kata Haikal Jumat 11 Desember 2020.

Saat itu, Haikal merasa terkejut bukan main melihat Rasulullah datang menemuinya. Menurutnya, Rasulullah memberikan sebuah pesan kepadanya.

"Rasulullah berucap pada saya, 'Jangan takut dan jangan khawatir, Salma dan Umar bersama saya'. Demi Allah saya mendengar langsung Rasulullah berkata demikian di telinga saya," ungkap Haikal sambil menahan tangis.

Haikal mengaku, pertemuannya dengan Rasulullah itu sudah sejak lama ia sengaja rahasiakan.

Ia tak ingin dicap oleh publik sebagai seorang yang pamer. Oleh karenanya, ia memilih merahasiakan kisah tersebut untuknya sendiri dan baru menyampaikannya sekarang.

"Saya takut dibilang riya (pamer), tapi itu yang terjadi. Rasulullah datang pada orang yang berduka itu haq," tuturnya.

Anggota FPI Tewas sedang Bersama Nabi Muhammad SAW

Sebelumnya, Haikal Hassan ikut memakamkan 6 laskar FPI meninggal dunia akibat aksi penembakan di Tol Jakarta - Cikampek km 50.

Dilihat dari Kanal YouTube Rasil TV, kala itu Haikal Hassan mengenakan baju muslim hijau, lengkap dengan kopiah hitam dan masker.

Haikal Hassan mulanya menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian 6 laskar FPI itu. Dia meyakini, mereka yang mendahului tersebut akan ditempatkan dalam posisi terbaik.

"Ibu dan Bapak yang ditinggalkan, sahabat-sahabat saya, Luthfi, Reza, Faiz Sofyan, Andi, dan Khadafi, antum saat ini sedang bersama Rasulullah SAW," ujar Haikal Hassan.

Haikal Hassan lalu mengisahkan cerita saat dia masih berada di Palestina. Dia mengatakan, di sana banyak orang bahkan termasuk anak-anak yang gentar seolah tak takut mati membela bangsa dan negara.

Pasalnya, sudah tertanam kuat keyakninan bahwa saat meninggal dunia, mereka akan dipertemukan oleh Rasulullah SAW di Surga.

Dalam kasus penembakan 6 laskar FPI, Haikal Hassan menegaskan kematian dalam keadaan baik sejatinya tidak perlu ditangisi.

Haikal Hassan menuturkan, Rasullullah SAW mengunjungi orang-orang yang berduka. Apalagi jika jenazah meninggal dunia dalam kondisi syahid.

Sumber: Suara.com

Monday, December 7, 2020

Penyebab Ahok Kembali Mengamuk dan Marah Besar Terhadap Anggota Dewan

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku bahwa dirinya marah besar dan mengamuk saat mendengar kabar gaji dan tunjangan anggota DPRD DKI Jakarta diusulkan naik. 

Hal itu disampaikan Ahok melalui akun YouTube pribadinya, Panggil Saya BTP. 

Penyebab Ahok Kembali Mengamuk dan Marah Besar Terhadap Anggota Dewan
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bersama Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Ima Mahdiah

Dalam video itu, Ahok bicara dengan anggota Fraksi PDI-P DPRD DKI Jakarta Ima Mahdiah. "Saya baca sampai tunjangan rumah (anggota DPRD DKI) Rp 110 juta di medsos (media sosial). Saya ngamuk baca itu," kata Ahok dalam video yang diunggah pada Minggu 7 Desember 2020 malam.

"Terus tunjangan mobil Rp 30 juta. Saya ngamuk, mana ada saya jadi Komut Pertamina saja sebulan tunjangan mobil. Artinya, itu enggak pakai mobil sewanya Rp 35 juta," sambungnya. 

Ahok menilai, anggota DPRD DKI tidak layak mendapatkan kenaikan gaji dan tunjangan pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Sebab, masyarakat sedang dalam kondisi sulit. Bahkan, pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta menurun. 

"Kalau PAD DKI turun, kalau ada Covid-19, kita punya penghasilan turun, ASN tunjangan dipotong 50 persen. Kalau DPRD menaikkan penghasilan, saya tidak suka. Itu enggak benar," katanya. 

Ahok pun mengaku sudah berkomunikasi dengan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi terkait kabar usulan kenaikan gaji dan tunjangan ini. "Pak Pras mengatakan, 'Saya akan cek'. Dia ketua enggak bisa kontrol semua," kata dia. 

Lalu, Ahok juga bertanya kepada Ima soal kabar kenaikan gaji tersebut. Ima yang pernah menjadi pegawai magang di Balai Kota DKI Jakarta saat Ahok menjabat gubernur itu menegaskan tak ada kenaikan gaji dan tunjangan.

"Sudah clear gaji dan tunjangan tidak ada (kenaikan)," kata Ima. Menurut Ima, anggaran yang naik hanya untuk kegiatan anggota Dewan turun ke daerah pemilihan (dapil) pada masa reses. Anggaran itu tidak langsung masuk ke kantong anggota Dewan, tetapi dikelola oleh Sekretariat DPRD DKI. 

Wednesday, December 2, 2020

Ini Foto dan Identitas DPO Teroris Kelompok Ali Kalora Pelaku Pemenggalan di SIgi, Sulawesi Tengah

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merilis 11 foto daftar pencarian orang (DPO) kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). 

Kelompok yang dipimpin Ali Kalora ini diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan sadis satu keluarga di Kabupaten Sigi.

Ali Kalora diapit oleh anggotanya


"Iya sisa 11 orang DPO yang dikejar," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono melalui pesan singkat, Selasa 1 Desember 2020.

Dalam foto DPO tersebut, terpampang wajah Ali Ahmad alias Ali Kalora. Ali Kalora diketahui sudah menjadi DPO sejak 2012.

Polri mengimbau para DPO segera menyerahkan diri. Serta masyarakat yang melihat orang yang mirip dengan yang ada dalam gambar tersebut dapat melapor ke polisi setempat.

"Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan atas UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan peraturan pemerintahan pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme menjadi undang-undang dan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, diimbau kepada para DPO agar segera menyerahkan diri kepada aparat Kepolisian," demikian keterangan yang tertulis dalam foto.



Berikut daftar nama 11 DPO MIT:

1. Ali Ahmad alias Ali Kalora

2. Qatar alias Farel alias AnaS

3. Askar alias Haid alias Pak Guru

4.Abu Alim alias Ambon

5. Nae alias Galuh alias Mukhlas

6. Khairul alias Irul alias Aslan

7. Jaka Ramadhan alias Krima alias Rama

8. Akun alias Adam alias Musab alias Alvin Ashori

9. Rulli

10. Suhardin alias Hasan Pranata

11. Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang


Sebelumnya, Satgas Tinombala menindak tegas dua anak buah Ali Kalora pada Selasa pagi 17 November 2020. Kedua buron yang tewas tersebut adalah Wawan alias Aan alias Bojes dan Aziz Arifin alias Aziz.

Barang bukti yang diamankan Satgas Tinombala di antaranya 1 pucuk senjata revolver, 2 buah bom lontong, 20 butir munisi 5,56 mm, 4 butir munisi revolver, 1 buah GPS, 1 buah kompas, 2 buah head lamp, 6 buah korek api, kunci motor, uang tunai Rp 360 ribu, 1 renceng antinyamuk, 9 buah baterai, 3 bungkus kopi, 2 pasang sepatu, 2 tas selempang, 2 tas gendong, 1 buah terpal, 1 sisir dari jarum, 1 cermin, 2 sikat gigi, dan pakaian.

Kemudian, terjadi pembunuhan sadis terhadap satu keluarga di Sigi, Sulteng. Korban ada yang dibakar hingga ditebas.

Pemerintah mengutuk keras tindakan tersebut. Kapolri Jenderal Idham Azis memerintahkan jajarannya menindak tegas Ali Kalora dan kawan-kawan.

Saya sudah bilang ke anggota, tindak tegas mereka (Ali Kalora dkk). Jika ketemu lalu mereka melawan, tembak mati saja," kata Idham melalui keterangan tertulis, Senin (30/11).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut pembunuhan sadis di Sigi itu sebagai tindakan biadab.

"Tindakan yang biadab itu jelas bertujuan untuk menciptakan provokasi dan teror di tengah-tengah masyarakat yang ingin merusak persatuan dan kerukunan di antara warga bangsa," kata Jokowi dalam siaran YouTube Sekretariat Presiden.

Friday, November 20, 2020

Ini Alasan (Baru) Mengapa Para Jenderal Dibunuh Oleh Gerombolan G30S/PKI

Hingga saat ini, peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) adalah tragedi nasional yang paling kontroversial dan tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. 

Dalam peristiwa itu, enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD menjadi korban. Bahkan Ade Irma Suryani, putri Jenderal TNI AH Nasution juga menjadi korban. 

Ini Alasan (Baru) Mengapa Para Jenderal Dibunuh Oleh Gerombolan G30S/PKI

Selama bertahun-tahun, sekolah mengajarkan peristiwa itu adalah kudeta atau pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV yang diterbitkan oleh Departemen Sosial RI Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan 1994-1995 mengemukakan alasan PKI menculik dan membunuh para jenderal. 

Dimulai dengan menculik dan kemudian membunuh pejabat-pejabat teras Angkatan Darat untuk melumpuhkan angkatan ini. Selanjutnya diterangkan alasan penculikan tersebut, yaitu dalam penilaian PKI, Angkatan Darat harus dilumpuhkan terlebih dahulu. Sebab Angkatan Darat dianggap sebagai lawan utama mereka. Begitulah narasi pemerintah Orde Baru melalui berbagai buku dan film. 

Namun fakta sejarah mengungkap bukan itu yang sebenarnya terjadi. Untuk mengetahui kenapa para jenderal diculik dan dibunuh, maka kita harus menyimak kesaksian pelakunya terlebih dahulu. 

Siapa pelaku G30S? 

PKI dianggap sebagai dalang dari penculikan dan pembunuhan para jenderal. Setelah peristiwa G30S, ribuan orang ditangkap bahkan dibunuh tanpa diadili karena dituduh PKI. 

Mereka yang pernah diadili, mengungkapkan peristiwa G30S tidak bisa dilihat sebagai dosa tunggal PKI. Salah satunya, Kolonel Abdul Latief yang kala itu menjabat Komandan Garnisun Kodam Jaya. Ia divonis mati dan akhirnya menghabiskan 32 tahun di penjara karena keterlibatannya dalam G30S. Dalam kesaksiannya, Latief mengatakan penculikan para jenderal adalah inisiatifnya bersama rekan-rekannya sesama perwira militer, yakni Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa) dan Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim). 

Rapat persiapan gerakan bahkan dilakukan sampai sepuluh kali. Lokasinya pun berganti-ganti, yaitu di rumah Sjam Kamaruzaman, Kolonel Latief, atau kediaman Kapten Wahyudi. Dalam rencana itu, ada Sjam Kamaruzaman, Kepala Biro Chusus (BC) PKI yang merupakan badan intelijen PKI. 

Daftar Jenderal yang jadi sasaran disusun oleh Sjam bersama para perwira militer. Sasaran operasi terbatas PKI baru ditentukan pada 26 September 1965. Tim pelaksana menentukan ada 10 tokoh antikomunis yang harus "diamankan". 

Daftar nama-nama tokoh yang rencananya menjadi sasaran G30S adalah: 

1. Jenderal TNI AH Nasution 

2. Letnan Jenderal Ahmad Yani 

3. Mayor Jenderal Raden Soeprapto 

4. Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono 

5. Mayor Jenderal Siswondo Parman 

6. Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan 

7. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo 

8. Wakil Presiden Mohammad Hatta 

9. Wakil Perdana Menteri III Chairul Saleh 

10. Jenderal Soekendro 

Namun, pada saat-saat terakhir, Ketua Central Committee (CC) PKI, DN Aidit mencoret tiga nama terakhir. 

Apa yang menyebabkan mereka menculik para Jenderal? 

Peristiwa G30S dipicu dari kabar burung yang mengatakan adanya sekelompok Jenderal atau Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Sukarno. 

Mengutip Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (2008) karya Dasman Djamaluddin, sebelumnya PKI telah melancarkan isu bahwa Dewan Jenderal akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno dengan memanfaatkan pengerahan pasukan dari daerah yang didatangkan ke Jakarta dalam rangka peringatan HUT ABRI pada 5 Oktober 1965. 

Menurut sumber tersebut, isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kegiatan politik, melakukan coup (kudeta) terhadap negara dan bangsa tidak benar. Yang ada hanyalah Wanjakti (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi Angkatan Darat). Tugasnya adalah membahas kenaikan pangkat dan jabatan dari Kolonel ke Brigjen dan dari Brigjen ke Mayjen dan seterusnya. 

Apakah mereka berniat menghabisi para Jenderal? 

Dalam buku Mengapa G30S/PKI Gagal?: Suatu Analisis (2004) karya Samsudin, Latief mengaku bahwa Jenderal-jenderal itu dibunuh atas perintah Syam. Syam duduk dalam pimpinan intel Cakrabirawa. 

Sebenarnya dalam perundingan tidak ada rencana untuk membunuh para Jenderal. Pada awalnya, niat mereka untuk membawa para jenderal menghadap kepada Presiden/Pangti Soekarno di Istana. 

Pelaksanaannya adalah Resimen "Cakrabirawa" yang dikomandoi Letkol Untung. Dalam G30S, Fakta atau Rekayasa? (2013) karya Julius Pour, Untung membagi eksekutor ke dalam tiga satuan tugas. Satgas Pasopati pimpinan Letnan I (Inf) Abdul Arief dari Resimen Tjakrabirawa bertugas menangkap tujuh Jenderal yang jadi sasaran. Satgas Bimasakti dipimpin Kapten (Inf) Soeradi Prawirohardjo dari Batalyon 530/Brawijaya, bertugas mengamakan Ibu Kota dan menguasai kantor Pusat Telekomunikasi dan Studio RRI Pusat. Terakhir, satgas Pringgodani di bawah kendali Mayor (Udara) Soejono, bertugas menjaga basis dan wilayah di sekeliling Lubang Buaya, yang rencananya akan jadi lokasi penyanderaan para Jenderal. 

Julius Pour mencatat dalam buku G30S, Fakta atau Rekayasa? (2013), operasi penculikan di bawah Untung direncanakan secara serampangan. Banyak unsur yang akan dilibatkan, ternyata tidak jadi datang. Jumlah pasukan kurang dari 100 personel, jauh dari yang diharapkan mampu memantik revolusi. Yang berikutnya terjadi persis yang dikhawatirkan Untung. Penculikan berubah jadi serangan berdarah. 

Pukul 03.30, anggota Batalyon I Resimen Tjakrabirawa, Peltu Mukidjan mengingat bahwa pasukannya termasuk yang terakhir diberangkatkan dari Lubang Buaya. Ia khawatir, alokasi 15 sampai 20 menit untuk meluncurkan penculikan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal (Letjen) Ahmad Yani, tak akan cukup. 

"Saya sendiri berpikir kok hanya 20 menit, peluangnya pasti singkat sekali? Meski begitu saya tidak lupa. Perintahnya jelas, saya mendengar langsung dari Lettu Abdul (Doel) Arief, '...tangkap sasaran, hidup atau mati'," kata Mukidjan.. 

Lettu Doel Arief mengaku instruksi itu datang dari Sjam. Sjam menginstruksikan bila mengalami kesulitan menghadapi para Jenderal diambil hidup atau mati. 

Sesampai di kediaman Yani di Jalan Lembang, Menteng, Jakata Pusat, Mukidjan dan rekan-rekannya segera meminta Yani ikut dengan alasan akan dibawa ke hadapan presiden. Yani pun meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Mukidjan dan rekan-rekannya menolak permintaan itu. Hal ini membuat Yani marah hingga menampar salah satu prajurit. Salah satu prajurit yang bernama Gijadi melepaskan tembakan, dan mengenai Yani hingga membunuhnya. 

Di kediaman Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution juga menerima tembakan dari Tjakrabirawa. Akibatnya, anaknya Ade Irma Suryani meninggal di rumah sakit dan ajudannya Pierre Tendean diculik. 

Sedangkan Jenderal AH Nasution berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat tembok belakang. 

Memasuki fajar, seluruh pasukan G30S kembali ke Lubang Buaya. Wakil Komandan Satgas Pringgodani Mayor (Udara) Gatot Soekrisno kebingungan ketika para prajurit menurunkan empat orang yang terikat dan ditutup matanya, serta tiga mayat. Padahal, Letkol (Inf) Untung Samsoeri mengatakan, "...tangkap mereka, akan kita hadapkan kepada Paduka Yang Mulia (Soekarno)." 

Gatot bingung apa yang akan dihadapkan ke Presiden jika sasaran sudah meningal. "Saya segera menghubungi Mayor (Udara) Soejono, Komandan Satgas Pringgidani di Cenko I, minta petunjuk, bagaimana menangani kondisi baru yang menyimpang dari skenario awal tersebut," kata Gatot. 

Siang itu, eksekutor G30S akhirnya mengumumkan penangkapan dan pembunuhan yang telanjur terjadi. RRI menyiarkan pengumuman soal ditangkapnya sekelompok orang yang disebut Dewan Jenderal. Penangkapan dilakukan oleh Dewan Revolusi yang mencegah tindakan Dewan Jenderal yang ingin mengkudeta Presiden Sukarno.

Tuesday, November 3, 2020

Tragedi di Era Khilafah, Demi Kursi Khalifah, Tak Segan-segan Memenggal Leher Cucu dan Cicit Nabi Muhammad SAW

 Dilansir dari NU Online Jatim, setiap tanggal 10 Muharram, sebagian umat Islam memperingati wafatnya Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad itu wafat secara tragis pada tahun 61 hijriyah atau saat berusia 58 tahun.

Dalam catatan Prof Nadirsyah Hosen, Sayyidina Husein keluar dari tenda sesaat setelah menunaikan sholat subuh. Ia bergegas dengan menaiki kuda kesayangannya. Beliau menatap pasukan yang tengah mengepungnya. Sebelumnya, pasukan Husein bertempur merangsek menghadapi hujan panah, lembing, tombak, dan ayunan pedang pasukan musuh. Namun, mereka akhirnya tumpas.


Di hadapan 4000 pasukan musuh yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Sayyidina Husen berpidato yang begitu indah dan menyentuh hati.

“Lihatlah nasabku, pandangilah siapa aku ini, lantas lihatlah siapa diri kalian? Perhatikan, apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan mencederai kehormatanku? Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan nabimu yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu? Bukankah Hamzah pemuka para syuhada adalah pamanku? Bukankah Ja’far yang akan terbang dengan dua sayap di surga itu pamanku? Tidakkah kalian mendengar kalimat yang masyhur di antara kalian sendiri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentang saudaraku dan aku, kata baginda Rasul, keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga”.

Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyakanlah kepada para sahabat Nabi, Jabir bin Abdullah al-Anshori, Abu Said Al-Khudri, Sahal bin Sa’ad, Zayd bin Aqam, dan Anas bin Malik, yang kesemuanya akan memberi tahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku, dan aku. Tidakkah ini semua cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Menurut penuturan Prof Nadirsyah, kata-kata yang begitu elok dari Sayyidina Husen itu direkam oleh sejumlah kitab dari para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, seperti misalnya Tarikh At-Thabari di jilid ke-5 halaman 425, dan Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah jilid ke-8 halaman 193.

“Namun, sayangnya, mereka yang telah terkunci hatinya tidak akan tersadar dengan pidato tersebut. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidillah bin Ziyad itu memaksa lelaki yang bernama Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib untuk mengakui kekuasaan khalifah Yazid bin Mu’awiyah,” ujar Prof Nadisryah melalui video yang diunggah di akun media sosialnya.

“Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bapak-ibu sekalian bahwa pertarungan di masa khilafah itu dulu sampai mengorbankan nyawa seorang cucu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa masih mau dibilang khilafah itu satu-satunya solusi umat?” tanya Prof Nadirsyah.

Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zeland ini menukil bagaimana Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah bercerita tentang Sayyidina Husein yang terbunuh di Karbala pada 10 Muharram atau yang dikenal dengan hari Asyura. Begini penuturan Ibnu Katsir:

“Pasukan memukul kepala Husein dengan pedang hingga berdarah. Husein membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya, dan dengan cepat balutan kain itu terlihat penuh dengan darah Husein. Syimr bin Dzil Jausyan memerintah pasukannya menyerbu Husein. Mereka menyerang dari segala penjuru”.

Ibnu Katsir melanjutkan tulisannya, “yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Khamr dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Hawali bin Yazid.” (Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah Jilid 8 hlm 204).

Anas melaporkan bahwa ketika kepala Husein yang dipenggal itu dibawa kepada Ubaidillah bin Ziyad, yang kemudian memainkan ujung tongkatnya menyentuh mulut dan hidung Husein. Anas berkata, “Demi Allah sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini.” Ibnu Katsir mencatat, 72 orang pengikut Sayyidina Husein yang terbunuh hari itu.

Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafah mencatat 4.000 pasukan yang mengepung Sayyidina Husein dan keluarganya di bawah kendali Umar bin Sa’ad bin Abiwaqas. Pada hari terbunuhnya Sayyidina Husein, Imam Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafah mengatakan, dunia seakan berhenti selama tujuh hari, mentari merapat laksana kain yang menguning, terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit pun terlihat memerah selama enam bulan.

Imam Suyuthi juga mengutip dari Imam At-Tirmidzi yang meriwayatkan kisah dari Salma, yang menemui Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang saat itu masih hidup. Ummu Salamah wafat pada tahun 64 Hijriyah, sementara Sayyidina Husein terbunuh tahun 61 Hijriyah. Salamah bertanya, mengapa engkau menangis? Ummu Salamah menjawab, “Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu. Saya tanya, mengapa engkau wahai Rasul? Rasulullah menjawab, ‘saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein’.

“Begitulah dahsyatnya pertarungan kekuasaan di masa khilafah dulu, mereka tidak segan membunuh cucu Nabi demi kursi khilafah. Apa mereka sangka Rasulullah tidak akan tahu peristiwa ini? Lantas, apakah mereka yang telah membunuh Sayyidina Husein kelak masih berharap mendapat syafaat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di padang mahsyar? Dalam kisah yang memilukan ini sungguh ada pelajaran untuk kita semua,” pungkas Prof Nadirsyah.

Dalam tragedi karbala itu, Ali Azghar, anak Sayyidina Husein yang baru berusia enam bulan juga terbunuh. Cicit Nabi Muhammad itu dibunuh Hurmala dengan melepas anak panah bermata tiga ke leher sang bayi sebelum abahnya, Sayyidina Husein meminta air untuk bayinya yang kehausan itu.

Sumber: NU Online Jawa Timur

Thursday, October 8, 2020

Ketika DI/TII Ikut Memburu PKI Setelah Peristiwa G30S

Aloysius Sugiyanto mengaku kenal baik dengan tokoh DI/TII, Danu Muhammad Hasan. Sebagai intel Opsus (Operasi Khusus), dia ditugaskan atasannya Ali Moertopo untuk membina beberapa eks tokoh DI/TII.

“Saya sering main ke rumah Danu di Situaksan, Bandung,” ujar Sugiyanto.

Massa Ormas Islam menuntut pembubaran PKI


Perkawanan itu pula yang membuat Danu loyal kepada orang-orang Opsus. Ketika Angkatan Darat menjalankan aksi pembersihan orang-orang PKI dan loyalis Sukarno, para eks aktivis DI/TII yang dikenal sangat antikomunis termasuk pihak yang dilibatkan.

“Danu saya tugaskan memata-matai gerak-gerik Soebandrio,” kenang Sugiyanto.

Soebandrio merupakan salah satu orang terdekat Presiden Sukarno. Selain menjabat kepala Badan Poesat Intelijen dan menteri hubungan ekonomi luar negeri, Soebandrio juga salah satu wakil perdana menteri. Mahkamah Luar Biasa memvonis Soebandrio hukuman seumur hidup karena dianggap terlibat Gerakan 30 September 1965 (G30S).


Musuh Bersama

Setelah peristiwa G30S, kelompok-kelompok antikomunis melakukan konsolidasi kekuatan. Angkatan Darat bergerak cepat. Selain terlibat langsung menumpas orang-orang PKI, mereka pun bekerja sama dan memfasilitasi kekuatan-kekuatan anti-PKI, salah satunya DI/TII.

Dalam The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network, Ken Conboy menyebut pendekatan terhadap eks anggota DI/TII langsung dilakukan oleh Boss Opsus yaitu Ali Moertopo.

Ali meyakinkan para mantan gerilyawan DI/TII untuk berdiri di kubunya dalam menghadapi PKI sebagai musuh bersama. Lewat beberapa orang kepercayaannya, di antaranya Aloysius Sugiyanto dan Pitut Soeharto, Ali menjanjikan fasilitas dan pengampunan jika eks pemberontak itu mau bekerja sama dengan tentara.

Gayung pun bersambut. Ajakan Opsus diamini para pemimpin DI/TII. Bahkan, menurut Conboy, mereka sangat antusias. Begitu sepakat mereka segera bergerak. “Danu dan kelompok kecil pendukungnya menjelajah Jakarta guna membongkar persembunyian para pejabat rezim Sukarno,” tulis Conboy.

Di Jawa Barat, penumpasan PKI juga mengikutsertakan eks DI/TII. Menurut peneliti sejarah DI/TII Solahudin, saat menjalankan penumpasan, mereka didukung penuh Kodam Siliwangi dan agen BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara).

Namun, dalam buku NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia karya Solahudin, tokoh DI/TII Adah Djaelani menolak keras jika dimodali tentara. Menurut Adah, dalam kenyataannya orang-orang DI/TII membiayai sendiri operasi tersebut. Hal ini dibenarkan oleh Solahudin.

“Saat menghabisi orang-orang PKI, eks anggota DI/TII hanya mendapatkan bantuan pinjaman senjata,” ungkapnya kepada Historia.


Ganjaran Orde Baru

Operasi bersama yang dilakukan tentara dengan eks anggota DI/TII berlangsung sukses. Rezim Orde Baru menepati janjinya untuk memberikan ganjaran yang setimpal. Selain pembebasan dari dosa-dosa pemberontakan 1949-1962, Orde Baru lewat tangan tentara juga memberikan kemudahan usaha kepada para eks anggota DI/TII.

Ateng Djaelani, salah satu dedengkot DI/TII yang ikut dalam penumpasan orang-orang PKI, diangkat sebagai ketua Gapermigas (Gabungan Perusahaan Minyak dan Gas) Kotamadya Bandung. Sementara Danu Muhammad Hasan direkrut Ali Moertopo untuk bekerja di BAKIN dengan imbalan yang memadai: rumah dinas, mobil dinas dan gaji bulanan.

Menurut Solahudin, situasi mapan itu menjadikan eks anggota DI/TII sejenak melupakan cita-cita mereka untuk mendirikan Negara Islam. “Saat itu kami tak berpikir sama sekali untuk menghidupkan kembali gerakan DI/TII,” ujar Adah Djaelani seperti dikutip dalam buku karya Solahudin.


NU membentuk KPK untuk melawan DI/TII

Tidak hanya memberikan fasilitas secara perorangan, pada 21 April 1971 pemerintah Orde Baru juga (lewat BAKIN) memfasilitasi pertemuan reuni akbar eks anggota DI/TII di Situaksan, Bandung. Sekira 3.000 eks anggota DI/TII hadir dalam pertemuan itu. Para pejabat BAKIN mengajak mereka bergabung dengan Golkar.

“Merespons ajakan itu, para tokoh DI/TII terbelah menjadi dua: ada yang oke saja dan ada yang menolak mentah-mentah,” ujar Solahudin.

Sejarah kemudian membuktikan, sebagian anggota DI/TII kembali membangun mimpi tentang negara Islam di Indonesia. Para “pejuang Tuhan” itu kemudian ada yang kembali mengangkat senjata untuk mewujudkannya dengan memodifikasi gerakan mereka menjadi transnasional.

Sumber: Historia

Thursday, October 1, 2020

Detik-detik Terakhir Pemimpin DI/TII, Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dieksekusi mati dan dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, bukan di Pulau Onrust seperti yang diyakini banyak oleh masyarakat. Dia diperlakukan secara Islami.

Pada 4 Juni 1962, satu kompi batalyon Kujang II Siliwangi menyergap dan menangkap sang Imam Negara Islam Indonesia (NII), SM Kartosoewirjo, dan pengikutnya di daerah Gunung Sangkar dan Gunung Geber di Jawa Barat.

Tentara membawa Kartosoewirjo (berbaju putih dengan mata ditutup kain) menuju Pulau Ubi untuk dieksekusi mati

Setelah sekian waktu kucing-kucingan dengan Tentara Nasional Indonesia selama masa pengejaran, termasuk bersembunyi dan bertahan di dalam hutan, membuat tubuhnya jadi renta dan tak terawat, ia pun akhirnya tertangkap. 

Saat tertangkap, dia diserang berbagai penyakit. Badannya kurus. Rambut dan kumisnya memutih. Dia terlihat lebih tua dibanding usianya saat itu: 57 tahun.

Usai ditangkap, Kartosoewirjo menjalani persidangan selama 14-16 Agustus 1962. Dia dikenai tiga tuduhan: memimpin dan mengatur penyerangan, hendak merobohkan pemerintahan RI yang sah, dan membunuh presiden. “Tuntutan kedua dan ketiga ditolak oleh Kartosoewirjo,” kata Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu Sang Imam.

Pengadilan Mahkamah Militer menyatakan Kartosoewirjo bersalah dan menjatuhkan vonis hukuman mati. Upaya terakhir dengan meminta grasi gagal; Presiden Sukarno menolak grasinya. Dia pun harus menjalankan takdirnya.

Pada 12 September 1962, sebelum eksekusi, Kartosoewirjo mendapat kesempatan berkumpul bersama keluarga, satu dari empat keinginan terakhirnya. Hadir dalam pertemuan tersebut sang istri, Dewi Siti Kalsum, putri tokoh Persatuan Serikat Islam Indonesia (PSII) cabang Malangbong, Ardiwisastra, yang telah memberikannya 12 anak –hanya tujuh yang hidup hingga tahun 1962. Hadir pula kelima anaknya: Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti.

Momen-momen terakhir Kartosoewirjo terekam dalam buku Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII yang disusun politisi Fadli Zon. Buku ini dluncurkan di Gedung Cipta III, Taman Ismail Marzuki bertepatan dengan 50 tahun eksekusi Kartosoewirjo, September 2012. Selain pameran, ada diskusi dengan pembicara Sardjono Kartosoewirjo, sejarawan Muhammad Iskandar, dan Fadli Zon.

“Saya membelinya sekitar dua tahun lalu. Saya dapatkan dari seorang kolektor, orang Indonesia juga. Saya pikir akan lebih baik jika foto-foto tersebut tidak lari ke luar negeri, maka saya membelinya,” kata Fadli Zon tanpa mau menyebut nama si kolektor.

Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo lahir di Cepu pada 1902 dari keluarga seorang mantri candu. Dia mengenyam pendidikan sekolah ala Barat. Bahkan sempat berkuliah di Nederlands Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda) di Surabaya, meski hanya selama empat tahun. Dianggap terlibat gerakan politik, karena bergabung dengan Jong Java, dia dikeluarkan. Pamannya, Mas Marco Kartodikromo, adalah orang yang mengenalkannya pada gerakan nasionalis dan Marxisme.

Tak lagi kuliah, dia jadi editor di koran Fadjar Asia. Di Surabaya, Kartosoewirjo berguru kepada “Raja Jawa tak bermahkota” HOS Tjokroaminoto dan bahkan menjadi sekretaris pribadinya. Dia juga menjalin pertemanan dengan murid Tjokroaminoto lainnya, Sukarno –yang kelak bersimpangan jalan dengannya. Ketika bergabung dalam komisioner Persatuan Serikat Islam Indonesia (PSII) Jawa Barat, dia menjalin hubungan dengan Ajengan Yusuf Taujiri, mentor dan guru spiritualnya.

Pemikiran Kartosoewirjo semakin radikal setelah dia mengetengahkan konsep hijrah pada kongres PSII tahun 1936. Kartosoewirjo dan pendukungnya kemudian membuat faksi baru yang disebut Komite Pembela Kebenaran dan mendirikan Suffah Institut- sebuah lembaga pendidikan kader dengan meniru pola pesantren, khususnya pesantren yang ada di Malangbong, Garut- di Malangbong, kampung mertuanya. Namun ide ini tak mendapat restu dari ajengan Yusuf. Suffah Institut pun tak berlanjut; beberapa dari mereka kembali ke desa masing-masing.

Saat Jepang masuk ke Indonesia, Kartosoewirjo bergabung dengan Madjlis Islam 'Alaa Indonesia (MIAI) dan di Jawa Hokokai. Bahkan dia aktif membina gerilyawan-gerilyawan di sekitar Banten dan memimpin sebuah laskar Hisbullah yang berbasis di Malangbong, “Laskar-laskar binaan Kartosoewirjo ini tidak pernah dirangkul pemerintah saat itu,” kata Fadli Zon.

Pada 1949, Indonesia mengalami suatu perubahan politik. Saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, Kartosoewirjo yang kecewa dengan hasil keputusan Renville mendirikan sebuah negara Islam pada 7 Agustus 1949 di desa Cisampak, kecamatan Cilugalar, kabupaten Tasikmalaya. Upaya ini dinilai pemerintah sebagai pemberontakan, dan segera mengambil langkah strategis guna menumpasnya.

Mendeklasarikan berdirinya sebuah negara Islam, sebetulnya sudah menderu dalam jiwa Kartosoewirjo sejak mendengar Jepang kalah atas sekutu, 6 Agustus 1945. Deklarasi direncanakan pada 14 Agustus 1945. Saat itu Kartosoewirjo yang sudah pindah ke Jakarta meminta Kiai Yusuf untuk memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII), namun ditolak Kiai Yusuf. Tahun 1946, Kartosoewirjo yang aktif sebagai Wakil Masyumi daerah Priangan tetap konsisten sikap politiknya dengan sikap nonkooperatif pada kaum penjajah. Ia menolak perjanjian Linggarjati dan Renville. Ia dan laskar Hizbullah yang dibentuknya menolak meninggalkan Jawa Barat untuk hijrah ke Yogyakarta. Lalu bersama laskar Hizbullah dari Cirebon, Cicalengka, dan Blubur-Garut yang berada di bawah pimpinan Zainal Abidin, ia membentuk TII (Tentara Islam Indonesia).

Saat Republik Indonesia Serikat bubar pada 17 Agustus 1950, Kartosoewirjo yang setahun sebelumnya telah mendeklarasikan NII yakin itu sebagai bentuk kegagalan sistem pemerintahan yang sekuler yang bernama Republik Indonesia. Melalui suratnya kepada Presiden RI Sukarno, ia mengajak untuk menjadikan Islam sebagai landasan negara, tapi tidak ditanggapi. Pada 1950-1952 pihak DI/TII kemudian banyak melakukan inistiatif serangan pada pemerintah RI. Kota-kota atau pos polisi diserang tidak hanya malam, tapi juga siang hari. Butuh waktu sebelum akhirnya gerakan DI/TII ini dapat dilumpuhkan oleh TNI, dan Kartosoewirjo berhasil dibekuk.

Kartosoewirjo mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung kotak-kotak. Sebatang rokok tak pernah lepas dari himpitan jemarinya. Di pertemuan itu, dia dan keluarga bersantap siang. Bila sang istri dan anak-anaknya melahap menu daging rendang khas masakan Padang yang disajikan, Kartosoewirjo enggan memakannya.

Usai santap siang, mereka bersenda-gurau. Anak-anak Kartosoewirjo terlihat begitu tabah ketika oditur militer meminta ayah mereka memberi pesan terakhir. Kartosoewirjo berpikir sejenak dan lalu berbicara kepada keluarga.

“Saya tidak ikut, waktu itu usia saya baru lima tahun. Tapi tak ada pesan penting yang disampaikan bapak waktu itu, karena pertemuan itu kan juga dijaga sama tentara,” kata Sardjono.

Lalu keluarga itu berkumpul untuk pengambilan gambar. Kartosoewirjo duduk sebanjar dengan istri, lalu tiga putrinya, Kartika, Komalasari, dan Danti. Di belakangnya berdiri dua putra mereka, Tahmid Basuki Rahmat dan Dodo Mohammad Darda. Begitu kaku. Darda dan Komalasari membuang tatapan mereka dari lensa kamera, sedang Dewi Siti Kalsum tampak terpejam, mungkin karena pengaruh lampu blitz.

Usai pertemuan, Kartosoewirjo melakukan salat taubat. Setelah itu seorang tentara, mungkin seorang imam dari seksi kerohanian TNI, memberikan wejangan. Kartosoewirjo menyimaknya dengan memejamkan mata.

Seorang petugas datang, memborgol tangannya, dan membawanya ke sebuah ruang tunggu. Jam tangan Rolex-nya dilepas, dan sejumlah barang lain diserahkan ke keluarga.Di ruang tunggu yang lebih mirip gudang itu, Kartosoewirjo masih sempat menikmati sebatang rokok, sebelum mobil tahanan membawanya menuju kapal PGM.

Di atas kapal PGM, Kartosoewirjo berbaring di ranjang. Kepalanya diganjal bantal. Seorang petugas dengan baret duduk di sisi ranjangnya. Di ujung ranjang ada dua petugas bersenjata. Kartosoewirjo menatap langit-langit. Dia mengatupkan dua tangannya yang terborgol dan menaruhnya di atas perut.

Tak lama, dia dibawa petugas untuk pindah ke kapal LCM (Landing Craft Mechanized), kapal yang membawa dirinya ke Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, tempat dia diekseksusi dan dimakamkan. “Melalui rangkaian foto ini setidaknya bisa diketahui kalau Kartosoewirjo dimakamkan di Pulau Ubi bukan di Onrust seperti yang diyakini selama ini,” kata Fadli Zon.

Selain itu, foto ini menepis kabar tak sedap yang menyebutkan kalau Kartosoewirjo diperlakukan secara tak Islami ketika dieksekusi mati. “Ternyata dia diperlakukan secara Islami, disalatkan. Dengan foto ini, kontroversi dan imajinasi yang mengawang-awang tersingkap,” kata Mohammad Iskandar.