Monday, January 24, 2022

Supaya Kembali Liar, 5 Posisi Seks Ini Bisa Cairkan Suasana Setelah Bertengkar dengan Pasangan

Bertengkar dalam hubungan suami istri memang hal yang wajar terjadi. Walau demikian, tentu saja semua pasangan suami istri lebih memilih tidak ingin bertengkar.

Oleh karena itu, tentu ada salah satu cara untuk mencairkan suasana setelah bertengkar salah satunya berhubungan seks.

Berhubungan seks setelah bertengkar bahkan bisa memberikan kepuasan yang melebihi biasanya.


Nah, berikut ini ada sederet posisi yang bisa mencairkan suasana setelah bertengkar dari pasangan dilansir dari Window of World:

Posisi Cowgirl

Posisi seks yang bisa cairkan suasana setelah bertengkar dengan pasangan yaitu posisi cowgirl.

Sebab, posisi ini membantu kamu dan pasangan kembali melakukan kontak mata sehingga bisa saling menenangkan.

Posisi ini di mana sang suami berbaring di tempat tidur, sementara pasangan berada di atas untuk mengontrol.

Posisi Misionaris

Selanjutnya, posisi seks yang bisa cairkan suasana setelah bertengkar yaitu posisi misionaris.

Posisi ini cocok untuk membangkitkan gairah karena mengharuskan berhadapan dan melakukan kontak mata dengan pasangan.

Anda juga bisa mengajaknya berbicara atau membisikkan kata-kata manis di telinga agar amarahnya semakin luluh.

Bahkan, posisi ini diakui bisa menciptakan percakapan manis setelah bertengkar hebat dengan pasangan.

Posisi seks bersandar di dinding

Posisi berhubungan seks bersandar di dinding juga menjadi salah satu berhubungan seks yang cocok dilakukan setelah bertengkar dengan pasangan.

Suami bisa melakukan penetrasi dengan posisi berdiri dan istri bisa berdiri sambil bersandar di dinding dengan satu kaki terangkat.

Posisi seks yam tum tantra

Posisi seks yab tum tantra menjadi salah satu yang cocok menghidupkan kembali kehangatan dan keharmonisan setelah bertengkar.

Posisi ini dilakukan dengan cara sambil berpelukan di mana istri duduk di pangkuan suami saling berhadapan dan melingkarkan kaki di pinggang suami.

Posisi seks oral

Posisi seks oral bisa menjadi alternatif posisi seks setelah bertengkar dengan pasangan.

Posisi seks ini dirasa bisa membangkitkan gairah pasangan. Kamu bisa berhubungan seks penetrasi dengan menjaga kontak mata dan pelukan.

(Video) Cuti Sakit Ditolak, Pasien Covid-19 Kerja Bawa Tabung Oksigen dan Marah-marah di Kantor

Seorang pasien Covid-19 di India yang sedang dalam masa pemulihan, izin cutinya ditolak sehingga dia membawa tabung oksigen ke kantor. 

Pasien tersebut diketahui bernama Arvind Kumar yang bekerja sebagai manajer di salah satu cabang Bank Nasional Punjab (PNB) di Bokaro. Suatu hari dia datang ke kantornya di negara bagian Jharkhand membawa tabung oksigen, karena mengklaim cutinya ditolak oleh para senior. 

Menurut publikasi Livehindustan, PNB membantah klaim Kumar dan menuduhnya melakukan drama untuk mencemarkan nama baik bank. 

Adapun pihak PNB menyebut Kumar sedang diselidiki atas pinjaman NPA (Non-Performing Asset) yang harus dia kembalikan. Dalam video yang viral di media sosial, tampak Kumar tiba di kantor dengan dibantu berjalan oleh istrinya, dan putranya menyeret tabung oksigen ke dalam gedung. 

Livehindustan melaporkan, Kumar lalu menuju ruangan seniornya dan terlibat cekcok di dalam. Kumar terdengar berkata, "Para dokter mengatakan saya akan butuh waktu tiga bulan untuk pulih sepenuhnya, karena infeksi sudah menyebar ke paru-paru. Kenapa saya diganggu?" 

Keluarga Kumar mengatakan, dia mengajukan pengunduran diri setelah cutinya ditolak tetapi juga tidak diizinkan. Mereka lalu mengklaim bahwa bank mengancam akan memotong gaji Kumar, sehingga dia terpaksa datang ke kantor sambil membawa tabung oksigen. 

Kumar kemudian dipulangkan setelah pertengkaran verbal hari itu.

PNB meyakini bahwa ini adalah taktik Kumar untuk membatalkan tuntutan terhadapnya, dan menghentikan proses terhadap rekening pinjaman NPA-nya. 

Bank tersebut juga mengungkapkan, Kumar absen dari pekerjaan selama dua tahun tanpa izin. Mereka pun menegaskan tidak ada pegawai positif Covid-19 yang cutinya ditolak, baik untuk kepentingan sendiri maupun orang lain.

Video Kumar membuat keributan di kantor bisa dilihat di bawah ini:



Wednesday, January 19, 2022

(Foto) Awal Mula Profesi Pramugari di Indonesia

Pada mulanya ide serta gagasan pelayan dalam penerbangan banyak ditertawakan. Dulu sebutannya adalah "Nyonya Rumah di Udara".

Berparas catnip, mampu berbicara dalam banyak bahasa, berbusana semarak dan mempunyai kesempatan terbang kesana-sini serta mengunjungi banyak tempat secara gratis. Ya itulah mereka: pramugari pesawat terbang komersial. Mereka menyertai perjalanan para penumpang pesawat di tiap kelas. Semua orang mafhum tugas mereka: memandu para penumpang pesawat selama penerbangan.

Mereka pun kerap kali menjadi pusat perhatian kala mereka melintas di hadapan orang-orang.

Lalu, bagaimanakah profesi pramugari bermula di Indonesia?

Kehadiran pramugari pesawat terbang di Indonesia bertalian dengan pembukaan layanan rute penerbangan sipil oleh maskapai nasional pertama Indonesia, Garuda Indonesian Airways (GIA). "Penerbangan pertama dilakukan ketika membawa Presiden Soekarno dari Djokja ke Djakarta pada tanggal 28 Desember 1949," tulis Ipphos Report, 15 Oktober 1950.

Sejak penerbangan pertama itu, GIA mulai menerapkan kebijakan serupa maskapai penerbangan negara lain. Salah satunya dengan membuka lowongan kerja untuk posisi "stewardess" atau nyonya rumah di Udara, begitu sebutan pramugari pada awal kehadirannya di Indonesia. "Untuk kepentingan para penumpang, tiap-tiap pesawat mempunyai stewardess yang melayani mereka di perjalanan," tulis Ipphos Report.

Profesi pramugari di negara lain bermula di Amerika Serikat pada tahun 1930. "Ellen Church adalah seorang jururawat Amerika yang pada 1930 datang pada direksi Boeing Air Transport (BAT, sekarang United Airlines) dengan usul supaya diadakan pelayan-pelayan wanita dalam kapal terbang," tulis Nasional pada 17 November 1951.

Usul Ellen saat itu malah menjadi bahan tertawaan. Banyak orang tak merasa butuh pelayan selama penerbangan. Namun faktanya, lama kelamaan mereka butuh juga. Sebab penerbangan (saat itu) tak selamanya menyenangkan. Hanya melihat awan putih dan langst biru. Belum lagi selalu ada saja penumpang pemula dalam penerbangan. Para penumpang khususnya penumpang pemula ini takut dan bingung harus berbuat apa selama penerbangan. Maka akhirnya usul Ellen pun dapat diterima.

"Hari bersejarah bagi kaum stewardess itu adalah 15 Mei 1930," tulis Nasional. Ellen bersama tujuh perempuan lainnya terbang melayani penumpang dari San Fransisco menuju Chicago. Mereka mengantar makanan dan minuman, menjawab pertanyaan polos anak-anak kecil, dan membantu penumpang pemula mengikat sabuk pengaman serta menolong penumpang yang mabuk udara.

Maskapai lain akhirnya meniru cara BAT menghadirkan pramugari di pesawat terbang. Tak terkecuali tentunya GIA yang membentuk panitia pemilih calon pramugari dan menyebar informasi lowongan kerja untuk posisi pramugari.

Panitia tersebut pun kebanjiran surat lamaran. "Bukan main banyaknya surat lamaran yang mengalir di atas mejaku selama berminggu-minggu belakangan ini. Rupanya pemuda dan pemudi mempunyai minat besar juga terhadap jenis pekerjaan baru ini," kata seorang panitia dalam Minggu Pagi 10 Desember 1950. Sementara Nasional menyebut surat lamaran datang dari berbagai pulau seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa dan Maluku.

Dari keterangan panitia, kita juga mengetahui bahwa lelaki juga boleh melamar. Kelak mereka disebut sebagai pramugara. Namun jumlah lelaki yang melamar posisi ini tidak sebanyak perempuan. Mungkin mengingat profesi ini bermula dari prakarsa perempuan. Lagipula sebutannya adalah nyonya rumah di udara bukan tuan rumah di udara.

Para perempuan pelamar harus melalui beberapa proses untuk menjadi pramugari. Tahap pertama adalah seleksi administratif. Panitia mematok pendidikan minimal untuk para pelamar, yaitu setidaknya setingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat SMP. Selain itu, para pelamar harus berpengetahuan umum luas. Jika lolos tahapan ini, para pelamar akan memperoleh pelatihan yang biasanya berlangsung selama 6 pekan.

Materi pelatihan berkisar pada ilmu penerbangan umum, pengetahuan haluan terbang, meteorologi, cara menyajikan makanan dan minuman, etiket terhadap orang lain, urusan pabean serta tiket, dan kemampuan bahasa asing seperti Bahasa Inggris atau Belanda.

"Kursus selama 6 minggu itu, sudah tentu tidak meloloskan orang steward yang lantas baik begitu saja. Hal ini terutama dalam praktik. Maka sehabis kursus, kepada angkatan baru, segera diadakan kesempatan untuk ikut terbang," tulis Minggu Pagi.

Dari praktik itulah pramugari akan tahu mana penumpang pemula, mana yang sudah pernah terbang, mana yang sedih, mana yang bahagia menikmati perjalanannya, mana yang khawatir, mana yang biasa saja. Mereka akan memberikan sikap berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing penumpang.

Pramugari senior menjadi mentor pramugari pemula selama penerbangan. Satu nama disebut oleh Nasional sebagai pelopor profesi pramugari di Indonesia yaitu Radiana Wargaprawira atau Anna Warga.

Radiana Wargaprawira (Anna Warga), pramugari pelopor di Indonesia

"Anna ini boleh dikatakan stewardess bangsa Indonesia yang tertua dinasnya. Ia sudan dinas hampir 2,5 tahun..Dialah yang pada 28 Desember tahun 1949 mendapat kehormatan untuk ikut serta dalam kapal terbang yang menjemput Presiden Soekarno dari Jogjakarta ke Djakarta," demikian dituliskan Nasional, 17 November 1951.

Pramugari umumnya bekerja 80 jam di udara dalam satu bulan. Mereka punya waktu mengaso setelah 2-3 hari bekerja.

Seorang pramugari sedang melayani penumpang dalam pesawat terbang Garuda Indonesia jenis Convair pada tahun 1950.

Pramugari pemula terbang pada rute-rute pendek seperti Jakarta-Bandung dan Jakarta-Palembang. Jumlah akumulasi jam terbang mereka menentukan seberapa jauh tugas mereka. Bila telah mencapai 500 jam penerbangan, mereka akan terbang melintas rute panjang seperti Jakarta-Singapura dan Jakarta-Manila.

Sejumlah pramugari menyatakan rasa lelahnya ketika menjalani tugas-tugas perdana. Tapi mereka lama-kelamaan merasa senang dengan pekerjaannya. "Siapa pula yang tak mau terbang kesana, terbang kesini, lihat kota sana, lihat kota sini, memperdalam pepatah lain ladang lain belaying," kata seorang pramugari kepada Nasional. Pramugari lain berkata kepada Minggu Pagi, "Sekali terbang, tetap terbang."

Reza Hervina, pramugari cantik Lion Air


Pramugari Garuda Indonesia

Pramugari Batik Air

Pramugari Air Asia

Pramugari tidak jemu-jemu memberi pelayanan sepenuh hati kepada para penumpang yang beraneka karakter itu.

Cara Yusuf Mansur Gaet Investor Tabung Tanah: Tawari Investasi di Pengajian dan Bawa-bawa Sedekah

Jama'an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur tengah digugat terkait investasi tabung tanah oleh tiga pekerja migran Indonesia (PMI) bernama Surati, Yeni Rahmawati, dan Aida Alamsyah. Penawaran investasi itu dilakukan Yusuf Mansur dalam acara pengajian. 

Saat menawarkan investasi tersebut, Yusuf Mansur juga menyinggung nilai sedekah. Menurut Asfa, berdasar keterangan kliennya, pengajian itu berlangsung di Hong Kong pada 2014. Saat itu, para kliennya memang tengah bertugas di Hong Kong. 

Yusuf Mansur

"Jadi penggugat ada tiga orang, mereka pada waktu itu TKW (PMI) di Hong Kong," sebut Asfa di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Kota Tangerang, Selasa (18/1/2022). 

"Saudara Jam'aan Nurchotib Mansur waktu itu datang ke sana, di pengajian, menawarkan investasi tabung tanah namanya," sambung dia. Sebelum menyampaikan soal program tabung tanah, kata Asfa, Yusuf Mansur sempat membicarakan soal nilai-nilai sedekah. Lalu (Yusuf Mansur) bicara mengenai nilai-nilai sedekah, lalu menawarkan investasi tabung tanah, dan mereka (penggugat) tertarik," papar dia. 

Menurut Asfa, berdasar pengakuan kliennya, pihak yang menginvestasikan duitnya ke program itu akan mendapatkan bagi hasil. Namun, keuntungan bagi hasil itu hanya sebatas omongan saja alias tidak ada hitam di atas putih. 

"(Keuntungan bagi investor) ada bagi basilnya. Itu juga enggak clear ya karena enggak ada hitam di atas putih. Jadi semua disampaikan secara lisan," papar Asfa. 

Dia menyebut, sejak 2014 hingga saat ini, para kliennya tak kunjung mendapatkan keuntungan (bagi hasil) dari Yusuf Mansur melalui program tersebut. Oleh karena itu, ketiga penggugat memutuskan untuk menggugat Yusuf Mansur.

"Nah kenapa kami gugat, karena sejak mereka investasi sampai dengan hari ini, tidak ada laporan mengenai investasi itu untuk apa," kata Asfa. 

Selain itu, para penggugat juga belum balik modal. "Ini semuanya belum, investasinya belum (kembali), uang bagi hasilnya apa lagi," kata Asfa. 

Asfa menjelaskan, ketiga penggugat menanam investasi masing-masing sekitar Rp 4,6 juta-Rp 4,9 juta pada 2014. Mereka juga membayar Rp 200.000 untuk menjadi anggota Koperasi Merah Putih. Sebab, mereka harus menjadi anggota koperasi tersebut jika ingin menanam investasi dalam program tabung tanah. 

Setelah menanam investasi, mereka dijanjikan menerima bagi hasil. "Ada bagi hasilnya. Itu juga enggak clear ya karena enggak ada hitam di atas putih. Jadi semua disampaikan secara lisan," ucap Asfa. 

Adapun dilansir dari situs sistem informasi penelusuran perkara (SIPP) PN Tangerang, gugatan perkara itu tercatat dengan nomor 1391/Pdt.G/2021/PN Tng terkait perbuatan melawan hukum. 

Disebutkan dalam petitum bahwa gugatan itu terkait dengan program tabung tanah. Penggugat beranggapan, program itu tidak sah dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dalam perkara ini, Yusuf Mansur digugat membayar total Rp 560.156.39


Heboh Bisnis Es Doger Gibran Disuntik Rp 71 Miliar, Ini Penjelasan Investornya

Suntikan modal sebesar Rp 71 miliar yang dilakukan oleh Alpha JWC Ventures ke start-up minuman Goola bisnis Es Doger milik putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka baru-baru ini kembali menjadi perbincangan ramai. 

Hal ini terjadi setelah pakar information technology (IT) Sammy Notaslimboy menyoroti suntikan modal ke bisnis es doger milik Gibran Rakabuming Raka tersebut. Padahal, investasi yang digelontorkan oleh Alpha JWC Ventures tersebut dilakukan pada Agustus 2019. 

Adapun Goola didirikan pada tahun 2018 oleh Kevin Susanto, Benz Budiman, dan Gibran Rakabuming Raka.


Co-founder & General Partner Alpha JWC Ventures Chandra Tjan mengatakan, investasi dan pendampingan dilakukan ke dalam perusahaan rintisan (start-up) di Indonesia dan Asia Tenggara, salah satunya seperti Goola, agar mendorong start-up di Tanah Air untuk berkembang pesat. 

Apalagi kata dia, saat dilakukan investasi tersebut, Goola sudah memiliki produk dan beberapa cabang di Jakarta, termasuk di daerah Cikini, Jakarta Pusat; dan Setiabudi, Jakarta Selatan. 

“Oleh sebab itu, setelah melakukan serangkaian penilaian dan perbandingan produk, angka penjualan, hingga proyeksi keuangan atau yang biasa disebut due diligence, Alpha JWC memutuskan berinvestasi di perusahaan tersebut secara bertahap berdasarkan pencapaian perusahaan,” ujar Chandra Tjan kepada para wartawan Selasa (18/1/2022). 

Dengan investasi tersebut, Alpha JWC sudah memiliki saham minoritas di Goola dengan pemilik saham terbesar adalah para pendiri perusahaan, seperti Kevin Susanto, Benz Budiman, dan Gibran Rakabuming. 

Selain itu, Chandra Tjan juga menilai, jumlah investasi tersebut masih dalam jumlah wajar. Sebab, dengan dana kelolaan sebesar 630 juta dollar AS, Alpha JWC mampu melakukan investasi di berbagai sektor (sector-agnostic) dengan jumlah investasi (ticket size) beragam. 

Investasi tersebut mulai dari Rp 1 miliar hingga Rp 600 miliar per perusahaan untuk kepemilikan saham minoritas sekitar 10 persen hingga 20 persen. ”Sebagai contoh di 2018, kami juga memberikan investasi 8 juta dollar AS pada Kopi Kenangan yang saat itu juga baru mulai. Jadi ini pun sebenarnya wajar,” kata dia. 

Sebelumnya, Goola menargetkan pembukaan 15 gerai di Indonesia pada 2019 dan mencapai 100 gerai pada 2020. Tidak hanya menguasai pasar domestik, Goola juga berencana untuk melakukan ekspansi ke negara-negara lain di Asia.

"Jika minuman manis dari negara lain bisa populer, mengapa minuman lokal kita tidak bisa? Produk kami telah diterima baik oleh pelanggan. Goola tidak hanya mengikuti tren konsumsi minuman manis yang sedang naik daun. Banyak (konsumen) yang bilang, minuman kami membawa kembali kenangan masa kecil mereka dan mengingatkan kembali pada tradisi yang sudah lama terlupa," kata Gibran Rakabuming. 

Sumber: Kompas

Tuesday, January 11, 2022

Mirisnya Nasib Para Korban Wanprestasi Ustaz Yusuf Mansur: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Sungguh malang bagaikan kata peribahasa "sudah jatuh tertimpa tangga" begitulah kira-kira nasib para korban investasi Ustaz Yusuf Mansur dkk. 

Sudah bernasib buruk karena investasi tak kunjung balik modal, kini para korban tersebut juga terancam dilaporkan ke polisi oleh sang Ustaz. 

Kuasa Hukum Yusuf Mansyur, Deddy DJ, menngatakan bahwa pihaknya akan melaporkan sejumlah pihak yang dinilai telah menggiring opini bahwa kliennya telah membohongi publik dan mengadakan investasi bodong. 

Beberapa di antaranya ialah penggugat Yusuf di Pengadilan Negeri Tangerang. Deddy menyatakan, langkah pelaporan ini diambil sebagai tindakan tegas terhadap penggugat yang telah menggiring opini masyarakat tentang sosok kliennya. 

Ustaz Yusuf Mansur

"Klien kami Ustaz Yusuf Mansur hari ini mengambil langkah hukum yang tegas terhadap oknum-oknum yang sengaja menggiring opini. Mengatakan Ustaz Yusuf Mansur adalah seorang penipu, pembohongan publik, investasi bodong Mansur," ujar Deddy kepada wartawan, Senin (10/1/2022). 

Menurut Deddy, kliennya tidak pernah menipu atau membohongi masyarakat dengan mengadakan investasi bodong. Dia menyebut bahwa kliennya memang memiliki dan menjalankan bisnis, yang mana investor diminta menyetor uang Rp10 juta sampai Rp 12 juta sebagai dana awal. Namun, uang tersebut akan dikembalikan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. 

"Saya katakan bahwa bisnis patungan usaha patungan aset ini ada. Mereka yang invest itu punya bukti kepemilikan dalam bentuk sertifikat. Jelas di dalam sertifikat itu," kata Yusuf. 

Namun Deddy belum bersedia menjelaskan secara rinci mengenai siapa saja pihak yang akan dilaporkan ke kepolisian. Dia hanya mengatakan bahwa di antaranya merupakan penggugat Yusuf ke pengadilan. 

"Ada tiga aktor yang saya laporkan, termasuk para penggugat yang sudah terima uang kembali. Tetapi dia ikut penggiringan opini, seakan-akan bisnis ini tidak ada," kata Deddy. 

Sejumlah penggugat Yusuf Mansur sebelumnya telah mengikuti sidang perdana di Penadilan Negeri Tangerang. 

Tangis Korban di PN Tangerang 

Lilik Herlina tak kuasa membendung emosinya saat menceritakan awal mula ia berinvestasi dalam proyek hotel haji dan umrah yang dicetuskan Ustaz Yusuf Mansur dkk. Sembari menangis, warga Boyolali, Jawa Tengah, itu bercerita bahwa ia menghabiskan uangnya sebesar Rp 12 juta untuk investasi tersebut. Uang tersebut berasal dari dana pesangon pemutusan hubungan kerja (PHK) dirinya. 

Lilik menceritakan, ia berinvestasi setelah melihat Yusuf Mansur mempromosikan program investasi itu saat mengisi acara dakwah di stasiun televisi swasta pada 2013. Ia saat itu langsung tertarik. Ia lantas menghubungi nomor yang tertera dalam acara itu dan mendapatkan nomor rekening khusus untuk program investasi tersebut. 

Setelahnya, Lilik bergegas mentransfer uang senilai Rp 12 juta. "Akhirnya saya ikut. Saya transfer waktu itu antara bulan Mei/Juni tahun 2013. Itu dari uang PHK saya," kata Lilik sembari menangis, saat ditemui usai sidang perdana gugatannya, di Pengadilan Negeri Tangerang, Kota Tangerang, Kamis (6/1/2022). 

Saat itu, Lilik tak memiliki pikiran negatif bahwa program investasi tersebut bakal bermasalah. Tak lama setelah mentransfer uang Rp 12 juta, Lilik mendapatkan sertifikat kepesertaan program investasi tersebut. 

Dalam sertifikat itu dijelaskan bahwa Lilik bakal mendapatkan keuntungan sebesar 8 persen per tahun. Ia semakin merasa senang dengan program itu saat mengetahui bahwa investor berhak menginap di hotel dan apartemen haji/umrah selama 12 hari per tahun. Adapun hotel itu kini bernama Hotel Siti di Kota Tangerang. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, Lilik senantiasa menunggu adanya keuntungan dari investasi tersebut. Namun, penantiannya tak kunjung membuahkan hasil. 

Pihak Yusuf Mansur dkk sama sekali tidak memberi kabar terkait keuntungan yang akan didapatkan Lilik. Bahkan, Lilik tidak bisa menghubungi pihak Yusuf Mansur dkk. Ia pun tak tahu progres perkembangan hotel yang menjadi obyek investasi. 

"Setelah berjalan lama, tidak ada kabar. Saya kirim chat WhatsApp, enggak ada balasan, enggak ada yang namanya grup investor, itu enggak ada sama sekali," papar Lilik. Boro-boro dapat untung, Lilik bahkan bertahun-tahun tak balik modal. 

Uang investasi Lilik baru dikembalikan secara bertahap sejak 2020, hampir 8 tahun setelah ia berinvestasi. Pada Desember 2020, uang yang dikembalikan sebesar Rp 6,6 juta. Lalu, pada Januari 2021, uang Lilik dikembalikan sebesar Rp 5,5 juta. "Lama sekali dikembalikan, awal investasi 2013, dibalikin 2021," ucap Lilik. 

Belajar dari Pengalaman Para Korban Wanprestasi Ustaz Yusuf Mansur, Ini 3 Tips Untuk Memulai Investasi

Bukan hanya Lilik yang menjadi korban investasi Yusuf Mansur. Total ada belasan orang yang mengajukan gugatan ke PN Tangerang dan terdaftar dalam 3 perkara.

Total ada 3 gugatan perdata terhadap Yusuf Mansur dkk di PN Tangerang. Gugatan pertama terdaftar dengan nomor 1366/Pdt.G/2021/PN Tng yang diajukan oleh Sri Sukarsi dan Marsiti terhadap Yusuf Mansur. 

Dalam petitumnya, penggugat meminta hakim menyatakan Ustaz Yusuf Mansur telah melakukan perbuatan hukum yaitu berupa pengumpulan dana yang tidak sah. Pengumpulan dana itu melalui proyek Program Tabung Tanah. Ustaz Yusuf Mansur digugat membayar ganti rugi total senilai Rp 337.960.000. 

Gugatan kedua tercatat dengan nomor 1340/Pdt.G/2021/PN Tng terkait Wanprestasi atau ingkar janji. Ada 12 penggugat atas nama Lilik Herlina, Siti Khusnul Khotimah, Elly Wahyuningtias, Aan Yuhana, Norlinah, Yun Dwi Siswahyudi, Tri Restutiningsi, Nur'aini, Atikah, Tommy Graha Putra, Umi Latifah, dan Nanang Budiyanto. 

Ustaz Yusuf Mansur bersama dua pihak lain digugat karena diduga telah melakukan ingkar janji atau wanprestasi terkait patungan usaha hotel dan apartemen haji dan umroh. Ketiga tergugat diminta membayar senilai total Rp 785.360.000. 

Sedangkan gugatan perkara ketiga tercatat dengan nomor 1391/Pdt.G/2021/PN Tng terkait perbuatan melawan hukum. Ada 3 nama penggugat yaitu Surati, Yeni Rahmawati, dan Aida Alamsyah. Sama dengan gugatan pertama, gugatan ketiga ini juga itu terkait dengan Program Tabung Tanah. 

Dalam perkara ini Ustaz Yusuf Mansur digugat membayar total Rp 560.156.390 untuk 3 penggugat. Yusuf Mansur sendiri mengaku senang atas tiga gugatan yang diajukan ke PN Tangerang itu. "Saya malah suka kalau sudah dibawa ke jalur hukum, baik kepolisian maupun pengadilan. Profesional aja, jadi terang benderang," papar Yusuf Mansur dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/1/2022). 

Menurut Yusuf, jika kasus itu hanya beredar di media sosial maka yang muncul hanyalah debat kusir alias bantah-membantah. Ia menggambarkan bantah-membantah itu sebagai "amunisi konten". 

Yusuf Mansur sejauh ini belum mau berkomentar banyak soal materi gugatan. Namun menurut dia, investasi yang digugat oleh beberapa pihak itu sebenarnya sudah berhasil secara visi dan misi keummatan. 

"Perjalanan yang digugat ini, sebenarnya, secara visi misi keummatan, sudah berhasil banget-banget. Saya dkk, dengan izin Allah, membawa ummat menjadi punya aset manajemen syariah, satu-satunya sementara ini," paparnya.

Belajar dari Pengalaman Para Korban Wanprestasi Ustaz Yusuf Mansur, Ini 3 Tips Untuk Memulai Investasi

Sebanyak 12 orang mengaku sebagai korban ingkar janji alias wanprestasi yang dilakukan oleh Ustaz Yusuf Mansur dkk atas dana investasi uang patungan usaha hotel serta apartemen haji dan umrah. 



Ke-12 orang tersebut kemudian menggugat secara perdata ustaz dengan nama asli Jam'an Nurchotib Mansur tersebut. Selain itu, ada dua tergugat lainnya dalam kasus ini yakni PT Inext Arsindo dan Jody Broto Suseno. 

Korban tergiur acara dakwah, pakai uang PHK buat investasi 

Salah satu korban, Lilik yang berasal darii Boyolali, mengikuti sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Kota Tangerang, Kamis (6/1/2022). 

Lilik menceritakan awal mula dia tertarik untuk investasi pembangunan hotel serta apartemen haji dan umrah yang dicetuskan Ustaz Yusuf Mansur. Pada 2013, Lilik melihat acara dakwah Ustaz Yusuf Mansur di salah satu stasiun televisi swasta yang membahas soal investasi itu. 

"Kalau ingat ini saya sakit hati. Awalnya kan Yusuf Mansur itu bilang mau membangun Indonesia, mau bikin hotel yang nanti fungsinya untuk transitnya para jemaah haji, terus juga transitnya para wali santri yang nyantri di tempatnya," kata Lilik seusai persidangan, Kamis. 

"Akhirnya saya ikut. Saya transfer waktu itu antara bulan Mei/Juni tahun 2013, itu dari uang PHK saya," kata Lilik sembari menangis. 

3 hal yang harus diperhatikan sebelum memulai investasi 

Belajar dari kasus tersebut, ada 3 hal yang yang perlu diperhatikan sebelum memulai investasi. Berikut tipsnya: 

1. Mengenal investasi dan risikonya, jangan mudah percaya influencer 

Hal pertama yang perlu Anda lakukan sebelum mulai investasi adalah mengenal investasi dan risikonya. Investasi adalah kegiatan menanam modal atau dana dengan harapan mendapat keuntungan atau imbal hasil di masa depan. Setiap investasi memiliki risiko yang berbeda-beda. Ada yang memiliki risiko rendah, ada juga yang memiliki risiko tinggi. 

Beberapa waktu lalu, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan mengungkapkan, memahami risiko investasi penting dilakukan, mengingat banyak influencer yang berbicara soal investasi tanpa latar belakang pengetahuan yang jelas. 

“Saat ini ada banyak influencer di media sosial sehingga peluang untuk teperdaya akan lebih besar, ada juga risiko teperdaya investasi secara ilegal. 

Kasus yang masuk ke satgas waspada investasi juga mencatat banyak anak muda (tertipu) investasi ilegal karena ikut-ikutan,” ujar Junanto. Dia menyarankan agar masyarakat lebih cerdas dalam menyerap informasi. Tentunya, informasi harus dari sumber yang tepat dan tepercaya sehingga meminimalisasi potensi hoaks. 

2. Membedakan kebutuhan dan keinginan, investasi butuh dana "dingin" 

Hal selanjutnya yang perlu menjadi pertimbangan ketika hendak melakukan investasi adalah dengan mengetahui dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. 

Menurut Junanto, keinginan dan kebutuhan memiliki perbedaan yang tipis, sehingga perlu cermat demi mencapai target finansial yang baik ke depannya. “Kita suka lupa, makan adalah kebutuhan, tapi makan burger, sate, dan nasi goreng itu adalah keinginan. Ini harus dipahami sebelum mengelola keuangan, jadi uang itu mau diolah jadi apa dan pikirkan kebutuhannya apa,” jelas Junanto. 

Di sisi lain, berinvestasi juga membutuhkan dana dingin atau dana nganggur yang tidak diperuntukan untuk suatu hal. Sehingga, ketika Anda mengalami risiko investasi, maka pos-pos penting pengeluaran wajib Anda seperti uang sekolah, uang belanja, dan lain sebagainya tidak terganggu.  

3. Jangan buru-buru dalam berinvestasi, banyak baca dan cari informasi 

Junanto tidak menyarankan untuk memilik investasi secara terburu-buru. Sebelum memulai investasi, Anda perlu membekali diri dengan membaca dan mencari tahu informasi terkait dengan investasi tersebut. 

“Jadi bukan hanya tech savvy, tapi juga harus financial savvy. Anda harus rajin membaca, boleh sesekali nongkrong, main game, rebahan, tapi jangan terus–terusan agar bisa produktif,” ujar dia. 

Junanto menambahkan, saat ini investasi bisa dimulai dengan nominal yang rendah, mudah, aman, dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Hal ini positif karena mampu mendorong pertumbuhan tren retail investor, khususnya di kelompok usia muda produktif. 

“Namun, tentunya pertumbuhan ini harus didukung dengan pemahaman keuangan yang baik agar para pelakunya bisa menjadi investor yang cerdas dan mawas dengan risikonya,” tutup dia. 

Anda juga perlu mencari tahu di mana Anda akan melakukan investasi, cek legalitas dan izin beroperasi dari OJK, cek rekam jekak perusahaan investasi, hingga manajer investasi yang akan mengelola uang Anda. Hal ini perlu dilakukan agar Anda tidak tertipu investasi-investasi bodong. 

Monday, January 10, 2022

Kisah Fransisca Fanggidaej, Nenek Aktor Reza Rahardian yang Terusir dari Indonesia Gara-gara Peristiwa G30S 1965

"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan" - Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution.

Sejarah paling kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia, peristiwa berdarah G30S 1965 memisahkan Francisca Fanggidaej dari anak-anaknya yang masih kecil, karena dia tidak dapat pulang setelah paspornya dicabut. Bagaimana anak-anaknya bisa bertahan dan menunggu 38 tahun untuk bertemu kembali dengan ibu mereka? 

Suasana di pagi hari di awal Oktober 1965 itu semestinya tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. 

Enam bocah itu, dan satu orang lagi yang beranjak remaja, biasanya mengisi waktu luang dengan bermain — usai pulang sekolah.

Dan pagi itu terlihat normal-normal saja, kecuali kerisauan Savitri Sasanti Rini, salah-seorang bocah itu, ketika memergoki ayahnya terlihat gelisah sehari sebelumnya. 

Walaupun begitu, bocah berusia tujuh tahun itu tak berpikir bahwa gelagat ayahnya itu terkait dengan kejadian genting beberapa hari sebelumnya yang juga tidak dia pahami.

Santi — panggilan anak kelima ini — pun tak pernah membayangkan peristiwa di hari-hari itu akan membuat dia dan 6 saudaranya bakal terpisah belasan hingga puluhan tahun dengan ayah dan ibunya.

Pagi itu, ketika Santi dan saudara-saudaranya bermain di dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah halaman depan. "Keluar! Keluar!" 

Beberapa tentara bersenjata lengkap turun dari truk dan mencari ayahnya. Ketakutan mulai merayapi bocah-bocah itu. Ayahnya lantas diciduk rombongan tentara.

"Kita hanya bisa menangis, [seraya setengah berteriak] 'Bapak, bapak, bapak kenapa?'" kata Santi pada pertengahan September lalu, mencoba mengingat lagi kejadian pahit di pagi itu.

Tujuh anak pasangan Supriyo-Francisca Fanggidaej (dan sepupunya) sekitar tahun 1960an (arsip keluarga)


Dihantui ketakutan, pertanyaan tanpa ada jawaban ini kemudian mengiringi kepergian ayahnya — Supriyo, jurnalis kantor berita Antara — yang dinaikkan ke dalam truk. 

Mereka saat itu tak tahu dibawa ke mana ayahnya — belasan tahun kemudian barulah diketahui ayahnya dibui di penjara Salemba, Jakarta, tanpa diadili karena dikaitkan pilihan politik ibu anak-anak itu.

Sang ibu, Francisca Fanggidaej adalah anggota DPR Gotong Royong yang ditunjuk Presiden Sukarno dari wakil golongan wartawan sejak 1957 — dia jurnalis Kantor Berita Antara dan memimpin INPS (Indonesian National Press Service). 

Sebelumnya, pada periode Revolusi Kemerdekaan, dia terlibat aktif memperjuangkan kemerdekaan dalam diplomasi di pelbagai forum internasional. 

Ketika gonjang-ganjing G30S meletus, dan saat suaminya ditangkap di hadapan anak-anaknya yang ketakutan, dia sedang bertugas di luar negeri.

Belakangan Francisca tidak bisa pulang ke Indonesia setelah paspornya dicabut oleh rezim Soeharto, karena dikaitkan dengan peristiwa G30S.

Dia terpisah dengan suami dan anak-anaknya dan harus menunggu lebih dari 35 tahun untuk berkumpul kembali.

Seperti penangkapan ayahnya yang menimbulkan pertanyaan tak terjawab oleh anak-anaknya, keberadaan sang ibu yang tanpa kabar sama-sekali, membuat anak-anaknya menderita selama bertahun-tahun.

"Setiap kali ada persekutuan doa, yang selalu saya doakan adalah ibu saya," ungkap Santi yang mulai aktif di gereja ketika beranjak remaja.

"Karena terus terang, saya sedih kalau mengingat ini," suara Santi bergetar, lalu seperti menahan tangis. "Saya selalu berdoa, kapan saya bisa bertemu ibu saya dan keadaannya seperti apa." 

"Dan sedihnya saya melihat kok bapak saya seperti ini [dipenjara tanpa diadili] ya," ujarnya. Ayahnya dipenjara selama 12 tahun dan baru menghirup udara bebas pada 1978.

Anak bungsu, Mayanti Trikarini — kelahiran 1962 — sulit melupakan momen-momen ketika dia mulai memahami bahwa ibu kandungnya tidak diketahui keberadaannya.

"Waktu itu beritanya, masih simpang siur. Ada yang mengatakan [ibu] meninggal, atau apalah. Jadi kita juga bertanya, mama mana? Kayaknya meninggal," kata Mayanti Trikarini, anak bungsu pasangan Francisca Fanggidaej-Supriyo.


"Waktu itu beritanya, masih simpang siur. Ada yang mengatakan [ibu] meninggal, atau apalah.

"Jadi kita juga bertanya, 'Mama mana'? 'Kayaknya meninggal'. Berpikir negatif semua, karena tidak ada berita sama-sekali. Tidak ada kabar mengenai mama," ungkap Maya di kediamannya, awal pekan kedua September 2021.

Setelah ayahnya diciduk tentara di pagi bulan Oktober 1965 itu, tujuh anak itu kemudian diselamatkan oleh keluarga dekat ibunya, tapi stigma terkait ayah dan ibunya tidak otomatis sirna. 

Adapun rumah yang dibangun dari tabungan gaji Francisca sebagai anggota DPR itu disita dan isinya dijarah. Tujuh anak itu berhasil diselamatkan hanya dengan pakaian yang menempel di badan.

Dalam atmosfir propaganda Orde Baru, tujuh bocah itu — dititipkan kepada beberapa keluarga dekat ibunya — tumbuh besar dalam stigma terkait latar belakang politik ibunya. 

Salah-seorang anaknya, Nusa Eka Indriya, berusia sembilan tahun saat mereka diusir dari rumahnya tidak lama setelah G30S 1965, berulang-ulang menerima stigma dari sebagian masyarakat.

"Setiap saya cerita masa lalu itu, aduh, saya berharap jangan ada lagi peristiwa itu. Biar kita saja," ungkap Nusa saat dihubungi BBC News Indonesia, pertengahan September lalu.

"Karena itu membekas sekali. Bayangkan, saat kita bermain, [diteriaki] 'PKI, PKI'," kata pria kelahiran 1956 dan ayah enam anak ini.

Fransisca Fanggidaej (Arsip keluarga)


Kejadian lainnya yang disebutnya begitu membekas adalah ada foto-foto ibunya dalam ukuran besar yang ditempel di dinding sebuah rumah. Dia selalu melewatinya setiap berangkat dan pulang sekolah.

"Ada kata-kata 'tangkap hidup atau mati Francisca' dengan foto ibu saya. Itu tekanan yang bukan main buat saya pada waktu itu," katanya lirih.

Keberadaan foto dan tulisan itu, rupanya, juga membuat Santi sangat terpukul. Ketika itu dia siswa sebuah sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari dinding rumah tersebut.

"Pada waktu itu, saya mulai [bertanya-tanya], 'ada apa ya [terhadap ibu saya]. Itu sangat membekas," ungkap Santi.

Maya, sang anak bungsu, kala itu tak luput dari stigma dari sebagian masyarakat. Dia teringat ketika ada salah-seorang temannya di sekolah dasar menyebutnya 'PKI'.

"Saya kejar dia sampai rumahnya, saya tarik rambutnya. Anak itu sering ngatainsaya [PKI]," kata Maya. 

Santi juga mengaku pernah "memukul" seorang kawannya saat SD karena dia juga dilabeli 'PKI'.

"Dia bilang 'dasar anak PKI', [lalu] saya pukul dia, sampai berurusan dengan kepala sekolah," ungkap Santi.

Maya (paling kanan), Santi (berbaju garis hitam-putih), Nusa (kedua dari kiri), bersama Nila (putri sulung, paling kiri) dan Diantini (baju kuning), bersama sang ayah, Supriyo (tengah), di tahun 1994 (Arsip keluarga).


Dan waktu terus berjalan. Memasuki bangku SMA, Maya sengaja memilih tidak bergaul secara mendalam dengan teman-temannya agar tidak sering ditanya "bapak dan ibu di mana".

"Zaman itu sudah ada disko, saya ikut saja. Diajak ke acara ulang tahun, saya datang. Tapi saya enggak terlalu mendalam sama mereka.

"Karena akan ada pertanyaan, 'Mama mana, bapak mana?' Itu selalu [ditanyakan]," Maya berujar pelan, seraya menarik napas panjang. 

Bagi Maya, adanya stigma seperti itu tidak terlepas propaganda yang terus dihembuskan di zaman Orde Baru. "Padahal, mereka [yang menghinanya] tidak tahu apa-apa."

"Saya merasa ibu saya tidak salah kok. Ini hanya politik. Bapak saya [setelah dibebaskan] yang sering beritahu," cetusnya.

Itulah sebabnya, Maya kemudian tidak mau menonton film Pengkhianatan G30S/PKIyang dulu setiap tahun ditayangkan di televisi pada masa Orde Baru. 

"Saya juga menolak Penataran P4, saya enggak busuk kok. Saya merasa dikotak-kotakkan, khusus anak tapol (tahanan politik) di kelurahan jam segini, saya enggak mau," aku Maya yang sarjana jurnalistik.

Di usia 80 tahun, di sebuah acara terbatas pada 21 Agustus 2005 di negeri Belanda, Francisca membuat semacam kesaksian terkait apa yang dialaminya selama hidupnya.

"Selama ini hidup saya diwarnai oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan mendadak," tulisnya dalam karangan pendek berjudul Penilaianku terhadap masa kini atas dasar pengalamanku masa lampau.

Peristiwa-peristiwa mendadak itu disebutnya "silih-berganti antara sukses dan kegagalan, kehilangan dan kemenangan, tawa dan air mata."

Dia kemudian berujar, dalam kehidupan setiap orang, ada kalanya sang nasib mengubah arahnya.

Francisca Fanggidaej dan sejumlah wartawan (1963). Foto dokumentasi IISG Amsterdam


"Dan kita terpaksa menapaki jurusan lain dalam perjalanan kehidupan kita," ujar Sisca — panggilan akrabnya — yang dilahirkan di Noel Mina, Timor, 16 Agustus 1925.

Lalu dia menulis: "Dalam hidup [saya] hal itu sudah terjadi beberapa kali, antara lain 17 Agustus 1945 dan pada 30 September 1965."

Khusus peristiwa gonjang-ganjing 1965, dalam memoarnya berjudul Perempuan Revolusioner (2006, Yogyakarta: Galangpress), Francisca berujar pendek tapi bernada getir.

"Anak-anak masih kecil..." tulisnya. "Aku ingat, sebelum aku berangkat ke Aljazair dan terus ke Chile, kutinggali hanya dengan segebung uang kertas. Tidak kuhitung lagi berapa."

Dalam memoarnya, dia mengaku peristiwa G30S "sama sekali di luar pikiranku" dan menyebutnya seperti "halilintar di siang bolong".

Markas Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jakarta, pada 8 Oktober, hancur lebur oleh amukan massa, menyusul Peristiwa G30S.


"Sama sekali aku tidak tahu, apalagi mengerti," akunya. 

Sisca di masa-masa genting itu memang lebih banyak di luar negeri. Pada 1964, sebagai anggota DPR-GR di Komisi Luar Negeri, dia ikut rombongan Presiden Sukarno untuk menghadiri persiapan Konferensi Asia Afrika ketiga di Aljazair.

Pada 13 Oktober 1965, sekelompok mahasiswa membakar markas Pemuda Rakyat (ormas underbouw PKI) di Jakarta.


Dia kemudian terbang ke Helsinki untuk menghadiri Konferensi Perdamaian Sedunia pada 1965.

Tidak lama kemudian, Sisca menghadiri kongres Organisasi Jurnalis Internasional di Chile, 28 Oktober 1965. Sejak saat itulah dia tidak pernah bisa pulang ke Indonesia setelah meletus G30S.

Kemudian dia menghadiri Konferensi Trikontinental di Havana, Kuba, pada Januari 1966. Paspornya sudah dianggap tidak berlaku mulai saat itu.

Beberapa catatan menyebutkan, dia lantas berpindah-pindah dari Kuba, China (selama 20 tahun), hingga mendarat di Belanda pada 1985, dengan menggunakan paspor sementara dari Kuba, pemberian Fidel Castro.

Francisca Fanggidaej bersama pemimpin Kuba Fidel Castro (menelpon), dan Ibrahim Isa (kanan) di Kuba, 1966 (Arsip keluarga)


Kembali ke tragedi 1965. Walaupun sama-sekali tak menduga akan terjadi peristiwa setragis itu, Sisca memiliki firasat bahwa akan terjadi malapetaka besar. 

"Dan bahwa akan terjadi malapetaka besar, dan aku tidak akan pernah kembali untuk waktu yang sangat lama," akunya.

"Sampai sekarang setiap aku mengenang ke belakang, pada sekitar hari-hari itu, sulit untuk menahan genangan air mataku." 

Kalimat ini adalah penutup pada memoarnya yang ditulis oleh eks tapol 1965, Hersri Setiawan.

Dalam buku Pesindo, Pemuda Sosialis Indonesia 1945-1950 (terbitan 2016), karya Norman Joshua Soelias, Francisca bersaksi:

"Sebagai seorang ibu, saya meninggalkan anak-anak saya yang waktu itu masih kecil. Ini bukan demi saya, tapi untuk keselamatan mereka!" 

Ucapan Sisca itu dikutip oleh penulis buku itu dari film dokumenter r.i (2011) karya Andrew Dananjaya.

"Tahun itu memang menjadi tahun yang tak pernah berakhir bagi Francisca, di mana dia harus meninggalkan kehidupannya, pekerjaaannya, dan keluarganya karena situasi politik," papar Norman Joshua di bagian epilog buku itu.

Fransisca berperan dalam diplomasi kemerdekaan, tapi namanya dihapus dari sejarah 

Ita Fatia Nadia, peneliti sejarah di Ruang Arsip dan Sejarah (RUAS) Perempuan, menyebut Francisca Fanggidaej berperan penting dalam upaya diplomasi di masa kemerdekaan.

"Tidak saja jaringan internasional, tetapi juga bagaimana pemikiran politik dan aktivisme Francisca di dalam gerakan negara-negara yang menuntut pembebasan nasional," kata Ita Nadia.

Hal itu diungkapkan Ita dalam diskusi yang digelar Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP), pekan keempat Juli lalu. Di forum ini, Ita secara khusus membedah peran penting Sisca untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Fransisca Fanggidaej, Pahlawan kemerdekaan yang namanya dihapus dari sejarah karena fitnah penguasa Orde Baru


Menurut SPP, pencatatan sejarah mengenai keterlibatan perempuan di luar ranah domestik dianggap masih sangat terbatas.

SPP juga menganggap penulisan sejarah Indonesia yang berorientasi gagasan nasionalisme telah menyingkirkan kehadiran ragam kelompok dan dinamika politik.

Mereka juga menyebut pencatatan sejarah turut menyingkirkan praktik solidaritas dan pemikiran yang dianggap berjalan di luar haluan utama.

Dengan latar itulah, Ita kemudian mengungkap peran Francisca mulai awal kemerdekaan, seperti menghadiri Kongres Pemuda Indonesia I di Yogyakarta (November 1945), hingga perannya sebagai anggota DPR-GR (1957).

Kongres itu melahirkan Pemuda Sosialis Indonesia dan Badan Kongres Pemuda Indonesia (BKPRI) yang mewadahi seluruh organisasi kepemudaan.

Dalam naungan BKPRI, Sisca — saat itu berusia 20 tahun — dan Yetty Zain kemudian menjalankan siaran Radio Gelora Pemuda di Madiun untuk melawan propaganda NICA. 

"Tugas utamaku mengurusi siaran dalam bahasa Inggris dan Belanda," kata Sisca dalam memoarnya, Perempuan Revolusioner (2006).

"Dia hanya membawa paspor yang terbuat dari kertas merang... Di situlah, Sisca berkampanye tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Ita Nadia. (Foto arsip keluarga: Francisca Fanggidaej, tanpa keterangan waktu dan tempat).


Dua tahun kemudian, 1947, Sisca dipercaya sebagai delegasi Pesindo untuk menghadiri acara World Youth and Students Festival di Praha, Cekoslowakia.

Acara ini digelar oleh World Federation of Democratic Youth (WFDY) dan International Union of Students (IUS). Dia berangkat bersama dua rekannya dari Pesindo.

"Dia hanya membawa paspor yang terbuat dari kertas merang... Di situ lah, Sisca berkampanye tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Ita Nadia kepada BBC News Indonesia, pekan pertama September lalu.

Di acara itu, menurut Ita, Francisca berpidato dengan tema "solidaritas bersama rakyat yang terjajah".

Selesai dari Praha, Francisca melanjutkan "perjalanan advokasinya" ke Yugoslavia dan Hungaria, tulis Norman Joshua Soelias dalam buku Pesindo, Pemuda Sosialis Indonesia 1945-1950 (2016). 

Pada 1948, Francisca terlibat dalam The Conference of Youth and Students of Southeast Asia Fighting for Freedom and Independence di Kalkuta, India.

Francisca Fanggidaej bersama sejumlah wartawan, di antaranya Ibrahim Isa (kelak juga menjadi eksil, dua dari kiri) di sebuah acara.


Dalam acara ini, Sisca sudah melampaui keindonesian, tapi tentang internasionalisme ke depan, kata Ita Nadia.

"Dia bicara tidak atas nama Indonesia, tetapi atas nama bangsa, atas nama kemanusiaan... dia bicara tentang internasionalisme ke depan," papar Ita.

Sikap Francisca ini, menurutnya, perlu diungkap sebagai pengetahuan.

"Bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari transnational activism dan internasionalisme, yang memikirkan tentang kemanusiaan yang lebih luas lagi," ujarnya.

"Dan itu disuarakan seorang perempuan bernama Francisca Fanggidaej," kata Ita.

Di konferensi itu, "100% merdeka menjadi keyakinan politik Francisca, yang nanti ada perbenturan, karena dia menolak perjanjian Renville," tambahnya.

"Dia bicara tidak atas nama Indonesia, tetapi atas nama bangsa, atas nama kemanusiaan... dia bicara tentang internasionalisme ke depan," papar Ita. (Foto arsip keluarga: Francisca di sebuah acara, tanpa keterangan tempat dan waktu).


Menurut Norman Joshua, konferensi ini nantinya dinilai kontroversial karena tak lama sesudah konferensi, pemberontakan komunis pecah di negara-negara Asia Tenggara.

Sebagian sejarawan menganggap konferensi ini adalah ajang bagi Uni Soviet dan Cominform untuk menyebarkan garis kebijakan luar negeri barunya ke Asia Tenggara.

Tapi, "bukti-bukti lebih baru pada akhirnya membantah pandangan ini," tulis Norman Joshua.

Sekembalinya ke Indonesia, menurut Joshua, Francisca menemukan dirinya terlibatkan — secara fait accompli, katanya — dalam Peristiwa Madiun 1948.

Dia ditangkap oleh TNI dan dipenjara di Gladak, Surakarta, tapi dia lolos dari hukuman mati karena saat itu sedang hamil anaknya yang pertama — Nilakandi Sri Luntowati.

Suaminya yang pertama, Sukarno (yang dipanggil Mas Karno), ditembak mati bersama Amir Sjarifuddin dan beberapa nama lainnya pada 19 Desember 1948.

Sempat memimpin Pemuda Rakyat, lalu SOBSI, dan Gerakan Wanita Indonesia, Francisca kemudian terjun sebagai jurnalis menjelang Konferensi Asia Afrika (1955).

Diawali sebagai wartawan Kantor Berita Antara, dia bersama beberapa wartawan kemudia mendirikan Indonesian National Press Service (INPS)

Dalam perjalanannya, Francisca kemudian diangkat sebagai anggota DPR-GR oleh Presiden Sukarno, dari golongan wartawan.

"Catatan-catatan tentang peran Francisca [di masa revolusi kemerdekaan hingga menjelang 1965) tidak menjadi memori kolektif yang menjadi sumber sejarah kemerdekaan Indonesia," kata Ita Nadia. (Foto arsip IISG Amsterdam: Francisca Fanggidaej, tanpa keterangan waktu dan tempat).


"Dan di sinilah, dia yang pertama kali membuat resolusi tentang kemerdekaan Timor Timur dari Portugis," ungkap Ita Nadia.

Sayangnya, peranan penting Francisca ini tidak pernah ditulis dan disebut dalam teks sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, kata Ita.

Namanya seperti dihilangkan dari sejarah resmi semenjak Orde Baru, karena latar belakang politiknya dan peristiwa G30S.

"Catatan-catatan tentang peran Francisca [di masa revolusi kemerdekaan hingga menjelang 1965) tidak menjadi memori kolektif yang menjadi sumber sejarah kemerdekaan Indonesia," kata Ita Nadia.

Ita Fatia Nadia berpose bersama Francicsa Fanggidaej di kediamannya di kota kecil Zeizt, sekitar 30 menit naik bus dari Stasiun Utrecht, Belanda. (foto arsip Ita Fatia Nadia)


Ita Nadia juga menganggap peranan Francisca dan sejumlah tokoh perempuan lainnya tidak diberi tempat dalam sejarah, karena politik maskulinitas Orde Baru telah menghapusnya. 

"Itulah sebabnya, saya sebagai sejarawan, memanggil kembali memori-memori [recalling memories] yang dihilangkan untuk dihadirkan kembali, termasuk sosok Francisca," cetusnya.

Ita Nadia sendiri terlibat dalam penulisan memoar Francisca (Perempuan Revolusioner, 2006), yang ditulis Hersri Setiawan, eks tapol 1965. 

Pada 2005, Ita bersama Hersri bertemu langsung dengan Francisca di kediamannya di kota kecil Zeizt, sekitar 30 menit naik bus dari Stasiun Utrecht, Belanda.

"Buku ini telah memberikan sumbangan kepada historiografi Indonesia," ujarnya dalam kata pengantarnya.

"Mengapa? Karena buku ini telah merekonstruksikan kembali pola penulisan sejarah Indonesia yang berangkat dari pengalaman perempuan."

Kisah anak-anak saat bertemu ibunya 

Setelah ayahnya dibebaskan pada 1978, anak-anaknya mulai mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang mengapa ibunya tidak bisa pulang. Juga kenapa ayahnya di penjara.

Di tahun-tahun itu, sang anak bungsu, Maya, sudah di bangku SMA. "Gimana sebetulnya Mama sih?" 

Supriyo, kelahiran 1920, kemudian menjelaskan bahwa apa yang mereka alami lantaran dicap PKI. "Tapi Bapak tidak tahu Mama di mana," ungkap Santi.

Barulah setelah Francisca meninggalkan China dan mulai menetap di Belanda pada 1985, anak-anaknya mendapatkan kepastian tentang kabar ibunya.

"Saya merasa ibu saya tidak salah kok. Ini hanya politik. Bapak saya [setelah dibebaskan] yang sering beritahu," cetusnya. (Foto arsip keluarga: Maya dan ibunya, 2011).


Informasi itu didapatkan dari keluarga ibunya yang lebih dulu tinggal di negeri itu. "Pada waktu Mama di China, kita tidak tahu," aku Santi.

Di sinilah, interaksi ibu dan anak-anak mulai terhubung melalui surat menyurat. "Kita juga saling kirim foto." 

Pada 1993, Maya berangkat ke Belanda untuk pertama kalinya bersua ibunya semenjak gonjang-gonjang 1965.

Maya mengaku suasana pertemuan itu "agak kaku". "Saya sudah berumur 35 tahun dan punya anak tiga, jadi udah beda," Maya tertawa kecil. 

"Mama saya menangis, sedih.. saya terbawa, hanyut juga," tambahnya.

Francisca Fanggidaej bersama anak-anaknya pada 2011 di rumahnya di Belanda. (Foto arsip keluarga)


Tetapi status eksil yang melekat pada ibunya, membuat pertemuan mereka tidak begitu leluasa. Keluarga mereka di Belanda juga menasehati agar pertemuan mereka "jangan terlalu mencolok."

"Saya tidak bisa berlama-lama dengan Mama. Kita hanya ketemu di kafe atau datang ke rumahnya, tapi tidak menginap," ungkap Maya.

Barulah setelah Reformasi 1998, dan setelah Presiden Abdurrahman Wahid mempersilakan para eksil untuk pulang, anak-anaknya dapat leluasa bertemu sang ibu.

Pada 2003, Francisca akhirnya bisa pulang ke Indonesia, sebuah keinginan meluap-luap lantaran tertunda lebih dari 35 tahun. 

"Kerinduan yang amat sangat," ungkap Santi. "Kami hanya bisa menangis, berpelukan," kata Nusa.

Francisca Fanggidaej saat berada di kediaman Santi di Tangerang Selatan pada 2003. (Foto: arsip keluarga)


Francisca kemudian secara bergantian menginap di rumah anak-anaknya.

Seperti yang dialami Maya yang mengaku "agak kaku" saat kali pertama memeluk ibunya pada 1993, anak-anaknya yang lain juga merasa seperti itu.

"Tidak sama ya kalau kita terus kumpul. Ada jurang pembatas. Ewuh pakewuh," aku Nusa. Santi pun mengaku "ada kekakuan". 

Di hadapan anak-anaknya, sang ibu kemudian menceritakan lebih mendalam kenapa dia tidak bisa pulang setelah G30S. "Ibu cerita sambil menangis," ungkap Maya. 

Di sinilah anak-anaknya semakin bisa memahami penderitaan Francisca selama diasingkan dari Tanah Air dan tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya selama puluhan tahun.

"Kami bangga dengan Ibu. Dia seorang pejuang" 

Sembilan tahun setelah Reformasi 1998, buku memoar Francisca Fanggidaej yang ditulis oleh bekas tahanan politik 65, Hersri Setiawan, terbit. 

Anak-anak Francisca kemudian menjadi lebih tahu perihal peranan ibunya sebagai perempuan pejuang di masa revolusi kemerdekan melalui buku berjudul Memoar Perempuan Revolusioner itu. 

Nusa, Santi dan Maya pun tak bisa menutupi perasaan "bangga" atas apa yang dilakukan oleh ibunya pada periode itu dan setelahnya. "Ibu saya pejuang," kata mereka.

"Karena dari sekian ratus juta manusia Indonesia, belum tentu bisa seperti itu ya," ujar Nusa. 

Dia mencontohkan kehadiran ibunya di Konferensi Kalkuta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan meminta dukungan internasional.

Kini, setelah sang ibu tutup usia di usia 88 tahun pada 13 November 2013 lalu dan dimakamkan di Belanda, anak-anaknya mengharapkan agar sejarah menempatkan sosok ibunya secara lebih adil.

Mayanti (baju merah), Nusa (nomor tiga dari sebelah kiri), Pratiwi Widianti (duduk sebelah kiri, ibu Reza), dan Reza Rahardian (aktor film, nomor dua dari kanan) adalah cucu Francisca Fanggidaej. (Foto: arsip keluarga)


Hal ini ditekankan Nusa, Santi dan Maya, karena peran penting ibunya di masa lalu seperti dihapuskan dari sejarah resmi. 

"Saya merasakannya," kata Santi. "Banyak hal-hal yang diperjuangkan Mama tidak diakui."

Dengan nada yang lebih getir, Maya berujar: "Mama pejuang tanpa nama, karena belum ada yang mengakui. Bukan hanya Mama, tapi juga mereka yang terbuang [dan tidak bisa pulang]."

Nusa menyadari bahwa harapan untuk menempatkan sosok ibunya secara lebih adil, bukanlah hal gampang, karena menyangkut "institusi macam-macam".

Itulah sebabnya, Nusa menyerahkan sepenuhnya kepada waktu. "Saya yakin akan muncul, walaupun tak diakui, bahwa ibu berperan di sini, di sini... Indonesia akan mencatat." 

Kepada anak-anaknya, Nusa, Santi dan Maya mengungkapkan apa adanya tentang apa yang dialami nenek dan kakeknya di masa lalu. Juga peranan mereka dalam perjalanan republik ini.

"Dan mereka bangga dengan oma dan opanya," ujar Santi.

"Kami memaafkan, tapi sulit untuk melupakan" 

Namun bagaimanapun juga, tiga bersaudara ini memiliki perspektif masing-masing tentang apa yang akan ditempuh anak-anaknya dalam menafsirkan apa yang dikerjakan nenek dan kakeknya di masa lalu.

Di sini Santi teringat pesan ibunya yang disebutnya pernah berkata 'tolong jangan dilibatkan anak-anak dalam dunia politik'. 

"Ibu saya bilang 'jangan terjun ke dunia politik," akunya. 

Dan Anda setuju? Tanya saya. "Saya setuju, karena saya merasa, karena politik kami hancur. Karena politik bapak saya hancur, karena politik anak-anak hancur." 

Adapun Maya memilih untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak dan cucunya tentang apa yang disebutnya sebagai kecintaan kepada Indonesia. 

"Misalnya sikap kepada bendera Merah-Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya. Itu yang saya tanamkan," kata Maya.

Di sisi lain, Nusa menyerahkan sepenuhnya kepada anak-anaknya dalam menafsirkan apa yang dikerjakan nenek dan kakeknya, dan bagaimana mereka mengkonkritkan dalam kehidupan. 

"Silakan kalian buka sendiri [sejarah]," ujar Nusa. "Hanya sebatas itu [yang bisa saya katakan]. Mereka kan punya cara-cara sendiri."

Di akhir wawancara, Maya, Santi dan Nusa — yang dihubungi secara terpisah — mengaku sulit melupakan tragedi itu, namun ketiganya sudah memaafkan siapapun yang membuat mereka terpisah puluhan tahun.

"[Saya] masih marah. Kok bisa seperti itu. Tapi saya tidak sakit hati. Hukum alam semuanya. Saya apa adanya, tapi saya bahagia," Maya berkata.

Walaupun sudah memaafkannya sejak lama, Santi mengaku tidak bisa menghapus ingatan atas peristiwa tragis yang menimpa keluarga mereka. 

"Terus-terang, tidak bisa hilang." Santi mengutarakannya sambil menahan tangis. "Saya tidak mau dendam, tapi memang luka susah untuk dihilangkan." 

Nusa pun mengaku dari dulu sudah memaafkan orang-orang yang menyebabkan dirinya terpisah dari ibu dan ayahnya. 

"Kalau tidak memaafkan, bangsa ini akan terpuruk terus. Kutukan itu tidak akan berakhir, kalau kita yang disakiti tidak memaafkan," pungkas Nusa.

Sudah sepantasnya pemerintah mempunyai niat lebih keras untuk meluruskan sejarah serta memulihkan nama baik mereka yang menjadi korban fitnah .