Tuesday, June 16, 2020

Fakta Dibalik Kehebohan Penemuan Bendera Merah Putih Berlogo Palu Arit Di Kampus Universitas Hasanuddin

Sebuah bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan dalam lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan. Kini bendera berlogo itu diamankan polisi.

Bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan petugas keamanan kampus saat berpatroli di dalam lingkungan kampus Unhas Makassar.

bendera merah putih berlogo palu arit ditemukan dalam lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan

Kepala Humas Unhas Ishak Rahman mengatakan temuan bendera itu sudah berlangsung lama. Bendera ditemukan saat pihak universitas menerapkan study from home (STH) kepada mahasiswanya sejak pendemi Covid-19.

"Bendera tersebut didapatkan pihak keamanan kampus saat berpatroli. Kasus lama ini, tanggal 11 April. Soalnya waktu ditemukan itu kan kampus kosong, karena kita sdh sejak sebulan sebelumnya lakukan study from home," kata Ishak.

 Untuk saat ini bendera itu sudah di amankan oleh penyidik kepolisian Polrestabes Makassar. Sementara pihak kampus belum belum mengetahui sejauh mana penanganannya untuk mencari pelaku.

"Untuk update terbaru harus koordinasi dulu dengan pimpinan untuk ketahui sudah sampai mana penanganannya," ungkap Ishak.

sumber: Okezone

Kisah Sedih Ciuman Terakhir Ade Irma Untuk Ibu Negara Fatmawati Soekarno

Ade Irma merengek minta ikut membesuk Ibu Negara Fatmawati Soekarno di Bandung, menitipkan "ciuman" terakhir untuk Fatmawati sebagai ganti ketidakhadirannya

Mendengar kabar Ibu Fatmawati Soekarno dirawat di RS Boromeus, Bandung, Johana Sunarti langsung menyempatkan diri besuk pada suatu hari, Agustus 1965.

Istri Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution itu memiliki kedekatan dengan sang ibu negara. Sewaktu Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya 26, Jakarta pasca-keluar Istana, Johana merupakan salah satu orang terdekat yang kerap bertamu. Johana sering mengajak Ade Irma Suryani, putri bungsunya, ketika bertamu.

Jenazah Ade Irma digendong Ibunda tercinta Johana Sunarti di dalam mobil yang akan membawa ke Pemakaman Blok P

Fatmawati, yang penyuka anak, kerap mendongengkan cerita-cerita kepada Ade Irma saat ikut bertamu. Maka, sebagaimana dituliskan wartawan Kadjat Adra’i dalam Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i, ketika Johana datang membesuk tanpa mengajak Ade Irma, Fatmawati langsung menanyakan.

“Kenapa tidak dibawa?” tanya Fatmawati.

“Lain kali insya Allah saya bawa, Bu. Kalau diajak sekarang, bisa-bisa hanya bikin repot,” jawab Johana.

“Siapa bilang bikin repot?” Fatmawati bertanya balik. “Anak itu sangat lucu, menyenangkan, dan kelihatannya cerdas seperti ayahnya.”

Johana pun menceritakan bagaimana Ade Irma sempat membuatnya repot sewaktu akan berangkat. Pasalnya, gadis mungil itu merengek minta ikut. Tidak biasanya Ade Irma bersikap seperti itu.

Ketidakbiasaan sikap Ade Irma bukan hanya dirasakan sang ibu. Sang ayah, Nasution, pun merasakan hal serupa. “Pada bulan-bulan terakhir Adek memang agak lain dari biasa, ini kesimpulan saya dalam renungan kemudian. Kalau saya sembahyang ia suka memandangi saya. Kalau sudah selesai, ia suka meminjam sajadah saya dan ia sembahyang, mencontoh saya. Jika ada minuman saya di meja, ia suka meminta meminumnya. Kalau saya malam-malam membaca di kursi itu, ia tidur mendekat tempat kursi malas itu,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6.

Ketidakbiasaan sikap Ade Irma itu membuat Johana mesti “bersiasat” agar Ade Irma mau ditinggal menjenguk Fatmawati. Entah “siasat” apa yang digunakan, Johana akhirnya berhasil meluluhkan hati putrinya.

“Kalau begitu, peluk ciumnya aja untuk Eyang Fat ya, Ma,” pinta Ade saat melepas kepergian ibunya, dikutip Kadjat.

“Insya Allah nanti mama sampaikan, anak manis,” jawab sang ibu.

“Betul ya, Ma, peluk cium untuk Eyang Fat.”

Fatmawati amat terhibur dengan cerita tentang Ade Irma itu. Dia –dan Johana– tak pernah menyangka permintaan peluk-cium Ade Irma kepada Johana merupakan persembahan rasa sayangnya yang terakhir untuk Eyang Fat.

Sekira dua bulan kemudian, dini hari 1 Oktober, Ade Irma tertembak oleh sepasukan Tjakrabirawa yang hendak menculik ayahnya. Sebagian kecil pasukan pengawal presiden itu terlibat dalam gerakan bernama Gerakan 30 September yang berupaya menghadapkan beberapa Jenderal Angkatan Darat kepada Presiden Sukarno karena dikabarkan hendak kudeta.

Pemakaman Ade Irma Suryani

Makam Ade Irma Suryani


Tiga peluru pasukan Tjakrabirawa bersarang di tubuh Ade Irma. Kendati terus tersadar selama perawatannya di RSPAD, kondisi Ade Irma terus memburuk. Pada petang 6 Oktober 1965, Johana dengan besar hati membisikkan kalimat ke telinga Ade. "Ade, mama ikhlaskan Ade pergi," kata Johana. Gadis lima tahun itu pun meneteskan airmata dan akhirnya pergi untuk selamanya.

sumber: Historia

Ketika D.I. Pandjaitan Mengangkat Orang Jerman Jadi Intel

Warga negara asing diterjunkan dalam operasi intelijen untuk menyadap informasi penting.

BONN, kompleks Kedutaan Besar RI di Jerman Barat. Di kamar kerjanya, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan tekun menulis. Atase militer Indonesia untuk Jerman itu kerap merancang brosur dan pamflet propaganda. Isinya mengemukakan keinginan penduduk asli Irian Barat (kini Papua) untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pandjaitan berencana akan menyebarkannya di negeri Belanda.

Jenazah Mayjen DI Pandjaitan disemayamkan di Mabes TNI AD sebelum dimakamkan di TMP Kalibata

“Siapa yang akan menyebarkan pamflet dan brosur itu nanti? Felix Metternich...,” ujar Marieke Pandjaitan br. Tambunan, istri Pandjaitan dalam biografi  D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran.

Felix Metternich adalah orang Jerman yang dikaryakan di Kedubes RI bagian Atase Militer (Atmil). Dia telah bekerja di sana sejak Kolonel Askari – pendahulu Pandjaitan – menjabat Atmil. Pandjaitan mulai menjabat Atmil pada 1956. Ketika konflik Irian Barat bergolak, Pandjaitan memakai jasa Metternich dalam serangkaian operasi rahasia.

Menurut Marieke, Pandjaitan memang sengaja memilih Metternich untuk menjalankan misi intelijen. Sengketa Irian Barat membuat otoritas imigrasi Belanda menolak paspor warga negara Indonesia. Orang Indonesia tidak diperkenankan masuk, kecuali mereka yang telah lama menetap atau sudah menjadi warga Belanda. Itulah sebabnya, Pandjaitan menyusupkan Metternich ke Belanda guna menyokong kampanye pembebasan Irian Barat.

Apa yang dilakukan Pandjaitan merupakan bagian dari Operasi C. Perintah ini langsung diinstruksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution. Operasi A dilakukan dengan infiltrasi ke daratan Irian Barat. Operasi B menghimpun dan mengkaderasasi putra-putra Irian Barat. Sementara Operasi C adalah kegiatan “diplomasi senyap” yang dilancarkan perwira TNI di luar negeri.

“Para atase militer di Eropa Barat, Kartakusumah di Paris, S. Parman di London, dan Pandjaitan di Bonn merupakan pendukung usaha ini,” ujar Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama.

Tiba di Belanda, Metternich membagi-bagikan brosur dan pamflet tentang Irian Barat kepada golongan tertentu. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh yang dapat membentuk opini masyarakat Belanda soal Irian Barat. Metternich juga sering bertugas memposkan surat-surat rahasia dari pemerintah Indonesia kepada tokoh-tokoh politik dan ekonomi Belanda. Surat-surat itu diposkan dengan mencantumkan alamat pengiriman di wilayah Belgia. Demikianlah caranya untuk menghindari pengguntingan sepihak oleh dinas intelijen Belanda.

Dari semua misi, tugas memasuki pelabuhan yang dikelola oleh Angkatan Laut Belanda merupakan upaya paling beresiko bagi Metternich. Pandjaitan pernah meminta Metternich untuk memotret kapal perang milik Kerajaan Belanda, terutama kapal induk bernama Karel Doorman. Memasuki tahun 1960, santer diberitakan bahwa Karel Doorman akan berlayar ke perairan Irian Barat guna memperkuat pertahanan Belanda. Dengan menggunakan kamera mini, Metternich berhasil memotret Karel Doorman dan kapal-kapal perang yang lain. Pandjaitan kemudian mengirimkan foto-foto jepretan Metternich ke Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) di Jakarta.

Dan benar saja, pemerintah Belanda mendatangkan Karel Doorman pada akhir Mei 1960. Setelah mengetahui besaran kekuatan armada laut Belanda, TNI mempersiapkan diri menghadapinya dengan kapal penjelajah kelas berat bernama KRI Irian yang dibeli dari Uni Soviet. Selain itu, kekuatan AL Indonesia semakin lengkap dengan didatangkannya selusin kapal selam, belasan kapal roket cepat, pesawat-pesawat AL, helikopter-helikopter dan peralatan amfibi. Walhasil, TNI AL menjelma sebagai kekuatan laut yang terkuat di belahan bumi selatan.

Metternich juga menjadi saksi bagaimana Pandjaitan memainkan perannya melobi dalam diplomasi senyap. Dengan pendekatan personal, Pandjaitan kerap mengundang Profesor Willem Duynstee ahli hukum tata negara Universitas Nijmegen berkunjung ke kediamannya untuk bertukar pikiran. Duynstee seperti dicatat Ganis Harsono dalam Cakrwala Politik Era Sukarno, pada 3 Agustus 1961, memelopori gerakan anti perang antara Indonesia dan Belanda. 

Selain itu, Pandjaitan sering mengatur pertemuan rahasia antara wakil-wakil Indonesia dengan tokoh-tokoh politik dan ekonomi Belanda. Biasanya pertemuan berlangsung di tempat netral yang ada di wilayah Jerman. Salah satu keberhasilan Pandjaitan ialah mempertemukan para pendeta dan pemimpin-pemimpin gereja dari Belanda dengan Jenderal Nasution di Bonn.

“Sudah barang tentu bantuan Metternich kepada suami saya pantas dihargai. Gagasan dan ide tertentu Atmil (Pandjaitan) dapat dilaksanakan olehnya,” kenang Marieke.

Foto kenangan DI Pandjaitan dan Marieke saat bertugas di Jerman Barat

Pada 1962, Pandjaitan mengakhiri dinasnya sebagai Atmil di Jerman. Tugas baru menantinya sebagai Asisten IV/logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. Di Jakarta TNI mengalami reorganisasi. Jenderal Nasution menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata sedangkan Letnan Jenderal Ahmad Yani naik sebagai orang nomor di jajaran AD. Yani-lah yang memilih Pandjaitan sebagai Asisten IV yang membidangi urusan logistik.  Setelah Pandjaitan pulang ke Indonesia, Metternich tetap bekerja di Kedubes RI.

Metternich masih terus membantu para Atmil Indonesia di Jerman. Mereka antara lain:  Kolonel Wadly, Kolonel Sunggoro, dan Kolonel Abdullah. Tidak kurang dari 17 tahun lamanya "Si Intel Jerman” ini menjadi staf Atmil di Bonn hingga tahun 1972. 

Sunday, June 14, 2020

Ketika Yani Akan Menangkap Nasution

A.H. Nasution dan mantan deputinya, Ahmad Yani mempunyai hubungan yang pasang surut.

KSAD Jenderal TNI Nasution mencalonkan Mayjen TNI Gatot Soebroto sebagai penggantinya, namun ditolak Presiden Sukarno. Nasution kemudian mengusulkan deputi operasinya, Mayjen TNI Ahmad Yani. Nasution menganggap Yani memiliki beberapa kelebihan.

Jendera Ahmad Yani dan Jendera A.H. Nasution


“Dia telah memperoleh reputasi yang baik ketika memimpin pasukan dan dengan mudah menupas pemberontakan PRRI tahun 1958, dan sebagai seorang antikomunis yang keras, mendapat kepercayaan Nasution dan korps perwira umumnya,” tulis Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia.

Kepemimpinan Yani dianggap dapat melanjutkan peran AD dalam membendung pengaruh PKI yang semakin besar memasuki dekade 1960-an. Dengan pembawaan diri yang luwes, Yani diyakini dapat mengambil hati Sukarno dan berangsur-angsur mempengaruhinya untuk mengerem laju komunis yang kian cepat. Sukarno sendiri mengenal Yani dengan baik. Selain berprestasi, Yani bekerjasama dengan Sukarno selama di KOTI (Komando Operasi Tertinggi).

Menurut Crouch meskipun Yani menentang keras kebijakan Sukarno terhadap PKI, tetapi gayanya berbeda dengan Nasution. Sebagai seorang Jawa, dia cenderung memperlakukan Sukarno sebagai “bapak” yang bisa saja bertindak salah tetapi tidak boleh ditentang secara terbuka. Sehingga, dia lebih mudah menjadi bagian dari lingkungan Sukarno.

Sukarno menerima usul Nasution. Yani resmi menjabat KSAD pada 23 Juni 1962. Sesuai harapan Nasution dan banyak perwira, Yani tetap dapat menjaga independensi politik AD sekaligus mengambil hati presiden. Bahkan, Yani menjadi kesayangan Sukarno. Namun, kedekatan Yani dan Sukarno membuat hubungannya dengan Nasution menjauh. Mereka semakin banyak pertentangan kecuali melawan PKI. Penggantian beberapa panglima kodam mengecewakan Kubu Nasution. Selain itu, Nasution dan para perwira menengah yang hidup sederhana prihatin dengan gaya hidup glamor Yani dan beberapa jenderal di sekelilingnya.

Yani lebih cenderung masuk ke dalam Istana ketimbang AD. Menurut Wakil Perdana Menteri I Soebandrio dalam Kesaksianku Tentang G-30-S, hal itu memang yang diinginkan Sukarno dari pengangkatan Yani. “Tugasnya, secara formal, jelas memimpin pasukan TNI AD, namun di balik itu Yani mendapat misi khusus dari presiden agar membatasi desakan kubu Nasution terhadap pemerintah,” kata Soebandrio.

Namun, konflik Yani dan Nasution baru terjadi ketika Dwikora yang oleh Nasution dinilai sebagai momen penting untuk menunjukkan peran politik dan kesetiaan AD terhadap negara. Meski sudah tak punya wewenang komando, Nasution nekat mengorganisasi kegiatan anti-Malaysia di Kalimantan untuk menarik simpati rakyat kepada AD sekaligus mengungguli PKI dan BPI (Badan Pusat Intelijen) di bawah Soebandrio. Nasution bahkan memerintahkan Panglima Kalimantan Kolonel Hassan Basri mengirim pasukan ke Kalimantan Utara untuk operasi-operasi intelijen. Perbuatan Nasution jelas menyalahi aturan.

“Yani sangat marah dengan tindakan Nasution yang melangkahi jalur komando itu, dan dia mulai menyabot kebijaksanaan Indonesia terhadap Malaysia,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Namun, sepulang dari Filipina, hubungan Yani dengan Nasution kembali pulih.

Konflik Yani dengan Nasution semakin keras ketika lembaga pemberantasan korupsi yang dipimpin Nasution, Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran) semakin dalam masuk ke dalam SUAD (Staf Umum AD). Namun, Yani tak frontal melawan karena presiden turun tangan bahkan membubarkan Paran dan menggantinya dengan Kotrar (Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi).

Toh, AD tetap solid tapi hanya untuk melawan PKI. Dalam hal lain, AD tidak pernah benar-benar solid. Pada awal 1965, kentara ada dua kubu yang saling bersaing dalam AD: faksi Yani dan Na-To (Nasution-Soeharto). Keduanya berbeda sikap dalam menghadapi Sukarno, yang kala itu dekat dengan PKI. Na-To tak suka Yani dan jajarannya yang terlalu mengikuti tabuhan genderang presiden, sementara Yani tak suka kekakuan Nasution dalam berpolitik.

Perbedaan itulah, menurut Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto, yang membawa konflik keduanya ke puncak. Pada akhir 1964, Yani menarik pasukan dari Mabad (Markas Besar AD) yang menjaga rumah Nasution. Mengetahui panglima pertama Siliwangi diperlakukan seperti itu, Pangdam Ibrahim Adjie –yang sama-sama antikorupsi dan pernah bekerjasama dengan Nasution dalam Operasi Budhi– langsung mengirimkan satu pleton pasukannya untuk mengawal rumah Nasution.

Yani juga memarahi Letkol Muchlas Rowi, salah seorang komandan batalyon di Kodam Brawijaya karena kedapatan menjalankan perintah Nasution tanpa sepengetahuannya selaku panglima AD. “Padahal, waktu itu Jenderal Rowi sudah dimutasikan dari Mabes Angkatan Darat ke Kantor Menko Hankam/KSAB Nasution,” tulis Salim Said.

Pada awal 1965, ketegangan semakin meningkat. Yani mengambil keputusan keras. “Pada suatu hari Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani memerintahkan Mayor Jenderal TNI Suprapto, salah seorang deputinya –kemudian lebih dikenal sebagai salah seorang Pahlawan Revolusi– menangkap Jenderal Nasution,” tulis Salim Said. Perintah itu dimaksudkan Yani untuk menunjukkan loyalitasnya kepada Sukarno.

Meski tak menyebar ke khalayak, kabar perintah itu sampai ke kubu Nasution. Brigjen TNI Abdul Kadir Besar, salah seorang perwira di kubu Nasution, mengatakan bahwa kubunya telah menyiapkan senjata untuk menghadapi konflik fisik bila Nasution ditangkap. Pasukan Siliwangi yang dikirm Adjie untuk menjaga rumah Nasution pun siap siaga.

Namun, kabar perintah penangkapan Nasution itu sampai ke telinga jenderal-jenderal senior. Basuki Rahmat, R. Soedirman, Sarbini, dan Soeharto, menentang rencana Yani itu. Yani langsung membatalkan perintahnya beberapa hari kemudian. “Bentrok antara pendukung masing-masing kubu yang nyaris terjadi, berhasil terhindarkan,” tulis Said.

sumber: Historia

Saturday, June 13, 2020

Kronologi Akhir Tragis Terbongkarnya Penyamaran dan Sandiwara Istri DN Aidit

Setelah peristiwa G30S/PKI meletus, secara otomatis segala hal yang berhubungan dengan PKI menjadi musuh bangsa dan negara mulai saat itu juga.

Semua orang yang memiliki hubungan dengan PKI tak luput dari kejaran TNI AD, termasuk keluarga para petinggi partai tersebut

Salah satu yang menjadi buruan utama TNI AD adalah Ketua Central Comite PKI, Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit).

DN Aidit dan istrinya, Soetanti dan anak-anak mereka

Aksi istri DN Aidit kibuli aparat keamanan usai meletusnya G30S/PKI', diketahui malam sebelum G30S/PKI terjadi, Soetanti yang merupakan istri DN Aidit sempat bertengkar dengan suaminya.

Soetanti marah lantaran DN Aidit keras kepala mau pergi dengan para penjemputnya. Meski demikian, DN Aidit tetap pergi.

Disinyalir DN Aidit hendak diamankan sesaat sebelum penculikan para perwira TNI AD dilakukan.

Tiga hari setelah G30S/PKI meletus, Soetanti sadar jika dirinya kemungkinan besar tak akan ketemu dengan suaminya lagi.

Ia kemudian langsung meninggalkan rumah bersama dengan tiga anaknya.

Soetanti pergi ke Boyolali menyusul DN Aidit dan bertemu dengan Bupati Boyolali yang saat itu merupakan tokoh PKI. Namun tidak diketahui apakah kedua orang penting tersebut benar-benar bertemu atau tidak.

Namun, Soetanti dan Bupati Boyolali berangkat ke Jakarta dengan cara menyamar sebagai suami istri.

Mereka juga membawa dua orang anak untuk menyempurnakan penyamarannya.

Awalnya, sandiwara mereka sukses tapi kemudian tetangga mulai curiga karena sikap anak mereka yang tak pernah manja ke orangtuanya.

Bahkan aparat awalnya juga tertipu dengan penyamaran keduanya.

Usai diketahui jika Soetanti ialah istri DN Aidit, ia langsung diringkus oleh aparat keamanan Indonesia.

Semasa penahanan, Soetanti mengalami perpindahan penjara dari satu penjara ke penjara lainnya sampai tahun 1980, di antaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri.

DN Aidit saat berpidsato di Moskow


Lepas dari masa hukuman, Tanti sempat membuka praktek sebagai dokter.

Meski demikian, ia mengalami sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991.

Nasib tak kalah miris juga dialami oleh Sumini, mantan ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ranting Pati, Jawa Tengah

Sumini pernah memberikan pengakuan atas segala siksaan yang ia terima.

Gerwani merupakan organisasi yang dianggap sebagai sayap PKI, sehingga Sumini pun harus terjaring oleh aparat pada saat pembersihan PKI kala itu

Dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Kisah Sumini, Seorang Guru yang Dicap Komunis', wanita bernama lengkap Deborah Sumini ini harus dipenjara selama 6 tahun lebih meski ia mengaku tak tahu-menahu soal G30S/PKI.

Sumini, mantan ketua Gerwani ranting Pati, Jawa Tengah


Berbagai siksaan dan cemoohan harus dia terima selama dalam penjara, kisah pedih ini akan terus melekat di benak Sumini.

Bahkan, hingga usianya menginjak 70an pun Sumini masih tidak memahami apa yang menjadi dosa besar dirinya saat bergabung dengan Gerwani.

"Kami dibilang bejat moralnya. Itu setiap hari yang masih saya dengar. Belum lagi digebuki setiap pemeriksaan," kata Sumini saat ditemui di sela acara "Simposium Membedah Tragedi 1965" di Hotel Aryaduta, Jakarta, dua tahun silam oleh Kompas.com (18/4/2016).

Setelah peristiwa G30S/PKI meletus, Gerwani menjadi salah satu organisasi yang dituduh sebagai sayap PKI.

Mereka pun menjadi sasaran penumpasan PKI.

Sumini dan beberapa temannya ditangkap oleh tentara sekitar tanggal 21 November 1965.

Sumini sempat mendekam selama 5 bulan di penjara Pati, kemudian dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan khusus wanita di Bulu, Jawa Tengah.

Hingga 6 tahun lebih dipenjara, Sumini tidak pernah diadili.

Saat itu, Gerwani dianggap sebagai organisasi sayap PKI dan ikut melakukan aksi kekejaman terhadap 7 jenderal TNI.

Sampai saat inipun, Sumini kerap menerima teror dan stigma sepanjang hidupnya.

Setelah dilepaskan dari tahanan, Sumini mengaku teror yang dialaminya masih terus berlanjut

Hampir setiap hari dia dihubungi oleh pihak kepolisian untuk menanyakan tentang keberadaan Sumini dan apa saja yang akan ia lakukan di luar rumah. Gerak-gerik Sumini selalu diawasi.

Sumini mengungkapkan, beberapa kali dia dan korban tragedi 1965 dilarang oleh pihak berwajib dan kelompok masyarakat tertentu untuk membuat acara pertemuan, meskipun sekadar arisan atau temu kangen.

sumber: https://jabar.tribunnews.com/2019/09/30/akhir-tragis-sandiwara-istri-dn-aidit-terbongkar-gara-gara-tetangga

Thursday, June 11, 2020

Video Viral Aksi Pria Indonesia Berorasi di Depan Pendemo Anti Rasis AS Membuat Para Pendemo Seketika Terdiam

Sebuah video memperlihatkan seorang pria yang merupakan kelahiran Indonesia, tengah memberi orasi di depan pendemo Amerika yang membuat mereka terdiam.



Dalam video yang diunggah oleh pengguna akun Twitter Sinta Elvheera 2 terlihat, pria yang memakai baju hitam itu menceritakan tentang dirinya dan masalah rasial yang dialaminya.

"I was born in Indonesia and I know what does it mean by prejudice and discrimination. I thought I flee away from Indonesia and I come here and I can breathe freedom, (Saya lahir di Indonesia, dan saya tahu persis dengan apa yang disebut prasangka dan diskrminasi. Saya pikir saya terbang jauh-jauh ke sini untuk menghirup kebebasan -red)" ucap pria itu di depan pendemo.

Saat berorasi hingga membuat pendemo terdiam, pria tersebut mengaku terharu dengan kejadian yang terjadi beberapa hari terakhir di Amerika.

"But I look at the couple days ago or just last weeks, my heart is melted (Tapi saya melihat beberapa hari dan beberapa minggu terakhir ini, hati saya rasanya meleleh)," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, ia meyakini bahwa para pendemo yang hadir dikumpulkan oleh Tuhan.

"Justice will be served, we are all here because this is a divine appointment. No man can do this. I believe God makes this in such a time like this. Our voice just been heard, not just only in America. Heaven is hearing us, (Keadilan akan datang, dan kita di sini karena pertemuan yang ditakdirkan. Tidak ada manusia yang bisa melakukannya. Saya percaya Tuhan merencanakan ini di waktu ini. Suara kita telah didengar, bukan hanya di Amerika. Surga telah mendengar kita -red)"  jelasnya.



Di depan para pendemo, pria tersebut mengajak pendemo untuk saling menguatkan dan bergandengan tangan. Pria itu kemudian berlutut menghadap langit sambil berdoa, yang kemudian diikuti oleh pendemo.

Video Eksperimen Ini Tunjukkan Betapa Cepatnya Penyebaran Virus Corona

Media publik NHK bersama ahli kesehatan melakukan eksperimen di sebuah restoran untuk menunjukkan betapa mudahnya kuman dan virus menyebar walau hanya satu orang yang terinfeksi.

Dalam video tersebut terdapat 10 orang yang datang ke restoran dengan satu partisipan yang dipilih sebagai orang yang terinfeksi. Orang yang terinfeksi diberikan zat fluoresen yang bisa terlihat ketika lampu diredupkan.



Para peserta lainnya makan seperti biasa tanpa mempertimbangkan risiko kontaminasi. Akhir video tersebut, lampu ruangan diredupkan dan mempertimbangkan bagaimana infeksi telah menyebar.

Zat yang digunakan sebagai penanda untuk melihat virus dan akhirnya menempel di peralatan makan, tangan, piring-piring, bahkan wajah beberapa peserta.

Eksperimen ini bukan pertama kalinya, John Nicholls, seorang profesor patologi klinis di Universitas Hong Kong, mengatakan hal tersebut menunjukkan seberapa cepat virus menyebar, apalagi jika tidak mencuci tangan.

"Apa yang diperlihatkan video itu adalah (virus) akan menyebar ke permukaan dengan sangat cepat. Dan saya pikir ini benar-benar menyoroti pentingnya kebersihan tangan untuk menghentikan penyebaran penyakit," tutur Nicholls yang tidak terlibat dalam eksperimen tersebut kepada CNN.



Spesialis penyakit menular di Universitas Kobe, Kentaro Iwata mengatakan bahwa eksperimen tersebut dikaitkan dengan bagaimana virus corona menyebar.

NHK kembali membuat percobaan kedua di mana peserta simulasi mengantisipasi kontaminasi dengan melakukan tindakan pencegahan. Partisipan, termasuk salah satu yang ditunjuk sebagai orang yang 'terinfeksi' mencuci tangan sebelum dan setelah makan.

Percobaan yang dilakukan mengajarkan bahwa pentingnya mencuci tangan dan menjaga kebersihan.

sumber: Indozone