Saturday, November 28, 2020

Mengenal Vaksin Covid-19 mRNA, Benarkah Akan Berbahaya dalam Jangka Panjang?

Banyak perusahaan farmasi dari berbagai negara sedang berlomba-lomba mengembangkan vaksin virus corona untuk menanggulangi pandemi Covid-19 yang terjadi. 

Mengenal Vaksin Covid-19 mRNA, Benarkah Akan Berbahaya dalam Jangka Panjang?


Sampai saat ini terdapat sejumlah vaksin eksperimental Covid-19 yang menjadi kandidat terdepan untuk mendapatkan perizinan dari regulasi. 

Di antaranya vaksin buatan Pfizer, Moderna dan Oxford-AstraZaneca.  Melansir dari situs CDC, dalam satu bulan ke depan, vaksin yang menggunaan messenger RNA atau mRNA kemungkinan besar akan menjadi vaksin Covid-19 pertama yang digunakan di Amerika Serikat (AS). 

Vaksin mRNA ini merupakan jenis vaksin baru untuk melindungi dari penyakit menular, yang tidak menggunakan virus hidup penyebab Covid-19. 

Untuk diketahui, mRNA tidak pernah memasuki inti sel, tempat DNA atau materi genetik disimpan. Vaksin ini membuat sel tubuh memproduksi protein yang memicu respons imun. Respons imun tersebut akan menghasilkan antibodi, yang melindungi diri dari infeksi jika virus yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh. 

Cara kerja vaksin 

Vaksin mRNA Covid-19 memberikan instruksi kepada sel untuk membuat bagian yang tidak berbahaya dari protein lonjakan, yang ditemukan di permukaan virus penyebab penyakit. 

Suntikan vaksin diberikan di otot lengan atas. Setelah instruksi berada di dalam sel otot, akan digunakan membuat potongan protein. Kemudian sel memecah instruksi dan membuangnya, lalu sel menampilkan potongan protein di permukaannya. Sistem kekebalan akan mengenali, memulai membangun respons kekebalan dan membuat antibodi, seperti yang terjadi pada infeksi alami terhadap Covid-19. Di akhir proses, tubuh telah mempelajari perlindungan infeksi di masa depan. 

Apakah vaksin berbahaya dalam jangka panjang? 

Sejauh ini, vaksin yang dikembangkan Pfizer/BioNTech dan Moderna kemungkinan menjadi vaksin mRNA pertama yang dijual ke pasar. 

Agar mendapatkan persetujuan Food and Drug Administration (FDA) AS, perusahaan harus membuktikan vaksinnya tak memiliki efek kesehatan negatif secara langsung atau jangka pendek dari penggunaan vaksin. Tapi, saat dunia mulai menginokulasi dengan vaksin yang sepenuhnya baru ini, hampir tidak diketahui pasti mengenai efek jangka panjang dari vaksin. 

"Ada perlombaan untuk mendapatkan vaksinasi publik, jadi kami bersedia mengambil lebih banyak risiko," ujar Kepala Unit Penyakit Menular di Rumah Sakit Samson Assuta Ashdod Tal Brosh seperti dikutip dari The Jerusalem Post. 

Moderna 

Dilansir The Independent, vaksin yang dikembangkan Moderna, menggunakan urutan materi RNA genetik yang diproduksi di laboratorium, yang saat disuntikkan ke dalam tubuh.  

Selanjutnya menyerang sel dan membajak ribosom untuk menghasilkan komponen virus yang melatih sistem kekebalan melawannya. "

Dalam hal ini, mRNA-1273 Moderna diprogram untuk membuat sel memproduksi protein lonjakan virus corona," tulis The Independent. 

Brosh menyampaikan, ini tidak mengartikan bahwa vaksin mengubah kode genetik manusia. Kendati begitu, diakui bahwa ada risiko unik dan tidak diketahui pada vaksin mRNA, termasuk respons inflamasi lokal dan sistemik yang dapat menyebabkan kondisi autoimun. 

Sebuah artikel yang diterbitkan National Center of Biotechnology Information, mengungkapkan risiko lain termasuk bio-distribusi dan persistensi dari ekspresi imunogen yang diinduksi. 

Kemungkinan pengembangan antibodi auto-reaktif, dan efek toksik dari nukleotida dan komponen sistem pengiriman. 


Kelemahan mRNA 

Vaksin mRNA mempunyai kelemahan lain, seperti harus disimpan pada suhu yang sangat dingin, karena jika lingkungan ideal tidak dipertahankan, vaksin dapat rusak dan menjadi tidak efektif. 

Tak hanya itu, masih muncul pertanyaan terkait kemampuan vaksin dalam meningkatkan respons imun yang cukup protektif dan lamanya kekebalan akan bertahan. 

Brosh menegaskan, negara di seluruh dunia harus berhati-hati tentang kandidat vaksin mana pun sampai hasil akhir dari uji coba tahap III ditinjau dan dipublikasikan. 


Tiga jenis vaksin 

Lebih lanjut, CDC menuliskan, saat ini terdapat tiga jenis utama vaksin COVID-19 yang sedang atau akan segera menjalani uji klinis skala besar (tahap tiga) di Amerika Serikat, sebagai berikut. 

1. Vaksin mRNA 

Mengandung bahan dari virus yang menyebabkan Covid-19, dengan memberikan petunjuk kepada sel tentang cara membuat protein tidak berbahaya yang unik untuk virus. 

Setelah sel membuat salinan protein, mereka menghancurkan materi genetik dari vaksin. 

Tubuh menyadari bahwa protein seharusnya tidak ada di sana, lalu membangun limfosit-T dan limfosit B yang akan mengingat cara melawan virus penyebab Covid-19 jika terinfeksi di masa mendatang. 

2. Vaksin subunit protein 

Vaksin termasuk potongan (protein) virus yang tidak berbahaya penyebab Covid-19, bukan seluruh kuman. 

Setelah divaksinasi, sistem kekebalan mengenali bahwa protein tidak termasuk dalam tubuh, lalu mulai membuat limfosit-T dan antibodi. 

Jika kita pernah terinfeksi di kemudian hari, sel memori akan mengenali dan melawan virus. 

3. Vaksin vektor 

Vaksin ini mengandung versi virus hidup yang dilemahkan, virus yang berbeda dari penyebab Covid-19, memiliki materi genetik dari virus penyebab corona yang dimasukkan di dalamnya (vektor virus). 

Saat vektor virus berada di dalam sel, materi genetik memberikan instruksi kepada sel untuk membuat protein yang unik bagi virus yang penyebab Covid-19. 

Dengan menggunakan instruksi ini, sel membuat salinan dari protein tersebut, yang mendorong tubuh membangun limfosit-T dan limfosit B yang akan mengingat cara melawan virus itu jika kita terinfeksi di masa mendatang.

Mengenal Vaksin Covid-19 mRNA, Benarkah Akan Berbahaya dalam Jangka Panjang?


(dari berbagai sumber)

Friday, November 20, 2020

Ini Alasan (Baru) Mengapa Para Jenderal Dibunuh Oleh Gerombolan G30S/PKI

Hingga saat ini, peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) adalah tragedi nasional yang paling kontroversial dan tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. 

Dalam peristiwa itu, enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD menjadi korban. Bahkan Ade Irma Suryani, putri Jenderal TNI AH Nasution juga menjadi korban. 

Ini Alasan (Baru) Mengapa Para Jenderal Dibunuh Oleh Gerombolan G30S/PKI

Selama bertahun-tahun, sekolah mengajarkan peristiwa itu adalah kudeta atau pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV yang diterbitkan oleh Departemen Sosial RI Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan 1994-1995 mengemukakan alasan PKI menculik dan membunuh para jenderal. 

Dimulai dengan menculik dan kemudian membunuh pejabat-pejabat teras Angkatan Darat untuk melumpuhkan angkatan ini. Selanjutnya diterangkan alasan penculikan tersebut, yaitu dalam penilaian PKI, Angkatan Darat harus dilumpuhkan terlebih dahulu. Sebab Angkatan Darat dianggap sebagai lawan utama mereka. Begitulah narasi pemerintah Orde Baru melalui berbagai buku dan film. 

Namun fakta sejarah mengungkap bukan itu yang sebenarnya terjadi. Untuk mengetahui kenapa para jenderal diculik dan dibunuh, maka kita harus menyimak kesaksian pelakunya terlebih dahulu. 

Siapa pelaku G30S? 

PKI dianggap sebagai dalang dari penculikan dan pembunuhan para jenderal. Setelah peristiwa G30S, ribuan orang ditangkap bahkan dibunuh tanpa diadili karena dituduh PKI. 

Mereka yang pernah diadili, mengungkapkan peristiwa G30S tidak bisa dilihat sebagai dosa tunggal PKI. Salah satunya, Kolonel Abdul Latief yang kala itu menjabat Komandan Garnisun Kodam Jaya. Ia divonis mati dan akhirnya menghabiskan 32 tahun di penjara karena keterlibatannya dalam G30S. Dalam kesaksiannya, Latief mengatakan penculikan para jenderal adalah inisiatifnya bersama rekan-rekannya sesama perwira militer, yakni Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa) dan Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim). 

Rapat persiapan gerakan bahkan dilakukan sampai sepuluh kali. Lokasinya pun berganti-ganti, yaitu di rumah Sjam Kamaruzaman, Kolonel Latief, atau kediaman Kapten Wahyudi. Dalam rencana itu, ada Sjam Kamaruzaman, Kepala Biro Chusus (BC) PKI yang merupakan badan intelijen PKI. 

Daftar Jenderal yang jadi sasaran disusun oleh Sjam bersama para perwira militer. Sasaran operasi terbatas PKI baru ditentukan pada 26 September 1965. Tim pelaksana menentukan ada 10 tokoh antikomunis yang harus "diamankan". 

Daftar nama-nama tokoh yang rencananya menjadi sasaran G30S adalah: 

1. Jenderal TNI AH Nasution 

2. Letnan Jenderal Ahmad Yani 

3. Mayor Jenderal Raden Soeprapto 

4. Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono 

5. Mayor Jenderal Siswondo Parman 

6. Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan 

7. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo 

8. Wakil Presiden Mohammad Hatta 

9. Wakil Perdana Menteri III Chairul Saleh 

10. Jenderal Soekendro 

Namun, pada saat-saat terakhir, Ketua Central Committee (CC) PKI, DN Aidit mencoret tiga nama terakhir. 

Apa yang menyebabkan mereka menculik para Jenderal? 

Peristiwa G30S dipicu dari kabar burung yang mengatakan adanya sekelompok Jenderal atau Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Sukarno. 

Mengutip Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (2008) karya Dasman Djamaluddin, sebelumnya PKI telah melancarkan isu bahwa Dewan Jenderal akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno dengan memanfaatkan pengerahan pasukan dari daerah yang didatangkan ke Jakarta dalam rangka peringatan HUT ABRI pada 5 Oktober 1965. 

Menurut sumber tersebut, isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kegiatan politik, melakukan coup (kudeta) terhadap negara dan bangsa tidak benar. Yang ada hanyalah Wanjakti (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi Angkatan Darat). Tugasnya adalah membahas kenaikan pangkat dan jabatan dari Kolonel ke Brigjen dan dari Brigjen ke Mayjen dan seterusnya. 

Apakah mereka berniat menghabisi para Jenderal? 

Dalam buku Mengapa G30S/PKI Gagal?: Suatu Analisis (2004) karya Samsudin, Latief mengaku bahwa Jenderal-jenderal itu dibunuh atas perintah Syam. Syam duduk dalam pimpinan intel Cakrabirawa. 

Sebenarnya dalam perundingan tidak ada rencana untuk membunuh para Jenderal. Pada awalnya, niat mereka untuk membawa para jenderal menghadap kepada Presiden/Pangti Soekarno di Istana. 

Pelaksanaannya adalah Resimen "Cakrabirawa" yang dikomandoi Letkol Untung. Dalam G30S, Fakta atau Rekayasa? (2013) karya Julius Pour, Untung membagi eksekutor ke dalam tiga satuan tugas. Satgas Pasopati pimpinan Letnan I (Inf) Abdul Arief dari Resimen Tjakrabirawa bertugas menangkap tujuh Jenderal yang jadi sasaran. Satgas Bimasakti dipimpin Kapten (Inf) Soeradi Prawirohardjo dari Batalyon 530/Brawijaya, bertugas mengamakan Ibu Kota dan menguasai kantor Pusat Telekomunikasi dan Studio RRI Pusat. Terakhir, satgas Pringgodani di bawah kendali Mayor (Udara) Soejono, bertugas menjaga basis dan wilayah di sekeliling Lubang Buaya, yang rencananya akan jadi lokasi penyanderaan para Jenderal. 

Julius Pour mencatat dalam buku G30S, Fakta atau Rekayasa? (2013), operasi penculikan di bawah Untung direncanakan secara serampangan. Banyak unsur yang akan dilibatkan, ternyata tidak jadi datang. Jumlah pasukan kurang dari 100 personel, jauh dari yang diharapkan mampu memantik revolusi. Yang berikutnya terjadi persis yang dikhawatirkan Untung. Penculikan berubah jadi serangan berdarah. 

Pukul 03.30, anggota Batalyon I Resimen Tjakrabirawa, Peltu Mukidjan mengingat bahwa pasukannya termasuk yang terakhir diberangkatkan dari Lubang Buaya. Ia khawatir, alokasi 15 sampai 20 menit untuk meluncurkan penculikan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal (Letjen) Ahmad Yani, tak akan cukup. 

"Saya sendiri berpikir kok hanya 20 menit, peluangnya pasti singkat sekali? Meski begitu saya tidak lupa. Perintahnya jelas, saya mendengar langsung dari Lettu Abdul (Doel) Arief, '...tangkap sasaran, hidup atau mati'," kata Mukidjan.. 

Lettu Doel Arief mengaku instruksi itu datang dari Sjam. Sjam menginstruksikan bila mengalami kesulitan menghadapi para Jenderal diambil hidup atau mati. 

Sesampai di kediaman Yani di Jalan Lembang, Menteng, Jakata Pusat, Mukidjan dan rekan-rekannya segera meminta Yani ikut dengan alasan akan dibawa ke hadapan presiden. Yani pun meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Mukidjan dan rekan-rekannya menolak permintaan itu. Hal ini membuat Yani marah hingga menampar salah satu prajurit. Salah satu prajurit yang bernama Gijadi melepaskan tembakan, dan mengenai Yani hingga membunuhnya. 

Di kediaman Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution juga menerima tembakan dari Tjakrabirawa. Akibatnya, anaknya Ade Irma Suryani meninggal di rumah sakit dan ajudannya Pierre Tendean diculik. 

Sedangkan Jenderal AH Nasution berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat tembok belakang. 

Memasuki fajar, seluruh pasukan G30S kembali ke Lubang Buaya. Wakil Komandan Satgas Pringgodani Mayor (Udara) Gatot Soekrisno kebingungan ketika para prajurit menurunkan empat orang yang terikat dan ditutup matanya, serta tiga mayat. Padahal, Letkol (Inf) Untung Samsoeri mengatakan, "...tangkap mereka, akan kita hadapkan kepada Paduka Yang Mulia (Soekarno)." 

Gatot bingung apa yang akan dihadapkan ke Presiden jika sasaran sudah meningal. "Saya segera menghubungi Mayor (Udara) Soejono, Komandan Satgas Pringgidani di Cenko I, minta petunjuk, bagaimana menangani kondisi baru yang menyimpang dari skenario awal tersebut," kata Gatot. 

Siang itu, eksekutor G30S akhirnya mengumumkan penangkapan dan pembunuhan yang telanjur terjadi. RRI menyiarkan pengumuman soal ditangkapnya sekelompok orang yang disebut Dewan Jenderal. Penangkapan dilakukan oleh Dewan Revolusi yang mencegah tindakan Dewan Jenderal yang ingin mengkudeta Presiden Sukarno.

Thursday, November 19, 2020

Obat Kumur Dapat Membunuh VIrus Covid19? Ini Jawabannya

Berbagai cara ditempuh untuk menjaga diri dari serangan virus corona, termasuk melindungi area mulut dengan obat kumur. Banyak orang meyakini, obat kumur dapat membantu membunuh kuman dan virus yang ada di sekitar mulut. Tapi, benarkah demikian? 

Obat Kumur Dapat Membunuh VIrus Covid19? Ini Jawabannya


Dilansir dari Live Science 21 Oktober 2020, para peneliti melakukan eksperimen yang dilakukan di laboratorium, menggunakan sel manusia yang dikultur dalam larutan. 

Pada penelitian ini, para peneliti tidak menguji langsung pada orang-orang, bagaimana efek penggunaan produk seperti obat kumur pada virus corona. Selain itu, perlu dicatat bahwa para ilmuwan dalam penelitian ini menggunakan bentuk virus corona yang disebut HCoV ? 229e - bukan SARS-CoV – 2, yang merupakan virus corona spesifik penyebab Covid-19.

Namun menurut peneliti, kedua virus tersebut secara genetik serupa, sehingga hasil eksperimen diharapkan sama. 

Sementara itu, otoritas kesehatan masih berusaha untuk menghilangkan kesalahpahaman terkait pertahanan virus corona. Banyak ilmuwan yang menyerukan agar ada lebih banyak penelitian yang menyelidiki, bagaimana produk seperti obat kumur dapat berinteraksi dengan dan menonaktifkan SARS-CoV-2, karena adanya bahan kimia yang diketahui mengganggu selaput virus. 

Untuk memeriksa hal ini, tim dari Penn State University mengekspos sel hati manusia dalam kultur dengan larutan campuran yang mengandung HCoV-229e, baik itu pada obat kumur, semprotan hidung, atau sampo bayi yang diencerkan hingga 1 persen. 

Hasil pengujian mengungkap, bahwa semua produk tersebut efektif dalam menonaktifkan virus, meskipun tingkat efektivitasnya bervariasi di antara setiap produk, dan tergantung pada berapa lama produk tersebut bersentuhan dengan virus. "Dengan waktu kontak 1 hingga 2 menit, larutan sampo bayi 1 persen mampu menonaktifkan lebih dari 99 persen hingga 99,9 persen virus atau lebih," tulis para peneliti dalam makalah mereka.

Di antara larutan oral, banyak produk yang diuji tampak mampu menonaktifkan 99,99 persen virus setelah 30 detik, dan ketika waktu inkubasi bertambah lama dari itu (1 hingga 2 menit), para peneliti tidak dapat mendeteksi virus menular yang tersisa di dalam sel. 

Temuan yang telah dilaporkan dalam Journal of Medical Virology ini, mendukung penelitian sebelumnya dari Jerman yang diterbitkan pada Juli lalu, yang juga menyatakan paparan obat kumur dapat secara signifikan mengurangi lonjakan jumlah virus corona. Sebagai catatan, bahwa penelitian di Jerman menggunakan SARS-CoV-2 dalam percobaan, yang serupa dengan penelitian Penn State. 

Meski demikian, tak satu pun dari studi tersebut membuat peneliti yakin akan mendapatkan hasil yang sama jika pengujian dilakukan langsung pada manusia. 

“Ada banyak hal yang tidak kami ketahui tentang bagaimana produk seperti obat kumur dapat berfungsi dalam skenario dunia nyata,” kata ahli mikrobiologi Craig Meyers, penulis pertama studi tersebut. Namun, mengingat hasil positif yang didapatkan dalam eksperimen seperti ini - dan mengingat betapa sedikit pertahanan yang dimiliki saat ini terhadap virus corona - di luar protokol kesehatan seperti menjaga jarak secara fisik, mencuci tangan, dan memakai masker - para peneliti mengatakan harus melakukan penelitian lebih lanjut, dengan mengamati uji klinis untuk mengevaluasi apakah produk seperti obat kumur benar-benar dapat mengurangi viral load pada pasien positif Covid-19. 

"Uji klinis diperlukan untuk menentukan apakah produk ini dapat mengurangi jumlah pasien positif virus corona atau melindungi mereka dengan pekerjaan be

risiko tinggi yang dapat dengan mudah terinfeksi saat berbicara, batuk, atau bersin," ujar Meyers. "Bahkan jika penggunaan obat kumur dapat mengurangi transmisi hingga 50 persen, itu tentu akan berdampak besar."

Sumber: Live Science

Thursday, November 12, 2020

(Jangan Abai dan Sok Jago) Komputer Tunjukkan Cara Penularan Covid-19 di Restoran

Pandemi Covid-19 hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda kapan berakhirnya. Bahkan, di banyak negara kini telah terjadi gelombang kedua penularan yang mengkhawatirksn. 

Selama pandemi Covid-19, supercomputer tercepat di dunia, Fugaku, dipergunakan untuk membantu para peneliti Jepang dalam menanggulangi penyebaran virus corona. Baru-baru ini, para peneliti dari Universitas Kobe yang bekerja sama dengan lembaga penelitian Riken menggunakan Fugaku untuk melakukan simulasi penyebaran dalam sebuah skenario. 



Skenario tersebut dibuat sebagai simulasi untuk membuktikan bagaimana posisi tempat duduk di restoran dapat memengaruhi proses penularan Covid-19. Pada studi kali ini, para peneliti memprogram Fugaku untuk mendemonstrasikan sekelompok subyek yang seolah-olah sedang makan di suatu restoran. Subyek terdiri dari empat orang dan diposisikan untuk duduk di suatu meja makan yang sama. Di antara keempat orang tersebut, salah satunya digambarkan telah terpapar virus corona. 

Simulasi dijalankan untuk memperlihatkan penyebaran partikel aerosol dan droplet saat empat orang duduk di meja makan dan berbicara tanpa menggunakan masker. Simulasi yang dijalankan oleh Fugaku menerapkan tiga kondisi yang berbeda, yakni ketika seseorang sedang duduk dalam posisi bersebelahan, berseberangan, dan duduk dalam posisi menyilang (diagonal). 

Pada skenario pertama, subyek yang telah terpapar virus berbicara dengan seseorang yang duduk di seberangnya. Dalam kondisi tersebut, peneliti menemukan bahwa ada 5% dari partikel droplet yang akan menyebar dan menempel ke lawan bicara. 

Sedangkan skenario kedua dijalankan dengan kondisi subyek berbicara dengan orang yang duduk dalam posisi diagonal. Partikel droplet yang terkena ke lawan hanya seperempat dari droplet skenario pertama. 

Sementara di skenario ketiga, subyek menoleh ke samping untuk berbicara dengan rekan di sebelahnya. Hasilnya, orang tersebut akan terpapar lima kali lebih banyak dari jumlah droplet yang dihasilkan dari skenario pertama. 

Simulasi tersebut dijalankan oleh supercomputer Fugaku. Sebagai informasi, Fugaku merupakan komputer yang dibangun oleh Fujitsu Limited dan institut riset Riken Center for Computational Science. 

Fugaku berada di posisi teratas dalam urutan komputer super terkencang di dunia, Top500. Sejak pandemi Covid-19, Fugaku sering digunakan untuk menjalankan simulasi penyebaran virus corona di berbagai tempat, termasuk di kereta api, ruang kerja, dan ruang kelas. 

Selain posisi duduk, faktor kelembaban udara juga diklaim dapat memengaruhi seberapa mudah droplet untuk tersebar. Para peneliti menemukan bahwa partikel droplet akan lebih sedikit tersebar pada tingkat kelembapan lebih tinggi. 

Dikutip dari Forbes pada Jumat 23 Oktober 2020, studi tersebut turut membuktikan bahwa penggunaan humidifier di dalam ruangan dapat membantu membatasi penyebaran di ruangan tertutup. Video simulasi tersebut bisa disaksikan sebagai berikut:


Sumber:Forbes

Tuesday, November 3, 2020

Tragedi di Era Khilafah, Demi Kursi Khalifah, Tak Segan-segan Memenggal Leher Cucu dan Cicit Nabi Muhammad SAW

 Dilansir dari NU Online Jatim, setiap tanggal 10 Muharram, sebagian umat Islam memperingati wafatnya Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad itu wafat secara tragis pada tahun 61 hijriyah atau saat berusia 58 tahun.

Dalam catatan Prof Nadirsyah Hosen, Sayyidina Husein keluar dari tenda sesaat setelah menunaikan sholat subuh. Ia bergegas dengan menaiki kuda kesayangannya. Beliau menatap pasukan yang tengah mengepungnya. Sebelumnya, pasukan Husein bertempur merangsek menghadapi hujan panah, lembing, tombak, dan ayunan pedang pasukan musuh. Namun, mereka akhirnya tumpas.


Di hadapan 4000 pasukan musuh yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Sayyidina Husen berpidato yang begitu indah dan menyentuh hati.

“Lihatlah nasabku, pandangilah siapa aku ini, lantas lihatlah siapa diri kalian? Perhatikan, apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan mencederai kehormatanku? Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan nabimu yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu? Bukankah Hamzah pemuka para syuhada adalah pamanku? Bukankah Ja’far yang akan terbang dengan dua sayap di surga itu pamanku? Tidakkah kalian mendengar kalimat yang masyhur di antara kalian sendiri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentang saudaraku dan aku, kata baginda Rasul, keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga”.

Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyakanlah kepada para sahabat Nabi, Jabir bin Abdullah al-Anshori, Abu Said Al-Khudri, Sahal bin Sa’ad, Zayd bin Aqam, dan Anas bin Malik, yang kesemuanya akan memberi tahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku, dan aku. Tidakkah ini semua cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Menurut penuturan Prof Nadirsyah, kata-kata yang begitu elok dari Sayyidina Husen itu direkam oleh sejumlah kitab dari para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, seperti misalnya Tarikh At-Thabari di jilid ke-5 halaman 425, dan Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah jilid ke-8 halaman 193.

“Namun, sayangnya, mereka yang telah terkunci hatinya tidak akan tersadar dengan pidato tersebut. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidillah bin Ziyad itu memaksa lelaki yang bernama Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib untuk mengakui kekuasaan khalifah Yazid bin Mu’awiyah,” ujar Prof Nadisryah melalui video yang diunggah di akun media sosialnya.

“Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bapak-ibu sekalian bahwa pertarungan di masa khilafah itu dulu sampai mengorbankan nyawa seorang cucu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa masih mau dibilang khilafah itu satu-satunya solusi umat?” tanya Prof Nadirsyah.

Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zeland ini menukil bagaimana Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah bercerita tentang Sayyidina Husein yang terbunuh di Karbala pada 10 Muharram atau yang dikenal dengan hari Asyura. Begini penuturan Ibnu Katsir:

“Pasukan memukul kepala Husein dengan pedang hingga berdarah. Husein membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya, dan dengan cepat balutan kain itu terlihat penuh dengan darah Husein. Syimr bin Dzil Jausyan memerintah pasukannya menyerbu Husein. Mereka menyerang dari segala penjuru”.

Ibnu Katsir melanjutkan tulisannya, “yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Khamr dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Hawali bin Yazid.” (Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah Jilid 8 hlm 204).

Anas melaporkan bahwa ketika kepala Husein yang dipenggal itu dibawa kepada Ubaidillah bin Ziyad, yang kemudian memainkan ujung tongkatnya menyentuh mulut dan hidung Husein. Anas berkata, “Demi Allah sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini.” Ibnu Katsir mencatat, 72 orang pengikut Sayyidina Husein yang terbunuh hari itu.

Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafah mencatat 4.000 pasukan yang mengepung Sayyidina Husein dan keluarganya di bawah kendali Umar bin Sa’ad bin Abiwaqas. Pada hari terbunuhnya Sayyidina Husein, Imam Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafah mengatakan, dunia seakan berhenti selama tujuh hari, mentari merapat laksana kain yang menguning, terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit pun terlihat memerah selama enam bulan.

Imam Suyuthi juga mengutip dari Imam At-Tirmidzi yang meriwayatkan kisah dari Salma, yang menemui Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang saat itu masih hidup. Ummu Salamah wafat pada tahun 64 Hijriyah, sementara Sayyidina Husein terbunuh tahun 61 Hijriyah. Salamah bertanya, mengapa engkau menangis? Ummu Salamah menjawab, “Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu. Saya tanya, mengapa engkau wahai Rasul? Rasulullah menjawab, ‘saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein’.

“Begitulah dahsyatnya pertarungan kekuasaan di masa khilafah dulu, mereka tidak segan membunuh cucu Nabi demi kursi khilafah. Apa mereka sangka Rasulullah tidak akan tahu peristiwa ini? Lantas, apakah mereka yang telah membunuh Sayyidina Husein kelak masih berharap mendapat syafaat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di padang mahsyar? Dalam kisah yang memilukan ini sungguh ada pelajaran untuk kita semua,” pungkas Prof Nadirsyah.

Dalam tragedi karbala itu, Ali Azghar, anak Sayyidina Husein yang baru berusia enam bulan juga terbunuh. Cicit Nabi Muhammad itu dibunuh Hurmala dengan melepas anak panah bermata tiga ke leher sang bayi sebelum abahnya, Sayyidina Husein meminta air untuk bayinya yang kehausan itu.

Sumber: NU Online Jawa Timur