Monday, September 21, 2020

Kisah Keluarga Mafia Narkoba Pablo Escobar Banting Setir dari Bisnis Narkoba ke Smartphon

Pablo Escobar dikenal luas sebagai gembong narkoba terkaya di dunia. Selama hidupnya, Escobar berhasil mengumpulkan harta kekayaan mencapai USD 25 miliar. Namun pada tahun 1993, resimen khusus polisi Kolombia menembak mati dirinya. Perlu diketahui, Pablo Escobar juga sebagai pimpinan Kartel Medellin.


Pablo Escobar


Kartel ini merupakan sebuah organisasi pemasok dan penyelundup narkoba yang berada di Medellin Kolombia, dan mengirim narkoba ke Bolivia, Kolombia, Honduras, Peru, Amerika Serikat, Kanada hingga Eropa.


Setelah Pablo Escobar tiada, pihak keluarga kini membangun sebuah perusahaan baru dan meninggalkan bisnis haram tersebut. Perusahaan tersebut bergerak di bidang teknologi, yakni membuat smartphone canggih. Berikut usaha baru keluarga Pablo Escobar dengan jualan smartphone canggih.


Perusahaan smartphone Pablo Escobar dipimpin oleh sang adik, Robert Escobar. Dia merilis smartphone layar lipat, Pablo Escobar Fold 1 melalui perusahaan investasi miliknya, Escobar Inc.


Sebelumnya, Roberto merupakan mantan akuntan sekaligus co-founder Kartel Medellin. Ia meninggalkan bisnis haram keluarga dalam bidang narkotika dan memulai bisnis teknologi.


Perusahaan Escobar Inc didirikan pada 1984. Perusahaan ini mengelola aset milik keluarga Pablo Escobar dengan tujuan mencapai Tingkat Pengembalian Internal yang tinggi.


Perusahaan Escobar Inc mengelola dan memiliki semua kekayaan intelektual yang berkaitan dengan Pablo Escobar, seperti hak cipta, merek dagang, dan semua hak.


Smartphone Pablo Escobar Fold 1 Bisa dilipat

Perangkat ini dibuat oleh Escobar Inc. Desainnya dikerjakan di Amerika Serikat dan dibuat di Hong Kong. Pablo Escobar Fold 1 memiliki desain dan teknologi unik. Produksi Pablo Escobar Fold 1 juga terbatas, hanya 100 unit.


"Saya telah membuat salah satu smartphone layar lipat pertama di dunia. Hal ini berkat produksi yang efektif, tak ada kesepakatan tertentu dengan peritel," kata Robert.


Harga smartphone layar lipat ini terbilang murah. Roberto mengatakan, perusahaannya bisa tetap membuat smartphone yang lebih murah ketimbang pabrikan lainnya.


"Escobar Fold 1 merupakan smartphone terbaik di dunia saat ini," tuturnya.


Kecanggihan Pablo Escobar Fold 1

Mirip dengan smartphone pada umumnya, Pablo Escobar Fold 1 memiliki sistem operasi Android 9 dan CPU Snapdragon seri 8. Ketika layarnya dibuka, perangkat ini bisa menjadi sebuah tablet.


Kemudian, Pablo Escobar Fold 1 memiliki dua kamera dengan resolusi 16MP dan 20MP. Escobar Fold 1 juga hadir dengan dua layar jenis AMOLED dengan total berukuran 7,8 inci.


Smartphone Escobar Fold


Smartphone layar lipat ini juga dibekali dengan pemindai sidik jari, loudspeaker, editor dokumen, suara HD, dan noise cancellation untuk membuat suara tetap jernih.


Spesifikasi Pablo Escobar Fold 1

Pablo Escobar Fold 1 memiliki spesifikasi yang mumpuni. Smartphone canggih ini memiliki memori RAM 6GB/8GB dan ROM 128GB/512GB. Bahkan memori eksternal mencapai 256GB.


Smartphone ini juga dilengkapi dengan baterai 4,000 mAh Lithium-Polymer, 5V/5A

Wednesday, July 15, 2020

Hot News: Janda Cantik Ini Jual Rumah dan Siap Dinikahi oleh Pembelinya

Unggahan seorang wanita muda yang ingin menjual rumah mendadak viral di media sosial.

Unggahan tersebut menjadi ramai dikomentari lantaran wanita tersebut bersedia menikah dengan orang yang membeli rumahnya.

Wanita tersebut adalah Metha Kanzul.

Metha Kanzul.

Metha pernah menikah sebelumnya. Kini dia berstatus janda dan tinggal dengan satu anak laki-laki. Metha berasal dari daerah Mesu, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung.

"Iya mau jual rumah," kata Metha pada Selasa (14/7/2020). Metha menuturkan, jika pembeli rumah ada jodoh dengan dirinya, maka dia pun siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Betha Kanzul.

"Jika baik agama dan akhlaknya, bisa bimbing Metha dan anak Metha untuk lebih baik lagi," ujar wanita berjilbab yang berusia 30 tahun itu.

Adapun rumah yang ditawarkan Metha berlokasi di Air Mesu Timur. Rumah itu berukuran lebar 12 meter dan panjang 24 meter. Harga rumah yang ditawarkan Rp 185 juta.

"Nanti kalau terjual, mau tinggal di rumah orangtua di kebun. Di sana ada rumah, selama ini Emak tinggal di sana, terpisah-pisah," ujar Metha.

Hanya beberapa jam setelah diunggah, unggahan Metha langsung direspons oleh puluhan warganet. Unggahan tersebut juga beredar di berbagai grup percakapan WhatsApp.

Para warganet memberikan dukungan agar Metha bisa menjual rumahnya dan segera mendapatkan jodoh. "Semoga bertemu jodoh pembeli yang amanah," tulis salah satu akun Facebook.

Sumber: Kompas

Ini Daftar Sebaran Kasus Covid-19 di 267 Kelurahan Jakarta

Jumlah pasien positif Covid-19 di DKI Jakarta bertambah 279 orang hingga Senin (13/7/2020).



Dengan demikian, jumlah akumulatif kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta adalah 14.640 orang. Dari total keseluruhan jumlah pasien positif Covid-19, sebanyak 9.408 orang dinyatakan telah sembuh dan 710 orang meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 597 pasien positif Covid-19 masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 3.925 orang melakukan isolasi mandiri di rumah.

Berdasarkan informasi di situs web corona.jakarta.go.id hingga Senin pukul 09.00 WIB, tempat tinggal pasien positif Covid-19 tersebar di 267 kelurahan di Jakarta.

Kasus terbanyak terdapat di Pademangan Barat, Jakarta Utara, dengan 196 pasien. Kemudian, disusul Kelurahan Sunter Agung, Jakarta Utara, dengan 179 pasien; dan Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan 175 kasus.

Sementara itu, tercatat 0 kasus Covid-19 di dua kelurahan, yakni Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara; dan Roa Malaka, Jakarta Barat.

Berikut daftar penyebaran Covid-19 di 267 kelurahan di wilayah DKI Jakarta:
1. Ancol, Jakarta Utara : 37 kasus
2. Angke, Jakarta Barat : 36 kasus
3. Bale Kambang, Jakarta Timur : 21 kasus
4. Bali Mester, Jakarta Timur : 6 kasus
5. Bambu Apus, Jakarta Timur : 18 kasus
6. Bangka, Jakarta Selatan : 24 kasus
7. Baru, Jakarta Timur : 13 kasus
8. Batu Ampar, Jakarta Timur : 32 kasus
9. Bendungan Hilir, Jakarta Pusat : 26 kasus
10. Bidara Cina, Jakarta Timur : 58 kasus
11. Bintaro, Jakarta Selatan : 64 kasus
12. Bukit Duri, Jakarta Selatan : 33 kasus
13. Bungur, Jakarta Pusat : 19 kasus
14. Cakung Barat, Jakarta Timur : 18 kasus
15. Cakung Timur, Jakarta Timur : 18 kasus
16. Cawang, Jakarta Timur : 32 kasus
17. Ceger, Jakarta Timur : 6 kasus
18. Cempaka Baru, Jakarta Pusat : 67 kasus
19. Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat : 120 kasus
20. Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat : 87 kasus
21. Cengkareng Barat, Jakarta Barat : 42 kasus
22. Cengkareng Timur, Jakarta Barat : 66 kasus
23. Cibubur, Jakarta Timur : 34 kasus
24. Cideng, Jakarta Pusat : 24 kasus
25. Ciganjur, Jakarta Timur : 21 kasus
26. Cijantung, Jakarta Timur : 26 kasus
27. Cikini, Jakarta Pusat : 11 kasus
28. Cikoko, Jakarta Selatan : 11 kasus
29. Cilandak Barat, Jakarta Selatan : 45 kasus
30. Cilandak Timur, Jakarta Selatan : 15 kasus
31. Cilangkap, Jakarta Timur : 17 kasus
32. Cililitan, Jakarta Timur : 23 kasus
33. Cilincing, Jakarta Utara : 46 kasus
34. Cipayung, Jakarta Timur : 29 kasus
35. Cipedak, Jakarta Selatan : 22 kasus
36. Cipete Selatan, Jakarta Selatan : 10 kasus
37. Cipete Utara, Jakarta Selatan : 20 kasus
38. Cipinang, Jakarta Timur : 31 kasus
39. Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur : 21 kasus
40. Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur : 43 kasus
41. Cipinang Cempedak, Jakarta Timur : 12 kasus
42. Cipinang Melayu, Jakarta Timur : 30 kasus
43. Cipinang Muara, Jakarta Timur : 45 kasus
44. Cipulir, Jakarta Selatan : 46 kasus
45. Ciracas, Jakarta Timur : 43 kasus
46. Dukuh, Jakarta Timur : 18 kasus
47. Durem Sawit, Jakarta Timur : 64 kasus
48. Duren Tiga, Jakarta Selatan : 13 kasus
49. Duri Kepa, Jakarta Barat : 93 kasus
50. Duri Kosambi, Jakarta Barat : 29 kasus
51. Duri Pulo, Jakarta Pusat : 19 kasus
52. Duri Selatan, Jakarta Barat : 15 kasus
53. Duri Utara, Jakarta Barat : 19 kasus
54. Galur, Jakarta Pusat : 27 kasus
55. Gambir , Jakarta Pusat : 10 kasus
56. Gandaria Selatan, Jakarta Selatan : 8 kasus 57.
Gandaria Utara, Jakarta Selatan : 18 kasus
58. Gedong, Jakarta Timur : 41 kasus
59. Gelora, Jakarta Pusat : 12 kasus
60. Glodok, Jakarta Barat : 3 kasus
61. Gondangdia, Jakarta Pusat : 16 kasus
62. Grogol, Jakarta Barat : 40 kasus
63. Grogol Selatan, Jakarta Selatan : 42 kasus
64. Grogol Utara, Jakarta Selatan : 71 kasus
65. Guntur, Jakarta Selatan : 4 kasus
66. Gunung, Jakarta Selatan : 11 kasus
67. Gunung Sahari Selatan, Jakarta Pusat : 13 kasus
68. Gunung Sahari Utara, Jakarta Pusat : 24 kasus
69. Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur : 32 kasus
70. Harapan Mulia, Jakarta Pusat : 51 kasus
71. Jagakarsa, Jakarta Selatan : 38 kasus
72. Jati. Jakarta Timur : 38 kasus
73. Jati Padang, Jakarta Selatan : 25 kasus
74. Jati Pulo, Jakarta Barat : 77 kasus
75. Jatinegara, Jakarta Timur : 42 kasus
76. Jatinegara Kaum, Jakarta Timur : 4 kasus
77. Jelambar, Jakarta Barat : 39 kasus
78. Jelambar Baru : 26 kasus
79. Jembatan Besi, Jakarta Barat : 90 kasus
80. Jembatan Lima, Jakarta Barat : 8 kasus
81. Joglo, Jakarta Barat : 34 kasus
82. Johar Baru, Jakarta Pusat : 104 kasus
83. Kali Anyar, Jakarta Barat : 25 kasus
84. Kali Baru, Jakarta Utara : 33 kasus
85. Kalibata, Jakarta Selatan : 39 kasus
86. Kalideres, Jakarta Barat : 60 kasus
87. Kalisari, Jakarta Timur : 33 kasus
88. Kamal, Jakarta Barat : 7 kasus
89. Kamal Muara. Jakarta Utara : 16 kasus
90. Kampung Bali, Jakarta Pusat : 18 kasus
91. Kampung Melayu, Jakarta Timur : 40 kasus
92. Kampung Rawa, Jakarta Pusat : 75 kasus
93. Kampung Tengah, Jakarta Timur : 88 kasus
94. Kapuk, Jakarta Barat : 38 kasus
95. Kapuk Muara, Jakarta Utara : 20 kasus
96. Karang Anyar, Jakarta Pusat : 46 kasus
97. Karet, Jakarta Selatan : 20 kasus
98. Karet Kuningan, Jakarta Selatan : 17 kasus
99. Karet Semanggi, Jakarta Selatan : 7 kasus
100. Karet Tengsin, Jakarta Pusat : 13 kasus
101. Kartini, Jakarta Pusat : 47 kasus
102. Kayu Manis. Jakarta Timur : 36 kasus
103. Kayu Putih, Jakarta Timur : 62 kasus
104. Keagungan, Jakarta Barat : 5 kasus
105. Kebagusan, Jakarta Selatan : 27 kasus
106. Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan : 32 kasus
107. Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan : 30 kasus
108. Kebon Baru, Jakarta Selatan : 35 kasus
109. Kebon Bawang, Jakarta Utara : 59 kasus
110. Kebon Jeruk, Jakarta Barat : 83 kasus
111. Kebon Kacang, Jakarta Pusat : 103 kasus
112. Kebon Kelapa, Jakarta Pusat : 9 kasus
113. Kebon Kosong, Jakarta Pusat : 54 kasus
114. Kebon Manggis, Jakarta Timur : 23 kasus
115. Kebon Melati, Jakarta Pusat : 78 kasus
116. Kebon Pala, Jakarta Timur : 27 kasus
117. Kebon Sirih, Jakarta Pusat : 34 kasus
118. Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat : 20 kasus
119. Kedoya Selatan, Jakarta Barat : 27 kasus
120. Kedoya Utara, Jakarta Barat : 27 kasus
121. Kelapa Dua, Jakarta Barat : 35 kasus
122. Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur: 28 kasus
123. Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara : 61 kasus
124. Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara : 50 kasus
125. Kemanggisan, Jakarta Barat : 42 kasus
126. Kemayoran, Jakarta Pusat : 47 kasus
127. Kembangan Selatan, Jakarta Barat : 32 kasus
128. Kembangan Utara, Jakarta Barat : 36 kasus
129. Kenari, Jakarta Pusat : 126 kasus
130. Kerendang, Jakarta Barat : 40 kasus
131. Klender, Jakarta Timur : 59 kasus
132. Koja, Jakarta Utara : 19 kasus
133. Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat : 78 kasus
134. Kota Bambu Utara, Jakarta Barat : 76 kasus
135. Kramat, Jakarta Pusat : 77 kasus
136. Kramat Jati, Jakarta Pusat : 22 kasus
137. Kramat Pela, Jakarta Selatan : 10 kasus
138. Krukut, Jakarta Barat : 26 kasus
139. Kuningan Barat, Jakarta Selatan : 9 kasus
140. Kuningan Timur, Jakarta Selatan : 8 kasus
141. Kwitang, Jakarta Pusat : 26 kasus
142. Lagoa, Jakarta Utara : 81 kasus
143. Lebak Bulus, Jakarta Selatan : 35 kasus
144. Lenteng Agung, Jakarta Selatan : 29 kasus
145. Lubang Buaya, Jakarta Timur : 24 kasus
146. Makasar, Jakarta Timur : 10 kasus
147. Malaka Jaya, Jakarta Timur : 28 kasus
148. Malaka Sari, Jakarta Timur : 34 kasus
149. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan : 15 kasus
150. Mangga Besar, Jakarta Barat : 4 kasus
151. Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat : 27 kasus
152. Manggarai, Jakarta Selatan : 17 kasus
153. Manggarai Selatan, Jakarta Selatan : 22 kasus
154. Maphar, Jakarta Barat : 76 kasus
155. Marunda, Jakarta Utara: 13 kasus
156. Melawai, Jakarta Selatan : 5 kasus
157. Menteng, Jakarta Pusat : 39 kasus
158. Menteng Atas, Jakarta Selatan : 31 kasus
159. Menteng Dalam, Jakarta Selatan : 37 kasus
160. Meruya Selatan, Jakarta Barat : 26 kasus
161. Meruya Utara, Jakarta Barat : 29 kasus
162. Munjul, Jakarta Timur : 16 kasus
163. Pademangan Barat, Jakarta Utara : 196 kasus
164. Pademangan Timur, Jakarta Utara : 37 kasus
165. Pal Meriam, Jakarta Timur : 49 kasus
166. Palmerah, Jakarta Barat : 110 kasus
167. Pancoran, Jakarta Selatan : 21 kasus
168. Papanggo, Jakarta Utara : 16 kasus
169. Pasar Baru, Jakarta Pusat : 19 kasus
170. Pasar Manggis, Jakarta Selatan : 32 kasus
171. Pasar Minggu, Jakarta Selatan : 23 kasus
172. Paseban, Jakarta Pusat : 88 kasus
173. Pegadungan, Jakarta Barat : 58 kasus
174. Pegangsaan, Jakarta Pusat : 115 kasus
175. Pegangsaan Dua, Jakarta Pusat : 46 kasus
176. Pejagalan, Jakarta Utara : 35 kasus
177. Pejaten Barat, Jakarta Selatan : 30 kasus
178. Pejaten Timur, Jakarta Selatan : 47 kasus
179. Pekayon, Jakarta Timur : 17 kasus
180. Pekojan, Jakarta Barat : 25 kasus
181. Pela Mampang, Jakarta Selatan : 22 kasus
182. Pengadegan, Jakarta Selatan : 15 kasus
183. Penggilingan, Jakarta Timur : 63 kasus
184. Penjaringan, Jakarta Utara : 175 kasus
185. Pesanggrahan, Jakarta Selatan : 16 kasus
186. Petamburan, Jakarta Pusat : 142 kasus
187. Petogogan, Jakarta Selatan : 6 kasus
188. Petojo Selatan, Jakarta Pusat : 27 kasus
189. Petojo Utara, Jakarta Pusat : 33 kasus
190. Petukangan Selatan, Jakarta Selatan : 9 kasus
191. Petukangan Utara, Jakarta Selatan : 34 kasus
192. Pinang Ranti, Jakarta Timur : 18 kasus
193. Pinangsia, Jakarta Barat : 4 kasus
194. Pisangan Barat, Jakarta Timur : 31 kasus
195. Pisangan Timur, Jakarta Timur : 31 kasus
196. Pluit, Jakarta Utara : 54 kasus
197. Pondok Bambu, Jakarta Timur : 85 kasus
198. Pondok Kelapa, Jakarta Timur : 71 kasus 1
99. Pondok Kopi, Jakarta Timur : 30 kasus
200. Pondok Labu, Jakarta Selatan : 39 kasus
201. Pondok Pinang, Jakarta Selatan : 55 kasus
202. Pondok Ranggon, Jakarta Timur : 12 kasus
203. Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara : 0 kasus
204. Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara : 1 kasus
205. Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara : 3 kasus
206. Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan : 2 kasus
207. Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan : 24 kasus
208. Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan : 2 kasus
209. Pulo, Jakarta Selatan : 6 kasus
210. Pulo Gadung, Jakarta Timur : 23 kasus
211. Pulo Gebang, Jakarta Timur : 51 kasus
212. Ragunan, Jakarta Selatan : 12 kasus
213. Rambutan, Jakarta Timur : 22 kasus
214. Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara : 45 kasus
215. Rawa Badak Utara, Jakarta Utara : 29 kasus
216. Rawa Barat, Jakarta Selatan : 7 kasus
217. Rawa Buaya, Jakarta Barat : 28 kasus
218. Rawa Bunga, Jakarta Timur : 11 kasus
219. Rawa Jati, Jakarta Selatan : 8 kasus
220. Rawa Terate, Jakarta Timur : 7 kasus
221. Rawamangun, Jakarta Timur : 28 kasus
222. Rawasari, Jakarta Pusat : 43 kasus
223. Roa Malaka, Jakarta Barat : 0 kasus
224. Rorotan, Jakarta Utara : 18 kasus
225. Selong, Jakarta Selatan : 6 kasus
226. Semanan, Jakarta Barat : 22 kasus
227. Semper Barat, Jakarta Utara : 82 kasus
228. Semper Timur, Jakarta Utara : 28 kasus
229. Senayan, Jakarta Selatan : 16 kasus
230. Senen, Jakarta Pusat : 37 kasus
231. Serdang, Jakarta Pusat : 37 kasus
232. Setia Budi, Jakarta Selatan : 4 kasus
233. Setu, Jakarta Timur : 8 kasus
234. Slipi, Jakarta Barat : 27 kasus
235. Srengseng, Jakarta Barat: 46 kasus
236. Srengseng Sawah, Jakarta Selatan : 34 kasus
237. Sukabumi Selatan, Jakarta Barat : 38 kasus
238. Sukabumi Utara, Jakarta Barat : 40 kasus
239. Sukapura, Jakarta Utara : 67 kasus
240. Sumur Batu, Jakarta Pusat : 23 kasus
241. Sungai Bambu, Jakarta Utara : 20 kasus
242. Sunter Agung, Jakarta Utara : 179 kasus
243. Sunter Jaya, Jakarta Utara : 137 kasus
244. Susukan, Jakarta Timur : 25 kasus
245. Taman Sari, Jakarta Barat : 11 kasus
246. Tambora, Jakarta Barat : 7 kasus
247. Tanah Sereal, Jakarta Barat : 40 kasus
248. Tanah Tinggi, Jakarta Pusat : 85 kasus
249. Tangki, Jakarta Barat : 12 kasus
250. Tanjung Barat, Jakarta Selatan : 33 kasus
251. Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat : 48 kasus
252. Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat : 21 kasus
253. Tanjung Priok, Jakarta Utara : 60 kasus
254. Tebet Barat, Jakarta Selatan : 38 kasus
255. Tebet Timur, Jakarta Selatan : 22 kasus
256. Tegal Alur, Jakarta Barat : 28 kasus
257. Tegal Parang, Jakarta Selatan : 22 kasus
258. Tomang, Jakarta Barat : 94 kasus
259. Tugu Selatan, Jakarta Utara : 26 kasus
260. Tugu Utara, Jakarta Utara : 51 kasus
261. Ujung Menteng, Jakarta Timur : 9 kasus
262. Ulujami, Jakarta Selatan : 32 kasus
263. Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur : 56 kasus
264. Utan Kayu Utara, Jakarta Timur : 23 kasus
265. Utan Panjang, Jakarta Pusat : 24 kasus
266. Warakas, Jakarta Utara : 48 kasus
267. Wijaya Kusuma, Jakarta Barat : 21 kasus

Firasat Pendiri Sinar Mas Sejak 23 Tahun Silam Yang Kini Menjadi Kenyataan

Sengkarut di keluarga pemilik Sinar Mas Group mencuat setelah salah satu anak mendiang Eka Tjipta Widjaja, Freddy Widjaya, menggugat hak atas warisan terhadap lima kakak tirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Eka Tjipta Widjaja
Pendiri Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaja


Ia meminta pada majelis hakim hak atas pembagian separuh warisan peninggalan sang ayah. Ada 12 perusahaan yang disengketakan dengan total nilai aset sekitar Rp 672,62 triliun. Jauh sebelum polemik keluarga ini muncul, Eka Tjipta telah mengkhawatirkan adanya perebutan warisan sejak lebih dari 24 tahun lalu.

Dan kekhawatiran itu kini terbukti. Mengutip Kontan.co.id, Selasa (14/7/2020), dalam wawancara Tabloid Kontan pada November 1996 silam Eka Tjipta Widjaja mengungkapkan, tengah membahas mengenai anggaran rumah tangga perusahaan.

Penyusunan anggaran rumah tangga perusahaan itu bertujuan agar anak cucunya kelak tidak saling berebut harta warisan dan aset-aset Sinarmas.

Peraturan untuk Generasi Kedua 

Dalam penuturannya kepada Tabloid Kontan saat itu, Eka Tjipta Widjaja mengatakan, anak-anaknya akan tetap memegang kendali atas perusahaan-perusahaan di bawah Grup Sinarmas. "Ada enam anak saya yang masuk ke dalam perusahaan," tutur Eka Tjipta Widjaja saat itu.

Keenam anak yang Eka Tjipta maksud antara lain Indra Widjaja, Teguh Widjaja, Muktar Widjaja, Djafar Widjaja, maupun Franky Widjaja.

Teguh Widjaja, putra pertama Eka Tjipta Widjaja, misalnya, mendapat tugas untuk mengelola divisi bisnis pulp dan kertas Grup Sinarmas di bawah bendera Asia Pulp & Paper. Indra Widjaja hingga saat ini bertugas mengelola divisi jasa keuangan di bawah Sinar Mas Multhiarta. Franky Oesman Widjaja mendapat tugas mengelola divisi agribisnis Sinarmas di bawah bendera Golden Agri Resources. Sementara itu, Muktar Widjaja mendapat tugas mengelola divisi properti Sinarmas di bawah bendera Sinarmas Land. Muktar bersama Franky juga bertugas mengelola divisi energi dan infrastruktur Sinarmas melalui PT Dian Swastika Sentosa Tbk.

"Untuk generasi kedua, bolehlah seperti sekarang," ujar Eka Tjipta Widjaja 23 tahun silam.

Peraturan untuk Generasi Ketiga 

Namun, Eka Tjipta Widjaja sudah membuat aturan khusus bagi generasi ketiga. Menurut Eka Tjipta Widjaja, setiap anaknya hanya boleh memasukkan satu anaknya ke dalam perusahaan. Artinya, tidak seluruh cucu Eka Tjipta Widjaja boleh masuk ke perusahaan Sinarmas. "Hanya satu cucu dari setiap anak," tegas Eka Tjipta Widjaja.

Jika ada anak yang memiliki anak lebih dari satu, ia boleh memilih mana yang akan masuk ke perusahaan. Eka Tjipta Widjaja juga membuat aturan bagi cucu yang masuk ke perusahaan. Mereka hanya boleh duduk di dewan komisaris. Alih-alih terlibat langsung, generasi ketiga Eka Tjipta Widjaja hanya boleh mengawasi dan membuat kebijakan.

Sementara untuk pelaksananya, Sinarmas akan tetap memakai tenaga profesional. Bukan tanpa alasan Eka Tjipta Widjaja membuat aturan khusus bagi cucu-cucunya. Saat itu, Eka bilang, aturan ini bertujuan agar tidak ada perebutan di antara cucu-cucunya. "Mereka tentu mau yang enak, saya mau di sini, saya mau di sana . Ini tidak baik, nanti perusahaan bisa hancur karena perebutan itu," ujar Eka Tjipta Widjaja waktu itu.

Lalu, bagaimana dengan cucu yang tidak bisa masuk ke perusahaan? Menurut Eka Tjipta Widjaja, cucu-cucu yang tidak masuk ke Grup Sinarmas bisa memulai usaha lain. Toh, mereka memiliki saham di Grup Sinarmas. "Bisa dia pegang sahamnya terus. Atau, bisa juga menjual sahamnya untuk memulai usaha sendiri," kata Eka Tjipta Widjaja.

 Antisipasi Eka Tjipta Widjaja sejak jauh-jauh hari itu tampaknya ampuh untuk menghindari perebutan harta dan aset Sinarmas. Terbukti, Grup Sinarmas masih bertahan hingga saat ini dan semakin besar meski harus menghadapi berbagai kerikil tajam dalam perjalanannya.

Namun, saat ini, kita tahu, apa yang menjadi kekhawatiran Eka Tjipta Widjaja sejak 23 tahun silam mulai menjadi kenyataan.

Ternyata Ini Pemicu PHK Massal Pabrik Sepatu Nike di Tangerang

Di tengah masa pandemi virus corona, pekerja dari pabrik sepatu kembali jadi korban.

Terbaru, PT Victory Chingluh di Pasar Kemis Kabupaten Tangerang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dalam jumlah besar, yakni sebanyak hampir 5.000 pegawai.

Buruh Pabrik Nike
Buruh pabrik Nike sedang bekerja


Produsen sepatu dengan buyer merek terkenal seperti Nike ini sempat dikabarkan melakukan PHK massal akibat kondisi pandemi Covid-19. Namun ternyata, ada dua faktor yang menjadi penyebab terjadinya PHK tersebut. Faktor utama atau jangka panjang adalah rencana relokasi pabrik ke daerah lain.

"Iya akan pindah juga, akan pindah. Tapi tentu perencanaan jangka panjang. Prinsipnya mereka akan pindah juga," sebut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko kepada CNBC Indonesia.

Eddy bilang kebijakan tersebut diambil melalui pertimbangan yang matang, yakni memperhitungkan pola distribusi, ongkos kirim hingga biaya pegawai. Seperti diketahui, pabrik sepatu dikenal sebagai perusahaan dengan sistem padat karya. Artinya sebagian besar biaya operasi perusahaan digunakan untuk membayar gaji pegawai.

Mengenai waktu pindah, Eddy menjelaskan saat ini perusahaan dari anggotanya masih mengukur waktu yang tepat. Namun bayangan waktu dan lokasi yang akan ditempati sudah ada. "Tahun depan mungkin," katanya.

Sementara faktor kedua adalah menurunnya pendapatan akibat masa pandemik Covid-19. Hingga kini, pabrik sepatu tersebut masih tetap menjalankan kontrak proyeknya bersama brand kenamaan dunia, diantaranya Nike. Namun, sejumlah kontrak yang sudah dijalin dengan brand lainnya harus kandas di tengah jalan.

"Di luar merek besar seperti Nike dan Adidas, yakni dengan PO (Pre Order) lain, ada 47% dibatalkan POnya," kata Eddy.

Pembatalan itu sangat berdampak signifikan terhadap cashflow perusahaan yang sudah cukup terganggu akibat masa pandemi. Impaknya, PT Victory Chingluh Indonesia tercatat melakukan PHK terhadap 4.985 karyawannya, berdasarkan laporan mereka ke Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang.

"Iya betul ada (PHK), pihak perusahaan sudah menyampaikan ke kami datanya. PT Victory Chingluh Indonesia, 4.985 (karyawan) PHK dampak COVID-19," kata Kepala Seksi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang, Hendra

Sumber: NBC

Tuesday, June 16, 2020

Fakta Dibalik Kehebohan Penemuan Bendera Merah Putih Berlogo Palu Arit Di Kampus Universitas Hasanuddin

Sebuah bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan dalam lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan. Kini bendera berlogo itu diamankan polisi.

Bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan petugas keamanan kampus saat berpatroli di dalam lingkungan kampus Unhas Makassar.

bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan dalam lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan

Kepala Humas Unhas Ishak Rahman mengatakan temuan bendera itu sudah berlangsung lama. Bendera ditemukan saat pihak universitas menerapkan study from home (STH) kepada mahasiswanya sejak pendemi Covid-19.

"Bendera tersebut didapatkan pihak keamanan kampus saat berpatroli. Kasus lama ini, tanggal 11 April. Soalnya waktu ditemukan itu kan kampus kosong, karena kita sdh sejak sebulan sebelumnya lakukan study from home," kata Ishak.

 Untuk saat ini bendera itu sudah di amankan oleh penyidik kepolisian Polrestabes Makassar. Sementara pihak kampus belum belum mengetahui sejauh mana penanganannya untuk mencari pelaku.

"Untuk update terbaru harus koordinasi dulu dengan pimpinan untuk ketahui sudah sampai mana penanganannya," ungkap Ishak.

sumber: Okezone

Kisah Sedih Ciuman Terakhir Ade Irma Untuk Ibu Negara Fatmawati Soekarno

Ade Irma merengek minta ikut membesuk Ibu Negara Fatmawati Soekarno di Bandung, menitipkan "ciuman" terakhir untuk Fatmawati sebagai ganti ketidakhadirannya

Mendengar kabar Ibu Fatmawati Soekarno dirawat di RS Boromeus, Bandung, Johana Sunarti langsung menyempatkan diri besuk pada suatu hari, Agustus 1965.

Istri Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution itu memiliki kedekatan dengan sang ibu negara. Sewaktu Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya 26, Jakarta pasca-keluar Istana, Johana merupakan salah satu orang terdekat yang kerap bertamu. Johana sering mengajak Ade Irma Suryani, putri bungsunya, ketika bertamu.

Jenazah Ade Irma digendong Ibunda tercinta Johana Sunarti di dalam mobil yang akan membawa ke Pemakaman Blok P

Fatmawati, yang penyuka anak, kerap mendongengkan cerita-cerita kepada Ade Irma saat ikut bertamu. Maka, sebagaimana dituliskan wartawan Kadjat Adra’i dalam Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i, ketika Johana datang membesuk tanpa mengajak Ade Irma, Fatmawati langsung menanyakan.

“Kenapa tidak dibawa?” tanya Fatmawati.

“Lain kali insya Allah saya bawa, Bu. Kalau diajak sekarang, bisa-bisa hanya bikin repot,” jawab Johana.

“Siapa bilang bikin repot?” Fatmawati bertanya balik. “Anak itu sangat lucu, menyenangkan, dan kelihatannya cerdas seperti ayahnya.”

Johana pun menceritakan bagaimana Ade Irma sempat membuatnya repot sewaktu akan berangkat. Pasalnya, gadis mungil itu merengek minta ikut. Tidak biasanya Ade Irma bersikap seperti itu.

Ketidakbiasaan sikap Ade Irma bukan hanya dirasakan sang ibu. Sang ayah, Nasution, pun merasakan hal serupa. “Pada bulan-bulan terakhir Adek memang agak lain dari biasa, ini kesimpulan saya dalam renungan kemudian. Kalau saya sembahyang ia suka memandangi saya. Kalau sudah selesai, ia suka meminjam sajadah saya dan ia sembahyang, mencontoh saya. Jika ada minuman saya di meja, ia suka meminta meminumnya. Kalau saya malam-malam membaca di kursi itu, ia tidur mendekat tempat kursi malas itu,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6.

Ketidakbiasaan sikap Ade Irma itu membuat Johana mesti “bersiasat” agar Ade Irma mau ditinggal menjenguk Fatmawati. Entah “siasat” apa yang digunakan, Johana akhirnya berhasil meluluhkan hati putrinya.

“Kalau begitu, peluk ciumnya aja untuk Eyang Fat ya, Ma,” pinta Ade saat melepas kepergian ibunya, dikutip Kadjat.

“Insya Allah nanti mama sampaikan, anak manis,” jawab sang ibu.

“Betul ya, Ma, peluk cium untuk Eyang Fat.”

Fatmawati amat terhibur dengan cerita tentang Ade Irma itu. Dia –dan Johana– tak pernah menyangka permintaan peluk-cium Ade Irma kepada Johana merupakan persembahan rasa sayangnya yang terakhir untuk Eyang Fat.

Sekira dua bulan kemudian, dini hari 1 Oktober, Ade Irma tertembak oleh sepasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik ayahnya. Sebagian kecil pasukan pengawal presiden itu terlibat dalam gerakan bernama Gerakan 30 September yang berupaya menghadapkan beberapa Jenderal Angkatan Darat kepada Presiden Sukarno karena dikabarkan hendak kudeta.

Pemakaman Ade Irma Suryani

Makam Ade Irma Suryani


Tiga peluru pasukan Tjakrabirawa bersarang di tubuh Ade Irma. Kendati terus tersadar selama perawatannya di RSPAD, kondisi Ade Irma terus memburuk. Pada petang 6 Oktober 1965, Johana dengan besar hati membisikkan kalimat ke telinga Ade. "Ade, mama ikhlaskan Ade pergi," kata Johana. Gadis lima tahun itu pun meneteskan airmata dan akhirnya pergi untuk selamanya.

sumber: Historia