Monday, October 17, 2016

Rivalitas Sepakbola, Memancing Di Air Keruh dan Persatuan Indonesia

Banyak yang bilang rivalitas derby antara Real Madrid vs Barcelona adalah pertandingan sepakbola "terpanas" di dunia. saya sebagai fans Barcelona mencoba beritahu bahwa rivalitas ini sudah lebih dari seabad dan berakar dari sentimen kedaerahan dimana orang-orang provinsi Catalonia (yang beribukota di Barcelona) ngga mau menganggap diri mereka sebagai bagian dari Spanyol karena pada masa lalu kerap ditindas jadinya mereka selalu menyuarakan kemerdekaan (ini mengingatkan saya dengan yang dialami Timor Timur dan Papua dulu). Namun walau dalam setiap pertandingan kita akan selalu mendengar kata-kata makian kasar, namun kedua kelompok suporter ini tidak akan bentrok fisik. Anda fans Madrid dan berjalan-jalan di kota Barcelona mengenakan jersey Real Madrid, atau anda fans Barcelona berjalan-jalan di kota Madrid mengenakan jersey Barcelona....anda akan aman-aman saja, kecuali Anda bakalan panen tatapan aneh dan berpotensi dirampok.

Beda halnya dengan rivalitas di Liga Argentina antara River Plate dan Boca Juniors. Kedua klub yg berbasis di Buenos Aires ini sudah pasti selalu berantem. Bunuh-bunuhan adalah hal jamak. Rivalitas mereka ini antara kaum kaya (River Plate dikonotasikan sebagai kaum kaya yg menindas kaum pekerja/buruh. Julukan River Plate aja "Los Millionairos" alias Sang Milyuner). Suporter Boca Juniors adalah kelas pekerja atau buruh, karena basis klub ini di Bombonera, sebuah distrik yang (rada kumuh) di Buenos Aires. Permusuhan suporter keduaklub ini mustahil didamaikan, apabila melintas di basis lawan, maka pastilah dibunuh. Dendam akibat perbudakan di masa lalu memang masih terpelihara hingga kini.

Bagaimana dengan di Indonesia?
Saya kasih contoh rivalitas antara Persija Jakarta dan Persib Bandung. Walau saya tinggal di Jakarta, saya akan mencoba netral.

Dalam forum-forum suporter, saya sering jengah karena suporter kedua tim ini selalu saling ejek (udah pasti yg saling ejek ini adalah alay-alay yang sejatinya belum tahu akar masalah pertikaian ini...mungkin karena mereka belum lahir saat pertama kali "perang" atau karena mereka kurang wawasan).

Berdasarkan penelusuran saya di sebuah media olahraga terkenal (saya ngga mau menjudge ya), pertikaian ini boleh dibilang gara-gara ulah suporter persib bandung (maaf ya). Pada era akhir 1990an sampai pertengahan 2000an, Persija merupakan tim bertabur bintang dan selalu mengalahkan Persib secara kandang-tandang. Yang saya tahu dari pentolan suporter Persija dari sebuah forum (kalangan tua alias udah veteran)Entah kenapa, kala Persija bertandang ke Bandung dan memetik kemenangan, segelintir suporter Persija diserang di dalam stadion oleh seisi stadion setelah peluit akhir pertandingan yg dimenangi Persija). Lalu ada "bumbu-bumbu" yg bilang bintang Persija, Ismed Sofyan dan Bambang Pamungkas saat itu dilemparin (maaf) urine dan kotoran manusia (entah ini hoax atau bukan). Maka timbullah dendam di hati para suporter Persija..dendam selalu terjadi bagai lingkaran setan.

Hal ini diperparah oleh "orang/pengusaha konveksi yang kreatif" (atau terlalu kreatif sehingga memancing di air keruh). Terakhir kali saya ke Bandung, saya terkejut melihat bocah dan orang-orang dewasa mengenakan pakaian bertuliskan "Persija Anjing", "fuck Persija", "Bunuh Jakmania", "Jakmania haram menginjakkan kaki di Bandung" atau hal-hal tak pantas semacamnya. Sebuah hal yang jarang saya lihat di kalangan Jakmania ("jarang" bukan berarti "ngga ada" ya).

Rumah saya dekat dengan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan. Waktu kecil saya pernah menonton pertandingan Perserikatan (dulu Persib, Persija dan klub-klub sepakbola yang didepannya ada awalan Per- adalah klub perserikatan alias amatir, di SUGBK). Dan saya mengalami apa yang namanya suporter kampungan alias fanatisme buta, yaitu saya terkena lemparan air urine. Saat itu pertandingannya pertandingan sesi kedua (pertandingan pertama saya lupa nama klub yang bertanding) yang berakhir rusuh (pemain kedua tim berkelahi di lapangan). 

Anehnya, hal tersebut kembali saya alami saat menonton final pertandingan SEA GAMES 1987 antara Indonesia vs Malaysia, dimana Indonesia menyabet medali emas. Saat Ribut Waidi mencetak gol kemenangan, stadion terasa mau runtuh. suporter melempari botol minuman ke udara karena saking gembira, tak terkecuali juga air urine dalam plastik yang lagi-lagi mengenai om-om suporter sebelah saya (saya kena cipratannya). Namun peristiwa terakhir ini bisa saya maklumi karena saat itu suporter Indonesia dalam histeria (apalagi lawannya Malaysia).

Ribut Waidi
Ribut Waidi (kanan) dipeluk oleh pelatih Bertje Matulapelwa (kanan) setelah pertandingan final SEA Games 1987 melawan Malaysia di SUGBK

nb: Ribut Waidi (alm) adalah pemain kanan luar (sayap kanan) legendaris di timnas Indonesia dan klub PSIS Semarang. Saya amat mengingat dia larinya cepat, gocekannya mantap, nafasnya kuat dan umpan silangnya cukup akurat. mirip Andik Vermansyah namun lebih unggul di postur (walau kerempeng) dan umpan silang, serta stamina.

Atas jasanya bagi negara dan menjadi kebanggaan PSIS Semarang, Pemerintah kota Semarang membangun patung Ribut Waidi sedang menggiring bola di jalan utama menuju Stadion Jatidiri.

Lalu apa maksud tulisan saya ini?

Ini adalah bukti bahwa dulu bangsa kita "waras". Dalam level klub selalu berseteru, namun suporter akan kompak kala mendukung timnas dengan melepaskan embel-embel suporter klub (coba lihat kalau timnas main sekarang, pasti anda akan melihat spanduk klub di tribun).
Dan juga bukti bahwa bangsa kita dahulu amat menghargai dan tidak melupakan jasa pahlawannya, seperti Ribut Waidi ini yg walau bukan pahlawan perang tetap dibuatkan patung untuk mengenang jasanya.

Patung Ribut Waidi
Patung Ribut Waidi berdiri kokoh di tengah deru debu kota Semarang (foto: Tribunnews)

Coba Anda lihat sekarang....ngga ada lagi yg mengingat jasa para pahlawan. Adanya menyebar fitnah dan kebencian sehingga pecahlah kemerdekaan dan persatuan yg diperjuangkan para pahlawan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yg menghargai dan mengingat jasa para pahlawannya. Kita tak akan pernah menjadi bangsa yang besar (hanya besar di kuantitas saja tapi kecil di kualitas), karena kita ngga pernah mau, ngga pernah bisa menghargai jasa para pahlawan.

No comments:

Post a Comment