Monday, March 21, 2016

Mengapa Harus Duduk Di Belakang Saat Naik Pesawat Maskapai Berbiaya Rendah?

Pengamat penerbangan Chappy Hakim yang juga merupakan mantan Panglima TNI AU (KSAU) menceritakan pengalamannya pada suatu ketika ia ditanyakan oleh temennya mengenai kebiasaannya saat menumpang pesawat yaitu mengapa dia harus duduk di belakang saat naik ke pesawat terbang dari sebuah maskapai yang kebetulan sangat tenar dengan image yang kurang bagus, yaitu sering mengalami keterlambatan dan bahkan juga kecelakaan.

Pilihan tersebut tidak lain dan sulit dihindarkan karena maskapai penerbangan tersebut berbiaya murah. Rasa khawatir itulah yang menyebabkan teman saya itu bertanya-tanya lantaran bersama belasan penumpang lainnya diarahkan awak kabin duduk di bagian belakang pesawat.

Flight Attendant Safety Demo
Ilustrasi safety demo oleh pramugari sebelum pesawat lepas landas

Agak aneh baginya, karena tempat duduk di jajaran depan dibiarkan atau lebih tepat sengaja dikosongkan. Maskapai penerbangan tersebut tidak mencantumkan nomor tempat duduk pada tiket sebagaimana maskapai penerbangan standar yang tidak berbiaya murah.

Agak sulit juga menerangkan dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tidak ada informasi lainnya selain teman itu dan seluruh penumpang yang kebetulan hanya berjumlah belasan orang digiring pramugari berkelompok duduk semua di jajaran tempat duduk barisan belakang.

Pada prinsipnya, pesawat terbang penumpang memang memiliki keterbatasan dalam mengangkut sejumlah penumpang dan barang. Pesawat terbang, dalam melaksanakan penerbangan dari titik pemberangkatan menuju titik tujuan memerlukan bahan bakar yang jumlahnya sudah dihitung pada besaran yang dibutuhkan.

Berat kosong pesawat ditambah berat bahan-bakar yang diisi untuk rute tersebut, memberikan sisa berat dari kemampuan pesawat terbang itu untuk bisa terbang. Sisa berat inilah yang dapat digunakan pesawat untuk diisi penumpang dan atau barang.

Dengan demikian, berat maksimum pesawat untuk dapat terbang (MTOGW, Maximum Take Off Gross Weight) dikurangi berat kosong pesawat dengan peralatan dan bahan bakar yang diisi untuk rute tersebut (Aircraft Empty weight+fuel weight) adalah sama dengan jumlah berat penumpang dan atau barang yang dapat diangkut (Pay Load).

Pesawat terbang untuk dapat terbang dengan aman dan nyaman, memerlukan perhitungan akurat. Tidak hanya mengenai jumlah Pay Load saja, akan tetapi juga memerlukan pengaturan dari penempatan barang dan orang di dalam tubuh pesawat terbang itu.

Pada ruang bagasi, barang-barang (cargo) disusun sedemikian rupa pada posisi tertentu dan diikat dengan kuat agar tidak bergeser. Demikian pula penumpang diatur pada tempat duduk yang disediakan serta ditata pada posisi yang dihitung agar tidak merusak atau mengganggu keseimbangan pesawat.


Hal ini sangat diperlukan agar pesawat terbang dapat diterbangkan dengan aman dan nyaman terutama saat take off dan landing. Itu sebabnya antara lain, semua penumpang harus duduk di tempat duduknya masing-masing dan sekaligus mengenakan sabuk pengaman terutama saat yang kritikal yaitu take off dan landing.

Pengaturan dari penempatan barang dan penumpang pada posisi tertentu di dalam pesawat bertujuan agar titik keseimbangan pesawat terbang berada pada posisi yang aman. Titik ini dikenal sebagai titik Central of Gravity atau CG.

Jumlah barang dan penumpang akan mempengaruhi posisi dari CG pesawat terbang. Untuk memposisikan titik CG berada pada tempat yang aman untuk terbang, maka disusunlah posisi barang dan penumpang pada tempat-tempat tertentu dengan perhitungan matang.

Proses perhitungan dari penempatan barang dan penumpang inilah yang akan menghasilkan di mana letak barang dan penumpang untuk ditempatkan. Harmonisasi dari peletakkan barang di ruang bagasi pesawat dan di mana penumpang akan diarahkan untuk duduk di kabin pesawat itulah yang akan menjadi panduan awak kabin menempatkan para penumpang duduk.

Bagi maskapai penerbangan yang standar dalam mengikuti pola aturan keselamatan penerbangan, kesemua itu disusun dan diselesaikan di bawah sebelum terbang. Pola penempatan itulah yang melahirkan nomor-nomor tempat duduk penumpang (tentu saja sesuai dan termasuk perhitungan dengan kelasnya masing-masing).

Bagi penerbangan berjarak pendek dan juga biasanya yang berbiaya murah tanpa tercantum nomor tempat duduk di tiket, awak kabin ditugaskan mengarahkan para penumpang di mana mereka duduk.

Itulah sebabnya, besar kemungkinan pada penerbangan tertentu, bisa terjadi saat naik ke pesawat, awak kabin mengarahkan para penumpang mengisi tempat duduk di bagian belakang saja misalnya.

Di samping itu, khusus pada tempat duduk tertentu yang berdekatan dengan pintu darurat atau emergency exit, biasanya dipilih penumpang yang dapat diandalkan mampu membuka pintu darurat saat keadaan bahaya.

Itu pula sebabnya bagi mereka yang kebetulan kebagian tempat duduk yang dekat dengan emergency exit akan menerima briefing khusus atau penjelasan tambahan dari awak kabin pada sebelum pesawat take off.

Kesimpulannya, pada saat kita bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, ikutilah semua aturan yang berlaku dan patuhilah semua instruksi yang diberikan awak pesawat, apakah dari pilot dan atau dari awak kabin.
(Kompas, Chappy Hakim)

No comments:

Post a Comment