Thursday, December 8, 2016

Pancasila dan Kegeraman Sang Jenderal....

Kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia kini sudah terindikasi tidak terkendali seiring lunturnya pemahaman akan nilai-nilai luhur dasar negara Republik Indonesia, Pancasila, di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Pancasila saat ini digempur oleh banyak ideologi dan pemahaman radikal serta hal sejenisnya yang merusak moral bangsa. Hal ini pun diakui oleh Wakil Ketua MPR Jenderal (Purn) Evert Ernest (EE) Mangindaan. 

Pengamalan nilai-nilai Pancasila di masa kini
Pancasila merupakan dasar negara dan konstitusi yang tidak bisa diganggu gugat (photo: Lampung Post)

Dalam menyampaikan materinya, Mangindaan mengungkapkan beberapa tantangan kebangsaan yang muncul di era globalisasi ini. Hal  tersebut disampaikan pada acara Sosialisasi Empat Pilar di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Kamis 8 Desember 2016.

Ia pun menyatakan kegeramannya akan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila yang amat memprihatinkan di masyarakat.

"Saat ini adanya kelemahan dalam pemahaman dan sempitnya pemaknaan keagamaan sehingga muncul rasa ekstrimis atau radikal. Radikalisme terjadi di semua agama. Radikalisme disebut mengganggu terhadap pemahaman Pancasila," kata Mangindaan.

Adapun tantangan kebangsaan yang lain menurut Mangindaan adalah pengabaian kepentingan daerah serta fanatisme kedaerahan. Hal ini terjadi ketika pilkada berlangsung, sikap primodialisme muncul, seperti seolah-olah yang bisa jadi kepala daerah hanya putra asli daerah. Menurutnya, hal ini dapat mengganggu kebhinekaan.

Lebih lanjut dikatakan oleh Mangindaan, tantangan kebangsaan juga muncul dari penguasa yang sewenang-wenang. "Ketika jadi pemimpin, seolah semua menjadi miliknya. Perlu diingatkan kembali bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat. Untuk itu keadilan hukum harus ditegakkan tanpa memandang bulu;” ujarnya.

Mangindaan juga mengatakan bahwa adanya kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial menjadi salah satu tantangan bagi bangsa ini. Ia pun bercerita, pernah dalam sebuah sosialisasi,

Saat ia menjelaskan panjang lebar mengenai Pancasila, kemudian ada mahasiswa yang bertanya bahwa apakah orang yang tidak mampu perlu Pancasila?

Mangindaan yang hadir dalam acara tersebut pun menjawab, "Kamu Indonesia bukan? Kalo iya berarti kamu juga termasuk Pancasila".


Menurut Mangindaan, bagaimanapun keadaannya kita tidak boleh putus asa dalam mensosialisasikan Pancasila.
(istimewa)

Wednesday, December 7, 2016

Demi Kebaikan Warga Jakarta, Ini Alasan Ahok "Menyemprot" Istrinya Sendiri

Walau menjadi istri pejabat dan membantu tugas-tugas suaminya dalam kapasitasnya sebagai istri seorang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bukan berarti kegiatan dan inovasi yang dilakukan Veronica Tan selalu "diluluskan" oleh Ahok apalagi kalau sudah menyangkut kepentingan masyarakat banyak.

Inilah fakta yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat banyak. Betapa seorang Ahok tidak pandang bulu dalam segala hal. Termasuk istrinya sendiri pun "kena semprot" apabila dianggap merugikan masyarakat.

Kader PKK DKI Jakarta
Veronica Tan (kiri) melantik Kader PKK Jakarta Utara

Hal ini berawal dari berbagai lomba yang diselenggarakan TP PKK (Tim Penggerak  Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) diketahui oleh Ahok rupanya sering membuat repot para Camat dan Lurah. Karenanya, Ahok meminta kader PKK DKI Jakarta menghentikan kegiatan lomba di tingkat wilayah.

Hal tersebut sudah disampaikan Ahok kepada istrinya Veronica Tan yang  merangkap sebagai Ketua TP PKK DKI Jakarta. “Hentikan lomba-lomba, kasihan camat dan lurah, nggak ada anggaran ”

Ahok ingin kegiatan PKK ke depannya bisa lebih peduli terhadap pemberdayaan masyarakat di bidang sosial seperti keberadaan taman terpadu yang ada di tiap RW. membantu Dewan Masjid mengurus masjid, sekolah, ibu hamil sampai Lansia. “Fokus saja ke sana dan manfaatnya akan lebih besar bagi Jakarta,” katanya.

Menanggapi saran Gubernur yang juga suaminya itu, Veronica mengatakan akan mengikuti saran tersebut. Veronica akan menjadikan taman layak anak menjadi community center (pusat komunitas) sehingga terintegrasi dengan seluruh program PKK. Di mana, anak-anak, orang tua dapat beraktivitas bersama di balai ruang publik yang ada di taman tersebut.

“Jadi nanti ada tempat pelatihan ibu-ibu, seperti menjahit. Itu akan dibuat program dari Corporate Social Responbility (CSR). Nanti anggarannya masuk kelurahan untuk melatih kader,” tuturnya.


Veronica juga menyatakan akan menghentikan perlombaan di tingkat kelurahan yang selama ini digelar kader-kadernya. Sebagai gantinya, PKK bakal menetapkan sistem reward kepada para kader yang berhasil mengelola taman di setiap wilayah.

Tuesday, December 6, 2016

Mengupas Isu dan Fakta: "Ahok Itu Seorang Pemimpin Atau Pelayan Sih?"

Kisruh politik yang merembet ke masalah SARA terkait ucapan dan pernyataan Gubernur DKI Jakarta (non aktif) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu terkait Al Quran Surat Al Maidah 51 yang dipelintir oleh Buni Yani nampaknya sudah melampaui batas kewajaran.

Disebut melampaui batas karena postingan Buni Yani tersebut berimbas pada bahayanya keguyuban di masyarakat dan berpotensi memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ekses postingan Buni Yani pun berakibat mobilisasi ribuan dan (konon) jutaan massa ke Jakarta untuk aksi bela Islam dan bela Quran.

Para tokoh (yang merasa dirinya) ulama pun lantas menyuarakan dakwah bahwa intinya "dalam Islam dilarang memilih pemimpin kafir dan non muslim".

Saya sebagai seorang nasionalis mencoba merenung dan menanyakan kesana-sini mulai dari golongan akademisi hingga lintas agama. Mulai dari yang "netral" hingga yang "berat sebelah". Nah, disini saya mencoba "merangkum" semua pendapat mereka.

Sekali lagi, ini hanyalah sebuah pendapat yang hanya mencoba obyektif dan jujur.

Apakah Ahok itu merupakan seorang pemimpin? Apakah Ahok itu merupakan seorang pelayan? Mari kita bahas disini.

Pada dasarnya, "pemimpin" itu mempunyai ruang lingkup yang lebih kecil. Pemimpin itu "agak mirip-mirip" dengan "administratur yaitu mengatur segala sesuatu agar tercapai tujuan kelompok. Ditambah lagi, karena "ruang lingkup" nya kecil, maka kita juga harus membicarakan "homogenitas" disini.

Misalnya, pemimpin perusahaan. Pemimpin ini memimpin "anak buah"-nya. Anak buah bekerja bersama untuk si pemimpin. Dan dalam kasus ini, pemimpin TIDAK BEKERJA untuk anak buahnya. Kalau ada anak buah yang mengeluh, sang pemimpin tidak akan mau mendengarkan keluhannya. Karena itu bukan urusannya?

Bagaimana dengan kapten kesebelasan sepakbola? Ambil contoh Boaz Solossa yang kebetulan beragma Nasrani, Kapten klub Persipura Jayapura sekaligus tim nasional sepakbola Indonesia.

Dalam lingkup tim Persipura, ia adalah pemimpin kawan-kawannya di lapangan hijau. Namun dalam lingkup Papua, ia adalah pelayan masyarakat Papua? Mengapa? Karena kalau membicarakan lingkup Papua, Boaz dan kawan-kawannya "melayani" ego masyarakat Papua agar daerahnya unggul dari daerah lain dalam prestasi sepakbola. Bagaimanapun caranya, Boaz harus bisa membawa Persipura juara agar mengharumkan dan membuat bangga Papua. Dia adalah pelayan bagi ego orang Papua. Begitu juga dengan kapten-kapten kesebelasan klub lain.

Bagaimana kalau membicarakan lingkup yang lebih luas? Yaitu tim nasional sepakbola Indonesia? Boaz bukanlah imam/pemimpin para kapten-kapten klub. Ia hanya mengorganisasi (pekerjaan administratur di lapangan) bagi kawan-kawannya di atas lapangan untuk melayani dan memuaskan ego seluruh rakyat Indonesia agar tim nasional bisa berjaya dengan seluruh tenaga yang ia berikan?

Kenapa Boaz disebut pelayan disini? Coba pikirkan, Anda yang sering teriak "Ganyang Malaysia!!", "Hantam Thailand!!!", "Gilas Vietnam", atau nanti apabila tim kita bertemu kesebelasan Myanmar kita berteriak "Bantai para pembantai Rohingya", bisakah melakukan pekerjaan yang dikerjakan oleh Boaz dan kawan-kawannya? Bisakah Anda yang suka teriak yang bermain saja di lapangan melawan "musuh-musuh" tersebut? Kalau Anda main dan kalah telak bagaimana? Bukankah para pemain seperti Boaz dan kawan-kawannya merupakan orang pertama yang harus menanggung beban dan rasa malu apabila kalah? Sanggupkah Anda memikul beban berat dan rasa malu seperti mereka?

Atau ada contoh lain, kebetulan di lingkungan saya.

Ketua RT itu pemimpin atau pelayan sih? Para warga ngga ada yang bekerja untuk ketua RT kan? Ketua RT hanyalah "administratur" bagi warganya yang heterogen. Dia juga merupakan pelayan bagi warganya yang heterogen.

Ketua RT saya ini amatlah merupakan seorang "pelayan" dan bukannya pemimpin. Saat ada warga miskin yang rumahnya terancam ambruk, beliau menghadap kelurahan membawa proposal untuk perbaikan rumah warga ini. Dan proposal tersebut tembus sehingga rumah warga miskin ini bisa direnovasi.

Kebetulan di RT ini, bendaharanya adalah seorang ibu beragama Nasrani. Sebelum perbendaharaan keuangan RT dipegang oleh ibu ini (dipegang oleh seorang ibu yang berpakaian rohani sesuai ajaran agamanya), keuangan warga selalu tidak jelas rimbanya dan tidak akuntabel. Ditangan ibu ini, keuangan RT seslalu transparan. Dan juga tidak ada lagi warga yang begitu mudah berhutang uang RT dan kabur atau tidak bayar dengan alasan segala macam.

Contoh lain lagi adalah ketua kelas. Sekali lagi, konon ketua itu berarti pemimpin. Benarkah demikian?
Kebetulan saya pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Kelas saat kelas 3 SMA. Apabila sang Ketua Kelas berhalangan, maka sayalah yang bertanggung jawab. Dan kebetulan atau bukan, ketua kelas saya ini sering berhalangan.

Tahukah Anda? Walau jabatan saya (Wakil) Ketua Kelas, sejatinya saya adalah pelayan kawan-kawan sekelas. Saya sering harus menjadi "bemper" bagi kawan-kawan sekelas apabila mereka bermasalah dengan sesama mereka dan guru. Saya akan membela kawan saya secara proporsional. Karena saya (Wakil) Ketua Kelas, saya sering "diperbudak" untuk mengambil spidol, penghapus papan tulis atau bahkan mengantarkan tugas kawan-kawan ke meja guru di ruang guru. Yang seperti ini pemimpin atau pelayan?

Kalau tokoh seperti misalnya Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Aa Gym dan ulama lain, mereka adalah pemimpin. Jadi tidak mungkinlah Muhammadiyah dipimpin oleh bukan mereka yang berasal dari kalangan Muhammadiyah. Tidak mungkin jugalah PDIP dipimpin oleh orang yang bukan kader PDIP, dan tidak mungkin pula pemimpin muslim seperti Aa Gym digantikan oleh pemimpin yang non muslim.

Sempat terlontar dalam diskusi di sebuah warung Indomie (ternyata dari sekelas warung sempit di pojokan jalan ini juga ada suara-suara kritis dan objektif), apakah para "pemimpin" tersebut "bekerja untuk kita semua"?. "Kita semua" yang dimaksud disini adalah semua orang dan masyarakat tanpa memandang SARA?

Bagaimana dengan Ahok?

Di kalangan PNS DKI Jakarta, ia adalah bos mereka. Tapi kita harus ketahui, para PNS ini kitalah yang menggaji melalui segala macam pajak dan pungutan (bukan pungli) yang kita bayar. Ahok, serta para pejabat lain hingga Presiden adalah pelayan masyarakat dan bukannya pemimpin. Karena mereka merupakan administratur atau pengatur agar semua orang yang ada di negara ini bisa kebagian sama rata. Tanpa ada mereka yang kita "gaji" sebagai administratur, negara kita ini akan kacau dan tidak bisa berjalan.

Semenjak ada Ahok, tidak ada lagi PNS yang "sekenanya" saja seperti zaman dahulu.

Tanpa adanya para administratur ini, akan ada praktek seperti zaman koboi. Siapapun akan sesukanya tanpa ada aturan main.

Satu lagi, saat ini sedang ada "kisruh APBD DKI" dimana Pelaksana Tugas Gubernur DKI menaikkan besaran anggaran DKI Jakarta 2017 dari 68,76 Trilyun menjadi 70,29 Trilyun. Menurut Soni, penambahan anggaran ini salah satunya karena ada kegiatan yang diusulkan sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta masuk ke mata anggaran di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2017 DKI Jakarta. "Mereka (anggota DPRD) teman sebelah kami, kata Soni seperti yang diwartakan Tempo pada Senin 5 Desember 2016.

Maling Anggaran DKI
Kisruh APBD DKI Jakarta 2017 (sumber: Temp)

Sebelumnya, alasan Ahok menolak cuti kampanye adalah agar dirinya bisa mengawal penyusunan APBD 2017. Ahok sangat kecewa karena waktu pembahasan APBD bertepatan dengan masa kampanye. Ditambah lagi ia terpaksa harus cuti, maka ia TIDA BISA DAN TIDAK BOLEH berurusan dengan penyusunan dan pengawasan APBD.

Dan sekarang, saat Ahok sedang cuti, pelayanan aparat DKI pun kembali amburadul.

Selanjutnya, silahkan Anda ambil kesimpulan sendiri. Ahok itu pemimpin atau pelayan Anda? Selamat berpikir dengan pikiran dan hati yang sejuk. Tidak perlu memakai caci maki.

Friday, December 2, 2016

Ketika Jokowi Men-Skak Mat 212

Salah satu rencana penyelenggara demo-demo besar ini sebenarnya adalah 2019..

Dengan tekanan kepada pemerintahan Jokowi, mereka sangat berharap Jokowi melakukan kesalahan. Kesalahan yang utama adalah melakukan pukulan kepada para pendemo sehingga terjadi kerusuhan yang akan mereka perluas skalanya.

Ketika demo berubah rusuh, dampak yang terjadi adalah pelemahan ekonomi dan ketidak-percayaan pada pemerintah. Jika mereka tidak bisa menjatuhkan Jokowi sekarang, di 2019 diharapkan akan berpengaruh pada elektabilitasnya. Dan saat Pemilu nanti, mereka akan membawa kerusuhan2 itu sebagai senjata untuk menghantam Jokowi.

Jokowi Ke Monas
Presiden Jokowi berjalan di MOnas dibawah hujan untuk sholat Jumat

 Sayangnya, mereka gagal....

Hal yang mereka tidak perkirakan adalah Jokowi tidak melakukan pukulan keras kepada pendemo, malah mempersilahkan mereka dan memperlakukannya dengan baik.

Karena rencana yang tidak berhasil itu, mereka kemudian mencoba membunuh karakter Jokowi dengan mengatakannya pengecut karena tidak menemui peserta demo.

Terbukti gagal maning, gagal maning...

212 ini salah satu cara mereka untuk kembali menjatuhkan nama Jokowi. Dan lagi2 mereka salah langkah, Jokowi adalah pemain catur yang brilian...

Pemerintah menyamarkan langkahnya dengan statemen Panglima TNI bahwa ia tidak akan hadir pada shalat Jumat di Monas. Tidak hadirnya Panglima berarti ketidak-hadiran Presiden.

Lawan tersenyum, "Nah, matek kon..."

Injury time, Presiden tampak melangkah keluar istana beserta pejabat2 lain dan Panglima TNI menuju tempat shalat Jumat. Mereka berjalan dengan gagah ditengah hujan sambil memegang payung...

Jokowi menjadikan acara shalat Jumat itu sebagai panggung dirinya. Ia menunjukkan bahwa dirinya tidak takut akan tekanan2 yang terus datang. Ia menghajar lawannya dengan langkah kuda yang jitu.. Mereka yang kemarin meremehkannya, sekarang berbalik memujanya.

Tidak terduga, lawan politik Jokowi malah tanpa sadar menyediakan panggung yang indah dengan karpet merah, dimana Jokowi melangkah dengan anggun dan berwibawa...

Congrats Mr. Presiden.. Langkahmu telak menampar mereka yang merasa sudah berada di ujung kemenangan. Saya ingin mengangkat secangkir kopi untuk anda setinggi-tingginya..

Tinggal para donatur demo yang harus membereskan bidak2nya dan menyusun ulang kembali strategi mereka. Apalagi penangkapan pion2 mereka meruntuhkan mental bertarung ditambah kehilangan dana besar yang ternyata tidak sesuai harapan.

Lebaran kuda ternyata masih jauh, Kumendan... Habis ini jangan kaget kalau ada gebrakan cepat KPK memperkarakan proyek mangkrak yang besinya sudah karatan.

Seruput dulu... baru bikin album baru.


Saya pesan yang judulnya, "Kegagalan adalah sukses yang tidak pernah datang.."
(Denny Siregar)

Ini Alasan Penangkapan Terhadap Rachmawati Soekarnoputri dan Ahmad Dhani

Kisruh politik di negeri ini, khususnya di internal keluarga Proklamator Republik Indonesia, Soekarno, semakin hari semakin meruncing saja. Hal ini tak lepas dari ditangkapnya salah satu putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri oleh polisi.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Kuasa hukum Rachmawati, Aldwin Rahardian, yang mengatakan bahwa kliennya memang ditangkap oleh polisi. 

Rachmawati ditangkap oleh polisi karena dituduh ingin berbuat makar.

Rachmawati Soekarnoputri
Rachmawati Soekarnoputri ditangkap di rumahnya di Pejaten (photo: Liputan6)

"Iya betul ditangkap. Tadi didatengi (polisi) jam 05.00 WIB di rumahnya dan baru dibawa jam 06.00 WIB," ujar Aldwin saat dikonfirmasi, Jumat 2 Desember 2016.

Rachmawati dibawa polisi dari rumahnya di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Menurut Aldwin, Rachmawati dibawa oleh aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya.

Aldwin mengaku sedang menemani Rachmawati di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Selain, Rachmawati, menurut Aldwin, musisi Ahmad Dhani juga turut diamankan oleh polisi.

Ahmad Dhani diamankan polisi di Hotel Sari Pan Pacific pada Jumat pagi tadi.

Ahmad Dhani ditangkap polisi
Ahmad Dhani ditangkap polisi di Hotel Sari Pan Pacific tadi pagi (photo: Okezone)

Kabar ini semakin menguatkan berita bahwa Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar yang mengatakan Polda Metro Jaya menangkap delapan orang.

Kedelapan orang yang ditangkap tersebut hingga kini masih diperiksa,.

Namun, Boy enggan menyebutkan siapa saja delapan orang yang ditangkap itu. Begitu pula saat ditanya soal kronologi dan lokasi penangkapan, Boy tak mau menjawab.

Setelah ditangkap, delapan orang tersebut dibawa ke Markas Komando Brimob Polri di Kelapa Dua, Depok.

Sudah bukan rahasia bahwa selama ini Rachmawati berseteru dalam hal politik dengan saudara-saudarinya
(istimewa)

Thursday, December 1, 2016

Saking Cinta Indonesia, Mahasiswi Cantik Australia Ini Viral Karena Ciptakan dan Nyanyikan Lagu "Presiden Soekarno"

Saat ini, banyak generasi muda Indonesia yang bahkan tidak mengenal siapa itu Soekarno, founding father Republik Indonesia. Ironisnya lagi, Seventh News Service bahkan pernah menjumpai seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama yang mengira Soekarno-Hatta adalah 1 orang dan bukan 2 orang.

Nah, Sally Andrews, mahasiswi 22 tahun asal New South Wales, Australia, yang mendefinisikan dirinya sebagai 'hanya orang bule' rasanya menampar kita semua bahwa ternyata orang asing malahan lebih cinta dan lebih mengenal Indonesia daripada bangsa sendiri.

Sally Andrews
Sally Andrews dalam video musik berjudul "Presiden Soekarno" yang ia buat dan nyanyikan

Sally menciptakan sebuah lagu yang menjelaskan betapa besar hasratnya terhadap Indonesia di dalam lirik lagu 'Presiden Soekarno' yang ditulisnya dalam waktu hanya seminggu.

Lagu ciptaan gadis cantik ini seolah mengajak khususnya anak-anak muda Indonesia, maupun Australia, untuk tidak sekedar menjadi nasionalis, tetapi terus berjuang lewat pendidikan.
"Pendidikan adalah satu-satunya caranya untuk mencapai tujuan yang dibuat dirinya [Soekarno]. Membaca dan menulis tiap hari tiap malam. Menimba ilmu untuk mengerti lebih mendalam".
Soekarno muda digambarkan oleh Sally dalam lagunya sebagai sosok yang "cerdas di sekolah, pandai dengan debat... dengan hati yang hangat."
Sally mengaku setiap melihat foto-foto Soekarno membaca proklamasi, ia bertanya-tanya seberapa banyak keberanian yang diperlukan oleh Bapak Proklamator RI tersebut.

Lagu 'Presiden Soekarno' mengantarkan Sally meraih penghargaan dari ajang National Australia Indonesia Language Awards (NAILA) 2016. Kompetisi tahunan ini memberikan penghargaan bagi mereka yang sedang belajar dan ikut membantu pengembangan pengajaran bahasa Indonesia di Australia.

Kompetisi ini diikuti oleh para pelajar dari tingkat Sekolah Dasar sampai universitas yang masih belajar bahasa Indonesia, bahkan tingkat profesional.

Sally memenangkan penghargaan di kategori 'Wild Card' yang mengandalkan keahlian berbahasa Indonesia dalam bentuk penampilan, seperti tarian, bernyanyi, dan cabang seni lainnya.

Sally sudah belajar bahasa Indonesia selama sekitar empat tahun. Kemampuan bahasa Indonesia ini pun sudah memberikannya kesempatan mendapat beasiswa New Colombo Plan.
"[Saya] mengadakan perjalanan ke Flores, Maluku, Sulawesi, dan melalui Jawa... bertemu teman-teman banyak dari semua bagian kepulauan, dan bahkan mendapat pekerjaan sebagai penerjemah untuk sebuah firma hukum di Sydney," ujar Sally kepada Erwin Renaldi dari Australia Plus.

Lagu "Presiden Soekarno" yang dinyanyikan oleh Sally bisa disimak di bawah ini:



Kini, mahasiswa tingkat akhir dari jurusan hukum di University of Sydney juga sedang menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

(Kompas, Australia Plus)

Ini Tindakan Agus Saat Ditanya Soal Penggusuran

Pada masa kampanye Pilkada 2017 para pasangan Cagub dan Cawagub DKI Jakarta saling beradu program, saling serang  dan saling intrik walau seolah tidak kasat mata. Masing-masing pasangan calon berusaha keras untuk mendapatkan dukungan dan simpati masyarakat dengan menyambangi mereka dan mendengar keluhan mereka.

Namun, kali ini, salah satu pasangan calon rupanya sedikit “mati kutu” saat ditanya mengenai salah satu isu yang paling sensitif saat ini, yaitu penggusuran.

Agus Yudhoyono
Agus Harimurti Yudhoyono (photo: Liputan6)

Calon gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan satu, Agus Harimurti Yudhoyono, tidak merespons pertanyaan wartawan soal kebijakan penggusuran. Agus ditanyakan soal itu setelah dia berkomentar bahwa kondisi sungai di Jakarta harus dibiarkan alami.

"Di beberapa tempat yang memang rawan longsor, perlu dibeton, diperkuat, tapi tentu tidak semua harus dilakukan seperti itu karena kami ingin sekali membiarkan Sungai Ciliwung itu seasri mungkin, sealamiah mungkin, karena itulah yang paling indah sebetulnya," kata Agus saat berkampanye di RW 07 Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, pada Rabu siang 30 November 2016.

Para pencari berita yang mengikuti rombongan Agus dan meliput kampanyenya menanyakan, apakah dengan membiarkan kondisi Sungai Ciliwung seperti sekarang ini berarti turut membiarkan bangunan liar di bantaran tetap ada. Namun, Agus tidak mau menjawab pertanyaan itu dan memilih untuk menjawab pertanyaan lain.

Sampai beberapa kali dilontarkan pertanyaan seputar penggusuran, tetapi Agus tetap saja tidak menjawab dan malah menyudahi sesi tanya jawab dengan wartawan.

Saat Agus menyudahi sesi tanya jawab, beberapa anggota tim pemenangannya memberi kode kepada panitia acara di lokasi. Mereka lalu menyalakan pengeras suara sambil menyerukan yel.

Tentu saja hal ini membuat para wartawan yang ada di lokasi merasa kecewa karena pertanyaan yang mereka lontarkan tersebut tidak dijawab sama sekali.

Kampanye Agus hari ini dimulai dengan naik perahu karet menyusuri Sungai Ciliwung dari daerah Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menuju Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Agus menilai bahwa potensi alam di Jakarta masih tinggi. Dia juga berencana untuk melakukan normalisasi Sungai Ciliwung. Normalisasi dilakukan dalam rangka mempersiapkan sejumlah sungai di Jakarta dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi air.

Kok malahan programnya terasa seperti mencontek mentah-mentah program salah seorang calon gubernur yang kini sedang dijadikan tersangka  karena status penistaan ya?

(Kompas dan berbagai sumber lain)