Tuesday, June 16, 2020

Fakta Dibalik Kehebohan Penemuan Bendera Merah Putih Berlogo Palu Arit Di Kampus Universitas Hasanuddin

Sebuah bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan dalam lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan. Kini bendera berlogo itu diamankan polisi.

Bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan petugas keamanan kampus saat berpatroli di dalam lingkungan kampus Unhas Makassar.

bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan dalam lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan

Kepala Humas Unhas Ishak Rahman mengatakan temuan bendera itu sudah berlangsung lama. Bendera ditemukan saat pihak universitas menerapkan study from home (STH) kepada mahasiswanya sejak pendemi Covid-19.

"Bendera tersebut didapatkan pihak keamanan kampus saat berpatroli. Kasus lama ini, tanggal 11 April. Soalnya waktu ditemukan itu kan kampus kosong, karena kita sdh sejak sebulan sebelumnya lakukan study from home," kata Ishak.

 Untuk saat ini bendera itu sudah di amankan oleh penyidik kepolisian Polrestabes Makassar. Sementara pihak kampus belum belum mengetahui sejauh mana penanganannya untuk mencari pelaku.

"Untuk update terbaru harus koordinasi dulu dengan pimpinan untuk ketahui sudah sampai mana penanganannya," ungkap Ishak.

sumber: Okezone

Kisah Sedih Ciuman Terakhir Ade Irma Untuk Ibu Negara Fatmawati Soekarno

Ade Irma merengek minta ikut membesuk Ibu Negara Fatmawati Soekarno di Bandung, menitipkan "ciuman" terakhir untuk Fatmawati sebagai ganti ketidakhadirannya

Mendengar kabar Ibu Fatmawati Soekarno dirawat di RS Boromeus, Bandung, Johana Sunarti langsung menyempatkan diri besuk pada suatu hari, Agustus 1965.

Istri Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution itu memiliki kedekatan dengan sang ibu negara. Sewaktu Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya 26, Jakarta pasca-keluar Istana, Johana merupakan salah satu orang terdekat yang kerap bertamu. Johana sering mengajak Ade Irma Suryani, putri bungsunya, ketika bertamu.

Jenazah Ade Irma digendong Ibunda tercinta Johana Sunarti di dalam mobil yang akan membawa ke Pemakaman Blok P

Fatmawati, yang penyuka anak, kerap mendongengkan cerita-cerita kepada Ade Irma saat ikut bertamu. Maka, sebagaimana dituliskan wartawan Kadjat Adra’i dalam Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i, ketika Johana datang membesuk tanpa mengajak Ade Irma, Fatmawati langsung menanyakan.

“Kenapa tidak dibawa?” tanya Fatmawati.

“Lain kali insya Allah saya bawa, Bu. Kalau diajak sekarang, bisa-bisa hanya bikin repot,” jawab Johana.

“Siapa bilang bikin repot?” Fatmawati bertanya balik. “Anak itu sangat lucu, menyenangkan, dan kelihatannya cerdas seperti ayahnya.”

Johana pun menceritakan bagaimana Ade Irma sempat membuatnya repot sewaktu akan berangkat. Pasalnya, gadis mungil itu merengek minta ikut. Tidak biasanya Ade Irma bersikap seperti itu.

Ketidakbiasaan sikap Ade Irma bukan hanya dirasakan sang ibu. Sang ayah, Nasution, pun merasakan hal serupa. “Pada bulan-bulan terakhir Adek memang agak lain dari biasa, ini kesimpulan saya dalam renungan kemudian. Kalau saya sembahyang ia suka memandangi saya. Kalau sudah selesai, ia suka meminjam sajadah saya dan ia sembahyang, mencontoh saya. Jika ada minuman saya di meja, ia suka meminta meminumnya. Kalau saya malam-malam membaca di kursi itu, ia tidur mendekat tempat kursi malas itu,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6.

Ketidakbiasaan sikap Ade Irma itu membuat Johana mesti “bersiasat” agar Ade Irma mau ditinggal menjenguk Fatmawati. Entah “siasat” apa yang digunakan, Johana akhirnya berhasil meluluhkan hati putrinya.

“Kalau begitu, peluk ciumnya aja untuk Eyang Fat ya, Ma,” pinta Ade saat melepas kepergian ibunya, dikutip Kadjat.

“Insya Allah nanti mama sampaikan, anak manis,” jawab sang ibu.

“Betul ya, Ma, peluk cium untuk Eyang Fat.”

Fatmawati amat terhibur dengan cerita tentang Ade Irma itu. Dia –dan Johana– tak pernah menyangka permintaan peluk-cium Ade Irma kepada Johana merupakan persembahan rasa sayangnya yang terakhir untuk Eyang Fat.

Sekira dua bulan kemudian, dini hari 1 Oktober, Ade Irma tertembak oleh sepasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik ayahnya. Sebagian kecil pasukan pengawal presiden itu terlibat dalam gerakan bernama Gerakan 30 September yang berupaya menghadapkan beberapa Jenderal Angkatan Darat kepada Presiden Sukarno karena dikabarkan hendak kudeta.

Pemakaman Ade Irma Suryani

Makam Ade Irma Suryani


Tiga peluru pasukan Tjakrabirawa bersarang di tubuh Ade Irma. Kendati terus tersadar selama perawatannya di RSPAD, kondisi Ade Irma terus memburuk. Pada petang 6 Oktober 1965, Johana dengan besar hati membisikkan kalimat ke telinga Ade. "Ade, mama ikhlaskan Ade pergi," kata Johana. Gadis lima tahun itu pun meneteskan airmata dan akhirnya pergi untuk selamanya.

sumber: Historia

Ketika D.I. Pandjaitan Mengangkat Orang Jerman Jadi Intel

Warga negara asing diterjunkan dalam operasi intelijen untuk menyadap informasi penting.

BONN, kompleks Kedutaan Besar RI di Jerman Barat. Di kamar kerjanya, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan tekun menulis. Atase militer Indonesia untuk Jerman itu kerap merancang brosur dan pamflet propaganda. Isinya mengemukakan keinginan penduduk asli Irian Barat (kini Papua) untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pandjaitan berencana akan menyebarkannya di negeri Belanda.

Jenazah Mayjen DI Pandjaitan disemayamkan di Mabes TNI AD sebelum dimakamkan di TMP Kalibata

“Siapa yang akan menyebarkan pamflet dan brosur itu nanti? Felix Metternich...,” ujar Marieke Pandjaitan br. Tambunan, istri Pandjaitan dalam biografi  D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran.

Felix Metternich adalah orang Jerman yang dikaryakan di Kedubes RI bagian Atase Militer (Atmil). Dia telah bekerja di sana sejak Kolonel Askari – pendahulu Pandjaitan – menjabat Atmil. Pandjaitan mulai menjabat Atmil pada 1956. Ketika konflik Irian Barat bergolak, Pandjaitan memakai jasa Metternich dalam serangkaian operasi rahasia.

Menurut Marieke, Pandjaitan memang sengaja memilih Metternich untuk menjalankan misi intelijen. Sengketa Irian Barat membuat otoritas imigrasi Belanda menolak paspor warga negara Indonesia. Orang Indonesia tidak diperkenankan masuk, kecuali mereka yang telah lama menetap atau sudah menjadi warga Belanda. Itulah sebabnya, Pandjaitan menyusupkan Metternich ke Belanda guna menyokong kampanye pembebasan Irian Barat.

Apa yang dilakukan Pandjaitan merupakan bagian dari Operasi C. Perintah ini langsung diinstruksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution. Operasi A dilakukan dengan infiltrasi ke daratan Irian Barat. Operasi B menghimpun dan mengkaderasasi putra-putra Irian Barat. Sementara Operasi C adalah kegiatan “diplomasi senyap” yang dilancarkan perwira TNI di luar negeri.

“Para atase militer di Eropa Barat, Kartakusumah di Paris, S. Parman di London, dan Pandjaitan di Bonn merupakan pendukung usaha ini,” ujar Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama.

Tiba di Belanda, Metternich membagi-bagikan brosur dan pamflet tentang Irian Barat kepada golongan tertentu. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh yang dapat membentuk opini masyarakat Belanda soal Irian Barat. Metternich juga sering bertugas memposkan surat-surat rahasia dari pemerintah Indonesia kepada tokoh-tokoh politik dan ekonomi Belanda. Surat-surat itu diposkan dengan mencantumkan alamat pengiriman di wilayah Belgia. Demikianlah caranya untuk menghindari pengguntingan sepihak oleh dinas intelijen Belanda.

Dari semua misi, tugas memasuki pelabuhan yang dikelola oleh Angkatan Laut Belanda merupakan upaya paling beresiko bagi Metternich. Pandjaitan pernah meminta Metternich untuk memotret kapal perang milik Kerajaan Belanda, terutama kapal induk bernama Karel Doorman. Memasuki tahun 1960, santer diberitakan bahwa Karel Doorman akan berlayar ke perairan Irian Barat guna memperkuat pertahanan Belanda. Dengan menggunakan kamera mini, Metternich berhasil memotret Karel Doorman dan kapal-kapal perang yang lain. Pandjaitan kemudian mengirimkan foto-foto jepretan Metternich ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) di Jakarta.

Dan benar saja, pemerintah Belanda mendatangkan Karel Doorman pada akhir Mei 1960. Setelah mengetahui besaran kekuatan armada laut Belanda, TNI mempersiapkan diri menghadapinya dengan kapal penjelajah kelas berat bernama KRI Irian yang dibeli dari Uni Soviet. Selain itu, kekuatan AL Indonesia semakin lengkap dengan didatangkannya selusin kapal selam, belasan kapal roket cepat, pesawat-pesawat AL, helikopter-helikopter dan peralatan amfibi. Walhasil, TNI AL menjelma sebagai kekuatan laut yang terkuat di belahan bumi selatan.

Metternich juga menjadi saksi bagaimana Pandjaitan memainkan perannya melobi dalam diplomasi senyap. Dengan pendekatan personal, Pandjaitan kerap mengundang Profesor Willem Duynstee ahli hukum tata negara Universitas Nijmegen berkunjung ke kediamannya untuk bertukar pikiran. Duynstee seperti dicatat Ganis Harsono dalam Cakrwala Politik Era Sukarno, pada 3 Agustus 1961, memelopori gerakan anti perang antara Indonesia dan Belanda. 

Selain itu, Pandjaitan sering mengatur pertemuan rahasia antara wakil-wakil Indonesia dengan tokoh-tokoh politik dan ekonomi Belanda. Biasanya pertemuan berlangsung di tempat netral yang ada di wilayah Jerman. Salah satu keberhasilan Pandjaitan ialah mempertemukan para pendeta dan pemimpin-pemimpin gereja dari Belanda dengan Jenderal Nasution di Bonn.

“Sudah barang tentu bantuan Metternich kepada suami saya pantas dihargai. Gagasan dan ide tertentu Atmil (Pandjaitan) dapat dilaksanakan olehnya,” kenang Marieke.

Foto kenangan DI Pandjaitan dan Marieke saat bertugas di Jerman Barat

Pada 1962, Pandjaitan mengakhiri dinasnya sebagai Atmil di Jerman. Tugas baru menantinya sebagai Asisten IV/logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. Di Jakarta TNI mengalami reorganisasi. Jenderal Nasution menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata sedangkan Letnan Jenderal Ahmad Yani naik sebagai orang nomor di jajaran AD. Yani-lah yang memilih Pandjaitan sebagai Asisten IV yang membidangi urusan logistik.  Setelah Pandjaitan pulang ke Indonesia, Metternich tetap bekerja di Kedubes RI.

Metternich masih terus membantu para Atmil Indonesia di Jerman. Mereka antara lain:  Kolonel Wadly, Kolonel Sunggoro, dan Kolonel Abdullah. Tidak kurang dari 17 tahun lamanya "Si Intel Jerman” ini menjadi staf Atmil di Bonn hingga tahun 1972. 

Sunday, June 14, 2020

Ketika Yani Akan Menangkap Nasution

A.H. Nasution dan mantan deputinya, Ahmad Yani mempunyai hubungan yang pasang surut.

KSAD Jenderal TNI Nasution mencalonkan Mayjen TNI Gatot Soebroto sebagai penggantinya, namun ditolak Presiden Sukarno. Nasution kemudian mengusulkan deputi operasinya, Mayjen TNI Ahmad Yani. Nasution menganggap Yani memiliki beberapa kelebihan.

Jendera Ahmad Yani dan Jendera A.H. Nasution


“Dia telah memperoleh reputasi yang baik ketika memimpin pasukan dan dengan mudah menupas pemberontakan PRRI tahun 1958, dan sebagai seorang antikomunis yang keras, mendapat kepercayaan Nasution dan korps perwira umumnya,” tulis Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia.

Kepemimpinan Yani dianggap dapat melanjutkan peran AD dalam membendung pengaruh PKI yang semakin besar memasuki dekade 1960-an. Dengan pembawaan diri yang luwes, Yani diyakini dapat mengambil hati Sukarno dan berangsur-angsur mempengaruhinya untuk mengerem laju komunis yang kian cepat. Sukarno sendiri mengenal Yani dengan baik. Selain berprestasi, Yani bekerjasama dengan Sukarno selama di KOTI (Komando Operasi Tertinggi).

Menurut Crouch meskipun Yani menentang keras kebijakan Sukarno terhadap PKI, tetapi gayanya berbeda dengan Nasution. Sebagai seorang Jawa, dia cenderung memperlakukan Sukarno sebagai “bapak” yang bisa saja bertindak salah tetapi tidak boleh ditentang secara terbuka. Sehingga, dia lebih mudah menjadi bagian dari lingkungan Sukarno.

Sukarno menerima usul Nasution. Yani resmi menjabat KSAD pada 23 Juni 1962. Sesuai harapan Nasution dan banyak perwira, Yani tetap dapat menjaga independensi politik AD sekaligus mengambil hati presiden. Bahkan, Yani menjadi kesayangan Sukarno. Namun, kedekatan Yani dan Sukarno membuat hubungannya dengan Nasution menjauh. Mereka semakin banyak pertentangan kecuali melawan PKI. Penggantian beberapa panglima kodam mengecewakan Kubu Nasution. Selain itu, Nasution dan para perwira menengah yang hidup sederhana prihatin dengan gaya hidup glamor Yani dan beberapa jenderal di sekelilingnya.

Yani lebih cenderung masuk ke dalam Istana ketimbang AD. Menurut Wakil Perdana Menteri I Soebandrio dalam Kesaksianku Tentang G-30-S, hal itu memang yang diinginkan Sukarno dari pengangkatan Yani. “Tugasnya, secara formal, jelas memimpin pasukan TNI AD, namun di balik itu Yani mendapat misi khusus dari presiden agar membatasi desakan kubu Nasution terhadap pemerintah,” kata Soebandrio.

Namun, konflik Yani dan Nasution baru terjadi ketika Dwikora yang oleh Nasution dinilai sebagai momen penting untuk menunjukkan peran politik dan kesetiaan AD terhadap negara. Meski sudah tak punya wewenang komando, Nasution nekat mengorganisasi kegiatan anti-Malaysia di Kalimantan untuk menarik simpati rakyat kepada AD sekaligus mengungguli PKI dan BPI (Badan Pusat Intelijen) di bawah Soebandrio. Nasution bahkan memerintahkan Panglima Kalimantan Kolonel Hassan Basri mengirim pasukan ke Kalimantan Utara untuk operasi-operasi intelijen. Perbuatan Nasution jelas menyalahi aturan.

“Yani sangat marah dengan tindakan Nasution yang melangkahi jalur komando itu, dan dia mulai menyabot kebijaksanaan Indonesia terhadap Malaysia,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Namun, sepulang dari Filipina, hubungan Yani dengan Nasution kembali pulih.

Konflik Yani dengan Nasution semakin keras ketika lembaga pemberantasan korupsi yang dipimpin Nasution, Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran) semakin dalam masuk ke dalam SUAD (Staf Umum AD). Namun, Yani tak frontal melawan karena presiden turun tangan bahkan membubarkan Paran dan menggantinya dengan Kotrar (Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi).

Toh, AD tetap solid tapi hanya untuk melawan PKI. Dalam hal lain, AD tidak pernah benar-benar solid. Pada awal 1965, kentara ada dua kubu yang saling bersaing dalam AD: faksi Yani dan Na-To (Nasution-Soeharto). Keduanya berbeda sikap dalam menghadapi Sukarno, yang kala itu dekat dengan PKI. Na-To tak suka Yani dan jajarannya yang terlalu mengikuti tabuhan genderang presiden, sementara Yani tak suka kekakuan Nasution dalam berpolitik.

Perbedaan itulah, menurut Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto, yang membawa konflik keduanya ke puncak. Pada akhir 1964, Yani menarik pasukan dari Mabad (Markas Besar AD) yang menjaga rumah Nasution. Mengetahui panglima pertama Siliwangi diperlakukan seperti itu, Pangdam Ibrahim Adjie –yang sama-sama antikorupsi dan pernah bekerjasama dengan Nasution dalam Operasi Budhi– langsung mengirimkan satu pleton pasukannya untuk mengawal rumah Nasution.

Yani juga memarahi Letkol Muchlas Rowi, salah seorang komandan batalyon di Kodam Brawijaya karena kedapatan menjalankan perintah Nasution tanpa sepengetahuannya selaku panglima AD. “Padahal, waktu itu Jenderal Rowi sudah dimutasikan dari Mabes Angkatan Darat ke Kantor Menko Hankam/KSAB Nasution,” tulis Salim Said.

Pada awal 1965, ketegangan semakin meningkat. Yani mengambil keputusan keras. “Pada suatu hari Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani memerintahkan Mayor Jenderal TNI Suprapto, salah seorang deputinya –kemudian lebih dikenal sebagai salah seorang Pahlawan Revolusi– menangkap Jenderal Nasution,” tulis Salim Said. Perintah itu dimaksudkan Yani untuk menunjukkan loyalitasnya kepada Sukarno.

Meski tak menyebar ke khalayak, kabar perintah itu sampai ke kubu Nasution. Brigjen TNI Abdul Kadir Besar, salah seorang perwira di kubu Nasution, mengatakan bahwa kubunya telah menyiapkan senjata untuk menghadapi konflik fisik bila Nasution ditangkap. Pasukan Siliwangi yang dikirm Adjie untuk menjaga rumah Nasution pun siap siaga.

Namun, kabar perintah penangkapan Nasution itu sampai ke telinga jenderal-jenderal senior. Basuki Rahmat, R. Soedirman, Sarbini, dan Soeharto, menentang rencana Yani itu. Yani langsung membatalkan perintahnya beberapa hari kemudian. “Bentrok antara pendukung masing-masing kubu yang nyaris terjadi, berhasil terhindarkan,” tulis Said.

sumber: Historia

Saturday, June 13, 2020

Kronologi Akhir Tragis Terbongkarnya Penyamaran dan Sandiwara Istri DN Aidit

Setelah peristiwa G30S/PKI meletus, secara otomatis segala hal yang berhubungan dengan PKI menjadi musuh bangsa dan negara mulai saat itu juga.

Semua orang yang memiliki hubungan dengan PKI tak luput dari kejaran TNI AD, termasuk keluarga para petinggi partai tersebut

Salah satu yang menjadi buruan utama TNI AD adalah Ketua Central Comite PKI, Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit).

DN Aidit dan istrinya, Soetanti dan anak-anak mereka

Aksi istri DN Aidit kibuli aparat keamanan usai meletusnya G30S/PKI', diketahui malam sebelum G30S/PKI terjadi, Soetanti yang merupakan istri DN Aidit sempat bertengkar dengan suaminya.

Soetanti marah lantaran DN Aidit keras kepala mau pergi dengan para penjemputnya. Meski demikian, DN Aidit tetap pergi.

Disinyalir DN Aidit hendak diamankan sesaat sebelum penculikan para perwira TNI AD dilakukan.

Tiga hari setelah G30S/PKI meletus, Soetanti sadar jika dirinya kemungkinan besar tak akan ketemu dengan suaminya lagi.

Ia kemudian langsung meninggalkan rumah bersama dengan tiga anaknya.

Soetanti pergi ke Boyolali menyusul DN Aidit dan bertemu dengan Bupati Boyolali yang saat itu merupakan tokoh PKI. Namun tidak diketahui apakah kedua orang penting tersebut benar-benar bertemu atau tidak.

Namun, Soetanti dan Bupati Boyolali berangkat ke Jakarta dengan cara menyamar sebagai suami istri.

Mereka juga membawa dua orang anak untuk menyempurnakan penyamarannya.

Awalnya, sandiwara mereka sukses tapi kemudian tetangga mulai curiga karena sikap anak mereka yang tak pernah manja ke orangtuanya.

Bahkan aparat awalnya juga tertipu dengan penyamaran keduanya.

Usai diketahui jika Soetanti ialah istri DN Aidit, ia langsung diringkus oleh aparat keamanan Indonesia.

Semasa penahanan, Soetanti mengalami perpindahan penjara dari satu penjara ke penjara lainnya sampai tahun 1980, di antaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri.

DN Aidit saat berpidsato di Moskow


Lepas dari masa hukuman, Tanti sempat membuka praktek sebagai dokter.

Meski demikian, ia mengalami sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991.

Nasib tak kalah miris juga dialami oleh Sumini, mantan ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ranting Pati, Jawa Tengah

Sumini pernah memberikan pengakuan atas segala siksaan yang ia terima.

Gerwani merupakan organisasi yang dianggap sebagai sayap PKI, sehingga Sumini pun harus terjaring oleh aparat pada saat pembersihan PKI kala itu

Dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Kisah Sumini, Seorang Guru yang Dicap Komunis', wanita bernama lengkap Deborah Sumini ini harus dipenjara selama 6 tahun lebih meski ia mengaku tak tahu-menahu soal G30S/PKI.

Sumini, mantan ketua Gerwani ranting Pati, Jawa Tengah


Berbagai siksaan dan cemoohan harus dia terima selama dalam penjara, kisah pedih ini akan terus melekat di benak Sumini.

Bahkan, hingga usianya menginjak 70an pun Sumini masih tidak memahami apa yang menjadi dosa besar dirinya saat bergabung dengan Gerwani.

"Kami dibilang bejat moralnya. Itu setiap hari yang masih saya dengar. Belum lagi digebuki setiap pemeriksaan," kata Sumini saat ditemui di sela acara "Simposium Membedah Tragedi 1965" di Hotel Aryaduta, Jakarta, dua tahun silam oleh Kompas.com (18/4/2016).

Setelah peristiwa G30S/PKI meletus, Gerwani menjadi salah satu organisasi yang dituduh sebagai sayap PKI.

Mereka pun menjadi sasaran penumpasan PKI.

Sumini dan beberapa temannya ditangkap oleh tentara sekitar tanggal 21 November 1965.

Sumini sempat mendekam selama 5 bulan di penjara Pati, kemudian dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan khusus wanita di Bulu, Jawa Tengah.

Hingga 6 tahun lebih dipenjara, Sumini tidak pernah diadili.

Saat itu, Gerwani dianggap sebagai organisasi sayap PKI dan ikut melakukan aksi kekejaman terhadap 7 jenderal TNI.

Sampai saat inipun, Sumini kerap menerima teror dan stigma sepanjang hidupnya.

Setelah dilepaskan dari tahanan, Sumini mengaku teror yang dialaminya masih terus berlanjut

Hampir setiap hari dia dihubungi oleh pihak kepolisian untuk menanyakan tentang keberadaan Sumini dan apa saja yang akan ia lakukan di luar rumah. Gerak-gerik Sumini selalu diawasi.

Sumini mengungkapkan, beberapa kali dia dan korban tragedi 1965 dilarang oleh pihak berwajib dan kelompok masyarakat tertentu untuk membuat acara pertemuan, meskipun sekadar arisan atau temu kangen.

sumber: https://jabar.tribunnews.com/2019/09/30/akhir-tragis-sandiwara-istri-dn-aidit-terbongkar-gara-gara-tetangga

Thursday, June 11, 2020

Video Viral Aksi Pria Indonesia Berorasi di Depan Pendemo Anti Rasis AS Membuat Para Pendemo Seketika Terdiam

Sebuah video memperlihatkan seorang pria yang merupakan kelahiran Indonesia, tengah memberi orasi di depan pendemo Amerika yang membuat mereka terdiam.



Dalam video yang diunggah oleh pengguna akun Twitter Sinta Elvheera 2 terlihat, pria yang memakai baju hitam itu menceritakan tentang dirinya dan masalah rasial yang dialaminya.

"I was born in Indonesia and I know what does it mean by prejudice and discrimination. I thought I flee away from Indonesia and I come here and I can breathe freedom, (Saya lahir di Indonesia, dan saya tahu persis dengan apa yang disebut prasangka dan diskrminasi. Saya pikir saya terbang jauh-jauh ke sini untuk menghirup kebebasan -red)" ucap pria itu di depan pendemo.

Saat berorasi hingga membuat pendemo terdiam, pria tersebut mengaku terharu dengan kejadian yang terjadi beberapa hari terakhir di Amerika.

"But I look at the couple days ago or just last weeks, my heart is melted (Tapi saya melihat beberapa hari dan beberapa minggu terakhir ini, hati saya rasanya meleleh)," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, ia meyakini bahwa para pendemo yang hadir dikumpulkan oleh Tuhan.

"Justice will be served, we are all here because this is a divine appointment. No man can do this. I believe God makes this in such a time like this. Our voice just been heard, not just only in America. Heaven is hearing us, (Keadilan akan datang, dan kita di sini karena pertemuan yang ditakdirkan. Tidak ada manusia yang bisa melakukannya. Saya percaya Tuhan merencanakan ini di waktu ini. Suara kita telah didengar, bukan hanya di Amerika. Surga telah mendengar kita -red)"  jelasnya.



Di depan para pendemo, pria tersebut mengajak pendemo untuk saling menguatkan dan bergandengan tangan. Pria itu kemudian berlutut menghadap langit sambil berdoa, yang kemudian diikuti oleh pendemo.

Video Eksperimen Ini Tunjukkan Betapa Cepatnya Penyebaran Virus Corona

Media publik NHK bersama ahli kesehatan melakukan eksperimen di sebuah restoran untuk menunjukkan betapa mudahnya kuman dan virus menyebar walau hanya satu orang yang terinfeksi.

Dalam video tersebut terdapat 10 orang yang datang ke restoran dengan satu partisipan yang dipilih sebagai orang yang terinfeksi. Orang yang terinfeksi diberikan zat fluoresen yang bisa terlihat ketika lampu diredupkan.



Para peserta lainnya makan seperti biasa tanpa mempertimbangkan risiko kontaminasi. Akhir video tersebut, lampu ruangan diredupkan dan mempertimbangkan bagaimana infeksi telah menyebar.

Zat yang digunakan sebagai penanda untuk melihat virus dan akhirnya menempel di peralatan makan, tangan, piring-piring, bahkan wajah beberapa peserta.

Eksperimen ini bukan pertama kalinya, John Nicholls, seorang profesor patologi klinis di Universitas Hong Kong, mengatakan hal tersebut menunjukkan seberapa cepat virus menyebar, apalagi jika tidak mencuci tangan.

"Apa yang diperlihatkan video itu adalah (virus) akan menyebar ke permukaan dengan sangat cepat. Dan saya pikir ini benar-benar menyoroti pentingnya kebersihan tangan untuk menghentikan penyebaran penyakit," tutur Nicholls yang tidak terlibat dalam eksperimen tersebut kepada CNN.



Spesialis penyakit menular di Universitas Kobe, Kentaro Iwata mengatakan bahwa eksperimen tersebut dikaitkan dengan bagaimana virus corona menyebar.

NHK kembali membuat percobaan kedua di mana peserta simulasi mengantisipasi kontaminasi dengan melakukan tindakan pencegahan. Partisipan, termasuk salah satu yang ditunjuk sebagai orang yang 'terinfeksi' mencuci tangan sebelum dan setelah makan.

Percobaan yang dilakukan mengajarkan bahwa pentingnya mencuci tangan dan menjaga kebersihan.

sumber: Indozone

Tuesday, June 9, 2020

Kronologi Video Viral Mahasiswa Indonesia Bikin KO Pria 'Rasis' AS yang Menantangnya Tarung Jalanan di San Diego

Adegan baku hantam di jalanan kota AS baru-baru ini viral di media sosial dan menjadi perbincangan oleh warganet di mana seorang kulit putih tumbang usai dipukul pria Asia.

Perkelahian itu tidak dapat dihindari setelah orang kulit putih melakukan provokasi rasis seorang pria dari Asia untuk baku hantam.

Kejadian itu menjadi viral karena direkam video oleh seorang yang sedang berada di lokasi kemungkinan di San Diego, Amerika Serikat (AS).

Baku hantam di jalanan San Diego melibatkan pria asal Asia yang diduga dari Indonesia . 


Akun Twitter, NBA Hustle mengunggah adegan perkelahian antar sesama pria itu hingga banyak di-retwit.

"Tidak butuh ungkapan hingga membuat kami sendiri berkelahi di San Diego #riots2020 #protests2020," tulis akun tersebut.

Bahkan ada akun Twitter yang mengklaim bahwa pria tersebut merupakan mahasiswa asal Indonesia, meski klaim itu belum dapat dikonfirmasi.

Dalam video berdurasi sekira satu menit itu, tampak seorang pria kulit putih memprovokasi seorang pemuda berkemeja hitam.

Pria kulit putih yang mengenakan kaos abu-abu itu terdengar melontarkan kata-kata rasis yang mengancam pemuda tersebut.

Pria kulit putih itu maju sempat melontarkan tendangan ke arah lawannya yang terus bergerak mundur, menolak untuk mencoba menenangkannya.

Pria dengan kemeja hitam sempat mengeluarkan taser atau penyengat untuk mencegah pria kulit putih itu menyerangnya.

Keduanya akhirnya baku hantam selama beberapa saat dan berakhir setelah pria kulit putih yang memprovokasi roboh terkena pukulan dari lawannya.



Video itu dibagikan di berbagai media sosial, salah satunya menyebutkan bahwa insiden itu terjadi di San Diego, AS. Sementara akun Twitter @henrysubiakto menyebutkan bahwa pria yang mengenakan kemeja itu adalah seorang mahasiswa Indonesia yang berada di AS.

Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI) telah berkomunikasi dengan perwakilan RI dan komunitas masyarakat Indonesia di AS, namun sampai laporan ini diturunkan belum dapat mengonfirmasi klaim tersebut.

Sumber:
Indozone

https://twitter.com/Hustle_NBA/status/1267658801240346624?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1267658801240346624&ref_url=http%3A%2F%2Fwww.indozone.id%2Fnews%2FkJsnOgy%2Fviral-video-mahasiswa-indonesia-robohkan-pria-rasis-as-tantang-tarung-jalanan-san-diego

Monday, June 8, 2020

Foto, Cerita dan Kenangan Keluarga Korban Kebakaran Mal Klender, Imbas Tragedi Kerusuhan Mei 1998

Sebagian peninggalan korban tewas insiden di tengah penjarahan sebelum Soeharto jatuh itu disimpan oleh Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Keluarga masih menuntut jawaban.

Muhammad Saparudin, saat itu berusia 17, pamit pada sang ibu hendak membeli baju kemeja kotak-kotak warna coklat di Mal Yogya, Klender, Jakarta Timur. Ada undangan pernikahan yang hendak dia datangi. Ndin, sapaannya, tak pernah pulang. Dia jadi abu. Bersama Ndin, ada 200-an orang lainnya yang terbakar hidup-hidup ataupun tewas karena mencoba melompat dari atap mal Klender di yang terlalap api.



Mal Yogya pada saat kejadian dipenuhi ribuan orang yang menjarah barang-barang belanjaan. Sangat sulit mengidentifikasi korban yang terpanggang api. Mayoritas jasad dibawa ke Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo untuk diidentifikasi keluarga.

Tewasnya Ndin membuat sang ibu, Siti Salmah, terus berduka sampai akhirnya meninggal karena sakit. Siti adalah orang tua tunggal yang merawat empat anak. Ndin diharapkan bisa menjadi tulang punggung keluarga setelah hanya tamat SMP.

"Adik saya saat itu kerja di mebel kayu untuk meringankan beban orang tua," kata sang kakak, Muhammad Sahrifudin. Pengakuan itu tertuang dalam surat ditulis tangan yang kini disimpan oleh Komisi Nasional Perempuan. "Kematian Ndin memupus semua harapan seorang ibu."

Mal Yogya di Klender terbakar hebat pada 15 Mei setelah dua hari berturut-turut menjadi target penjarahan warga. Tidak ada yang tahu bagaimana api bisa menyebar ketika masih ada ratusan orang mengambil barang di lantai dua dan tiga. Rumor beredar jika ada sekelompok orang tak dikenal menyulut api di Mal Yogya. Tidak semua korban adalah penjarah. Sebagian besar justru terjebak atau hendak menyelamatkan keluarga yang ada di dalam.

Terbakarnya Mal Klender adalah puncak ketidakpuasan massa atas krisis ekonomi. Insiden itu terjadi sepekan setelah pemerintah Indonesia mengumumkan penaikkan harga Bahan Bakar Minyak menjadi Rp1.200 per liter. Spiral kekerasan muncul di seantero Jakarta. Penjarahan toko-toko milik etnis Tionghoa mulai terjadi pada 13 Mei 1998, ketika empat mahasiswa Universitas Trisaksi ditembak aparat di depan kampus. Penembakan aktivis membakar amarah massa, yang ganti menumpahkan kemarahan pada toko-toko milik etnis Tionghoa yang dituding bertanggung jawab atas krisis ekonomi. Pada puncak kerusuhan ribuan toko memasang tulisan 'milik pribumi' agar selamat dari amukan massa. Kawasan elit seperti Menteng dijaga tank-tank tentara. Namun bagi penduduk Tionghoa di pusat perdagangan seperti Glodok, mereka harus mengandalkan diri sendiri. Hasilnya berakhir tragis dengan pembantaian dan pembakaran besar-besaran.

Setidaknya 40 pusat perbelanjaan besar di Jabodetabek dibakar, Mal Yogya Klender termasuk yang paling parah. Data Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 13 hingga 19 Mei, 1.217 orang tewas, 31 orang hilang, dan lebih dari 2.470 pertokoan—kebanyakan milik warga etnis Tionghoa—ludes dibakar dan dijarah. TPGF, termasuk Komnas Perempuan, turut menemukan fakta adanya pemerkosaan massif terhadap ratusan perempuan keturunan Tionghoa selama periode kerusuhan yang meluas ke berbagai kota di Indonesia.

Puluhan keluarga korban kebakaran mal Yogya di Klender menyerahkan peninggalan sanak famili yang tewas akibat kerusuhan Mei kepada TPGF. Bangsa ini mungkin sudah bangkit dari tragedi Mei, tapi luka keluarga yang ditinggalkan belum sembuh. Keluarga korban merasa barang-barang itu akan lebih aman di tangan para pencari fakta. Kenangan-kenangan ini—berupa kaos, foto, akta kelahiran, hingga celana—menjadi pengingat, betapa aktor intelektual tragedi 19 tahun lalu sampai sekarang belum terungkap dan diadili.

"Anak saya dikorbankan," kata Maryani, ibu dari salah satu korban kebakaran Mal Yogya Klender bernama Arifin dalam suratnya kepada TPGF.

"Dia jadi korban hanya untuk seseorang yang ingin berkuasa di negeri ini."

Kaos yang sehari-hari dipakai Arifin




SURAT DITULIS TANGAN OLEH ORANG TUA ETEN KARYANA, KORBAN KEBAKARAN MAL KLENDER, MENDUGA KERUSUHAN INI DITUNGGANGI ELIT POLITIK YANG BEREBUT KEKUASAAN PADA MEI 1998.

KAMUS BAHASA INGGRIS KEPUNYAAN MENDIANG ETEN KARYANA. SEBELUM TEWAS AKIBAT KERUSUHAN MEI 1998, DIA BERCITA-CITA LANJUT STUDI KE LUAR NEGERI.


FOTO TERAKHIR MENDIANG GUNAWAN SUBYANTO YANG DISIMPAN OLEH KELUARGA.

BAJU PENINGGALAN ADE MUHAMMAD YANG TEWAS DI MAL YOGYA KLENDER. LEBIH DARI 200 ORANG TEWAS PADA INSIDEN ITU, TIDAK SEMUANYA BERNIAT MENJARAH. SEBAGIAN JUSTRU TERJEBAK ATAU INGIN MENYELAMATKAN KELUARGA YANG ADA DI DALAM BANGUNAN.




CELANA PUTIH MILIK MENDIANG GUNAWAN SUBYANTO, DIBELI BEBERAPA HARI SEBELUM DIA TEWAS TERBAKAR DI MAL YOGYA KLENDER.


SERTIFIKAT JENAZAH ETEN KARYANA DARI PETUGAS RSCM DISIMPAN KELUARGA.




Sumber: Vice

Di Tengah Pandemi Covid-19 Cadangan Devisa RI Malah Naik Jadi 130,5 Miliar Dollar AS, Ini Penyebabnya

Bank Indonesia (BI) merilis posisi cadangan devisa pada Mei 2020 sebesar 130,5 miliar dollar AS. Posisi cadangan devisa ini naik dibandingkan posisi akhir April sebesar 127,9 miliar dollar AS.

Bank Indonesia

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko mengatakan, Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2020 setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

 Cadangan devisa ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. "Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Onny dalam siaran resmi, Senin (8/6/2020).

Onny berujar, peningkatan cadangan devisa pada Mei 2020 terutama dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri Pemerintah dan penempatan valas perbankan di Bank Indonesia.

 "Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik," pungkasnya. 

Sumber: Kompas

Sunday, June 7, 2020

Ini Video Viral Dewi Soekarno Ulang Tahun, Netizen: Gokil, Umur 80 Tahun Masih Bisa Joget Lincah Banget Gitu!

Baru-baru ini beredar video momen ulang tahun Dewi Soekarno yang menghebohkan media sosial.

Dalam video itu, pemilik nama lengkap Ratna Sari Dewi Soekarno tengah berjoget ria di momen ulang tahunnya yang ke 80 pada 6 Februari 2020 lalu.

Dewi Soekarno semasa muda bersama Presiden Soekarno  


Dewi Soekarno merupakan istri ke-6 Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ia menikah dengan Soekarno pada 1962, ketika berusia 22 tahun dan dikaruniai anak yakni Kartika Sari Dewi Soekarno.

Dalam video viral yang diunggah akun Twitter @yan _widjaya, momen ulang tahun ke 80 Dewi Soekarno terlihat cukup meriah. Dewi Soekarno yang tenga mengenakan ruffle dress berwarna merah itu tampak tengah berjoget ria diiringi lagu yang agak nge-beat.

"Ratna Sari Dewi Soekarno, merayakan ultah ke 80 di Blitar, 6 Februari 2020," tulis akun tersebut dalam caption video itu 

 
Dewi Soekarno bergaum merah sedang asyik menari


Dewi Soekarno yang tampil cantik pada malam itu, terlihat energik sambil berjoget ria bersama rekan sejawat. Di usianya yang tak lagi muda, banyak netizen yang heran dengan penampilannya malam itu yang tampak awet muda dengan pixie cut miliknya.

"Gokil si 80 tahun masih bisa joget gitu, gw pengen kaya dia pas tua," kata akun @ikopangestii.
Video yang sudah dilihat 454.000 kali itu disukai 12.600 akun dan sudah diretweet lebih dari 6.000 kali.

"Soekarno adalah cinta mati Naoko Nemoto, alias Ratna Sari Dewi Soekarno...dia tidak menikah lagi, dia juga tetap menjadi WNI sampai sekarang demi satu alasan, biar lebih mudah bila ingin berkunjung ke Blitar," kata @iwankecil.

Netizen lainnya pun mengomentari dengan mengunggah foto muda Dewi Soekarno yang sudah tak heran jika di usianya yang ke-80 tahun, Dewi masih terlihat cantik dan menawan.

sumber: Indozone

Wednesday, June 3, 2020

Prank Zaman Orde Lama Dalam Lelang Barang Milik Presiden Soekarno

Motor listrik Gesits milik Presiden Joko Widodo dilelang dalam acara konser virtual "Berbagi Kasih Bersama Bimbo" pada Minggu, 17 Mei 2020. Motor bertanda tangan Jokowi itu laku Rp 2,5 miliar.

Presiden Soekarno dengan peci yang menjadi ciri khasnya

Pemenangnya M. Nuh yang disebut sebagai pengusaha dari Jambi. Ternyata, setelah ditelusuri, ia adalah buruh harian lepas. Ia mengira telah menang hadiah dalam acara lelang itu. Warganet pun menyebutnya telah nge-prank Jokowi.

Kejadian serupa tapi tak sama pernah dialami Presiden Soekarno. Sama-sama lelang di bulan puasa, bedanya Jokowi melelang motornya untuk warga terdampak pandemi virus corona (Covid-19) sedangkan Soekarno melelang peci untuk zakat fitrah.

Soekarno tak punya uang menjelang lebaran. Ia meminta bantuan orang kepercayaannya, Roeslan Abdulgani. Roeslan mulai dekat dengan Soekarno saat menjabat sekretaris jenderal Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Setelah itu, ia menjabat menteri luar negeri, wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung, menteri penerangan, dan wakil perdana menteri.

Roeslan disebut sebagai orang yang mampu menangkap kebijakan dan doktrin politik Sukarno, yaitu Manipol Usdek (Manifestasi Politik/UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia), untuk disampaikan kepada masyarakat. Sehingga dia dijuluki Jubir Usman (Juru Bicara Usdek Maniol).

Roeslan juga mampu mendapatkan uang untuk Soekarno. Caranya dengan melelang peci bekas Soekarno.

Soekarno memang bukan yang pertama memakai peci. Sebelumnya, tokoh-tokoh pergerakan telah memakainya. Namun, Soekarno-lah yang mempopulerkannya. Dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno menyebut peci sebagai "ciri khas saya... simbol nasionalisme kami".

Soekarno menunjukkannya pertama kali di usia 20 tahun dalam rapat Jong Java di Surabaya, Juni 1921: "…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia merdeka."

Tentu saja peci yang dipakai Soekarno sangat berharga dan pasti diminati banyak orang. Sehingga barang itulah yang diminta Roeslan dari Soekarno untuk dilelang. Roeslan menceritakan lelang itu dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra'i.

"Saya punya usul Bung," kata Roeslan. "Saya minta pecinya satu yang pernah dipakai Bung Karno untuk dilelang."

"Laku berapa Cak?" tanya Soekarno.

"Sudahlah, serahkan saja soal itu ke saya. Yang penting kan beres," kata Roeslan.

Roeslan kemudian menyerahkan peci Sukarno itu kepada keponakannya, Anang Toyib, pengusaha peci merek Kuda Mas yang selalu dipakai Soekarno.

Para pengusaha Gresik dan Surabaya antusias mengikuti lelang peci Sukarno itu. Alangkah terkejutnya Roeslan karena Anang melelang tiga peci.

Biar hasil lelang dapat besar, Anang nge-prank peserta lelang. Anang berkilah seraya bertanya: "Saudara-saudara, sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya sudah tidak tahu lagi mana yang asli. Yang penting, ikhlas atau tidak?"

"Ikhlaaas," sambut hadirin.

"Alhamdulillah," kata Anang.

Lelang tiga peci itu menghasilkan Rp10 juta. Semuanya diserahkan kepada Roeslan.

Roeslan pun menanyakan kepada Anang, "Aslinya kan satu?"

"Betul, yang dua itu rencananya akan saya kirimkan ke Bung Karno," jawab Anang.

"Tetapi kok semuanya jelek, Nang?" tanya Roeslan.

"Memang saya bikin supaya kelihatan jelek," kata Anang. "Peci itu saya ludahi, saya kasih air, saya kasih minyak, pokoknya agar peci-peci itu sudah pernah dipakai Bung Karno."

Roeslan menceritakan kelakuan Anang itu kepada Sukarno.

"Kurang ajar Anang," kata Sukarno sambil tertawa. "Kalau begitu, yang berdosa saya atau Anang, Cak?"

"Ya, Anang," jawab Roeslan.

"Kalau begitu biarin aja," kata Sukarno.

Sukarno memberi tahu Roeslan bahwa uang itu untuk zakat fitrah. Ia menyuruh Roeslan membagikannya kepada orang-orang miskin di makam Sunan Giri.

sumber: Historia

Cerita Dibalik Penamparan Terhadap Soeharto

Selebaran gelap yang kertasnya sudah menguning itu seolah berbicara banyak.

Di bawah judul "Manifesto Mahasiswa ITB atas Kekuasaan Soeharto" disebutkan beberapa kisah yang menyebabkan para mahasiswa Bandung menolak pencalonan kembali Jenderal TNI (Purn.) Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia periode 1978-1983.

Letnan Kolonel Soeharto dan Kolonel A.E. Kawilarang saat bertugas di Sulawesi Selatan (Dok. Keluarga A.E. Kawilarang)


Salah satu yang menarik adalah tentang kejadian di tahun 1950, ketika Kolonel Alex Evert Kawilarang (Panglima Operasi Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat untuk Indonesia Timur) menampar Letnan Kolonel Soeharto (Komandan Brigade Garuda Mataram yang tengah ditugaskan di Sulawesi Selatan). Pasalnya, sesepuh Divisi Siliwangi itu tak suka melihat kelakuan pasukan Soeharto yang alih-alih bertempur dengan prajurit eks KNIL pimpinan Andi Azis yang memberontak, malah merampok harta orang-orang Bugis.

Anehnya, kejadian penting itu tidak dibahas secuilpun di buku otobiografi masing-masing dua pelakunya yang terlibat. Dalam buku Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH), Kawilarang justru menulis secara positif tentang peran militer Soeharto saat bertugas di Sulawesi Selatan. Begitu juga dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (disusun oleh G. Dwipayana dan Ramadhan KH), mantan penguasa Orde Baru itu sama sekali tidak menuliskan soal perseteruannya dengan Kawilarang. Apakah mereka menghindari cerita-cerita pengalaman yang hanya akan mengundang konflik? Bisa jadi.

Saya sendiri pernah mempunyai kesempatan bertemu dengan Kawilarang pada 1999. Usai mengikuti peluncuran buku Indonesia Memasuki Milenium III: Gagasan dan Pemikiran Edi Sudradjat di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat, saya pernah "mencegatnya" dan menanyakan soal itu kepadanya. Ditanya demikian, alih-alih menjawab, Kawilarang hanya tertawa saja.

"Kamu dapat berita itu dari mana?" tanyanya. Tanpa menunggu jawaban dari saya, dia lantas ngeloyor pergi.

Beberapa waktu lalu, soal kasus penamparan itu saya sempat konfirmasi kepada Aloysius Sugianto, eks ajudan Letnan Kolonel Slamet Rijadi. Pada Agustus 1950, Aloysius dan Slamet Rijadi sempat bertemu dengan Kawilarang dan Soeharto, saat pasukan Slamet yang ditugaskan menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) singgah terlebih dahulu di Pelabuhan Makassar.

Waktu itu, Aloysius sempat menyaksikan para prajurit Brigade Garuda Mataram sedang siap-siap pulang ke Jawa lewat Pelabuhan Makassar. Mereka membawa begitu banyak barang yang diduga hasil rampasan perang.

"Yang saya tahu, soal barang-barang itu, Kolonel Kawilarang sempat merasa tidak suka dan menegur keras Pak Harto," ujar eks anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang juga pernah menjadi ajudan Kawilarang.

Kepada jurnalis asal Australia David Jenkins, Kawilarang mengakui pernah menegur Soeharto namun tidak sampai melakukan penamparan. Namun seorang saksi anonim yang juga dikutip Jenkins dalam bukunya Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics, 1975-1983 (dialihbahasakan menjadi Soeharto & Barisan Jenderal Orba, Rezim Militer Indonesia 1975-1983) menyebut bahwa sejatinya penamparan itu memang terjadi dan malah disaksikan secara langsung oleh M. Jusuf, seorang perwira Bugis yang kelak membawa Supersemar dan kemudian menjadi Panglima ABRI di awal-awal Orde Baru berkuasa.

"Kolonel Alex Kawilarang menampar Letnan Kolonel Soeharto karena kesalahan besar yang dibuat oleh pasukan yang dipimpin Soeharto," tulis Jenkins.

Pernyataan Aloysius dan tulisan Jenkins berkelindan dengan pengakuan Kawilarang tentang masalah itu dalam majalah Tempo edisi 10 Mei 1999. Kepada Kelik M. Nugroho, Kawilarang menyangkal cerita soal penamparan itu yang katanya baru muncul pada tahun 1970-an.
"Wah, itu tidak benar. Saya tidak tahu mereka memutarbalikan cerita itu," ujar Kawilarang.

Yang benar, ujar Kawilarang, penamparan itu justru dilakukan oleh Soeharto. Korbannya adalah Letnan Parman, salah seorang anak buah Kawilarang. Lantas bagaimana itu bisa terjadi?

Ceritanya, saat itu ada tujuh mobil yang belum dibayar tapi tetap mau dibawa ke Jawa oleh pasukannya Soeharto. Dalam pandangan Kawilarang itu sama sekali tidak benar. Supaya mobil-mobil itu menjadi “sah”, Kawilarang lantas memerintahkan seorang bawahannya untuk membayar semua mobil itu dari kas keuangan Tentara Teritorium setempat (TT VII). Perintah itu diminta oleh Kawilarang untuk diteruskan kepada Letnan Parman (Komandan Pelabuhan Makassar).

Belum perintah Kawilarang itu sampai kepada Letnan Parman, mobil-mobil itu sudah mulai dimasukan ke dalam kapal oleh anak buah Soeharto. Parman yang merasa pengangkutan itu tidak benar lalu mencegahnya. Ternyata itu membuat tersinggung Soeharto, hingga dia mendatangi Parman dan menamparnya.

Isu penamparan Soeharto itu juga sempat didengar oleh Letnan Jenderal (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat periode 1973-1974. Kepada Martin Sitompul dari Historia, Sayidiman menyatakan kejadian itu merupakan sebuah kemustahilan dan orang-orang yang menuliskannya hanya bermaksud mencari sensasi.

Menurut eks perwira Divisi Siliwangi yang mengenal baik Soeharto dan Kawilarang tersebut, di lingkungan Siliwangi sejak dipimpin A.H. Nasution hingga Ibrahim Adjie, tidak ada ceritanya panglima menampar anak buah. Terlebih orang yang ditampar itu memiliki jabatan yang tidak rendah: komandan brigade.

Kepada Sayidiman, Kawilarang malah pernah memuji kepemimpinan Soeharto selama bertugas di Sulawesi Selatan. Jadi jika dia menampar Soeharto, itu bukan gaya seorang Kawilarang.

"Sebagai eks mayor KNIL dan anak seorang dokter yang sejak kecil hidup dalam alam etika Barat, Kawilarang pastinya paham bahwa bersikap agresif secara fisik bukanlah cara yang benar dan bertentangan dengan sopan santun," ujar Sayidiman.

Hubungan Kawilarang dengan Soeharto sendiri di masa tua relatif baik. Mereka kerap berkomunikasi dan saling berkabar. Ada sebuah cerita yang disampaikan oleh Letnan Jenderal (Purn.) T.B. Silalahi, eks petinggi ABRI di era Orde Baru.

Suatu hari Kawilarang menemui Presiden Soeharto. Dia "mengadu" bahwa Panglima ABRI Jenderal TNI Edi Sudradjat yang didapuknya untuk menjadi Ketua Persatuan Olahraga Penunggang Kuda Seluruh Indonesia (POPKSI) ternyata menolak jabatan tersebut. Padahal sebelumnya Soeharto sudah merestui pendapukan itu.

Soeharto juga sempat terkejut ketika mendengar Kawilarang jatuh sakit dan dirawat di Bandung pada awal 1990-an. Kabar itu didengar Soeharto dari Yogie S. Memet (Gubernur Jawa Barat) yang tak lain adalah eks ajudan Kawilarang. Yogie juga menyatakan kepada Soeharto bahwa sebagai pejuang Perang Kemerdekaan Indonesia, Kawilarang belum mendapatkan Bintang Gerilya. Maka jadilah penganugerahan Bintang Gerilya dilakukan di rumah sakit.

"Kalau tidak sakit, mungkin saya tidak akan mendapatkan itu (Bintang Gerilya)," ujar Kawilarang sambil terbahak.

Sumber: Historia

Kronologi dan Penyebab 5 Jenderal yang "Dimatikan" oleh Soeharto

Meskipun cenderung menghindari konflik terbuka, Soeharto beberapa kali terlibat konflik, baik sejak masih jadi opsir maupun setelah jadi Presiden. Ada yang selesai dalam waktu sebentar, tapi tak sedikit yang berbuntut panjang.

Soeharto

Soeharto tak segan-segan menghabisi lawannya. Bukan hanya urusan profesi yang disikat “The Smiling General” bila mengalahkan lawannya, tapi juga wilayah pribadi mereka. Beberapa Jenderal merasakan betul hal itu ketika Soeharto berkuasa.

Berikut ini lima Jenderal yang pernah berkonflik dengan Soeharto dan berbuntut panjang ke belakang hingga kehidupan pribadi mereka dipersulit oleh sang penguasa Orde Baru.

1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro

Konflik Pranoto dengan Soeharto bermula justru ketika keduanya sedang bersama di pucuk pimpinan Tentara Teritorium (TT) IV Diponegoro. Soeharto sebagai panglima divisi menyelewengkan jabatannya dengan melakukan kegiatan ilegal. Menurut Pranoto, sebagaimana dikutip Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto, “penyelewengan [Soeharto] berupa barter liar, monopoli cengkih dari asosiasi pabrik-pabrik rokok kretek Jawa Tengah (PPRK), lalu penjualan besi tua (scrab material) yang disponsori oleh orang-orang Tionghoa yang bernama Liem Sioe Liong, Oei Tek Young, dan Bob Hasan.”

Dalam melakukan kegiatan ilegal itu, Soeharto menggunakan fasilitas, seperti truk, milik TT IV. Mengetahui hal itu, selaku kepala staf Pranoto dan komandan CPM TT IV Letkol Soenaryo langsung menginvestigasinya. Hasil investigasi kemudian dilaporkan Pranoto ke KSAD Jenderal Nasution, yang hampir menghadiahi Soeharto dengan pemecatan.

Sementara Soeharto menjalani hukuman dengan tugas belajar di Bandung, Pranoto naik menggantikan dirinya sebagai panglima Diponegoro. Keduanya bertemu kembali di Jakarta setelah Soeharto menjabat panglima Kostrad dan Pranoto sebagai Asisten III (Personalia) Menpangad Ahmad Yani.

Konflik keduanya kembali terjadi menyusul hilangnya Menpangad A. Yani yang diculik G30S. Pranoto yang ditunjuk Presiden Sukarno menjadi pelaksana harian Angkatan Darat (AD), tak bisa menghadap presiden karena tak diizinkan Soeharto. Sebab, Soeharto telah mengambilalih pimpinan AD.

“Saya tidak dapat secara langsung menghadap Presiden/Pangti dengan tanpa seizin Mayjen Soeharto sebagai pengganti Pimpinan AD saat itu. Akan tetapi, Mayjen Soeharto selalu melarang saya untuk menghadap Presiden/Pangti,” ujar Pranoto dalam Memoar Mayor Jenderal Raden Pranoto Reksosamudro.

Soeharto kemudian “mematikan karier” Pranoto dengan menjadikannya perwira tinggi yang diperbantukan pada KSAD. Pada Februari 1966, Soeharto benar-benar mematikan Pranoto, karier maupun pribadi. Lewat Surat Perintah Penangkapan/Penahanan No.37/2/1966 tertanggal 16 Februari 1966, Soeharto menangkap Pranoto.

Soeharto menganggap Pranoto terlibat G30S. “Bukti yang menjadi dasar penahanan Pranoto adalah sepucuk surat dari Kolonel Latif yang berada dalam persembunyian setelah kegagalan Gestapu,” tulis Salim Said. Surat itu didapat Soeharto dari intel yang ditugaskan memburu Latif.

Surat itu berisi permintaan perlindungan kepada Pranoto selaku caretaker AD. Bagi Soeharto, hal itu menimbulkan kecurigaan bahwa Prantoto simpati kepada gerakan. Sebab, secara pribadi Latif jauh lebih dulu kenal dan dekat kepada Seoharto ketimbang Pranoto.

Akibat surat Latif yang tak pernah diterima dan diketahuinya itu, Pranoto harus mendekam di balik jeruji Rutan Blok P mulai Maret 1966. Hampir sebulan di Blok P, Pranoto kemudian menjadi tahanan rumah. Dia kembali masuk bui pada awal 1969 ketika Soeharto mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan/Penahanan No. Print.212/TP/1/1969. Pranoto menghuni INREHAB Nirbaya bersama tapol-tapol kelas A lainnya.

Mulai Januari 1975, Pranoto tak lagi mendapatkan hak-haknya seperti gaji schorsing atau penerimaan lain. Hingga dibebaskan pada 1981 berdasarkan SK Pangkopkamtib No. SKEP/04/KOPKAM/1/1981, Pranoto tak pernah menerima surat pemberhentian atau pemecatan resmi dari keanggotaan AD. Meski begitu, dia tak mendapatkan pensiun sampai akhir hanyatnya dan namanya tak pernah direhabilitasi -hanya Jenderal Nasution yang langsung menelepon Pranoto untuk meminta maaf karena selama ini salah menilai dirinya.

“Saya harus berani menelan pil sepahit ini dan harus pula berani membaca kenyataan dalam hidup yang sudah menjadi suratan takdir,” ujarnya sebagaimana dikutip Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak.

2. Jenderal TNI A.H Nasution

Selaku atasan Soeharto di Angkatan Darat, Nasution punya hubungan pasang-surut dengan juniornya itu. Konflik keduanya bermula ketika Nasution selaku KSAD mengetahui Soeharto (panglima TT VII Diponegoro) melakukan penyelundupan beberapa komoditas bersama pengusaha Liem Sioe Liong, Bob Hasan, dan Tek Kiong. Soeharto hampir dipecat Nasution sebelum ahkirnya ditolong Wa-KSAD Jenderal Gatot Soebroto.

Sikap anti-PKI membuat keduanya bersatu mulai paruh kedua Demokrasi Terpimpin. Nasution dan Soeharto bahu-membahu menumpas PKI usai Peristiwa G30S, menggulingkan Sukarno, dan mendudukkan Soeharto di kursi presiden.

Namun, duduknya Soeharto di kursi presiden justru membuat hubungannya dengan Nasution kembali memburuk. Soeharto membubarkan MPRS yang dipimpin Nasution pada 1972. Sewaktu Nasution membuat buku kesan-kesan selama di MPRS, Soeharto memerintahkan aparatnya untuk membakar buku-buku itu beserta gudangnya.

Gerak-gerik Nasution terus diawasi dan dibatasi aparat. Selain khotbah Jumat, Kopkamtib juga melarang Nasution pidato di kampus-kampus. “Menurut keterangan dari beberapa mahasiswa, mereka selalu dipersulit bilamana mengundang Pak Nas untuk berbicara,” tulis Bakri AG Tianlean dan Tatang Sumarsono dalam AH Nasution di Masa Orde Baru. Lebih jauh, Kopkamtib melarang media massa memuat tulisan-tulisan Pak Nas, sapaan Nasution.

Kesulitan Pak Nas bertambah setelah dia bergabung ke dalam kelompok Petisi 50, kelompok berisi politisi senior dan purnawirawan jenderal yang berupaya mengoreksi pemerintahan Orde Baru yang dianggap telah melenceng dengan tafsir sepihak atas Pancasila-nya. Kopkamtib langsung mencabut hak politik para anggota Petisi 50 dan mencekal (cegah dan tangkal) mereka.

Di rumah, Pak Nas bahkan harus membuat sumur akibat aliran air ledengnya diputus secara sepihak. Dia juga dilarang tampil di depan publik atau menghadiri acara-acara kenegaraan dan acara-acara yang dihadiri petinggi pemerintahan. “Saya dan istri tidak boleh diundang pada acara perkawinan anak-anak Bu Gatot Subroto, Bu Yani, Bu Suprapto, dan lain-lain,” kenang Nasution.

Saat melayat Adam Malik, Pak Nas langsung didorong anggota Paspampres ketika hendak menyolatkan jenazah dan diperintahkan keluar. Alasannya, saat itu Wapres Umar Wirahadikusuma, ajudan Nasution semasa revolusi, sudah akan masuk ke rumah duka.

Pak Nas pun menilai, tuduhan penguasa bahwa para penandatangan Petisi 50 berkomplot untuk merebut kekuasaan sama dengan tuduhan PKI terhadap dirinya dan pimpinan Angkatan Darat semasa Demokrasi Terpimpin.

3. Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso

Meski hubungan Hoegeng dan Seoharto awalnya baik, keduanya akhirnya berkonflik. Kejujuran dan ketegasan Hoegeng dalam memberantas korupsi, penyelundupan, dan beragam bentuk kejahatan lain mengusik Cendana.

Saat kasus Sum Kuning muncul akhir 1960-an, Hoegeng tergerak untuk mengusut tuntas. Hoegeng yakin hasil akhir persidangan kasus pemerkosaan pedagang telur bernama Sumarijem oleh beberapa anak pejabat itu penuh rekayasa. Alih-alih memberi keadilan terhadap korban, hakim justru menjadikan Sumarijem tersangka.

Hoegeng langsung membentuk sebuah tim. Namun, belum lagi tim itu mendapat banyak hasil, Soeharto keburu mengambilalih kasus itu. Ketika menerima Hoegeng, Soeharto mengatakan penanganan kasus Sum Kuning diambilalih Kopkamtib.

Soeharto benar-benar marah ketika Hoegeng membongkar penyelundupan mobil mewah yang dilakukan pengusaha Robby Tjahjadi. Penyelundupan itu, sepenelusuran Hoegeng, terjadi akibat adanya backing dari aparat.

“Yang mengejutkan Hoegeng adalah ketika dia mau menemui Soeharto di kediamannya untuk memberitahukan si penyelundup mobil akan ditahan, ternyata si penyelundup mobil tersebut sedang bertemu dan berbincang-bincang dengan Seoharto,” tulis Aris Santoso dkk. dalam Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa.

Hoegeng yang sejak itu tak pernah percaya Soeharto lagi, dicopot dari jabatannya tak lama kemudian. Dengan tegas dia menolak tawaran basa-basi Soeharto berupa jabatan duta besar.

Keduanya kembali berkonflik ketika Hoegeng bergabung dengan Petisi 50. Kelompok itu aktif mengoreksi penyelewengan Orde Baru karena menafsirkan sepihak Pancasila untuk kepentingannya dan menuduh pihak dengan tafsir Pancasila beda sebagai anti Pancasila.

Hoegeng langsung kena cekal, kehilangan hak politik, dan dilarang tampil publik. Hal itu membuat banyak orang jadi takut mendekati Hoegeng. Suatu ketika, seorang pengusaha sampai membatalkan rencana pembelian lukisan karya Hoegeng karena di lukisan itu tertera inisial nama sang pelukis. Pengusaha itu sempat meminta Hoegeng menghapusnya tapi ditolak.

Acara Hoegeng dan band The Hawaian Seniors-nya di TVRI langsung distop Menpen Ali Murtopo dengan alasan tak sesuai budaya bangsa. Pangkopkamtib Laksamana Soedomo menghimbau masyakarat agar hati-hati terhadap lagu-lagu yang dibawakan Hoegeng.

Penghentian acara di TVRI itu bentuk penutupan akses ekonomi oleh penguasa. “Hoegeng bahkan tidak punya uang untuk sekedar memperbaiki giginya karena digencent sama Harto!” kata Ali Sadikin sebagaimana dikutip Made Supriatma dalam tulisannya di indoprogress.com, “Selamat Ulang Tahun, Jenderal Jagal Besar!”. Sejak 1987, Hoegeng juga tak diziinkan pemerintah menghadiri perayaan HUT Polri.

4. Letjen KKO (Purn.) Ali Sadikin

Konflik Ali dengan Soeharto baru dimulai justru ketika Ali sudah pensiun dari militer maupun pemerintahan. Konflik bermula dari upaya Ali dan beberapa pensiunan jenderal serta politisi senior menggagas pernyataan keprihatinan terhadap pidato Presiden Soeharto pada 1980. Pernyataan korektif kelompok yang kemudian dikenal sebagai Petisi 50 itu membuat Soeharto marah.

Lewat Kopkamtib (Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban) yang dipimpin Laksamana Sudomo, junior Ali di AL, Soeharto langsung bertindak. Awalnya, Soeharto sempat memerintahkan Sudomo untuk menangkap Ali. Sudomo menolak dan sebagai gantinya, dia mem-persona non grata-kan atau membunuh secara perdata Ali.

Sama seperti penandatangan Petisi 50 lainnya, Ali langsung kena cekal. Saat hendak mengantarkan istrinya berobat ke Belanda tahun 1986, dia dihalangi Imigrasi. Ali bahkan tak mendapat izin untuk menunaikan ibadah haji.

Penguasa juga melarang Ali menghadiri acara-acara kenegaraan atau perayaan hari-hari nasional. Pemerintah bahkan meminta kedutaan asing di Jakarta untuk tak mengundang Ali dalam acara-acara mereka. Yang konyol, Ali tak diizinkan hadir dalam perayaan pembukaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) meski acara tahunan ibukota itu buah gagasan Ali semasa menjabat sebagai Gubernur DKI.

Di ranah privat, Ali mendapat larangan menghadiri resepsi-resepsi yang dihadiri presiden. Akibatnya, kata Ali di dalam Pers Bertanya Bang Ali Menjawab, “Orang yang sudah mengundang saya memohon agar undangan yang sudah diberikan dianggap saja tidak ada dan karena itu, ia memohon maaf. Belakangan ada juga yang mengatakan tetap mengharapkan kehadiran saya, tetapi jamnya ditentukan.”

Persona non grata tak hanya menimpa Ali pribadi, tapi juga keluarganya. Boy Sadikin, putra sulung Ali, merasakan betul kesulitan yang ditimpakan pemerintah saat dia hendak meminjam dana dari bank untuk modal usaha. Pengajuannya berulangkali selalu menemui penolakan. Pemerintah sengaja menutup akses pinjaman bank, terutama bank negeri, kepada keluarga Ali. Hal itu diketahui setelah Ali menelepon direktur sebuah bank dan menanyakan alasan mengapa pengajuan kredit anaknya selalu gagal.

5. Letjen TNI H.R. Dharsono

Sebagai salahsatu panglima andalan Soeharto ketika berupaya menggulingkan Sukarno, Dharsono jelas memiliki hubungan manis dengan “the smiling general”. Soeharto mengangkat Dharsono menjadi panglima Siliwangi –menggantikan Ibrahim Adjie, seorang panglima dengan reputasi anti-korupsi dan pendukung Sukarno– sebagai hadiah dari jasa yang telah diberikannya.

Konflik Dharsono dengan Soeharto baru terjadi ketika Soeharto sudah 10 tahun menjabat presiden dan Dharsono menjabat sekretaris jenderal ASEAN. Ketika berpidato di depan Eksponen 66 di Bandung, Januari 1978, Dharsono melontarkan kritik terhadap pemerintah cum ABRI yang dinilainya makin melenceng.

Kritik Dharsono langsung menuai kemarahan penguasa. Kemarahan itu makin bertambah karena Dharsono enggan mengabulkan tuntutan permintaan maaf dari pemerintah. Akibatnya, Dharsono pun mesti kehilangan jabatan di Setjen ASEAN.

Namun alih-alih berubah jadi “jinak”, Dharsono justru makin membuat penguasa berang lantaran bergabung ke dalam Forum Studi dan Komunikasi (Fosko) TNI AD, yang mengambil sikap kritis terhadap penguasa. Setelah Fosko dibubarkan pemerintah, Dharsono mendekat kepada Petisi 50. Meski tak menjadi anggota, hal itu makin membuat penguasa benci. Terlebih, Dharsono makin dekat dengan kalangan Islam.

Setelah Dharsono dan 22 tokoh –mayoritas anggota Petisi 50– menandatangani pernyataan gugatan terhadap pembantaian kalangan Islam oleh ABRI dalam Peristiwa Tanjung Priok, pemerintah lewat plot janggalnya langsung menangkap dia pada 8 November 1984 dan memejahijaukannya. Dharsono dituduh terlibat dalam komplotan Islam garis keras yang meledakkan BCA di Jakarta Kota.

Meski kemudian mendapat pemotongaan 3 tahun masa tahanan, Dharsono yang tak pernah mau minta grasi kepada presiden harus mendekam 6 tahun di LP Cipinang. Begitu bebas pada tahun 1990, Dharsono mengalami pengucilan sebagaimana musuh-musuh Orde Baru lain.

Setelah meninggal dunia pada 5 Juni 1996 akibat tumor otak, pemerintah tak mengizinkan jenazah Dharsono dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung. “Soeharto punya kebencian dan ketakutan pribadi terhadap HR Dharsono yang merupakan seorang panglima, jenderal sungguhan dari Siliwangi, yang berani melawan Soeharto,” kata Adnan Buyung Nasution, pengacara yang membela Dharsono, dalam otobiografi berjudul Pergulatan Tanpa Henti: Menabur Benih Reformasi.

Tuesday, June 2, 2020

Kronologi dan Video Viral Wanita Hamil yang Suaminya PDP Wafat Diseret Petugas Berpakaian APD di Rumah Sakil

Sebuah video seorang wanita yang diduga merupakan keluarga pasien yang wafat di Rumah Sakit Siloam Makassar, diseret oleh petugas tim satgas Covid-19 yang mengenakan APD viral di media sosial.

Dalam video tersebut, petugas tampak memaksa keluarga pasien keluar dari ruangan hingga menyeretnya.

Screenshot seorang wanita diseret petugas berpakaian APD di Rumah Sakit   

Bahkan wanita yang diduga tengah hamil tersebut, tampak histeris meminta tolong saat diseret oleh oleh petugas.

Dalam video tersebut, tampak ada tiga orang wanita yang mempertahankan jenazah suaminya yang hendak diambil paksa oleh tim satgas Covid-19.

Seseorang yang mengaku sebagai istri dari pria tersebut, tampak meminta petugas agar menunggu kakaknya berurusan dengan petugas. Wanita tersebut memohon-mohon kepada tim satgas agar sabar dan jangan memaksakan kehendaknya.

Parahya, salah satu dari para wantia tersebut malahan meludahi petugas medis.

Hal tersebut terjadi lantaran belum ada keputusan resmi dari pihak keluarga maupun dari pihak rumah sakit yang menangani pasien yang meninggal.

“Saya belum tandatangan, tidak bisa diambil suamiku kodong. Sabarki, tunggu mi kakak ku. Sebentar lagi dia datang dan berbicara dengan bapak-bapak semua,” kata salah seorang wanita.

Humas RS Siloam, Putri yang dikonfirmasi, Jumat 29 Mei 2020 membenarkan video wanita yang diseret petugas satgas beredar luar berasal dari RS Siloam.

Ia menuturkan, wanita yang diseret tersebut tidak diketahui identitas dan hubungannya dengan jenazah.

Lokasi terjadinya insiden tersebut juga dikatakan Putri sudah disterilkan oleh Satgas Covid dan seharusnya tidak boleh ada yang mendekat.

Pihak rumah sakit kini mengaku tengah menelusuri siapa perekam video tersebut.

Pasalnya baik petugas rumah sakit pun tidak banyak mempunyai akses ke lokasi itu.

Meski demikian, Putri tak membeberkan lebih lanjut kronologi dan penyebab insiden itu.

Ia hanya menjelaskan bahwa pasien yang meninggal merupakan pasien PDP Corona dan belum keluar hasil tes swabnya.



Hasil tes swab diketahui sedang dilakukan pengujian di laboratorium.

“Status pasien yang meninggal itu, belum ada hasilnya. Karena baru dilakukan tes swab dan tidak bisa langsung hasilnya keluar. Dari beberapa kategori penunjangnya, memang dia tergolong PDP,” tutur dia.

Sumber: tribunnews