Saturday, December 12, 2015

Pramugari Undercover 2: Pengakuan Skandal Sang Mantan Pramugari

Pramugari merupakan profesi dambaan setiap wanita yang (merasa) berparas cantik. Daya tarik profesi ini adalah besarnya remunerasi (gaji) dan kesempatan gratis melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang disinggahi pesawat maskapai penerbangan yang diawakinya.

Namun dibalik gemerlapnya profesi pramugari, ternyata ada banyak hal yang selama ini tertutup rapat dan tidak pernah diketahui publik. Hanya kalangan tertentu saja yang tahu.

Tulisan ini bisa terwujud atas kesempatan wawancara dengan salah satu mantan pramugari maskapai penerbangan di Indonesia atas kebaikan salah satu keponakannya yang juga pramugari yang kebetulan adalah kawan baik saya. Nama dan identitas narasumber dirahasiakan.

Menjadi pramugari adalah cita-cita Lina (sebut saja begitu) sejak lulus SMA di sebuah kota berhawa sejuk di Jawa Timur. Sebagai anak tunggal, ia sebenarnya sudah dipersiapkan untuk menjadi pewaris usaha keluarganya yang berbisnis mulai dari kuliner, transportasi, IT hingga otomotif. Namun ia lebih memilih menjadi pramugari karena beralasan ingin melihat dunia dan untuk melawan rasa takutnya berada diluar rumah sendirian.

Jadilah wanita berparas cantik dan bertubuh padat keturunan Belanda-Portugis-Spanyol-Jawa-Manado ini pergi ke Jakarta dengan diantar oleh kedua orangtuanya untuk mendaftar dan mengikuti seleksi untuk menjadi pramugari sebuah maskapai penerbangan nasional yang agresif melakukan ekspansi.

Skandal Seks Pramugari
Lina sang mantan pramugari. Ada beberapa bagian dalam foto ini yang harus disensor demi menjamin privasi dan anonimitas

Singkat kata, ia berhasil diterima sebagai lulusan terbaik di angkatannya (batch). Hal ini bisa dimaklumi karena ia mempunyai kemampuan bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Belanda yang fasih. Dan yang luar biasa, ia bisa mengatasi rasa takutnya. Ia bisa mandiri mengurus dirinya selama pelatihan di Tangerang beberapa bulan.

Akhirnya tibalah kesempatan pertamanya untuk terbang. Pertama kalinya terbang, Lina mendapat tugas dinas terbang ke Denpasar-Jakarta-Medan-Jakarta. Ia merasa bangga mengenakan seragam pramugari yang sudah terkenal dan melihat dirinya lebih cantik dari biasanya. Ia mengaku, saat terbang pertamanya sebagai cabin crew pesawat B737-800, ia menjadi pusat perhatian para penumpang dan awak lain yang rata-rata belum pernah dikenalnya.

Walau merasa percaya diri dan telah memahami semua materi pelatihan serta prosedur standar penerbangan, ia mengaku sempat sangat grogi karena tugas terbang pertamananya merupakan salah satu tes sebagai prasyarat untuk menjadi pramugari yang sebenarnya. Untunglah ia mendapat penilaian baik dari kepala pramugari yang bertugas sehingga ia memenuhi syarat untuk terbang sebagai kru.

Lina yang dulunya introvert dan penakut kini menjadi seorang wanita yang amat percaya diri.

Menjadi pramugari memang awalnya menyenangkan. Ia bisa berlibur gratis ke berbagai tempat kala pesawatnya RON (Remain Over Night) atau menginap di kota tujuan. Setiap kali RON ia dan teman-teman sesama pramugari menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, menikmati kuliner dan berbelanja. Lina paling suka kala pesawatnya RON di Bali.

Selama 2 bulan bekerja memang rasanya enak. Ia mendapat job terbang hampir tiap hari. Namun, setelahnya ia merasakan "kejanggalan" setelah setahun menjadi pramugari. Jadwal terbangnya berkurang. Hal ini berkebalikan dengan teman sekamarnya, Putri (nama samaran) yang jadwal terbangnya selalu sibuk dan jarang pulang karena selalu RON di luar kota. Beberapa teman satu batch-nya (seangkatannya) pun sebagian besar juga mengantongi lebih banyak jam terbang daripada dirinya. Kecuali Angel, seorang wanita Kristen taat asal Manado yang menjadi teman baiknya yang ia kenal selama pelatihan yang nasibnya sama seperti dirinya yaitu jam terbangnya berkurang.

Jam terbang berkurang sama artinya dengan berkurangnya insentif yang diterima. Maklum, kata Lina, namanya juga wanita muda dan ingin menikmati hidup serta menabung banyak demi masa depan, apa salahnya sih sedikit matre? (ia lantas berderai tawa setelah mengucapkannya).

Hal ini membuat dirinya bertanya-tanya? "Mengapa gadis secantik dan sebaik Angel nasibnya kurang beruntung sama seperti diriku?". Sama seperti dirinya, Angel tidak merokok, minum minuman keras atau berpesta gila-gilaan di klub malam seperti yang dilakukan teman lainnya. Ia dan Angel lebih suka menghabiskan waktu, di kamar, di restoran atau lobby hotel untuk menghubungi anggota keluarga mereka melalui fasilitas Wifi gratis.

Hingga akhirnya, secara kebetulan ia mendapat tugas terbang bareng Putri dan RON di Balikpapan. Saat itu pulalah semua pertanyaannya terungkap karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah hal yang seharusnya tidak pernah ia lihat dan tidak pernah mau ia alami.

Saat bertugas hari itu, Lina merasakan ada yang aneh dari teman-temannya. Mereka seolah enggan berbicara dengannya, mereka bersikap seperlunya, tersenyum seperlunya kecuali Putri yang merupakan seniornya karena batch pramugari Putri satu tingkat diatas Lina. Jadi Putri sudah mengantongi banyak jam terbang. 

Selain itu, Lina pun merasakan kapten yang memiloti pesawat tersebut selalu memperhatikannya setelah briefing dan ketika ia sedang bekerja membersihkan pesawat bersama teman-temannya sebelum ke hotel. Sang pilot bule asal negeri tetangga yang berwajah tampan dan berusia muda ini mengajaknya bicara sekilas dan mengatakan bahwa belum pernah melihat Lina sebelumnya.

Setelah membersihkan diri di hotel, Lina yang sekamar dengan Putri, lantas pergi keluar untuk makan. Sedangkan Putri emilih di kamar saja. Setelah makan, Lina tak langsung kembali ke kamar namun menyempatkan waktu untuk keluar menikmati suasana malam kota Balikpapan.

Ketika ia kembali ke kamar, ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh Putri yang hanya berbalut handuk. Alangkah terkejutnya Lina karena di kamar tersebut juga ada pilot bule tampan tadi sedang berbaring di ranjang dengan tubuh ditutupi selimut. Sang pilot tersenyum menggoda kepadanya. Lina hanya bisa berpura-pura bodoh dan berpura-pura tidak melihat sembari berkata "Saya akan kembali lagi nanti. Mbak Putri, bisa tolong hubungi HP saya setelah beres?".

Baru saja membalikkan badan dan melangkah ke pintu, tiba-tiba Putri menarik tangannya. Lina masih ingat dengan jelas percalapan dirinya dengan Putri dan kejadian menjijikkan yang (terpaksa) ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

"Lin, tunggu, sebaiknya lo disini aja. Demi kebaikan lo", bujuk Putri.

"Maksudnya, apa mbak?"

"Ya, lo disini aja. Diam saja. Pura-pura saja ngga tahu dan ngga lihat apa-apa. Nonton TV lah" ujar Putri. Dan Lina pun mengiyakan.

Di situlah ia melihat dari dekat, dengan mata kepalanya sendiri (walau ia berpura-pura tidak melihat) menyaksikan teman sekamarnya "bermain gila" dengan pilot bule tersebut. Sambil menggelengkan kepala dan tersenyum tipis Lina berkata, "Itu hal yang tak pernah ingin saya lihat dan saya lakukan. Sungguh merupakan menit-menit neraka dalam hidup saya menyaksikan hal demikian. Saya masih ingat bagaimana keduanya saling mengguncang tubuh di ranjang dan bagaimana rintihannya."

Ketika peristiwa "aneh" tersebut sudah selesai. Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi, sang pilot bule berkata, "Maukah kamu saya bantu agar kamu sering terbang?"

Dengan polos Lina mengiyakan "Yes, Captain"

"OK"

Dalam hati Lina merasa senang karena ada pilot bule tampan yang bersedia membantunya, entah bagaimana caranya. Namun kegembiraannya langsung buyar seketika saat Putri menjelaskan hal tersebut ketika sang pilot bule sudah meninggalkan kamar mereka.

"Lo akan sering terbang, namun ada hal yang harus lo bayar", ujar Putri. "Lo harus mau lakukan hal yang terpaksa gue lakukan barusan, agar lo sering dapat schedule terbang".

Mendengar Putri berkata demikian, Lina merasa tersentak. Baginya, hal tersebut adalah "satu-satunya hal yang paling tidak ingin saya lakukan". Bagaimana mungkin ia menggadaikan kehormatan dirinya sama seperti pelacur?

Namun Putri meyakinkan, "Percaya deh, kalau loe nggak mau, gue pastikan schedule lo akan gitu-gitu saja"

Putri menjelaskan bahwa mengapa tadi di pesawat, rekan pramugari lain bersikap seadanya kepada Lina. Itu karena mereka semua pernah "dipakai". Jadi mereka merasa iri terhadap Lina yang masih mereka anggap "hijau" namun sudah terbang bersama mereka. Dan sang pilot bisa "mengatur" dengan siapa saja (pramugari) ia terbang

Dalam kebimbangannya, Lina meneguhkan hati bahwa ia akan terus mempertahankan kehormatannya. Sempat terpikir niatnya untuk resign saja. Namun ia semakin bimbang karena dia baru bekerja sebagai pramugari selama 6 bulan saja. Kalau dia resign secepat itu, bagaimana kata keluarganya, khususnya sang ibu? Bisa-bisa ia mendapat malu karena bisa saja dikatakan "cemen, tidak kompeten, atau hal negatif lain".

Akhirnya ia urungkan niat untuk resign, setidaknya sampai kira-kira 2 tahun.

Dan tentu saja ia merasa semakin tak nyaman dalam bekerja. Hingga suatu hari, singkat kata, setelah 11 bulan bekerja dengan jam terbang yang "begitu-begitu saja", ia dihubungi oleh pilot bule tersebut yang bernama Vincent (nama samaran) tersebut.

"Awal bulan depan kamu akan menjadi kru saya ke Lombok, dan nampaknya kita akan sering terbang bersama. Jangan takut, persiapkan saja dirimu"

Lina menunjukkan isi pesan di ponselnya tersebut kepada Putri yang saat itu kebetulan sedang mendapat off sehari. Putri menjelaskan bahwa itu merupakan sinyal.

"Lo harus siap. Tapi percayalah, lo akan lebih sering terbang. Pilot tidak pernah ingkar janji.

Singkat kata, Lina "menyerahkan dirinya" kepada sang pilot tersebut di sebuah hotel di Lombok saat RON. Dan benar, jam terbangnya bertambah drastis. Lina selalu berusaha bersikap wajar walau pikirannya menjadi bercabang-cabang. Oh, ya, ia tidak pernah mengkhawatirkan dirinya hamil karena saat melakukannya mereka menggunakan pengaman.

Lina dan sang pilot melakukan hal tersebut sampai 5 kali. Ia mengaku bahwa ia tidak pernah menikmatinya, tetapi hanya pura-pura saja. Walaupun ia berusaha untuk menikmati....

Namun, ia tidak terlalu lama terbang bareng dengan Vincent. Ia hanya mengingat, bahwa ia dan Vincent terbang bareng 12 kali. Selanjutnya ia "diincar" oleh pilot lain dan tentu saja juga melakukan hal tersebut berulangkali. Lina mengatakan secara tegas bahwa dari 12 kali terbang bareng Vincent, ia "melakukan" dengan Vincent hanya 3 kali saja.

Lina menceritakan bahwa ada para pilot memang kerap "mengincar" pramugari yang berparas cantik dan bertubuh menarik. Apalagi kalau mereka merupakan pramugari baru yang minim jam terbang. Hampir semua pramugari saling "bersaing" secara terselubung untuk memuaskan pilot sehingga mereka sering diajak terbang. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau setiap kali terbang, setiap pramugari selalu mendapat rekan yang berbeda di pesawat. Jarang sekali mendapat rekan terbang yang sama sekaligus. 

Kelakuan para pilot ini memang beragam. Ada pilot yang suka memberikan hadiah kepada pramugari kesayangannya. Ada pilot yang terlibat percintaan beneran dengan pramugari. Ada pilot yang suka "melakukan" secara beramai-ramai dengan beberapa pramugari sekaligus. Untuk yang terakhir ini, Lina secara tegas menolaknya.

Oleh karena itu, tak jarang para pramugari yang sudah menikah mengalami keretakan dan kehancuran dalam rumah tangganya. Di maskapainya pula, secara tegas Lina mengatakan bahwa banyak pramugari yang memang menyambi kerja sebagai wanita panggilan dengan bayaran sangat mahal (maklum saja pramugari). Sudah rahasia umum bahwa maskapai tempatnya bekerja merupakan gudangnya para pramugari "nakal".

Bisa dimaklumi karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai dari lulusan SMA, mahasiswa, sarjana, SPG dan bahkan ada yang sebenarnya sudah menjadi wanita panggilan sebelum menjadi pramugari. Jadi karena mereka menjadi pramugari, maka mereka "naik kelas" sehingga tarifnya pun "aduhai".

Lina sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut, ia hanya terpaksa saja. Dan karena ia merasa tidak nyaman dalam bekerja serta muak terus menerus melihat kemunafikan, ia memutuskan berhenti menjadi pramugari setelah 3 tahun bekerja. Selama 3 tahun itu jam terbangnya naik-turun. Jam terbang atau jadwalnya akan selalu penuh bagaikan kerja rodi, dan tentunya berbanding lurus dengan insentif yang ia terima dari maskapi apabila ia menerima tawaran dari seorang pilot.

Lina tidak tahu berapa kali rata-rata seorang pilot mendapat layanan ranjang dari seorang pramugari. Tetapi secara jujur ia memberikan gambaran bahwa dirinya tidak pernah melayani seorang pilot lebih dari 3 kali. Rata-rata 2 kali. Kebanyakan pilot merasa cepat bosan, sementara pilot lain beralasan "sudah cukup" dan "terima kasih".

Para pilot itu, sering secara acak terbang bareng para pramugari yang pernah "dipakai"-nya. Dan walau tidak "dipakai" lagi, hubungan para pilot dan pramugari tetap dekat, akrab dan akur seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka sebelumnya. Sebuah bentuk kemunafikan yang sangat kentara.

Selain itu, dia merasa lelah dengan jam kerja yang kadang melebihi ketentuan karena maskapainya memang sering delay, sehingga ia sering menghadapi pertanyaan dan gerutuan penumpang yang mau tak mau harus ia hadapi dengan sabar.

Lalu, sudah berapa pilot yang mengajaknya tidur. Dengan malu-malu, Lina mengatakan ada 7 pilot. Kebanyakan pilot lokal. Baginya, justru pilot lokal yang malahan kerap memperlakukan pramugari sebagai "budaknya" saat diranjang. sungguh berbeda dengan pilot bule yang jumlahnya hanya segelintir namun sangat menghargai perempuan.

Di usianya yang kini 35 tahun, Lina telah menikah dan memiliki seorang putri yang berusia 2 tahun. Suaminya yang bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan IT adalah seorang pria baik yang mau menerima dirinya apa adanya, terlebih soal masa lalunya. Ia sangat beruntung mempunyai suami yang sangat sayang dan pengertian. Dan kini ia pun juga mengurus bisnis keluarganya.

Ia menekankan bahwa ia tidak suka munafik. Mengenai keponakannya yang juga pramugari, ia pun tidak peduli karena itu bukan haknya untuk mengatur dan menghakimi, sebab sang keponakan sudah dewasa.

Demi suaminya yang ia sebut tanpa cela, ia rela melakukan apa saja. Ia selalu berusaha tampil menarik di depan suaminya, karena baginya itu adalah tanggung jawab seorang istri.

Lalu bagaimana kabar Angel? Angel kini melanjutkan kuliahnya di bidang bisnis di Australia. Ia hanya bekerja 2 tahun saja. Sedangkan Putri kini masih terbang sebagai pramugari.

Sesaat setelah saya mematikan rekaman yang dilakukan dengan smartphone, Lina memenuhi permintaan saya agar dirinya berfoto selfie untuk melengkapi artikel ini dengan perjanjian harus ada beberapa bagian dari foto tersebut yang harus disensor.

Ketika saya sudah sampai di pintu garasi rumahnya hendak pulang karena sebentar lagi ojek pesanan saya akan segera tiba, Lina meontarkan pertanyaan yang sedikit menjebak kepada saya.

"Apabila kamu punya anak gadis, dan ia ingin menjadi pramugari, apakah kamu izinkan", tanyanya dengan mimik serius.

Saya sejenak terdiam sebelum mengatakan, "Tidak. Tidak akan pernah".

Setelah berbincang hampir sekitar 2 jam dengan Lina yang hampir seumuran dengan saya, saya cukup yakin bahwa selama ini rumor yang beredar di masyarakat tentang profesi pramugari memang ada benarnya. Namun, seperti yang dikatakan Lina, kita tidak boleh menghakimi mereka.

Mengapa? Karena tidak semua pilot dan pramugari seperti itu. Faktanya, banyak juga pilot dan pramugari yang baik-baik. Walau kita tidak bisa membedakan mereka. Hanya kalangan mereka sendiri sajalah yang bisa membedakan.
(istimewa/dilarang mengutip isi tulisan ini tanpa izin)

No comments:

Post a Comment