Tuesday, August 16, 2016

Saya, Pertempuran Ayah Saya di Yogya dan Masalah PKI (Bagian 1)

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdiri sejak Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 semakin lama semakin hancur tercabik-cabik. Ironisnya, bangsa dan negara kita bukan dicabik-cabik oleh bangsa dan negara lain, justru oleh bangsa sendiri yang merasa paling benar dan paling berjasa bagi negeri ini. Pertanyaannya, apakah "golongan" ini memang berjasa bagi negeri ini sehingga mereka berhak dan boleh sesukanya serta "menajiskan" golongan lain di luar golongannya?

Saya yang merupakan anak seorang tentara pejuang menjadi "terganggu" dengan isu-isu dan kejadian-kejadian belakangan ini yang sudah jelas-jelas subversif dan menyuburkan disintegrasi yang dilakukan oleh sebagian kalangan. Ada baiknya saya ceritakan apa yang pernah ayah saya ceritakan walau kini sudah agak samar-samar saya ingat.

Panglima Besar Jenderal Soedirman Pulang Gerilya
Panglima Besar Jenderal Soedirman disambut di Yogya setelah bergerilya

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang dilakukan oleh para generasi tua bukanlah dilakukan oleh sebuah golongan tertentu saja, melainkan oleh semua golongan tanpa memandang SARA.

Keluarga alm. ayah saya (ayah saya, pakde saya, dan eyang kakung) merupakan salah satu anggota laskar rakyat yang ikut berjuang demi tetap berdirinya Republik Indonesia ini. Mereka mulai full mengangkat senjata sejak pecahnya Peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.

PKI yang dipimpin Musso kala itu memang brutal. Mereka akan "menghajar" siapa saja yang tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan: "Pilih Musso atau Soekarno". Keluarga ayah saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana gerombolan "kelblinger" ini menyisir Madiun dan membuat banyak korban berjatuhan di kalangan warga Republik ini. Ditambah lagi, Belanda pada saat bersamaan juga gencar memperluas kekuasaannya. Ayah dan Pakde saya yang saat itu masih berusia 17 dan 20 tahun terpaksa ikut mengangkat senjata mengikuti eyang kakung. Namun grup bertempur mereka berbeda.

Ayah saya menjadi salah satu dari pendukung pasukan TNI Siliwangi yang dipimpin Gatot Soebroto dalam misi mengintai untuk memburu Musso. Musso yang ternyata merupakan sahabat Bung Karno bersama Kartosuwiryo (gembong pemberontakan DI/TII) kala menjadi murid Ketua Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto (yang juga merupakan kakek dari penyanyi Maia Estianty/mantan istri Ahmad Dhani) di Surabaya ini memang licin dan licik. Dia berhasil merebut senjata salah satu anggota pasukan dan kabur sebelum akhirnya terkepung di sebuah WC Umum.

Walau sudah terkepung pun Musso yang berperawakan besar dan sangar ini masih juga belum mau menyerah hingga akhirnya roboh. Saat dibawa oleh tentara dengan menggunakan tangga bambu, sebenarnya Musso masih hidup. Tangga bambu yang digunakan untuk membawa tubuh Musso itu pun sampai patah.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan karena saat itu di kalangan banyak anggota PKI (masyarakat saat itu masih sangat lekat dengan klenik) yang menganggap Musso sakti (pada faktanya di daerah Kediri dan Madiun, Musso memang dikenal jago berkelahi). Ditambah lagi anggapan para pentolan-pentolan PKI mempunyai ilmu kebal maka tentara memutuskan Musso yang sekarat dan tak lama kemudian menghembuskan nafas terakhir dibakar saja jenazahnya setelah diperlihatkan kepada masyarakat di (kalau tidak salah ingat) di Alun-alun Ponorogo. Abunya dibiarkan ditinggalkan dan berserakan begitu saja.

Kemudian Bapak saya bergabung dengan Tentara Pelajar di Jogja. Anggota-anggota tentara pelajar ini masih muda-muda, masih belasan tahun (Bapak saya mengatakan rata-rata usia mereka 16 tahun keatas). Bandingkan dengan remaja seusia itu pada zaman sekarang yang manja-manja, labil dan alay.

Bapak saya mengalami banyak pertempuran tanpa pernah terluka oleh peluru. Paling banter luka lecet karena harus bergulingan menghindari desingan peluru. Area pertempuran yang "dijelajahi" oleh ayah saya dan teman-temannya adalah sepanjang area Jogja-Solo. Rekan-rekan seperjuangannya pun dari berbagai etnis, bahkan ada yang merupakan keturunan Tionghoa.

Kala itu, yang paling ditakuti oleh para pejuang adalah pasukan payung (baret merah) Belanda. Skill dan persenjataan mereka bukan tandingan para pejuang kita. Sejujurnya, para pejuang kerap kocar-kacir menghadapi pasukan payung Belanda. Hanya semangat dan keberanianlah yang membuat para pejuang berani bertempur walau akhirnya harus mundur juga.

Salah satu bukti bahwa kemerdekaan bangsa ini direbut dan diperjuangkan untuk dipertahankan oleh berbagai kalangan adalah sebuah cerita yang diceritakan Bapak saya berikut: kala bertempur di sepanjang Jalan Solo (kala itu masih belum banyak pemukiman penduduk) pasukan pejuang terdesak oleh infanteri Belanda yang dibantu oleh pasukan tank dari Maguwo. Saya lupa ini pertempuran tanggal, bulan dan tahun berapa.

Saat terdesak, Bapak saya dan kawan-kawannya sialnya berada di tempat terbuka di persawahan di daerah Prambanan (kata Bapak saya daerah ini sekarang ini berada di sekitaran juru supit "BOGEM"). Bapak saya yang berlindung di balik gelontoran peluru pasukan Belanda di balik pohon jambu melihat kawan seperjuangannya yang beretnis Tionghoa (saya lupa namanya) gugur kira-kira 10 meter di depannya saat ingin menyelamatkan kawan yang tertembak. Kata Bapak saya, kawan Tionghoa ini usianya paling tua saat itu, 20 tahun.

Tidak banyak yang tahu bahwa pada masa perjuangan juga ternyata ada rakyat yang teganya mengkhianati Republik dengan menjadi mata-mata Belanda. Karena saat itu Belanda gemar "meracuni" pikiran rakyat dengan bantuan makanan dan lain-lain agar bersimpati. Bagi mata-mata Belanda yang tertangkap ini, para pejuang yang menginterogasinya menghujaninya dengan pukulan dan tendangan sampai sekarat dan tewas sendiri. Yah, yang namanya kekerasan memang sudah ada sejak zaman dahulu apalagi kalau emosi sudah diubun-ubun.

Oleh karena itu saya heran dengan masyarakat khususnya generasi muda sekarang yang manja cuma gara-gara menghadapi masalah atau kesusahan sedikit saja. Coba bayangkan rakyat Jogja kala itu. Bapak saya malahan pernah menceritakan pada awal-awal dia bertempur di Jogja ada sebuah kejadian gila yang membuat rakyat semakin berani berjuang. Apa itu?

Pada suatu pagi (lupa tahun berapa) saat rakyat beraktifitas seperti biasa di Jalan Malioboro, mendadak pesawat tempur Kitty Hawk dan Mustang Belanda menembaki ke arah jalanan. Rakyat kocar-kacir termasuk Bapak saya dan kawan-kawannya yang berpakaian preman lantas mundur ke arah Tugu sembari menembakkan tembakan balasan menggunakan pistol. Tidak mungkin mundur ke arah Kantor Pos Besar karena daerah tersebut ada pos Belanda. Lagipula saat itu tidak mungkin membawa stengun rampasan karena ukurannya besar dan menyolok.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949 sebenarnya seperti apa sih? Bapak saya menceritakan banyak hal dramatis terkait serangan umum yang membuat Belanda terpukul dan dunia tahu bahwa NKRI masih ada. Serangan ini juga mengobati rasa penasaran Bapak saya akan sebuah pos Belanda yang sebelumnya tak bisa dikalahkan.

Begini ceritanya;
Selama bertempur di daerah Jogja, Bapak saya dan puluhan orang rakyat ikut dalam pasukan yang dipimpin Letnan Marsudi (apakah ini ayahanda Menteri Retno LP Marsudi? entahlah). Mereka selalu menyerang pos-pos Belanda dan konvoi-konvoi pasukan Belanda. Namun pos Belanda yang di Plengkung Gading selalu sulit dikalahkan karena kuat dan Belanda mempunyai banyak penembak jitu yang tersebunyi di area strategis tersebut.

Nah, menjelang serangan umum semua pasukan diberi kabar agar masuk Jogja secara samar-samar. Siang hari dengan menyamar sebagai rakyat biasa atau berombongan melalui kampung-kampung dan jalan tikus pada malam hari tanpa menggunakan penerangan karena pasukan Belanda pun juga berpatroli hingga kampung-kampung. Coba bayangkan saja situasi ini, apakah nyali Anda menciut?

Para pejuang ini sebagian berlindung di balik tembok Keraton Yogyakarta dan banyak yang menumpang di rumah-rumah penduduk.

Terkait Serangan Umum 1 Maret 1949 ini sebenarnya perlu diluruskan sejarahnya. Pencetus Serangan Umum 1 Maret 1949 sesungguhnya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Panglima Besar Jenderal Soedirman. Jenderal Soedirman sering berkorespondensi dengan Sultan serta para komandan pasukan lain melalui kurir yang memakan waktu lama. Maklum saja beliau bergerilya hingga luar kota.

Setelah disepakati, maka Sultan mengundang para komandan pasukan untuk bertemu di dalam Keraton malam-malam tanpa menggunakan penerangan perihal rencana tersebut. Pada pertemuan selanjutnya Sultan berbicara empat mata dengan Letkol Soeharto beberapa kali di dalam Keraton untuk mematangkan rencana. Bapak saya yang ikut bersembunyi di Siti Hinggil bersama para pejuang lain pun tahu bahwa pertemuan ini dilakukan di dalam gelap gulita dan para komandan menemui Sultan dengan mengenakan busana kebesaran pria Jawa sebagai wujud tanda hormat.

Bisa dimaklumi bahwa Letkol Soeharto ditunjuk sebagai koordinator pelaksana atau pemimpin serangan umum ini karena beliau memang merupakan asli Yogya dan sangat mengenal wilayah dengan baik. sehingga seperti kita ketahui dalam sejarah, Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dilakukan secara besar-besaran dan serentak ini membuahkan hasil yang manis.

Ada satu cerita menarik pada H-1 menjelang serangan umum 1 Maret dilakukan. Sehari sebelum serangan, mendadak pada pagi buta sepasukan pejuang yang dipimpin oleh Letnan Komaruddin menyerang pos Belanda. Kejadian ini bisa saja menggagalkan rencana serangan umum esoknya karena (takutnya) Belanda keburu waspada dan bersiap.

Letnan Komaruddin yang berasal dari Maluku dan ertubuh pendek gempal ini akhirnya mengakui kekhilafannya. Setelah kesuksesan serangan umum dan kembalinya Jogja ke pangkuan Republik, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang baru pulang gerilya sempat menasihati Letnan Komaruddin agar lebih bisa menahan emosi. Hal ini bisa dimaklumi karena Letnan Komarudddin masih sangat muda dan sangat bersemangat membela negaranya. Hal ini membuat Letnan Komaruddin menjadi populer di kalangan pejuang saat itu. Namun mirisnya, hingga kini Letnan Komaruddin belum juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah.

Adapun Bapak saya dan anggota pasukan lainnya akhirnya bisa juga merebut pos Belanda di Plengkung Gading melalui sebuah pertempuran yang sengit dan gila pada pagi buta. Pasukan Belanda yang saat itu dibilang masih mengantuk ternyata melakukan perlawanan hebat sampai akhirnya mereka menyerah dan sebagian lagi tewas, Sebuah kemenangan yang membuat salah satu rekan dekat seperjuangan Bapak saya (saya lupa namanya) gugur dengan peluru menembus kepala.

Setelah serangan umum ini para pejuang kembali mundur karena pasukan Belanda melancarkan serangan balasan setelah mendapat bantuan pasukan dari luar kota.

Serangan Umum 1 Maret 1949 ini tentu saja memicu murka Belanda. Bapak saya menceritakan bahwa gara-gara serangan ini, ia mengetahui berita bahwa berita yang beredar di kalangan pejuang adalah serangan ini membuat Jenderal Spoor marah besar. Akibatnya, Belanda melakukan "pembersihan" atau sweeping hingga ke kampung-kampung. Laki-laki yang berbadan tegap dan berusia muda kalau tidak ditangkapi ya dipukuli karena dicurigai sebagai pejuang.

Bahkan, Belanda melakukan pembubuhan brutal di Godean, kampung halaman Letkol Soeharto. Karena tidak menemukan Soeharto disitu dan warga setempat tidak ada yang mengaku kenal Soeharto (padahal sebenarnya kenal) serta tidak ada yang mau menyebutkan keberadaan Soeharto, maka Belanda melampiaskan kemarahannya. Bapak saya mengatakan, kalau tidak salah, dalam peristiwa ini anggota keluarga Letkol Soeharto ada yang tewas dibunuh Belanda.

Oleh karena itu saya heran dan sangat prihatin serta marah karena sekarang ini Negara Kesatuan Republik Indonesia mengalami disintegrasi yang ironisnya malahan diakibatkan oleh adu domba sesama bangsa sendiri yang merasa SARA-nya adalah yang paling benar dan paling berjasa bagi negeri ini?

Yakin para pengadu domba dengan isu SARA ini mempunyai jasa terhadap negeri ini? Apabila saya ditanyakan hal seperti ini maka saya akan lantang menjawab bahwa keluarga saya adalah keluarga pejuang yang ikut bertempur mati-matian mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara kita ini. Bahkan alm. Bapak saya, sekali lagi, saya ingatkan ceritanya bahwa yang ikut bertempur angkat senjata bersama dirinya dan para pejuang lain adalah bukan hanya berasal dari suku, agama, ras dan golongan tertentu saja.

Benarlah apa yang pernah dikatakan Bung Karno dulu bahwa perjuangan dan musuhnya lebih mudah dikalahkan karena musuhnya adalah bangsa asing, namun perjuangan kita saat ini lebih sulit karena yang kita hadapi sebagai musuh adalah (ironisnya) bangsa sendiri.

Setiap kali teringat perjuangan generasi pendahulu kita hati saya merasa "sesak". Begitulah yang saya rasakan ketika saat SMA guru seni musik saya, Ibu Tetty namanya, mengadakan ujian seni musik dimana setiap murid diwajibkan menyanyikan lagi pilihannya di depan kelas. Apabila siswa lain tidak mendapat applaus dan atensi dari teman-teman, maka saya mendapat atensi khusus karena saya menyanyikan lagu "Mengheningkan Cipta" dengan penuh penghayatan. Beginilah saya nyanyi (huruf besar mencerminkan nada tinggi)

dengan seeluruh angkasa raya memuja pahlaawaan negaraa
nan guugur remajaa dii ribaaan bendera bela nusa bangsaa
kau kuuu kenang waahai bunga putra bangsaaaa
HARGAAAAAA JASAAAAAA
KAU CAHYA PELITA
bagi indonesia meeerr.......deeeee......kaaaa.......

Dan sejujurnya, saat menyanyikan lagu itu saya teringat Bapak saya yang demi negeri ini, rela putus sekolah untuk berjuang angkat senjata (setelah perang beliau tidak punya waktu lagi untuk bersekolah). Dan memutuskan untuk tidak ikut ketentaraan karena sebuah hal pribadi.

Pada tulisan selanjutnya, berikutnya saya akan menceritakan peristiwa seputar G30S/PKI dimana Bapak dan Ibu saya menjadi saksi suasana kacau pada masa itu. Tunggu tulisan saya berikutnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71. Sekali merdeka tetap merdeka. MERDEKA!!

No comments:

Post a Comment