Masih banyak yang penasaran dengan cerita Lettu Pierre
Tendean semasa hidupnya sebelum ia diculik dan dibunuh oleh gerombolan G30S
pada 1 Oktober 1965. Bagaimana hubungan anak laki-laki satu-satunya dalam
keluarganya dengan orangtuanya, kakak dan adik perempuannya.
Berikut ini adalah cerita yang dirangkum dari kesaksian
Roos, adik perempuan Pierre.
Tanggal terjadinya malam naas tersebut, 30 September adalah
ulang tahun ibunda Pierre. Biasanya setiap tanggal tersebut ia pulang ke
Semarang untuk merayakan ultah sang ibu bersama keluarganya. Namun kali ini,
pada 30 september 1965 Pierre tak bisa pulang karena ia harus mengawal Jenderal
A.H. Nasution sampai siang. Ia sudah memberitahu beberapa hari sebelumnya dan
berjanji akan pulang bersama Jusuf Razak, suami adiknya, Rooswidiati Tendean
pada 1 Oktober 1965. Dan ia mengatakan akan mengajak serta Ade Irma Suryani,
putri Jenderal Nasution yang baru berusia 5 tahun dan ikut menjadi korban
gerakan tersebut.
Keesokan harinya pada 1 Oktober 1965, Jusuf Razak datang ke
rumah Jenderal Nasution untuk menjemput Pierre. Keadaan di rumah Jenderal
Nasution membuatnya heran karena sangat banyak tentara yang berjaga-jaga. Jusuf
pun ditodong dengan senapan ketika memasuki halaman rumah Jenderal Nasution. Ia
menanyakan keberadaan Pierre karena harus menjemputnya untuk pulang ke
Semarang. Namun kata salah seorang tentara yang berjaga, dikatakan Pierre
sedang menemani Jenderal Nasution melaksanakan tugas tanpa memberitahu dimana
dan sampai kapan. Akhirnya Jusuf berangkat ke Semarang sendirian saja.
Ternyata Jusuf dan keluarga besar Tendean di Semarang tidak
tahu bahwa pada pagi itu terjadi gerakan kup (kudeta) oleh gerombolan yang
menamakan dirinya Gerakan 30 September (G30S). Belakangan pihak keluarga tahu
dan diliputi kecemasan karena Jenderal Nasution merupakan sasaran nomor satu
gerombolan tersebut. Kakak Pierre, Mitzi, berusaha mencarin informasi pasti
dari berbagai pihak.
Keesokan harinya, dari tanggal 2-4 Oktober 1965 barulah
titik terang mulai diketahui dari berita radio mengenai kejadian apa yang
sebenarnya terjadi pada subuh 1 Oktober 1965 itu. Siaran radio memberitakan
bahwa ada 7 orang korban, salah satunya adalah Lettu (CPM) Pierre Tendean.
Walaupun nama Pierre disebut, Mitzi belum yakin bahwa itu adalah Pierre, adiknya,
karena Pierre adalah Zeni (CZI). Namun tak lama kemudian, Jenderal Suryo
Sumpeno menelepon dan mengatakan bahwa Pierre ikut gugur dalam peristiwa
tersebut.
Mendengar kabar tersebut, kata Mitzi, seluruh anggota
keluarganya menangis. Mereka merasa termat sedih karena kehilangan Pierre,
anggota keluarga yang paling disayang.
Banyak yang penasaran mengenai masa kecil Pierre. Mitzi
menceritakan kehidupan adiknya panjang lebar.
Pierre Andries Tendean dilahirkan di Jakarta pada 21
Februari 1939 di RS. Cipto Mangunkusumo. Usianya terpaut 5 tahun dari Mitzi.
 |
| Mitzi dan adiknya, Pierre Tendean. Foto ini diambil tahun 1940 |
Keluarga Tendean tidak lama di Jakarta karena sang ayah,
Bapak A.L. Tendean yang merupakan seorang dokter mendapat tugas untuk
memberantas penyakit malaria di Tasikmalaya, yang membuat beliau sampai ikut
tertular. Dari sana keluarga mereka pindah lagi ke Cisarua agar sang ayah
dirawat di Sanatorium Cisarua. Di Sanatorium inilah kemudian A.L. Tendean
berdinas kembali sebagai dokter setelah ia sembuh.
Mitzi menceritakan saat keluarga mereka di Cisarua inilah
kehidupannya bersama Pierre amat menyenangkan dan penuh kenangan. Rumah dinas
mereka di kelilingi gunung, sawah dan kebun buah ceri. Saat padi menguning dan
dipanen, ia dan Pierre sering bermain disawah. Namun mereka juga tak lama
disitu karena sang ayah kembali dipindahkan ke Magelang karena mendapat promosi
jabatan sebagai Wakil Direktur RS Keramat. Tak lama kemudia Jepang menguasai
Nusantara.
Saat zaman Jepang, kehidupan keluarga Tendean serba susah.
Beras harganya sangat mahal sehingga keluarga mereka makan gaplek. Namun
namanya juga anak-anak, Mitzi dan Pierre tidak tahu hidup susah. Mitzi dan Pierre
yang saat itu sudah masuk SR (Sekolah Rakyat/Sekolah Dasar) malahan tetap saja
terus bermain tanpa mengenal waktu. Pierre paling senang main di sungai. Pierre
kerap main “kucing-kucingan” dengan sang ayah yang melarangnya main di sungai.
Tapi, dasar anak lelaki, makin dilarang maka makin membandel.
Rasanya Pierre tidak kapok-kapok menghadapi ayahnya yang
kerap memukulnya dengan sapu lidi, gesper (ikat pinggang) atau sandal apabila
ia nakal. Maklum, sang ayah mendidik anak-anaknya dengan keras dan disiplin.
Walau masih kecil dan bandel, Pierre sudah menunjukkan sikap
dewasa dan bertanggung jawab. Ia suka membantu orang lain. Ia sering mencari
siput untuk diberikan sebagai tambahan lauk pauk untuk keluarga kawan-kawan
mainnya.
Pada masa inilah keluarga mereka mulai “berurusan” dengan
gerombolan PKI untuk pertama kalinya ketika sisa-sisa pelarian gerombolan PKI
Madiun yang melakukan pemberontakan di Madiun pada tahun 1948 merampok rumah
keluarga Tendean dan membawa ayah Pierre. Saat hari sudah gelap, sang ayah
mencoba melarikan diri dengan menceburkan diri ke sungai. Namun gerombolan
tersebut menembaki sang ayah dengan membabi-buta sehingga kakinya tertembak dan
cacat seumur hidup karena tembakan senapan gerombolan tersebut membuat
tulangnya pecah. Karena kejadian itu, keluarga mereka terpaksa pindah ke
Semarang karena Bapak A.L. Tendean harus dirawat di RS. dr. Karyadi. Mulai saat
itu, keluarga mereka menetap di Semarang.
Pierre menempuh pendidikan SMP hingga tamat SMA di Semarang.
Prestasi belajarnya pun memuaskan. Nilai bahasa asingnya seperti Inggris,
Belanda, dan Jerman sangat baik. Pierre tentu saja menguasai Bahasa Perancis
karena sang ibu merupakan seorang keturunan Perancis. Saat SMA ini sang ayah
memberi hadiah motor Ducati kepada Pierre.
Seperti para pelajar SMA masa kini, Pierre pun juga pernah
ikut tawuran pelajar antar sekolah. Bahkan saat tawuran pada tahun 1957, ia
pernah terlibat tawuran menggunakan senjata tajam. Ia pun sempat terkena
sabetan pisau lawannya dari sekolah lain di tangannya dan meninggalkan bekas
luka. Saat SMA pun Pierre dikenal sebagai anak gaul, karena teman-temannya
sangat banyak dari berbagai kalangan.
Ketika Pierre menamatkan SMS, ayahnya ingin ia masuk kuliah
kedokteran agar bisa menjadi dokter seperti dirinya. Namun sang ibu
menginginkan Pierre menjadi seorang insinyur. Namun Pierre membangkang kemauan
saran kedua orangtuanya. Ia hanya mendapatkan dukungan dari sang kakak, Mitzi.
Sang kakak pun menawarkan solusi rahasia kepada Pierre agar
Pierre tidak menyakiti ayah dan ibu mereka. Mitzi menyuruh Pierre ikut tes
masuk Fakultas Kedokteran di Jakarta dan Fakultas Teknik ITB Bandung tapi asal
menjawab soal-soal ujian tersebut. Tentu saja, dengan cara tersebut Pierre
tidak diterima masuk FKUI dan FT ITB. Kemudian ia ikut ujian masuk AMN (kali
ini serius mengerjakan soal ujian), dan diterima. Di Bandung, Pierre menumpang
di tempat mertua Jenderal Nasution yang bersahabat erat dengan ayah mereka.
Nah, di AMN ini Jenderal Nasution menyarankan Pierre agar
mengambil jurusan teknik (ATEKAD) agar nanti ia bisa melanjutkan ke ITB atau
fakultas teknik di kampus lain. Tentu saja Jenderal Nasution menyarankan ini
karena ia tahu keinginan ibu Pierre agar tidak mengecewakan ibun Pierre yang
ingin anaknya menjadi insinyur,
Tentu saja sebagai siswa sekolah militer (taruna), Pierre
mendapat uang saku dari negara. Namun namanya juga Pierre, anak laki-laki
satu-satunya yang paling disayang sang ibu, Pierre tetap saja masih manja
kepada sang ibu. Karena itu ia suka meminta uang tambahan kepada sang ibu lewat
surat, “...seandainya Mami memiliki uang belanja lebih, tolong kirimi saya,
karena saya ingin membeli film”. Modusnya mirip seperti anak-anak zaman
sekarang, ya.
Semasa menjalani pendidikan di ATEKAD, Pierre menjadi idola
gadis-gadis yang tinggal di sekitar ATEKAD karena ia amat tampan dan bertubuh
tegap.
Pada tahun 1958, Pierre yang masih menjadi taruna ATEKAD
bersama rekan-rekan seangkatannya dikirim ke Sumatera untuk berperang melawan
pemberontak PRRI. Ini merupakan praktek lapangan yang menjadi pengalaman
pertamanya sebagai militer.
Pierre lulus ATEKAD tahun 1962 dengan nilai sangat memuaskan.
Saat Presiden Soekarno mengumandangkan Dwikora, Pierre sudah berpangkat Letda
(Letnan Dua) dan bertugas di Medan sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni
Tempur Kodam II Bukit Barisan. Nah, saat bertugas disini dia mengenal Rukmini
yang dipacarinya sampai merencanakan menikah pada November 1965.
 |
| Pierre (paling kiri) bersama kakaknya, Mitzi, ibunya dan ayahnya |
Lalu tahun 1963, Pierre dipindahkan ke Bogor karena tugas
belajar di Sekolah Intelijen. Nah, setelah lulus Pierre ditugaskan untuk
menyusup ke Malaysia. Ia menyusup sampai 3 kali. Pada penyusupannya yang ketiga
kali, ia nyaris tertangkap oleh Angkatan Laut Inggris. Ia bersembunyi di dalam
air, tepatnya di bawah perahu dengan seluruh tubuh menempel sejajar pada dasar
perahu hingga kapal Angkatan Laut Inggris meninggalkan lokasi. Sedangkan anak
buahnya bersembunyi dengan menyamar sebagai nelayan, di balik perahu nelayan
sambil berpura-pura menyelam mencari ikan. Dalam penyusupan-penyusupan
sebelumnya, Pierre selalu berhasil lolos tanpa dicurigai dan pulang ke Jakarta
karena menyamar sebagai turis. Penyamarannya ini memang didukung oleh
penampilannya yang kebule-bulean, tinggi tegap dan mempunyai kemampuan Bahasa
Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis yang fasih.
Kala bertugas menyusup ke Malaysia (termasuk Singapura yang
dulu merupakan wilayah Malaysia), Pierre tak lupa membawa oleh-oleh kala
pulang. Pierre membelikan ayahnya jam tangan dan rokok merk Commodore. Untuk
dirinya sendiri Pierre membeli jaket dan jam tangan. Kakaknya dibelikan kaus
dan raket tenis yang hingga kini masih disimpan oleh sang kakak, karena saat
memberikan oleh-oleh tersebut Pierre berpesan, “Ojo didhol, lho” (bahasa Jawa:
jangan dijual, ya). Pierre membeli barang-barang tersebut dengan uang sakunya.
Ia memperoleh uang saku yang besar karena tugas yang dijalaninya tersebut
sangat berbahaya.
Karena dirinya anak rumahan, Pierre selalu meluangkan waktu
untuk berkirim surat dimanapun ia berada. Semua anggota keluarga ia surati
semua. Dalam sebuah suratnya Pierre menceritakan bahwa ia selalu menjadi
penerjemah apabila komandannya menerima tamu yang mendarat di Pelabuhan
Belawan. Tiap mendapat tamu asing, Pierre selalu bilang dalam suratnya bahwa
itu adalah waktu dirinya bisa makan enak.
Walau karir militernya menanjak dan sudah berusia dewasa, ia
tetaplah seorang “anak mami” dalam keluarganya. Ia pasti akan pulang ke
Semarang apabila mendapat libur. Setiap mendapat kabar Pierre akan pulang,
pasti sang ibu langsung sibuk membuat makanan dan minuman kegemaran anak lelaki
kesayangannya itu seperti kue sus, ayam panggang, sambal bajak dan sirup manis.
Saat masih pendidikan di ATEKAD, Pierre selalu menanyakan bahwa dirinya minta
dikirimi sambal apabila ada kenalan yang kebetulan ke Bandung.
Karena prestasinya menyusup di Malaysia, ia menjadi
pembicaraan di kesatuannya. Hal ini sampai ke telingan Jenderal Nasution.
Jenderal Nasution bersikeras menginginkan Pierre sebagai ajudannya untuk
menggantikan Kapten Manullang yang gugur saat menjadi anggota Kontingen Pasukan
Garuda untuk menjaga perdamaian di Kongo. Sebenarnya ada 3 Jenderal yang
menginginkan Pierre menjadi ajudannya, yaitu Jenderal Nasution, Jenderal
Hartawan dan Jenderal Kadarsan, namun Jenderal Nasutionlah yang mendapatkan
Pierre.
Mengetahui Pierre akan bertugas sebagai ajudan Jenderal
Nasution, sang ibu merasa senang karena ia selalu khawatir memikirkan Pierre
yang sering tidak diketahui sedang bertugas dimana. Jenderal Nasution mempunyai
4 ajudan, dan Pierre adalah ajudannya yang paling muda dan sekaligus paling ia
sayang.
Soal Pierre, dalam buku “Memenuhi Panggilan Tugas”, Jenderal
Nasution mengatakan bahwa “Pierre Tendean seperti adik kandung bagi saya dan
istri saya. Mungkin sekali karena pengaruh sayalah ia menjadi taruna, karena
orang tuanya semula sebenarnya tidak setuju. Ia tinggal di rumah saya sebagai
anggota keluarga biasa”. Hal ini bisa dibuktikan oleh kesaksian Hendrianti
Sahara (Yanti), putri sulung Jenderal Nasution. Dari keempat ajudan ayahnya, Ia
dan sang adik, Ade irma Suryani paling akrab dengan Pierre, dan Pierre selalu
bermain dengan mereka kala ada waktu luang di rumah. Yanti masih ingat wajah
tampan Pierre suka senyum-senyum sendiri kala membaca surat dari Rukmini, kekasihnya
di Medan. Oleh karena itu, ia kerap menggoda Pierre yang sedang kasmaran dan
menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk “menodong” permen atau cokelat
ke Pierre yang ia panggil dengan sebutan “Om”. Ia mengenang, Pierre sering
menemani Ade main sepeda di halaman rumah. Pierre memang paling sayang kepada
Ade.
Seperti yang tertulis sebelumnya bahwa Pierre membangkang
keinginan orangtuanya yang ingin dirinya menjadi dokter atau insinyur untuk
masuk kemiliteran. Kala karir militernya mulai menanjak ini pun Pierre
bersikeras bahwa ia lebih suka tugas lapangan. Kepada sang kakak, Pierre pernah
bilang, “Aku cuma mau bertugas sebagai ajudan selama setahun, tidak lebih.
Kalau diperpanjang, aku akan menghadap Kasad untuk minta pindah”. Saat itu yang
menjadi Kasad (Kepala Staf Angkatan Darat)/Menpangad (Menteri Panglima Angkatan
Darat) adalah Letjen Ahmad Yani. Ternyata Pierre hanya bertugas sebagai ajudan
selama 6 bulan karena ia keburu gugur ditangan gerombolan G30S.
Ada satu fakta menarik yang selama ini tidak pernah
diketahui publik. Mitzi membuka rahasia mengenai pekerjaan sampingan adiknya
saat sudah menjadi ajudan Jenderal Nasution dan berpangkat Lettu (Letnan Satu).
Setiap malam Pierre menjadi sopir traktor yang bertugas meratakan tanah di
Monas. Saat itu, Monas belum jadi sekali. Pierre melakukan pekerjaan ini untuk
menambah uangnya karena ia sangat ingin memiliki sebuah televisi (TV) dan
Pierre sudah memesannya sejak jauh hari. Maklum, pada saat itu TV masih
dianggap barang mewah dan sulit diperoleh. Untuk membelinya pun harus memesan
dulu (indent).
Waktu adiknya, Rooswidiyati (Roos) hendak menikah dengan Jusuf
Razak, Pierre memberikan sejumlah uang yang dibungkus koran kepada sang ibu, “Mami,
ini sumbangan saya untuk pernikahan Roos”. Sang ibu terkejut, karena uang
tersebut dalam bentuk dollar yang kalau dirupiahkan jumlahnya besar. Uang itu
adalah uang yang ia kumpulkan dari gajinya saat menyusup ke Malaysia.
 |
| Pierre (belakang kanan) saat pernikahan adiknya, Rooswidiyati dengan Jusuf Razak |
Roos ingat bahwa saat menikah pada 2 Juli 1965, dirinya dan
Pierre saling berpandangan dalam waktu lama. Roos mengingat Pierre menanyakan
kepada dirinya, apakah sudah siap berumah tangga. Pierre pun juga menasihati
adiknya ini. Saat dirinya akan menandatangani surat nikah, mendadak Pierre
menangis dan memeluknya. Ia pun menangis di dada Pierre sampai tak sanggup
menandatangani surat tersebut. Mungkin karena ia menjadi mualaf saat menikah
sedangkan seluruh keluarganya adalah Kristen taat. Roos masih ingat perkataan
Pierre kepada suaminya, “Mas, aku titip adikku dan tolong jaga dia.” Ross
mengingatnya seolah-olah sebagai firasat Pierre untuk “pamit” selama-lamanya,
karena saat pernikahannya itulah dirinya terakhir kali melihat Pierre, kakak
kesayangannya.
Sedangkan Mitzi, kakak sulung, masih sempat bertemu Pierre untuk
terakhir kalinya sebulan sebelum peristiwa G30S. Saat itu Pierre mengantar
dirinya yang hendak pulang ke Semarang, sampai Stasiun Gambir. Saat itu Pierre
mengenakan celana teteron warna hijau dan kemaja kecoklatan. Ketika mereka cium
pipi kiri kanan, Mitzi merasa pipi adiknya dingin. Mitzi tak pernah melupakan
lambaian tangan Pierre ketika kereta api yang ditumpanginya bergerak
meninggalkan stasiun. Itulah lambaian tangan terakhir yang ia lihat yang
(mungkin) menjadi lambaian perpisahan selama-lamanya dari adik lelaki
kesayangannya ini. Tapi, setelah itu mereka masih berbicara sekali melalui
telepon.
 |
| Pierre Tendean (kedua dari kanan) bersama keluarga |
Menurut kesaksian seseorang yang namanya ia lupa, Mitzi
menceritakan bahwa pada sore hari 30 September 1965, Pierre masih sempat
melihat sebuah paviliun di Jalan Jambu yang dikontrakkan karena adiknya ini
memang sudah berencana berumah tangga dan menikahi Rukmini, gadis Jawa yang
besar di Deli dan (saat itu) tinggal di Medan.
Mengenai kisah cinta adiknya ini, Mitzi ingat bahwa Pierre
pernah mengirimkannya surat dalam bahasa Jawa. Dalam surat tersebut Pierre
menceritakan bahwa ia sudah mendapat jodoh dan meminta doa restu mengenai niatnya
untuk menikahi Rukmini.
Pada 31 Juli 1965 Pierre menyempatkan diri menemui kekasihnya
dan calon mertuanya saat menemani Jenderal Nasution perjalanan dinas ke Medan.
Dalam pertemuan dengan keluarga calon mertuanya ini disepakati bahwa Pierre
akan menikah dengan Rukmini pada November 1965. Itulah hari sang kekasih
bertemu dengan Pierre untuk terakhir kalinya.
 |
| Kisah cinta si tampan Pierre Tendean dan Rukmini (kanan) harus terpisah karena maut. Rukmini terakhir kali bertemu Pierre ketika Pierre bertamu ke rumah keluarganya untuk membicarakan pernikahan dia dan Pierre |
Mitzi merasakan satu hal lain yang cukup ganjil. Biasanya,
Pierre pasti akan menelepon walaupun sedang sibuk bertugas dimanapun untuk
mengucapkan selamat apabila salah satu anggota keluarga berulang tahun. Namun anehnya,
pada hari itu, 30 September 1965 yang merupakan ulang tahun sang ibu, ia tidak
menelepon untuk mengucapkan selamat.
Tangisan dan Ratapan Ibunda untuk Pierre
Jenazah Pierre dan para Pahlawan Revolusi lainnya
disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat di Jalan Medan Merdeka Utara
setelah divisum dan dibersihkan di RSPAD Gatot Subroto. Pemerintah mengirimkan
pesawat khusus untuk menjemput keluarga Pierre di Semarang pada 5 Oktober 1965.
Ketika melihat peti jenazah Pierre, sang bunda meratap
sejadi-jadinya. “Pierre..oh Pierre, mijn jongen, wat is er met jouw gebeurd?”
(Pierre..oh Pierre, anakku, apa yang terjadi denganmu?).
Kematian Pierre ini membuat semangat hidup sang ibu menurun.
Makin lama kesehatannya ikut menurun. Ny. Cornet Tendean masih belum bisa
menerima kenyataan bahwa putra kesayangannya itu telah tiada.
Apabila sang ibu tiba-tiba teringat Pierre, ia selalu
memarahi, menyalahkan dan menghujat Mitzi karena Mitzilah satu-satunya dalam keluarga yang
berani mendukung keinginan sang adik untuk menjadi tentara. Karena masih belum
bisa menerima kenyataan tersebut, sang ibu sering membaca semua surat-surat
yang dikirimkan Pierre. Surat-surat tersebut diurutkan oleh sang ibu sesuai
tanggalnya. Berbeda dengan sang ibu, sang ayah bisa menerima kenyataan dan
menguasai diri walau sebenarnya beliau sangat terpukul kehilangan putra
satu-satunya ini. Sang ayah pun, walau sedih, tetap berusaha menghibur istrinya
yang sering tak bisa mengendalikan diri kala tiba-tiba teringat Pierre.
Ketika sakitnya masih belum parah, Ny. Cornet Tendean masih
sempat berziarah ke makam Pierre. Petugas Taman Makam Pahlawan Kalibata bercerita
kepada Mitzi bahwa saat berziarah itu sang ibu memborong bunga anggrek
sebanyak-banyaknya sehingga seluruh makam Pierre tertutup oleh anggrek.
 |
| Makam Pierre Andries Tendean di Taman Makam Pahlawan Kalibata |
Karena selalu teringat Pierre, kesehatan Ny. Cornet Tendean
makin menurun sehingga pada pertengahan Agustus 1967, ia harus dirawat di rumah
sakit.
Suatu saat ketika Roos, adik Pierre sedang menemani sang ibu
di rumah sakit pada 19 Agustus 1967, mendadak sang ibu berkata-kata dalam
Bahasa Belanda seolah-olah ia melihat Pierre datang menjenguknya di samping
ranjangnya. “Pierre.. Pierre.. aku sudah tidak tahan lagi”. Setelah
berkata-kata demikian, Ny. Cornet Tendean menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Jauh-jauh hari sebelumnya, sang ibu pernah berpesan kepada
Mitzi, agar kelak apabila ia meninggal, agar jenazahnya ditutupi dengan selimut
yang pernah dipakai Pierre. Dan Mitzi pun melaksanakan pesan tersebut.
Sedangkan sang ayah, Bapak A.L. Tendean wafat 7 tahun kemudian pada 19 Juli
1974.
Mitzi dan adiknya, Roos, tak pernah melupakan masa-masa
Pierre bersama mereka. Semua barang yang pernah menjadi milik Pierre, mereka
simpan sebagai kenang-kenangan kecuali pakaian yang dikenakan Pierre saat ia
gugur karena disimpan di museum yang berada di Komplek Monumen Pancasila Sakti
tempat Pierre gugur.
(Intisari September 1989 dan sumber-sumber lain yang
terpercaya)