Wednesday, October 14, 2020

Bank Dunia Sebut Indonesia Masuk 10 Negara dengan Hutang Luar Negeri Terbesar, Ini Kata Pemerintah

Bank Dunia merilis laporan berjudul Interational Debt Statistics (IDS) pada 12 Oktober 2020. Di dalam laporan tersebut, Indonesia berada pada posisi ketujuh dari daftar 10 negara berpendapatan kecil menengah dengan nilai utang luar negeri terbesar di dunia. 

Secara keseluruhan, utang luar negeri Indonesia tercatat mencapai 402,08 miliar dollar AS pada tahun 2019. Total nilai utang itu terdiri atas utang luar negeri pemerintah, BUMN, dan swasta. 

Total nilai utang tersebut berada di bawah China dengan total nilai utang sebesar 2,1 triliun dollat AS, Brazil 569,39 miliar dollar AS, dan India 560,03 miliar dollar AS. Selain itu, posisi nilai utang Indonesia juga di bawah Rusia yang sebesar 490,72 miliar dollar AS, Meksiko 469,72 miliar dollar AS, dan Turki 440,78 miliar dollar AS. Adapun negara yang menempati posisi di bawah Indonesia yakni Argentina dengan nilai utang 279,3 miliar dollar AS, Afrika Selatan 188,1 miliar dollar AS, dan Thailand 180,23 miliar dollar AS. 

Tanggapan pemerintah 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Rahayu Puspasari mengatakan laporan tersebut berisi data dan analisis posisi utang Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara berpendapatan kecil dan menengah. 


Namun demikian, laporan perbandingan yang di maksud tidak menyertakan negara-negara maju. Sehingga terlihat bahwa posisi Indonesia, masuk dalam golongan 10 negara dengan ULN terbesar. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 88,8 persen dari total ULN. 

"Pemerintah mengelola utang dengan prinsip kehati-hatian (pruden) dan terukur (akuntabel)," jelas dia dikutip dari keterangan tertulis, Rabu 14 Oktober 2020. Rahayu mengatakan pada paparan perbandingan tersebut, terlihat utang Indonesia di antara negara-negara tersebut terhitung besar karena ekonomi Indonesia masuk dalam kelompok negara G-20 pada urutan ke-16. 

Pasalnya ekonomi yang besar, utang Pemerintah (tanpa BUMN dan swasta) relatif rendah, yakni 29,8 persen di Desember 2019. "Jika dibandingkan dengan 10 negara yang disebutkan dalam beberapa artikel pemberitaan media kemarin, sebagian besar utang Pemerintahnya diatas 50 persen, sementara posisi Indonesia jauh di bawahnya," jelas Rahayu. 

“Pemerintah terus berkoordinasi, dalam hal ini dengan Bank Indonesia untuk memantau perkembangan utang luar negeri dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tambahnya

Sumber: Kompas

Thursday, October 8, 2020

Ketika DI/TII Ikut Memburu PKI Setelah Peristiwa G30S

Aloysius Sugiyanto mengaku kenal baik dengan tokoh DI/TII, Danu Muhammad Hasan. Sebagai intel Opsus (Operasi Khusus), dia ditugaskan atasannya Ali Moertopo untuk membina beberapa eks tokoh DI/TII.

“Saya sering main ke rumah Danu di Situaksan, Bandung,” ujar Sugiyanto.

Massa Ormas Islam menuntut pembubaran PKI


Perkawanan itu pula yang membuat Danu loyal kepada orang-orang Opsus. Ketika Angkatan Darat menjalankan aksi pembersihan orang-orang PKI dan loyalis Sukarno, para eks aktivis DI/TII yang dikenal sangat antikomunis termasuk pihak yang dilibatkan.

“Danu saya tugaskan memata-matai gerak-gerik Soebandrio,” kenang Sugiyanto.

Soebandrio merupakan salah satu orang terdekat Presiden Sukarno. Selain menjabat kepala Badan Poesat Intelijen dan menteri hubungan ekonomi luar negeri, Soebandrio juga salah satu wakil perdana menteri. Mahkamah Luar Biasa memvonis Soebandrio hukuman seumur hidup karena dianggap terlibat Gerakan 30 September 1965 (G30S).


Musuh Bersama

Setelah peristiwa G30S, kelompok-kelompok antikomunis melakukan konsolidasi kekuatan. Angkatan Darat bergerak cepat. Selain terlibat langsung menumpas orang-orang PKI, mereka pun bekerja sama dan memfasilitasi kekuatan-kekuatan anti-PKI, salah satunya DI/TII.

Dalam The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network, Ken Conboy menyebut pendekatan terhadap eks anggota DI/TII langsung dilakukan oleh Boss Opsus yaitu Ali Moertopo.

Ali meyakinkan para mantan gerilyawan DI/TII untuk berdiri di kubunya dalam menghadapi PKI sebagai musuh bersama. Lewat beberapa orang kepercayaannya, di antaranya Aloysius Sugiyanto dan Pitut Soeharto, Ali menjanjikan fasilitas dan pengampunan jika eks pemberontak itu mau bekerja sama dengan tentara.

Gayung pun bersambut. Ajakan Opsus diamini para pemimpin DI/TII. Bahkan, menurut Conboy, mereka sangat antusias. Begitu sepakat mereka segera bergerak. “Danu dan kelompok kecil pendukungnya menjelajah Jakarta guna membongkar persembunyian para pejabat rezim Sukarno,” tulis Conboy.

Di Jawa Barat, penumpasan PKI juga mengikutsertakan eks DI/TII. Menurut peneliti sejarah DI/TII Solahudin, saat menjalankan penumpasan, mereka didukung penuh Kodam Siliwangi dan agen BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara).

Namun, dalam buku NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia karya Solahudin, tokoh DI/TII Adah Djaelani menolak keras jika dimodali tentara. Menurut Adah, dalam kenyataannya orang-orang DI/TII membiayai sendiri operasi tersebut. Hal ini dibenarkan oleh Solahudin.

“Saat menghabisi orang-orang PKI, eks anggota DI/TII hanya mendapatkan bantuan pinjaman senjata,” ungkapnya kepada Historia.


Ganjaran Orde Baru

Operasi bersama yang dilakukan tentara dengan eks anggota DI/TII berlangsung sukses. Rezim Orde Baru menepati janjinya untuk memberikan ganjaran yang setimpal. Selain pembebasan dari dosa-dosa pemberontakan 1949-1962, Orde Baru lewat tangan tentara juga memberikan kemudahan usaha kepada para eks anggota DI/TII.

Ateng Djaelani, salah satu dedengkot DI/TII yang ikut dalam penumpasan orang-orang PKI, diangkat sebagai ketua Gapermigas (Gabungan Perusahaan Minyak dan Gas) Kotamadya Bandung. Sementara Danu Muhammad Hasan direkrut Ali Moertopo untuk bekerja di BAKIN dengan imbalan yang memadai: rumah dinas, mobil dinas dan gaji bulanan.

Menurut Solahudin, situasi mapan itu menjadikan eks anggota DI/TII sejenak melupakan cita-cita mereka untuk mendirikan Negara Islam. “Saat itu kami tak berpikir sama sekali untuk menghidupkan kembali gerakan DI/TII,” ujar Adah Djaelani seperti dikutip dalam buku karya Solahudin.


NU membentuk KPK untuk melawan DI/TII

Tidak hanya memberikan fasilitas secara perorangan, pada 21 April 1971 pemerintah Orde Baru juga (lewat BAKIN) memfasilitasi pertemuan reuni akbar eks anggota DI/TII di Situaksan, Bandung. Sekira 3.000 eks anggota DI/TII hadir dalam pertemuan itu. Para pejabat BAKIN mengajak mereka bergabung dengan Golkar.

“Merespons ajakan itu, para tokoh DI/TII terbelah menjadi dua: ada yang oke saja dan ada yang menolak mentah-mentah,” ujar Solahudin.

Sejarah kemudian membuktikan, sebagian anggota DI/TII kembali membangun mimpi tentang negara Islam di Indonesia. Para “pejuang Tuhan” itu kemudian ada yang kembali mengangkat senjata untuk mewujudkannya dengan memodifikasi gerakan mereka menjadi transnasional.

Sumber: Historia

Thursday, October 1, 2020

Detik-detik Terakhir Pemimpin DI/TII, Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dieksekusi mati dan dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, bukan di Pulau Onrust seperti yang diyakini banyak oleh masyarakat. Dia diperlakukan secara Islami.

Pada 4 Juni 1962, satu kompi batalyon Kujang II Siliwangi menyergap dan menangkap sang Imam Negara Islam Indonesia (NII), SM Kartosoewirjo, dan pengikutnya di daerah Gunung Sangkar dan Gunung Geber di Jawa Barat.

Tentara membawa Kartosoewirjo (berbaju putih dengan mata ditutup kain) menuju Pulau Ubi untuk dieksekusi mati

Setelah sekian waktu kucing-kucingan dengan Tentara Nasional Indonesia selama masa pengejaran, termasuk bersembunyi dan bertahan di dalam hutan, membuat tubuhnya jadi renta dan tak terawat, ia pun akhirnya tertangkap. 

Saat tertangkap, dia diserang berbagai penyakit. Badannya kurus. Rambut dan kumisnya memutih. Dia terlihat lebih tua dibanding usianya saat itu: 57 tahun.

Usai ditangkap, Kartosoewirjo menjalani persidangan selama 14-16 Agustus 1962. Dia dikenai tiga tuduhan: memimpin dan mengatur penyerangan, hendak merobohkan pemerintahan RI yang sah, dan membunuh presiden. “Tuntutan kedua dan ketiga ditolak oleh Kartosoewirjo,” kata Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu Sang Imam.

Pengadilan Mahkamah Militer menyatakan Kartosoewirjo bersalah dan menjatuhkan vonis hukuman mati. Upaya terakhir dengan meminta grasi gagal; Presiden Sukarno menolak grasinya. Dia pun harus menjalankan takdirnya.

Pada 12 September 1962, sebelum eksekusi, Kartosoewirjo mendapat kesempatan berkumpul bersama keluarga, satu dari empat keinginan terakhirnya. Hadir dalam pertemuan tersebut sang istri, Dewi Siti Kalsum, putri tokoh Persatuan Serikat Islam Indonesia (PSII) cabang Malangbong, Ardiwisastra, yang telah memberikannya 12 anak –hanya tujuh yang hidup hingga tahun 1962. Hadir pula kelima anaknya: Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti.

Momen-momen terakhir Kartosoewirjo terekam dalam buku Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII yang disusun politisi Fadli Zon. Buku ini dluncurkan di Gedung Cipta III, Taman Ismail Marzuki bertepatan dengan 50 tahun eksekusi Kartosoewirjo, September 2012. Selain pameran, ada diskusi dengan pembicara Sardjono Kartosoewirjo, sejarawan Muhammad Iskandar, dan Fadli Zon.

“Saya membelinya sekitar dua tahun lalu. Saya dapatkan dari seorang kolektor, orang Indonesia juga. Saya pikir akan lebih baik jika foto-foto tersebut tidak lari ke luar negeri, maka saya membelinya,” kata Fadli Zon tanpa mau menyebut nama si kolektor.

Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo lahir di Cepu pada 1902 dari keluarga seorang mantri candu. Dia mengenyam pendidikan sekolah ala Barat. Bahkan sempat berkuliah di Nederlands Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda) di Surabaya, meski hanya selama empat tahun. Dianggap terlibat gerakan politik, karena bergabung dengan Jong Java, dia dikeluarkan. Pamannya, Mas Marco Kartodikromo, adalah orang yang mengenalkannya pada gerakan nasionalis dan Marxisme.

Tak lagi kuliah, dia jadi editor di koran Fadjar Asia. Di Surabaya, Kartosoewirjo berguru kepada “Raja Jawa tak bermahkota” HOS Tjokroaminoto dan bahkan menjadi sekretaris pribadinya. Dia juga menjalin pertemanan dengan murid Tjokroaminoto lainnya, Sukarno –yang kelak bersimpangan jalan dengannya. Ketika bergabung dalam komisioner Persatuan Serikat Islam Indonesia (PSII) Jawa Barat, dia menjalin hubungan dengan Ajengan Yusuf Taujiri, mentor dan guru spiritualnya.

Pemikiran Kartosoewirjo semakin radikal setelah dia mengetengahkan konsep hijrah pada kongres PSII tahun 1936. Kartosoewirjo dan pendukungnya kemudian membuat faksi baru yang disebut Komite Pembela Kebenaran dan mendirikan Suffah Institut- sebuah lembaga pendidikan kader dengan meniru pola pesantren, khususnya pesantren yang ada di Malangbong, Garut- di Malangbong, kampung mertuanya. Namun ide ini tak mendapat restu dari ajengan Yusuf. Suffah Institut pun tak berlanjut; beberapa dari mereka kembali ke desa masing-masing.

Saat Jepang masuk ke Indonesia, Kartosoewirjo bergabung dengan Madjlis Islam 'Alaa Indonesia (MIAI) dan di Jawa Hokokai. Bahkan dia aktif membina gerilyawan-gerilyawan di sekitar Banten dan memimpin sebuah laskar Hisbullah yang berbasis di Malangbong, “Laskar-laskar binaan Kartosoewirjo ini tidak pernah dirangkul pemerintah saat itu,” kata Fadli Zon.

Pada 1949, Indonesia mengalami suatu perubahan politik. Saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, Kartosoewirjo yang kecewa dengan hasil keputusan Renville mendirikan sebuah negara Islam pada 7 Agustus 1949 di desa Cisampak, kecamatan Cilugalar, kabupaten Tasikmalaya. Upaya ini dinilai pemerintah sebagai pemberontakan, dan segera mengambil langkah strategis guna menumpasnya.

Mendeklasarikan berdirinya sebuah negara Islam, sebetulnya sudah menderu dalam jiwa Kartosoewirjo sejak mendengar Jepang kalah atas sekutu, 6 Agustus 1945. Deklarasi direncanakan pada 14 Agustus 1945. Saat itu Kartosoewirjo yang sudah pindah ke Jakarta meminta Kiai Yusuf untuk memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII), namun ditolak Kiai Yusuf. Tahun 1946, Kartosoewirjo yang aktif sebagai Wakil Masyumi daerah Priangan tetap konsisten sikap politiknya dengan sikap nonkooperatif pada kaum penjajah. Ia menolak perjanjian Linggarjati dan Renville. Ia dan laskar Hizbullah yang dibentuknya menolak meninggalkan Jawa Barat untuk hijrah ke Yogyakarta. Lalu bersama laskar Hizbullah dari Cirebon, Cicalengka, dan Blubur-Garut yang berada di bawah pimpinan Zainal Abidin, ia membentuk TII (Tentara Islam Indonesia).

Saat Republik Indonesia Serikat bubar pada 17 Agustus 1950, Kartosoewirjo yang setahun sebelumnya telah mendeklarasikan NII yakin itu sebagai bentuk kegagalan sistem pemerintahan yang sekuler yang bernama Republik Indonesia. Melalui suratnya kepada Presiden RI Sukarno, ia mengajak untuk menjadikan Islam sebagai landasan negara, tapi tidak ditanggapi. Pada 1950-1952 pihak DI/TII kemudian banyak melakukan inistiatif serangan pada pemerintah RI. Kota-kota atau pos polisi diserang tidak hanya malam, tapi juga siang hari. Butuh waktu sebelum akhirnya gerakan DI/TII ini dapat dilumpuhkan oleh TNI, dan Kartosoewirjo berhasil dibekuk.

Kartosoewirjo mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung kotak-kotak. Sebatang rokok tak pernah lepas dari himpitan jemarinya. Di pertemuan itu, dia dan keluarga bersantap siang. Bila sang istri dan anak-anaknya melahap menu daging rendang khas masakan Padang yang disajikan, Kartosoewirjo enggan memakannya.

Usai santap siang, mereka bersenda-gurau. Anak-anak Kartosoewirjo terlihat begitu tabah ketika oditur militer meminta ayah mereka memberi pesan terakhir. Kartosoewirjo berpikir sejenak dan lalu berbicara kepada keluarga.

“Saya tidak ikut, waktu itu usia saya baru lima tahun. Tapi tak ada pesan penting yang disampaikan bapak waktu itu, karena pertemuan itu kan juga dijaga sama tentara,” kata Sardjono.

Lalu keluarga itu berkumpul untuk pengambilan gambar. Kartosoewirjo duduk sebanjar dengan istri, lalu tiga putrinya, Kartika, Komalasari, dan Danti. Di belakangnya berdiri dua putra mereka, Tahmid Basuki Rahmat dan Dodo Mohammad Darda. Begitu kaku. Darda dan Komalasari membuang tatapan mereka dari lensa kamera, sedang Dewi Siti Kalsum tampak terpejam, mungkin karena pengaruh lampu blitz.

Usai pertemuan, Kartosoewirjo melakukan salat taubat. Setelah itu seorang tentara, mungkin seorang imam dari seksi kerohanian TNI, memberikan wejangan. Kartosoewirjo menyimaknya dengan memejamkan mata.

Seorang petugas datang, memborgol tangannya, dan membawanya ke sebuah ruang tunggu. Jam tangan Rolex-nya dilepas, dan sejumlah barang lain diserahkan ke keluarga.Di ruang tunggu yang lebih mirip gudang itu, Kartosoewirjo masih sempat menikmati sebatang rokok, sebelum mobil tahanan membawanya menuju kapal PGM.

Di atas kapal PGM, Kartosoewirjo berbaring di ranjang. Kepalanya diganjal bantal. Seorang petugas dengan baret duduk di sisi ranjangnya. Di ujung ranjang ada dua petugas bersenjata. Kartosoewirjo menatap langit-langit. Dia mengatupkan dua tangannya yang terborgol dan menaruhnya di atas perut.

Tak lama, dia dibawa petugas untuk pindah ke kapal LCM (Landing Craft Mechanized), kapal yang membawa dirinya ke Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, tempat dia diekseksusi dan dimakamkan. “Melalui rangkaian foto ini setidaknya bisa diketahui kalau Kartosoewirjo dimakamkan di Pulau Ubi bukan di Onrust seperti yang diyakini selama ini,” kata Fadli Zon.

Selain itu, foto ini menepis kabar tak sedap yang menyebutkan kalau Kartosoewirjo diperlakukan secara tak Islami ketika dieksekusi mati. “Ternyata dia diperlakukan secara Islami, disalatkan. Dengan foto ini, kontroversi dan imajinasi yang mengawang-awang tersingkap,” kata Mohammad Iskandar.

Kisah Kedekatan Mayjen Ibrahim Adjie dengan Para Prajuritnya

Nama Mayor Jenderal Ibrahim Adjie ikut mencuat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ia yang merupakan Pangdam Siliwangi (1960-1966) dan loyalis Bung Karno marah besar saat tidak mengetahui keberadaan Bung Karno saat peristiwa berdarah ini karena ia merasa bertanggung jawab harus ikut melindungi Sang Pemimpin Besar.

Di kalangan prajurit-prajurit Siliwangi, nama Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie adalah legenda. Selain sosoknya yang kharismatik, ia juga dikenal sebagai seorang Jenderal yang egaliter dan dekat dengan para anak buahnya. Begitu dekatnya, hingga Adjie tak segan-segan turun langsung ke lapangan bahkan ke palagan sekalipun.

“Waktu Operasi Pagar Betis pada awal 1960-an, ayah saya tak jarang menyertai langsung para prajurit yang tengah menghadapi gerilyawan Darul Islam pimpinan Kartosoewirjo di hutan-hutan Jawa Barat,” ujar Kiki Adjie.


Mayjen Ibrahim Adjie (kanan) bersama Menpangad Letjen Ahmad Yani yang gugur pada 1 Oktiber 1965

Menurut salah satu putra dari Ibrahim Adjie tersebut, kendati seorang panglima, Ibrahim tak pernah berlaku sok berwibawa. Alih-alih jaim, ia justru sangat berbaur dan berusaha “tak berjarak” dengan para prajuritnya. Adjie sadar, para prajurit adalah garda terdepan saat menghadapi musuh-musuh negara. Karena itu apresiasi dan penghargaan seorang komandan mutlak harus dijalankan kepada mereka.

Ada sebuah kisah yang mencerminkan kedekatan Adjie dengan para anak buahnya. Ceritanya, pada 1961, Adjie mengundang semua atase militer asing di Jakarta untuk melihat Jawa Barat. Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya pembuktian kepada perwakilan negara-negara di dunia bahwa wilayah Jawa Barat sudah aman dari gangguan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Rute perjalanan rombongan panglima dan para atase militer asing itu dimulai dari Bandung lalu sampai ke Pangandaran. Karena jalan yang masih jelek berbatu, hampir sebagian besar anggota rombongan menjadi kelelahan. Karena itu, sampai di Kalipucang, Ibrahim memerintahkan rombongan untuk beristirahat sejenak. Nasi berbungkus daun pisang lantas dibagikan kepada pengawal dan anggota rombongan termasuk panglima Divisi Siliwangi yang juga mendapat sebungkus.

Acara makan dilakukan secara bersama-sama. Tak ada batas antara perwira, bintara dan tamtama, semuanya menyatu. Saat acara makan baru dimulai, Ibrahim menengok bungkus nasi salah seorang prajurit pengawal yang sedang asyik menyantap jatah nasi bungkusnya.

Geuningan sangu maneh mah euweuh dagingan (Kok nasi bungkus milik kamu tidak ada dagingnya?)," kata panglima.

Menyaksikan hal tersebut, Adjie kemudian menyodorkan jatah nasi bungkusnya kepada prajurit itu: “Ini saja makan sama kamu,” katanya.

Ditawari secara tiba-tiba oleh panglimanya, prajurit itu sigap berdiri menerima nasi bungkus sambil berseru: “Siappp!” lalu ia terbatuk-batuk dan mulutnya menghamburkan nasi yang sedang dikunyah.

Euh, maneh mah (Halah, kamu ini),” kata Adjie sambil menyodorkan air minum.

Lantas Ajudan Panglima yang bernama Kapten Ramdhani dengan setengah memaki berkata kepada prajurit itu: “Maneh mah, ari samutut tong ngajawab! (Kamu ini, kalau mulut lagi penuh makanan ya jangan jawab!). Semua anggota rombongan kontan tertawa menyaksikan kejadian itu.

Monday, September 21, 2020

Kisah Keluarga Mafia Narkoba Pablo Escobar Banting Setir dari Bisnis Narkoba ke Smartphon

Pablo Escobar dikenal luas sebagai gembong narkoba terkaya di dunia. Selama hidupnya, Escobar berhasil mengumpulkan harta kekayaan mencapai USD 25 miliar. Namun pada tahun 1993, resimen khusus polisi Kolombia menembak mati dirinya. Perlu diketahui, Pablo Escobar juga sebagai pimpinan Kartel Medellin.


Pablo Escobar


Kartel ini merupakan sebuah organisasi pemasok dan penyelundup narkoba yang berada di Medellin Kolombia, dan mengirim narkoba ke Bolivia, Kolombia, Honduras, Peru, Amerika Serikat, Kanada hingga Eropa.


Setelah Pablo Escobar tiada, pihak keluarga kini membangun sebuah perusahaan baru dan meninggalkan bisnis haram tersebut. Perusahaan tersebut bergerak di bidang teknologi, yakni membuat smartphone canggih. Berikut usaha baru keluarga Pablo Escobar dengan jualan smartphone canggih.


Perusahaan smartphone Pablo Escobar dipimpin oleh sang adik, Robert Escobar. Dia merilis smartphone layar lipat, Pablo Escobar Fold 1 melalui perusahaan investasi miliknya, Escobar Inc.


Sebelumnya, Roberto merupakan mantan akuntan sekaligus co-founder Kartel Medellin. Ia meninggalkan bisnis haram keluarga dalam bidang narkotika dan memulai bisnis teknologi.


Perusahaan Escobar Inc didirikan pada 1984. Perusahaan ini mengelola aset milik keluarga Pablo Escobar dengan tujuan mencapai Tingkat Pengembalian Internal yang tinggi.


Perusahaan Escobar Inc mengelola dan memiliki semua kekayaan intelektual yang berkaitan dengan Pablo Escobar, seperti hak cipta, merek dagang, dan semua hak.


Smartphone Pablo Escobar Fold 1 Bisa dilipat

Perangkat ini dibuat oleh Escobar Inc. Desainnya dikerjakan di Amerika Serikat dan dibuat di Hong Kong. Pablo Escobar Fold 1 memiliki desain dan teknologi unik. Produksi Pablo Escobar Fold 1 juga terbatas, hanya 100 unit.


"Saya telah membuat salah satu smartphone layar lipat pertama di dunia. Hal ini berkat produksi yang efektif, tak ada kesepakatan tertentu dengan peritel," kata Robert.


Harga smartphone layar lipat ini terbilang murah. Roberto mengatakan, perusahaannya bisa tetap membuat smartphone yang lebih murah ketimbang pabrikan lainnya.


"Escobar Fold 1 merupakan smartphone terbaik di dunia saat ini," tuturnya.


Kecanggihan Pablo Escobar Fold 1

Mirip dengan smartphone pada umumnya, Pablo Escobar Fold 1 memiliki sistem operasi Android 9 dan CPU Snapdragon seri 8. Ketika layarnya dibuka, perangkat ini bisa menjadi sebuah tablet.


Kemudian, Pablo Escobar Fold 1 memiliki dua kamera dengan resolusi 16MP dan 20MP. Escobar Fold 1 juga hadir dengan dua layar jenis AMOLED dengan total berukuran 7,8 inci.


Smartphone Escobar Fold


Smartphone layar lipat ini juga dibekali dengan pemindai sidik jari, loudspeaker, editor dokumen, suara HD, dan noise cancellation untuk membuat suara tetap jernih.


Spesifikasi Pablo Escobar Fold 1

Pablo Escobar Fold 1 memiliki spesifikasi yang mumpuni. Smartphone canggih ini memiliki memori RAM 6GB/8GB dan ROM 128GB/512GB. Bahkan memori eksternal mencapai 256GB.


Smartphone ini juga dilengkapi dengan baterai 4,000 mAh Lithium-Polymer, 5V/5A

Wednesday, July 15, 2020

Hot News: Janda Cantik Ini Jual Rumah dan Siap Dinikahi oleh Pembelinya

Unggahan seorang wanita muda yang ingin menjual rumah mendadak viral di media sosial.

Unggahan tersebut menjadi ramai dikomentari lantaran wanita tersebut bersedia menikah dengan orang yang membeli rumahnya.

Wanita tersebut adalah Metha Kanzul.

Metha Kanzul.

Metha pernah menikah sebelumnya. Kini dia berstatus janda dan tinggal dengan satu anak laki-laki. Metha berasal dari daerah Mesu, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung.

"Iya mau jual rumah," kata Metha pada Selasa (14/7/2020). Metha menuturkan, jika pembeli rumah ada jodoh dengan dirinya, maka dia pun siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Betha Kanzul.

"Jika baik agama dan akhlaknya, bisa bimbing Metha dan anak Metha untuk lebih baik lagi," ujar wanita berjilbab yang berusia 30 tahun itu.

Adapun rumah yang ditawarkan Metha berlokasi di Air Mesu Timur. Rumah itu berukuran lebar 12 meter dan panjang 24 meter. Harga rumah yang ditawarkan Rp 185 juta.

"Nanti kalau terjual, mau tinggal di rumah orangtua di kebun. Di sana ada rumah, selama ini Emak tinggal di sana, terpisah-pisah," ujar Metha.

Hanya beberapa jam setelah diunggah, unggahan Metha langsung direspons oleh puluhan warganet. Unggahan tersebut juga beredar di berbagai grup percakapan WhatsApp.

Para warganet memberikan dukungan agar Metha bisa menjual rumahnya dan segera mendapatkan jodoh. "Semoga bertemu jodoh pembeli yang amanah," tulis salah satu akun Facebook.

Sumber: Kompas

Ini Daftar Sebaran Kasus Covid-19 di 267 Kelurahan Jakarta

Jumlah pasien positif Covid-19 di DKI Jakarta bertambah 279 orang hingga Senin (13/7/2020).



Dengan demikian, jumlah akumulatif kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta adalah 14.640 orang. Dari total keseluruhan jumlah pasien positif Covid-19, sebanyak 9.408 orang dinyatakan telah sembuh dan 710 orang meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 597 pasien positif Covid-19 masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 3.925 orang melakukan isolasi mandiri di rumah.

Berdasarkan informasi di situs web corona.jakarta.go.id hingga Senin pukul 09.00 WIB, tempat tinggal pasien positif Covid-19 tersebar di 267 kelurahan di Jakarta.

Kasus terbanyak terdapat di Pademangan Barat, Jakarta Utara, dengan 196 pasien. Kemudian, disusul Kelurahan Sunter Agung, Jakarta Utara, dengan 179 pasien; dan Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan 175 kasus.

Sementara itu, tercatat 0 kasus Covid-19 di dua kelurahan, yakni Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara; dan Roa Malaka, Jakarta Barat.

Berikut daftar penyebaran Covid-19 di 267 kelurahan di wilayah DKI Jakarta:
1. Ancol, Jakarta Utara : 37 kasus
2. Angke, Jakarta Barat : 36 kasus
3. Bale Kambang, Jakarta Timur : 21 kasus
4. Bali Mester, Jakarta Timur : 6 kasus
5. Bambu Apus, Jakarta Timur : 18 kasus
6. Bangka, Jakarta Selatan : 24 kasus
7. Baru, Jakarta Timur : 13 kasus
8. Batu Ampar, Jakarta Timur : 32 kasus
9. Bendungan Hilir, Jakarta Pusat : 26 kasus
10. Bidara Cina, Jakarta Timur : 58 kasus
11. Bintaro, Jakarta Selatan : 64 kasus
12. Bukit Duri, Jakarta Selatan : 33 kasus
13. Bungur, Jakarta Pusat : 19 kasus
14. Cakung Barat, Jakarta Timur : 18 kasus
15. Cakung Timur, Jakarta Timur : 18 kasus
16. Cawang, Jakarta Timur : 32 kasus
17. Ceger, Jakarta Timur : 6 kasus
18. Cempaka Baru, Jakarta Pusat : 67 kasus
19. Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat : 120 kasus
20. Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat : 87 kasus
21. Cengkareng Barat, Jakarta Barat : 42 kasus
22. Cengkareng Timur, Jakarta Barat : 66 kasus
23. Cibubur, Jakarta Timur : 34 kasus
24. Cideng, Jakarta Pusat : 24 kasus
25. Ciganjur, Jakarta Timur : 21 kasus
26. Cijantung, Jakarta Timur : 26 kasus
27. Cikini, Jakarta Pusat : 11 kasus
28. Cikoko, Jakarta Selatan : 11 kasus
29. Cilandak Barat, Jakarta Selatan : 45 kasus
30. Cilandak Timur, Jakarta Selatan : 15 kasus
31. Cilangkap, Jakarta Timur : 17 kasus
32. Cililitan, Jakarta Timur : 23 kasus
33. Cilincing, Jakarta Utara : 46 kasus
34. Cipayung, Jakarta Timur : 29 kasus
35. Cipedak, Jakarta Selatan : 22 kasus
36. Cipete Selatan, Jakarta Selatan : 10 kasus
37. Cipete Utara, Jakarta Selatan : 20 kasus
38. Cipinang, Jakarta Timur : 31 kasus
39. Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur : 21 kasus
40. Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur : 43 kasus
41. Cipinang Cempedak, Jakarta Timur : 12 kasus
42. Cipinang Melayu, Jakarta Timur : 30 kasus
43. Cipinang Muara, Jakarta Timur : 45 kasus
44. Cipulir, Jakarta Selatan : 46 kasus
45. Ciracas, Jakarta Timur : 43 kasus
46. Dukuh, Jakarta Timur : 18 kasus
47. Durem Sawit, Jakarta Timur : 64 kasus
48. Duren Tiga, Jakarta Selatan : 13 kasus
49. Duri Kepa, Jakarta Barat : 93 kasus
50. Duri Kosambi, Jakarta Barat : 29 kasus
51. Duri Pulo, Jakarta Pusat : 19 kasus
52. Duri Selatan, Jakarta Barat : 15 kasus
53. Duri Utara, Jakarta Barat : 19 kasus
54. Galur, Jakarta Pusat : 27 kasus
55. Gambir , Jakarta Pusat : 10 kasus
56. Gandaria Selatan, Jakarta Selatan : 8 kasus 57.
Gandaria Utara, Jakarta Selatan : 18 kasus
58. Gedong, Jakarta Timur : 41 kasus
59. Gelora, Jakarta Pusat : 12 kasus
60. Glodok, Jakarta Barat : 3 kasus
61. Gondangdia, Jakarta Pusat : 16 kasus
62. Grogol, Jakarta Barat : 40 kasus
63. Grogol Selatan, Jakarta Selatan : 42 kasus
64. Grogol Utara, Jakarta Selatan : 71 kasus
65. Guntur, Jakarta Selatan : 4 kasus
66. Gunung, Jakarta Selatan : 11 kasus
67. Gunung Sahari Selatan, Jakarta Pusat : 13 kasus
68. Gunung Sahari Utara, Jakarta Pusat : 24 kasus
69. Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur : 32 kasus
70. Harapan Mulia, Jakarta Pusat : 51 kasus
71. Jagakarsa, Jakarta Selatan : 38 kasus
72. Jati. Jakarta Timur : 38 kasus
73. Jati Padang, Jakarta Selatan : 25 kasus
74. Jati Pulo, Jakarta Barat : 77 kasus
75. Jatinegara, Jakarta Timur : 42 kasus
76. Jatinegara Kaum, Jakarta Timur : 4 kasus
77. Jelambar, Jakarta Barat : 39 kasus
78. Jelambar Baru : 26 kasus
79. Jembatan Besi, Jakarta Barat : 90 kasus
80. Jembatan Lima, Jakarta Barat : 8 kasus
81. Joglo, Jakarta Barat : 34 kasus
82. Johar Baru, Jakarta Pusat : 104 kasus
83. Kali Anyar, Jakarta Barat : 25 kasus
84. Kali Baru, Jakarta Utara : 33 kasus
85. Kalibata, Jakarta Selatan : 39 kasus
86. Kalideres, Jakarta Barat : 60 kasus
87. Kalisari, Jakarta Timur : 33 kasus
88. Kamal, Jakarta Barat : 7 kasus
89. Kamal Muara. Jakarta Utara : 16 kasus
90. Kampung Bali, Jakarta Pusat : 18 kasus
91. Kampung Melayu, Jakarta Timur : 40 kasus
92. Kampung Rawa, Jakarta Pusat : 75 kasus
93. Kampung Tengah, Jakarta Timur : 88 kasus
94. Kapuk, Jakarta Barat : 38 kasus
95. Kapuk Muara, Jakarta Utara : 20 kasus
96. Karang Anyar, Jakarta Pusat : 46 kasus
97. Karet, Jakarta Selatan : 20 kasus
98. Karet Kuningan, Jakarta Selatan : 17 kasus
99. Karet Semanggi, Jakarta Selatan : 7 kasus
100. Karet Tengsin, Jakarta Pusat : 13 kasus
101. Kartini, Jakarta Pusat : 47 kasus
102. Kayu Manis. Jakarta Timur : 36 kasus
103. Kayu Putih, Jakarta Timur : 62 kasus
104. Keagungan, Jakarta Barat : 5 kasus
105. Kebagusan, Jakarta Selatan : 27 kasus
106. Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan : 32 kasus
107. Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan : 30 kasus
108. Kebon Baru, Jakarta Selatan : 35 kasus
109. Kebon Bawang, Jakarta Utara : 59 kasus
110. Kebon Jeruk, Jakarta Barat : 83 kasus
111. Kebon Kacang, Jakarta Pusat : 103 kasus
112. Kebon Kelapa, Jakarta Pusat : 9 kasus
113. Kebon Kosong, Jakarta Pusat : 54 kasus
114. Kebon Manggis, Jakarta Timur : 23 kasus
115. Kebon Melati, Jakarta Pusat : 78 kasus
116. Kebon Pala, Jakarta Timur : 27 kasus
117. Kebon Sirih, Jakarta Pusat : 34 kasus
118. Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat : 20 kasus
119. Kedoya Selatan, Jakarta Barat : 27 kasus
120. Kedoya Utara, Jakarta Barat : 27 kasus
121. Kelapa Dua, Jakarta Barat : 35 kasus
122. Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur: 28 kasus
123. Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara : 61 kasus
124. Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara : 50 kasus
125. Kemanggisan, Jakarta Barat : 42 kasus
126. Kemayoran, Jakarta Pusat : 47 kasus
127. Kembangan Selatan, Jakarta Barat : 32 kasus
128. Kembangan Utara, Jakarta Barat : 36 kasus
129. Kenari, Jakarta Pusat : 126 kasus
130. Kerendang, Jakarta Barat : 40 kasus
131. Klender, Jakarta Timur : 59 kasus
132. Koja, Jakarta Utara : 19 kasus
133. Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat : 78 kasus
134. Kota Bambu Utara, Jakarta Barat : 76 kasus
135. Kramat, Jakarta Pusat : 77 kasus
136. Kramat Jati, Jakarta Pusat : 22 kasus
137. Kramat Pela, Jakarta Selatan : 10 kasus
138. Krukut, Jakarta Barat : 26 kasus
139. Kuningan Barat, Jakarta Selatan : 9 kasus
140. Kuningan Timur, Jakarta Selatan : 8 kasus
141. Kwitang, Jakarta Pusat : 26 kasus
142. Lagoa, Jakarta Utara : 81 kasus
143. Lebak Bulus, Jakarta Selatan : 35 kasus
144. Lenteng Agung, Jakarta Selatan : 29 kasus
145. Lubang Buaya, Jakarta Timur : 24 kasus
146. Makasar, Jakarta Timur : 10 kasus
147. Malaka Jaya, Jakarta Timur : 28 kasus
148. Malaka Sari, Jakarta Timur : 34 kasus
149. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan : 15 kasus
150. Mangga Besar, Jakarta Barat : 4 kasus
151. Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat : 27 kasus
152. Manggarai, Jakarta Selatan : 17 kasus
153. Manggarai Selatan, Jakarta Selatan : 22 kasus
154. Maphar, Jakarta Barat : 76 kasus
155. Marunda, Jakarta Utara: 13 kasus
156. Melawai, Jakarta Selatan : 5 kasus
157. Menteng, Jakarta Pusat : 39 kasus
158. Menteng Atas, Jakarta Selatan : 31 kasus
159. Menteng Dalam, Jakarta Selatan : 37 kasus
160. Meruya Selatan, Jakarta Barat : 26 kasus
161. Meruya Utara, Jakarta Barat : 29 kasus
162. Munjul, Jakarta Timur : 16 kasus
163. Pademangan Barat, Jakarta Utara : 196 kasus
164. Pademangan Timur, Jakarta Utara : 37 kasus
165. Pal Meriam, Jakarta Timur : 49 kasus
166. Palmerah, Jakarta Barat : 110 kasus
167. Pancoran, Jakarta Selatan : 21 kasus
168. Papanggo, Jakarta Utara : 16 kasus
169. Pasar Baru, Jakarta Pusat : 19 kasus
170. Pasar Manggis, Jakarta Selatan : 32 kasus
171. Pasar Minggu, Jakarta Selatan : 23 kasus
172. Paseban, Jakarta Pusat : 88 kasus
173. Pegadungan, Jakarta Barat : 58 kasus
174. Pegangsaan, Jakarta Pusat : 115 kasus
175. Pegangsaan Dua, Jakarta Pusat : 46 kasus
176. Pejagalan, Jakarta Utara : 35 kasus
177. Pejaten Barat, Jakarta Selatan : 30 kasus
178. Pejaten Timur, Jakarta Selatan : 47 kasus
179. Pekayon, Jakarta Timur : 17 kasus
180. Pekojan, Jakarta Barat : 25 kasus
181. Pela Mampang, Jakarta Selatan : 22 kasus
182. Pengadegan, Jakarta Selatan : 15 kasus
183. Penggilingan, Jakarta Timur : 63 kasus
184. Penjaringan, Jakarta Utara : 175 kasus
185. Pesanggrahan, Jakarta Selatan : 16 kasus
186. Petamburan, Jakarta Pusat : 142 kasus
187. Petogogan, Jakarta Selatan : 6 kasus
188. Petojo Selatan, Jakarta Pusat : 27 kasus
189. Petojo Utara, Jakarta Pusat : 33 kasus
190. Petukangan Selatan, Jakarta Selatan : 9 kasus
191. Petukangan Utara, Jakarta Selatan : 34 kasus
192. Pinang Ranti, Jakarta Timur : 18 kasus
193. Pinangsia, Jakarta Barat : 4 kasus
194. Pisangan Barat, Jakarta Timur : 31 kasus
195. Pisangan Timur, Jakarta Timur : 31 kasus
196. Pluit, Jakarta Utara : 54 kasus
197. Pondok Bambu, Jakarta Timur : 85 kasus
198. Pondok Kelapa, Jakarta Timur : 71 kasus 1
99. Pondok Kopi, Jakarta Timur : 30 kasus
200. Pondok Labu, Jakarta Selatan : 39 kasus
201. Pondok Pinang, Jakarta Selatan : 55 kasus
202. Pondok Ranggon, Jakarta Timur : 12 kasus
203. Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara : 0 kasus
204. Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara : 1 kasus
205. Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara : 3 kasus
206. Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan : 2 kasus
207. Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan : 24 kasus
208. Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan : 2 kasus
209. Pulo, Jakarta Selatan : 6 kasus
210. Pulo Gadung, Jakarta Timur : 23 kasus
211. Pulo Gebang, Jakarta Timur : 51 kasus
212. Ragunan, Jakarta Selatan : 12 kasus
213. Rambutan, Jakarta Timur : 22 kasus
214. Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara : 45 kasus
215. Rawa Badak Utara, Jakarta Utara : 29 kasus
216. Rawa Barat, Jakarta Selatan : 7 kasus
217. Rawa Buaya, Jakarta Barat : 28 kasus
218. Rawa Bunga, Jakarta Timur : 11 kasus
219. Rawa Jati, Jakarta Selatan : 8 kasus
220. Rawa Terate, Jakarta Timur : 7 kasus
221. Rawamangun, Jakarta Timur : 28 kasus
222. Rawasari, Jakarta Pusat : 43 kasus
223. Roa Malaka, Jakarta Barat : 0 kasus
224. Rorotan, Jakarta Utara : 18 kasus
225. Selong, Jakarta Selatan : 6 kasus
226. Semanan, Jakarta Barat : 22 kasus
227. Semper Barat, Jakarta Utara : 82 kasus
228. Semper Timur, Jakarta Utara : 28 kasus
229. Senayan, Jakarta Selatan : 16 kasus
230. Senen, Jakarta Pusat : 37 kasus
231. Serdang, Jakarta Pusat : 37 kasus
232. Setia Budi, Jakarta Selatan : 4 kasus
233. Setu, Jakarta Timur : 8 kasus
234. Slipi, Jakarta Barat : 27 kasus
235. Srengseng, Jakarta Barat: 46 kasus
236. Srengseng Sawah, Jakarta Selatan : 34 kasus
237. Sukabumi Selatan, Jakarta Barat : 38 kasus
238. Sukabumi Utara, Jakarta Barat : 40 kasus
239. Sukapura, Jakarta Utara : 67 kasus
240. Sumur Batu, Jakarta Pusat : 23 kasus
241. Sungai Bambu, Jakarta Utara : 20 kasus
242. Sunter Agung, Jakarta Utara : 179 kasus
243. Sunter Jaya, Jakarta Utara : 137 kasus
244. Susukan, Jakarta Timur : 25 kasus
245. Taman Sari, Jakarta Barat : 11 kasus
246. Tambora, Jakarta Barat : 7 kasus
247. Tanah Sereal, Jakarta Barat : 40 kasus
248. Tanah Tinggi, Jakarta Pusat : 85 kasus
249. Tangki, Jakarta Barat : 12 kasus
250. Tanjung Barat, Jakarta Selatan : 33 kasus
251. Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat : 48 kasus
252. Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat : 21 kasus
253. Tanjung Priok, Jakarta Utara : 60 kasus
254. Tebet Barat, Jakarta Selatan : 38 kasus
255. Tebet Timur, Jakarta Selatan : 22 kasus
256. Tegal Alur, Jakarta Barat : 28 kasus
257. Tegal Parang, Jakarta Selatan : 22 kasus
258. Tomang, Jakarta Barat : 94 kasus
259. Tugu Selatan, Jakarta Utara : 26 kasus
260. Tugu Utara, Jakarta Utara : 51 kasus
261. Ujung Menteng, Jakarta Timur : 9 kasus
262. Ulujami, Jakarta Selatan : 32 kasus
263. Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur : 56 kasus
264. Utan Kayu Utara, Jakarta Timur : 23 kasus
265. Utan Panjang, Jakarta Pusat : 24 kasus
266. Warakas, Jakarta Utara : 48 kasus
267. Wijaya Kusuma, Jakarta Barat : 21 kasus